NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: RAHASIA DI BALIK GERIMIS DESA SUNYI

​Enam bulan telah berlalu sejak ledakan di puncak Marina Bay Sands mengguncang dunia. Bagi publik, Gwen Adiguna dan Elang telah "tewas" dalam kecelakaan helikopter di perairan Singapura. Nama Adiguna Group kini dikelola oleh dewan wali amanat di bawah pengawasan ketat Arthur Adiguna yang mulai pulih.

​Namun, jauh dari hiruk-pikuk beton Jakarta, di sebuah desa terpencil di kaki Pegunungan Dieng yang selalu diselimuti kabut, berdiri sebuah rumah kayu sederhana namun elegan. Di sanalah, sang Ratu yang telah menanggalkan mahkotanya hidup dalam anonimitas.

​Gwen berdiri di beranda, mengenakan daster katun sederhana dengan rambut yang dikuncir kuda. Tidak ada lagi berlian, tidak ada lagi lipstik merah menyala. Ia sedang menyesap teh melati hangat sambil menatap rintik gerimis yang membasahi kebun mawar kecilnya.

​"Gwen, kayu bakarnya sudah siap," sebuah suara bariton yang hangat terdengar dari arah belakang.

​Elang muncul dengan kaos oblong abu-abu yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Bekas luka di dadanya masih ada, namun tatapan matanya kini jauh lebih tenang. Ia tidak lagi memegang pistol, melainkan sebuah kapak kayu.

​Gwen tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Elang. "Aku tidak pernah menyangka, hidup tanpa sinyal internet dan pengawal bisa senyaman ini, Elang."

​Elang mengecup kening istrinya. "Ini adalah bayaran untuk sepuluh tahun neraka yang kita lalui. Hanya ada aku, kau, dan keheningan."

​Namun, keheningan itu pecah ketika sebuah mobil jeep tua berwarna hitam menderu mendaki jalan setapak menuju rumah mereka. Elang seketika menegang. Insting pengawalnya yang telah terkubur bangkit kembali dalam hitungan detik. Ia menyembunyikan Gwen di belakang punggungnya.

​"Siapa yang tahu tempat ini?" bisik Elang, tangannya meraba pisau dapur yang terselip di pinggangnya.

​Mobil itu berhenti. Pintunya terbuka, dan sesosok wanita muda dengan wajah yang tampak sangat lelah keluar. Ia menggandeng seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang memiliki mata tajam... mata yang sangat mirip dengan mata Elang.

​Wanita itu adalah Maya, mantan agen lapangan The Hive yang dulu pernah menghilang dalam misi di perbatasan Thailand-Myanmar—misi terakhir Elang sebelum ia ditugaskan menjaga Gwen.

​"Elang..." suara Maya bergetar. "Maafkan aku. Aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Mereka... mereka memburunya."

​Gwen menatap anak kecil itu, lalu menatap Elang yang terpaku seperti patung. Jantung Gwen seolah berhenti berdetak saat melihat kemiripan yang luar biasa antara suaminya dan anak itu.

​"Siapa dia, Elang?" tanya Gwen, suaranya bergetar antara bingung dan takut.

​Elang tidak menjawab. Matanya tertuju pada anak itu. "Maya... kenapa kau baru muncul sekarang?"

​"Namanya Bintang," ucap Maya sambil terisak. "Dia anakmu, Elang. Anak hasil dari malam terakhir kita sebelum ledakan laboratorium itu terjadi. Aku menyembunyikannya selama lima tahun karena aku tahu Maximilian akan menjadikannya alat jika dia tahu ada pewaris darah pengawal Adiguna yang tersisa."

​Dunia Gwen seolah runtuh kembali. Baru saja ia merasakan kedamaian, kini sebuah bom emosional meledak di depan matanya. Seorang anak. Elang memiliki seorang putra dari wanita lain di masa lalunya yang kelam.

​Di dalam rumah, suasana terasa sangat mencekam. Maya duduk di kursi kayu sambil memegang segelas air, sementara Bintang tertidur lelap di sofa kecil. Gwen berdiri di sudut ruangan, tangannya bersedekap, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

​"Gwen, aku bersumpah, aku tidak tahu tentang ini," Elang mencoba mendekat, namun Gwen memberikan isyarat tangan agar ia menjauh.

