Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
...🌻🌻🌻🌻🌻...
“Akkkhhh!”
Jenny terperanjat dari tidurnya, nafasnya ngos ngosan bak orang yang baru aja di kejar setan. Pada hal ia baru aja terbangun dari tidurnya.
“Astagaa, untung aja aku cuma mimpi.” gerutu Jenny, saat mendapati dirinya berada di atas tempat tidur.
Gak lama terdengar ketukan yang di susul seruan dari arah luar pintu kamarnya.
Tok tok tok.
“Non! Non Jen, udah bangun?”
Jenny berseru kencang, dengan suara khas orang bangun tidur. Sembari ngulet, lalu memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
“Udah bi! Baru bangun!”
“Tuan besar ngajakin Non subuh berjamaah di mushola!” beo bi Yati lagi.
Jenny menguap, sebelum menjawab seruan bi Yati, “Iya, bi! Nanti Jen ke bawah, bi!”
Gak ada lagi seruan, hanya suara langkah kaki yang kian menjauh.
“Gak tau orang masih ngantuk apa ya! Udah di suruh sholat subuh lagi aja!” gerutu Jenny, mendapati jam dinding menunjukkan pukul 5 kurang 15 menit.
Sementara di mushola rumah yang berada di lantai bawah, tampak Jaya dengan baju koko, bawahan kain sarung tengah duduk bersila menghadap kiblat.
“Permisi Tuan besar!” beo bi Yati dari arah belakang, membuat Jaya menoleh.
“Nona udah bangun! Sebentar lagi turun!”
“Kamu juga bersiap bi! Gak lagi halangan kan?” tegur Jaya.
Bi Yati menelan salivanya sulit, ‘Walah, apa aku gak salah dengar? Masa iya Tuan besar tanya gitu ke aku? Aku kan udah monopos, mana bisa halangan? Tapi alasan apa ya ke Tuan besar biar gak sholat subuh.’
“A- anu Tuan, mukena bibi kotor.” kilah bi Yati.
“Jangan di jadiin alasan, bi! Mukena sudah tersedia di sana! Kamu ambil wudhu sana!” titah Jaya lagi.
Jaya menunjuk salah satu sisi ruangan. Di mana sebuah lemari tanpa kaca, tertata rapi beberapa kain sarung dan beberapa mukena tergantung dengan berbagai warna.
Bi Yati meringis, sebelum berlalu, “Bibi ambil wudhu dulu, Tuan besar!”
Bi Yati menuju kamarnya berada. Paviliun khusus para pekerja yang tinggal di rumah. Bangunan yang berada tepat di bagian belakang rumah utama. Berhadapan langsung dengan kolam renang.
“Sejak kapan sih Tuan besar merubah peraturan rumah! Perasaan waktu masih ada Nyonya besar. Gak gini gini amat buat sholat.
Nyonya cuma sekedar mengingatkan, sementara kita di perbolehkan shalat di kamar.” gerutu bi Yati, dengan wajah ketara gak senang.
Bi Yati menguap, “Tau gitu, aku saranin Nona Jenny buat tinggal di apartemennya aja. Ketahuan aku lebih leluasa. Lebih bebas tanpa aturan baru! Sebel!”
“Opo toh mbak yu? Masih gelap gulita sampean udah nyerocos aja. Wis ndak boleh ngedumel toh!” tegur Sari, yang baru aja ke luar dari paviliun dengan wajah yang jauh lebih segar.
Yati menggaruk kepalanya yang gak gatal, “Itu loh, Tuan besar! Masa aku …”
Belum selesai Yati mengeluh, Eko ke luar dari balik pintu kamar yang ia tempati dengan baju koko dan kain sarung. Menyela obrolan keduanya.
“Astaga, Sari! Tinggalin dulu itu gibah! Mentang mentang ada teman lama, subuh mau kamu tinggalin?” celetuk Eko, sembari menutup pintu kamarnya.
Sari berdecak kesal, “Eyalah, siapa juga yang gibah toh! Iiiki aku juga udah mau ke mushola! Sampean nih, kalo ngomong wis di saring dulu toh!”
“Kalian malah bikin aku pusing!” seru bi Yati, sebelum menghilang di balik kamarnya yang ia tutup dari dalam.
Subuh di kediaman Jaya kali ini tampak berbeda. Ada Jenny dan bi Yati yang ikut serta menjadi makmum. Semuanya mengerjakan sholat subuh dengan khusyu.
Sementara di tempat lain.
Tak pernah absen dari doa yang Alan panjatkan di setiap sujudnya. Kali ini pun sama, ia duduk bersila di atas sajadah di dalam kamar seorang diri.
Mendoakan kedua orang tuanya, tanpa peduli balasan apa yang selalu ia terima dari sang ibu. Selain mengatur, umpatan, dan cacian yang acap kali terlontar dari Alena, saat Rayan tidak bersama dengan mereka.
