NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Trio Edun

Di pagi yang indah seorang pemuda tampan sedang melamun sambil mengaduk-ngaduk nasi goreng yang sudah 10 menit diantarkan sang penjual ke meja nya.

"Lo kenapa dah? Aneh bener pagi ini?" Salah seorang sahabatnya mulai jengah melihat perilaku pemuda tampan di depan nya ini.

"Putus cinta kalik" Sahabat satunya ikut menimpali.

"Yeee bambang. Dia kan Jones ahahaha"

Tian yang tak terima pun melempar roti bungkus didepan nya ke muka Radit yang mengejeknya Jones.

"Sakit anying" Radit mengumpat sambil mengusap wajah tampan nya.

"Gw punya pacar asal lo tau" Tian berucap dengan bangga nya.

"Alah paling juga mainan lo yakan" Vano yang sudah mengetahui ke playboy an sahabatnya ini ikut meledeknya.

"Nggak. Kali ini gw serius" Tian mengucapkan nya dengan lirih seolah masih ragu akan ucapannya sendiri.

"Ah tetep ga percaya gw. Muka lo aja ga meyakinkan" Vano pun tertawa setelah mengucapkannya.

"Gw mau cerita nih serius" Tian mengubah raut wajahnya menjadi serius.

Radit dan Vano yang jarang melihat wajah serius Tian mulai penasaran.

"Jadi sebenernya gw...." Belum selesai Tian menyelesaikan ucapan nya bel masuk sudah berbunyi.

"Ntar aja deh pas istirahat. Yuk ke kelas"

Radit dan Vano yang sudah penasaran pun menjadi tambah penasaran. Tetapi keduanya tak urung mengikuti Tian yang mulai berjalan menuju kelas mereka.

***

"Eh gimana kemaren ngedate nya?" Vanya yang notabene paling kepo an diantara ketiganya mulai mengintrogasi Lea yang baru saja duduk di kursinya.

"Yaelah biarin gw napas dulu napa si" Lea yang seperti biasa datang tepat bel masuk selalu ngos-ngosan setelah sampai dikelasnya karna dari parkiran ia selalu berlari untuk menuju kelasnya.

"Udah ntar aja pak botak udah dateng tuh" Rain memperingati kedua sahabat nya agar tak dimarahi guru killer itu.

Mereka bertiga pun terdiam saat Pak Sarno duduk di kursi guru tepat di depan meja Lea. Pelajaran pun dimulai.

***

"Ntar pulang sekolah ke basecamp kuy" Vano berbisik kepada Tian yang duduk disebelahnya. Dikelasnya kini pelajaran ekonomi hingga membuatnya jengah memperhatikan guru yang sedang mengajar didepan.

Vano dan Tian duduk di meja paling belakang pojok kiri. Sedangkan Radit duduk didepan mereka sendirian. Mereka bertiga ditakuti para murid SMA HCL Jaya karna sekolah itu milik kakek buyut Vano. Tak ada yang berani duduk di samping mereka tanpa seijin Vano.

Meski begitu banyak siswi yang menyukai mereka karna ketampanan dan prestasi yang sudah mereka dapatkan untuk mengharumkan nama sekolah. Sesuai semboyan mereka "Nakal Boleh Goblok Jangan" .

Vano meski terlihat lebih nakal dari ketiga nya namun Vano lah yang paling pintar. Ia selalu berhasil mendapat juara 1 paralel. Sebenernya Vano malas menjadi terkenal dan banyak penggemar. Ia risih dengan siswi siswi yang mendekatinya dengan agresif. Mengganggu sekali ketenangan hidupnya.

"Brisik anying gw lagi fokus nih" Tian kesal sekali teman gilanya ini selalu mengganggu saat ia sedang mendengarkan pelajaran. Vano terlahir pintar tanpa harus repot-repot belajar keras seperti dirinya yang harus berusaha ekstra demi mendapat juara di sekolahnya. Alhasil Tian bisa meraih juara 2 paralel setelah Vano.

Saat ada lomba cerdas cermat pun selalu Tian yang mewakili sekolah karna Vano selalu menolak saat ditunjuk. Keluarga nya pun tak berhasil membujuk nya untuk mau berpartisipasi dalam lomba cerdas cermat. Vano hanya mau mengikuti lomba-lomba yang membutuhkan skill dan fisik bukan kepintaran.

Vano mengangkat tangan nya membuat Bu Silvi yang sedang menerangkan materi tentang Perekonomian Internasional menghentikan penjelasan nya.

"Ada apa Vano?"

"Bosen nih bu. Bisa nggak sekali-kali kita senam kek atau nyanyi nyanyi kek jangan bahas ekonomi terus. Pusing pala berbie aduw" Nah kan Vano kembali berulah.

Radit dan Tian menepuk dahinya melihat kegilaan temannya tak menyangka Vano akan seberani itu.