​"Sepuluh tahun, Elang. Berapa banyak lagi rahasia yang kau simpan dariku?" suara Gwen dingin, mengingatkan kembali pada sosoknya saat masih menjadi penguasa Adiguna.

​"Aku benar-benar mengira Maya sudah mati dalam ledakan di perbatasan! Aku tidak pernah tahu dia hamil!" Elang membela diri dengan frustrasi.

​Maya menyela dengan suara parau. "Gwen, aku tidak datang untuk merebut Elang darimu. Aku tahu kalian sudah menikah. Tapi The Silver Hive... faksi Garuda yang tersisa... mereka tahu tentang Bintang. Mereka ingin menggunakan jantung Bintang untuk proyek 'Nemesis 2.0'. Darah Elang yang sudah bermutasi karena chip lama ada dalam tubuh anak ini."

​Gwen berbalik, matanya berkilat. "Jadi, anak itu dalam bahaya?"

​"Sangat dalam bahaya," Maya mengangguk. "Mereka membantai tim persembunyianku di Semarang kemarin. Aku berhasil lolos, tapi mereka akan menemukan kita di sini dalam waktu singkat."

​Gwen menatap Bintang yang tertidur. Kemarahan pada Elang mendadak surut, digantikan oleh naluri pelindung yang kuat. Ia teringat bagaimana rasanya menjadi target karena darah yang mengalir di nadinya. Ia tidak bisa membiarkan anak sekecil itu merasakan neraka yang sama.

​"Hendra!" Gwen berteriak secara naluriah, lupa bahwa Hendra tidak ada di sana.

​"Hendra berada di Jakarta, Gwen. Kita sendirian di sini," Elang mengingatkan.

​Gwen menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. "Elang, ambil senjata yang kau sembunyikan di bawah lantai ruang bawah tanah. Maya, masuklah ke bunker kecil di balik lemari dapur."

​"Gwen, kau memaafkanku?" tanya Elang ragu.

​Gwen menatap Elang dengan tajam. "Kita akan membicarakan tentang 'anak' ini nanti setelah kita memastikan dia tidak mati malam ini. Sekarang, bersiaplah. Jika mereka sudah menemukan Maya, artinya mereka sudah ada di hutan belakang."

​Benar saja. Tepat saat matahari terbenam di balik pegunungan, suara mesin drone terdengar mendengung di atas rumah mereka. Sinar laser merah mulai menyisir dinding kayu.

​"Mereka di sini," desis Elang. Ia sudah memegang senapan serbu yang ia simpan sebagai cadangan terakhir.

​Gwen menarik pistol Glock-nya. Ia mematikan seluruh lampu di dalam rumah. Kegelapan total menyelimuti mereka.

​DOR! DOR!

​Tembakan pertama menghancurkan jendela depan. Sekelompok tentara bayaran dengan perlengkapan night vision merangsek masuk. Namun, mereka lupa satu hal: Elang adalah predator malam yang paling berbahaya, dan Gwen adalah wanita yang telah menghancurkan sebuah imperium.

​Elang bergerak seperti bayangan, mematahkan leher lawan dalam kegelapan tanpa suara. Sementara itu, Gwen berdiri di balik meja makan, melepaskan tembakan presisi yang menjatuhkan dua orang sekaligus.

​"Amankan anak itu, Elang! Aku akan menahan mereka di teras!" teriak Gwen.

​Gwen melempar granat asap ke arah kebun mawarnya, menciptakan kekacauan visual bagi para penyerang. Di tengah asap, ia bertarung satu lawan satu dengan seorang penyerang bertubuh besar. Gwen menggunakan teknik kuncian leher yang mematikan, menjatuhkan pria itu hingga tak bernapas.

​Namun, seorang pria dengan jubah perak muncul dari kegelapan hutan. Pria itu memegang busur panah modern.

​"Gwen Adiguna... kau pikir bisa sembunyi selamanya?" suara itu berat dan berwibawa.