“Ya Allah, tolong buka kan pintu hati mama. Sadarkan ia, aku juga ingin merasakan di sayang seperti mana seorang anak di sayangi, di cintai ibunya sepenuh hati. Bukan cacian yang acap kali aku dengar dari bibirnya.
Jangan jadikan aku anak durhaka, karena mengharapkan kasih dan cintanya mama, ya Allah! Ya Allah, permudahkan lah langkah ku untuk mendekatkan diri dengan mbak Jenny. Wanita pertama yang berhasil menarik perhatian ku.
Beri kan lah selalu kesehatan untuk orang orang yang hamba sayangi. Lancarkan lah segala urusan orang tua hamba. Lancarkan lah usaha mbak cantik yang ingin berpisah dengan suaminya. Amiin!”
Usai sholat subuh, Alan langsung berganti baju. Mengenakan sepatu dan setelan olah raga. Tanpa membuang waktu, ia berjalan santai ke luar dari kamarnya, menuruni anak tangga.
“Pagi Tuan Muda! Pasti mau lari pagi ya?” sapa Devi dari dapur dengan senyum mengembang. Saat melihat Alan menuruni tangga.
“Iya, bi! Mama udah bangun?” tanya Alan datar, tanpa menghentikan langkahnya.
“Nyonya besar belum bangun. Tapi kalo Tuan besar, sudah ke luar rumah dari beberapa menit lalu.”
“Tuan Muda mau sarapan apa? Nanti biar bi Devi yang masakin! Tuan Muda pasti bakal nagih kalo udah cobain masakan bi Devi!” jelas Devi dengan pipi merona, asisten rumah tangga termuda di kediaman Rayan dan Alena.
“Apa aja bi, saya gak pilih pilih makan.” celetuk Alan, sebelum menghilang dari pandangan Devi.
“Ya Tuhan, ganteng nya Tuan Muda Alan. Coba aja dia gak pernah ke luar negeri… udah jatuh hati kali mah Tuan Muda Alan dengan kecantikan ku!” gumam Devi dengan percaya diri.
Bi Ijah yang tengah menumis kangkung, melirik sekilas Devi, “Hus! Mikir apa kamu? Ingat Devi, kamu ini cuma anak pembantu! Gak usah ngayal yang ketinggian! Dapat suami supir aja, udah bersyukur kamu tuh!”
Devi berdecak kesal, sembari memotong bawang merah, “Apa sih, bu! Kalo aku sampe nikah sama Tuan Muda Alan, ibu juga loh yang bakal kecipratan hidup enak! Kita gak perlu lagi di suruh suruh seperti pembantu! Kita yang bakal nyuruh orang buat kerja bu!”
“Alah kamu ini, Dev! Gak mungkin lah Tuan Muda bisa kepincut sama kamu!”
“Bisa lah, bu! Anak ibu ini cantik loh! Body Devi juga sem0k, lihat tuh bu! Berisi kan! Idaman para lelaki sejati ini bu!” dengan bangganya, Devi memutar tubuhnya bak peragawati yang berputar di atas catwalk. Lalu membusungkan dadanya.
Brugh.
Bi Ijah meletakkan baskom berisikan ikan di depan Devi dengan kasar.
“Sebelum Nyonya besar mendengar gurauan kamu. Mending lanjut kerja Dev! Olahin ini ikan nila!” sentak bi Ijah, sebelum kembali pada tumis kangkungnya yang hendak matang.
“Kok jadi Devi si, bu? Ibu lah yang ngerjain!” tolak Devi dengan nada gak senang.
“Jangan cari masalah buat ibu di rumah ini! Jangan sampai dengan ulah kamu pilih pilih kerjaan, ngarepin Tuan Muda. Ibu kehilangan pekerjaan kembali! Susah cari majikan sebaik keluarga Tuan Rayan! Ngerti kamu!” cerocos bi Ijah dengan dada naik turun.
Devi berdecak kesal, “Ihs galak bangat sih! Baru juga jadi pembantu bu!”
Di teras rumah, Alan di kejutkan dengan sosok Rayan.
“Akhirnya kamu turun juga, Lan!” beo Rayan, ia sudah berlari di tempat dengan setelan olahraga dan sepatu sport.
“Papa juga mau lari?” beo Alan dengan wajah polos.
Rayan terkekeh, berlari lebih dulu meninggalkan teras, “Pastinya bukan lari dari kenyataan!”
“Bisa aja nih! Cus lah! Makin semangat Alan buat lari! Bakar keringat.” timpal Alan, menyusul langkah Rayan. Hingga keduanya berlari dengan sejajar mengitari pekarangan rumah yang luas dan besar.
“Pulang jam berapa kamu semalam? Apa kamu berhasil menemui Jenny? Apa dia menolak kehadiran mu lagi? Mengusir mu!” cerocos Rayan penuh dengan keingin tahuan.
“Bujuk dah, lagi nanya apa lagi wawancara kerja, pah?” kekeh Alan.
Bersambung…