Bu Silvi yang terkenal sabarnya kini mengerutkan dahi. Guru ekonomi ini guru wanita tertua di SMA HCL Jaya. Namun ketika menghadapi Trio Edun ia harus banyak-banyak menyetok sabar yang entah masih ada atau tidak untuk menghadapi mereka.

"Yasudah kalau kamu bosan keluar saja tidak usah mengikuti pelajaran saya" putus Bu Silvi kemudian.

"Ya nggak bisa gitu dong bu. Apa kata dunia kalo Vano si Tampan nan pintar bolos pelajaran" Vano memasang wajah sok gantengnya.

Semua siswa di kelas menahan tawa setiap Vano berulah. Sedangkan siswi nya hanya memandang kagum kepada Vano yang selalu terlihat tampan di segala keadaan.

"Vano!!!! Jangan menguji kesabaran saya ya" Bu Silvi mulai merasa kesal dengan Vano yang sering berbuat ulah saat ia mengajar dikelas XI IPS 2 tempat Vano dan kedua sahabat nya berada.

"Emang sabar ada ujian nya ya bu? Baru tau saya" Vano kini mengangguk paham sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagunya seolah berpikir.

"Keluar kamu Vano dari kelas saya. Sekarang!!!" Bu Silvi mulai kehilangan kesabarannya.

"Selow bu. Ga baik marah-marah, ntar cepet tua loh. Eh lupa kan ibu emang udah tua ya whahaha"

"Van jangan gila deh" Radit yang terkenal cuek mulai jengah dengan tingkah sahabatnya.

"Gw cuman..."

"Vano, Radit, Tian keluar kalian dari kelas saya sebelum saya bawa kalian ke BK" Bu Silvi berteriak benar-benar diambang batas kesabaran.

Tian menarik tangan Vano takut Bu Silvi semakin dibuat marah oleh teman sengklek nya ini. Radit pun mengikuti langkah Tian dan Vano dibelakang tetap dengan wajah datarnya.

Bu Silvi memijit pelipisnya merasa pusing menghadapi tingkah menyebalkan murid terpintarnya itu. Bu Silvi pun melanjutkan pelajaran yang tadi sempat tertunda.

"Sumpah ga kira-kira lo Van becandanya" kini Trio Edun sedang berada dikantin sambil menikmati segelas es jeruk.

Meski sebenernya Tian enggan melewatkan sekali pun pelajaran jika memang tak ada urusan penting, namun setelah dirasa sepertinya ia perlu untuk refreshing sejenak dari materi pelajaran untuk mendinginkan otaknya yang mulai panas.

"Kaya gak tau aja sama curut di depan lo ini"

"Ganteng gini dibilang curut. Sungguh kejam sekali kamu yayang Radit kepada dedek emes ini" Vano memasang wajah terlukanya.

"Hueek" Radit memegangi perutnya seolah-olah ingin muntah karna drama konyol Vano.

"Eh btw tadi katanya lo mau cerita sesuatu. Sekarang aja Yan, gw udah penasaran banget ini" Kini Vano dan Radit kompak menatap Tian menunggu cerita nya yang tadi ia tunda.

***

"Udah belum Rain? Boker lo ya lama bener" Vanya sedang menemani Rain ke toilet. Sudah 10 menit ia menunggu didepan pintu toilet.

2 menit kemudian Rain keluar dari toilet dengan cengiran tak berdosanya.

"Ehehe sorry Van tadinya gw cuman mau pipis doang eh keterusan" Rain membentuk jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk huruf V.

"Sialan lo pantesan lama banget dah. Yok lah balik"

Saat Vanya dan Rain melewati tembokan pembatas toilet pria dan wanita, tiba-tiba ada seseorang dari belokan membuat Rain tak sengaja menabrak bahunya.

"Liat-liat dong kalo jalan. Buta ya mata lo" cewe itu terlihat kesal setelah melihat siapa yang menabraknya.

"Sorry Put gw ga sengaja sumpah" Rain terlihat tak enak hati kepada teman satu tim cheers nya itu.

Putri memutar kedua matanya 'Cih sok baik' batinnya.

"Makanya kalo jalan tuh liat kedepan" Putri berkata dengan tak santai.

"Eh nenek sihir. Temen gw kan udah minta maaf, kenapa masih aja ngegas lo?" Vanya tak terima saudaranya diperlakukan tidak baik. Semua yang mengganggu sahabatnya akan ia balas tanpa memerdulikan siapa pun orangnya.

"Santai bisa kan? Btw gw bukan nenek sihir ya" Putri menunjuk-nunjuk wajah Vanya karna tak terima dengan sebutan Vanya padanya.

Vanya langsung mencekal tangan Putri yang berada didepan wajahnya lalu memelintirnya kebelakang membuat Putri merintih kesakitan.

"Vanya jangan" Rain mencoba melepaskan pelintiran Vanya pada tangan Putri.