​Itu adalah Arkas, tangan kanan baru Maximilian yang dikabarkan memimpin faksi radikal Silver Hive.

​"Serahkan anak itu, atau aku akan meratakan desa ini dengan rudal portabel!" teriak Arkas.

​Gwen berdiri tegak di tengah gerimis yang kini berubah menjadi hujan deras. "Langkahi mayatku dulu, brengsek!"

​Pertempuran pecah di bawah hujan badai. Elang muncul dari belakang, menyerang Arkas dengan pisau komandonya. Pertarungan berlangsung sengit. Di saat yang sama, Maya mencoba membawa Bintang keluar lewat jalur rahasia, namun mereka terkepung di tepi tebing belakang rumah.

​"Elang! Bantu Maya!" Gwen berteriak sambil terus menembaki pasukan bantuan yang terus berdatangan.

​Elang bimbang. Di satu sisi ada istrinya yang sedang bertarung nyawa, di sisi lain ada anak kandungnya yang terpojok di tepi jurang.

​"PERGI, ELANG! AKU BISA MENANGANI INI!" Gwen meyakinkan suaminya.

​Elang mengangguk berat, ia berlari ke arah tebing, melakukan lompatan maut untuk menyelamatkan Bintang tepat saat seorang prajurit musuh hendak menarik pelatuknya.

​Gwen kini sendirian menghadapi Arkas dan sisa pasukannya. Pelurunya habis. Ia membuang pistolnya dan menarik pisau kecil dari balik sepatunya.

​"Kau sendirian sekarang, Nona Besar," Arkas tertawa sinis, membidikkan panahnya tepat ke arah jantung Gwen.

​Namun, sebuah suara tembakan sniper dari arah bukit seberang menggelegar, menghancurkan panah Arkas berkeping-keping.

​"Siapa bilang dia sendirian?" suara dari pengeras suara helikopter terdengar.

​Hendra. Bersama armada tempur Adiguna yang tersisa.

​"Nona, maaf saya terlambat. Macet di jalan pegunungan ini luar biasa," ucap Hendra melalui radio satelit yang mendadak aktif di jam tangan Gwen.

​Gwen tersenyum tipis. "Selesaikan mereka, Hendra. Jangan sisakan satu pun."

​Setelah pertempuran usai, rumah kayu itu hancur berantakan. Namun, semua orang selamat. Bintang berada di pelukan Elang, sementara Maya terduduk lemas di samping mereka.

​Gwen mendekat, menatap pemandangan itu. Hatinya perih, namun ia tidak bisa membenci anak kecil yang tidak berdosa itu.

​"Hendra, siapkan keberangkatan ke Swiss," perintah Gwen. "Kita tidak bisa tinggal di sini lagi."

​"Swiss, Nona? Untuk apa?" tanya Hendra.

​Gwen menatap Elang, lalu menatap Bintang. "Kita akan melakukan tes DNA. Dan setelah itu, kita akan mencari siapa yang membocorkan lokasi Maya. Kita akan membangun kembali Adiguna, bukan sebagai perusahaan, tapi sebagai perisai untuk anak ini."

​Elang berdiri, menatap Gwen dengan penuh penyesalan dan rasa syukur. "Gwen... aku..."

​Gwen meletakkan jarinya di bibir Elang. "Jangan bicara sekarang. Aku masih marah padamu. Tapi kita punya musuh yang sama sekarang. Dan tidak ada yang boleh menyentuh anggota keluarga Adiguna... termasuk putra dari suamiku."

​Di balik awan mendung, sebuah satelit baru milik Silver Hive mulai aktif. Sebuah wajah muncul di layar kendali mereka di markas rahasia. Wajah seorang wanita yang sangat mirip dengan Diana Adiguna, namun lebih muda.

​"Biarkan mereka ke Swiss," ucap wanita itu. "Permainan sesungguhnya baru saja dimulai. Selamat datang di babak kedua, Kakakku tersayang, Gwen."

​Gwen Adiguna ternyata punya saudara perempuan rahasia. Dan badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!