NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Lama yang Bangkit Lagi

Kedamaian memang sudah kembali.

Tapi bekas luka… tidak pernah benar-benar hilang.

Seminggu setelah kasus sabotase itu mereda, Kevin mulai kembali fokus bekerja. Media perlahan berhenti membahas namanya. Direksi lama yang berkhianat sudah ditangani secara hukum.

Semua terlihat terkendali.

Terlalu terkendali.

Suatu sore, saat Kevin hendak meninggalkan kantor, sekretarisnya menahan langkahnya.

“Pak… ada seseorang yang ingin bertemu. Katanya ini penting.”

Kevin mengernyit.

“Siapa?”

Sekretaris itu terlihat ragu.

“Dia bilang… dia adik dari mantan direktur yang kemarin.”

Langkah Kevin terhenti.

“Suruh masuk.”

Beberapa menit kemudian, seorang wanita muda berdiri di hadapannya. Wajahnya mirip dengan mantan direksi itu, tapi sorot matanya berbeda. Tidak licik. Lebih seperti… terdesak.

“Saya Rania,” katanya pelan. “Saya tahu Kakak saya salah. Tapi saya datang bukan untuk membela.”

Kevin duduk, menatapnya tajam.

“Lalu?”

Rania menggenggam tasnya erat.

“Ada yang lebih besar dari ini, Pak Kevin. Kakak saya cuma pion.”

Suasana ruangan berubah tegang.

“Maksud kamu?”

“Ada investor lama yang dendam pada Bapak. Mereka sengaja memanfaatkan ambisi Kakak saya.”

Kevin terdiam.

Investor lama?

Satu nama langsung terlintas di pikirannya.

Orang yang pernah hampir membuatnya bangkrut bertahun-tahun lalu.

Malam itu, Kevin pulang dengan wajah penuh pikiran.

Siska yang sedang melipat pakaian langsung menyadarinya.

“Masalah lagi?”

Kevin menghela napas.

“Mungkin belum selesai.”

Siska berhenti melipat.

“Yang kemarin belum cukup?”

Kevin duduk di tepi kasur.

“Ternyata ada dalang lain di balik semua ini.”

Siska mendekat.

“Siapa?”

Kevin menatap kosong ke depan.

“Orang lama.”

Siska tahu nada itu.

Nada yang sama ketika dulu Kevin hampir kehilangan segalanya.

“Dia kembali?” tanya Siska pelan.

Kevin tidak menjawab, tapi tatapannya cukup.

Siska menggenggam tangannya.

“Kamu takut?”

Kevin tersenyum tipis.

“Bukan takut kalah. Aku takut terseret terlalu jauh sampai lupa pulang lagi.”

Kalimat itu membuat hati Siska menghangat sekaligus nyeri.

Beberapa hari kemudian, Kevin menerima undangan makan malam resmi dari seorang investor besar.

Nama pengirimnya membuat napasnya menegang.

Orang itu benar-benar kembali.

Undangan itu seperti tantangan diam-diam.

Kevin menatap kartu undangan itu lama.

Siska yang berdiri di belakangnya ikut membaca.

“Kamu mau datang?”

Kevin terdiam beberapa detik.

“Kalau aku menghindar, artinya aku takut.”

Siska tersenyum kecil.

“Kalau kamu datang, artinya kamu siap.”

Kevin menoleh padanya.

“Dan kamu?”

Siska menatapnya lurus.

“Aku nggak akan lari lagi.”

Jawaban itu cukup.

Malam makan malam tiba.

Kevin mengenakan setelan hitamnya. Aura dinginnya kembali muncul—bukan karena marah, tapi karena siap.

Sebelum berangkat, Cantika menarik ujung jasnya.

“Papa kerja lagi?”

Kevin berlutut, menyamakan tinggi badan.

“Papa cuma mau ngobrol sama orang.”

Cantika tersenyum polos.

“Jangan lama-lama ya. Aku mau nonton kartun bareng Papa.”

Hati Kevin seperti ditarik lembut.

“Iya. Papa pulang.”

Ia berdiri, menatap Siska sebentar.

Tatapan itu seperti janji tanpa suara.

Di restoran mewah itu, Kevin akhirnya duduk berhadapan dengan pria yang pernah menjadi bayangan kelam dalam hidupnya.

Pria itu tersenyum tipis.

“Lama tidak bertemu, Kevin.”

Kevin membalas dengan senyum tipis yang sama.

“Sepertinya Anda belum bosan mengusik hidup saya.”

Pria itu tertawa kecil.

“Bisnis itu permainan. Kadang menang, kadang kalah.”

Kevin menatapnya tajam.

“Kalau mau bermain, bermainlah secara terbuka. Jangan pakai pion.”

Senyum pria itu memudar sedikit.

“Oh? Jadi kamu sudah tahu.”

Kevin menyandarkan punggungnya.

“Saya tidak akan jatuh lagi dengan cara yang sama.”

Suasana meja itu dipenuhi ketegangan tak terlihat.

Pertarungan ini bukan soal uang lagi.

Ini soal harga diri.

Di rumah, Siska menatap jam berkali-kali.

Ia tidak cemas seperti dulu.

Tapi ia tetap berdoa dalam diam.

Ia sadar satu hal.

Masa lalu tidak akan berhenti mengejar.

Tapi sekarang… mereka bukan lagi pasangan yang rapuh.

Mereka sudah melewati terlalu banyak badai.

Dan kali ini, jika badai datang lagi—

Mereka akan berdiri berdampingan.

Bukan saling menyalahkan.

Bukan saling meninggalkan.

Tapi saling menjaga.

Di restoran itu, Kevin akhirnya berdiri.

“Permainan Anda berhenti sampai di sini,” katanya tenang.

Pria itu tersenyum samar.

“Kita lihat saja.”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya berjalan pergi.

Karena untuk pertama kalinya—

Ia tidak merasa harus membuktikan apa pun.

Ia sudah punya alasan untuk menang.

Bukan demi ego.

Tapi demi rumah yang selalu menunggunya pulang.

Dan malam itu…

Saat pintu rumah terbuka dan Cantika langsung memeluk kakinya—

Kevin tahu satu hal.

Pertarungan mungkin belum selesai.

Tapi hatinya sudah tidak goyah lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!