"Nggak bisa Rain, gw harus kasih pelajaran sama ni cewe"

Rain tak tau saja siapa Putri sebenarnya. Vanya sering melihat Putri diam-diam ingin mencelakakan Rain saat latihan Cheerleder. Jika sedang tidak ada rapat PMR Vanya selalu menemani Rain latihan karna ia bosan di rumah. Namun Rain tak pernah tahu bahkan Rain ini orang yang tak pernah negative thinking pada siapapun berbeda dengan Vanya yang selalu waspada.

"Van udah lepasin Putri" Rain memohon dengan puppy eyesnya.

"Urusan kita belum selesai" Vanya pun melepaskan tangan Putri dengan mendorongnya kedepan membuat dahi Putri membentur tembok.

Vanya menarik tangan Rain untuk kembali ke kelasnya. Putri yang melihat mereka pergi pun menggeram marah sambil mengusap dahinya yang terasa sakit.

"Gw akan bales lo Van. Awas aja!"

***

"Gw dijodohin"

Radit langsung menggebrak meja sedangkan Vano berteriak histeris setelah mendengar kalimat singkat Tian.

"Ow ow ow seriusan Yan? Gila sih" Teriak Vano tidak santai.

"Gak usah treak treak anying. Malu gw kalo ada yang denger. Masa seorang Tian yang tampan dijodohin, kaya ga laku aja dah gw"

"Ehehe sorry sorry bro gw kelepasan" Vano nyengir kuda sambil membuat jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk huruf V.

"Sumpah gw kaget banget ini" Radit yang sedari diam mulai bersuara.

"Lo kira gw ga kaget apa" Vano menimpali.

"Malming kemaren setelah gw pulang dari basecamp nyokap bilang ke gw kalo gw dijodohin. Terus pulang sekolah gw nemuin tuh cewe makanya kemaren gw ga ikut kalian nongki" Tian menceritakan tanpa ada yang terlewat apa yang membuatnya kepikiran sejak kemarin.

"Terus kenapa lo bingung? Cewenya jelek ya? Gendut? Tompelan? Cupu? Item? Atau...." Belum sempat Vano menyelesaikan ucapannya sudah Tian potong.

"Justru malah cantik banget dan entah kenapa gw langsung suka. Yang bikin gw bingung tu gimana bikin tu cewek luluh. Kayanya dia gak suka banget sama perjodohan ini" Tian memasang wajah lesu nya memikirkan tingkah Lea yang sepertinya akan susah ia dapatkan hatinya.

"Wohoho seorang Destian Rizal Santoso sang penakhluk wanita bisa jatuh cinta di pertemuan pertama? Wow amazing sih ini" Vano berdecak kagum sambil geleng geleng tak jelas.

"Apasih lebay banget lo Van" Tian jengah sekali dengan sahabatnya yang gila itu.

"Bukan lebay tapi emang kenyataannya gitu"

"Apa kata lo dah" Tian yang merasa masih waras memilih mengalah.

"Berarti lo terima perjodohan ini dong ya?" Vano bertanya karna masih penasaran.

"Sebelum gw ketemu tuh cewe pun gw udah setuju. Kalian tau lah mana tega gw nolak permintaan nyokap"

"Terus apa rencana lo selanjutnya?" Radit yang sedari tadi hanya terdiam kini ikut bertanya.

"Gw pengin pindah ke sekolah dia biar bisa lebih deket lagi dan bisa cepet dapetin hatinya" tekad Tian penuh semangat.

"Emang siapa si nama tu cewe?" giliran Vano bertanya.

"Ganindra Azalea Aldrick. Lo kenal?" Tian menatap kedua sahabatnya dengan serius.

"Nggak" Vano dan Radit kompak menjawab.

"Yakin lo mau pindah sekolah?" Vano bertanya kembali.

"Yakin lah. Yakin banget malah" Tian menjawab dengan raut wajah serius yang jarang sekali ia perlihatkan.

Vano manggut-manggut gajelas memikirkan perkataan Tian.

"Sekolah dimana tuh cewe?" Vano bingung harus memanggil apa pada cewe yang dijodohkan dengan Tian.

"Lo lama-lama kaya wartawan ya banyak nanyak" Tian mulai malas dengan sahabatnya yang seperti sedang mengintrogasinya.

"Yaelah timbang jawab banyak bacot lo" Vano juga kesal pertanyaan nya tidak dijawab malah dibalas dengan perkataan menyebalkan..

"Ganindra sekolah di SMA Bhakti Wiratmadja" Tian pun menjawab daripada harus berdebat dengan Vano yang tak akan ada ujungnya.

"Boleh juga tuh. Gw ikut pindah ya Yan kek nya asik dah" Entah mengapa Vano tiba-tiba ingin ikut pindah sekolah.

"Biar apa dah lo ngikut pindah? Lo mau cewe lo ngomel-ngomel 7 hari 7 malem?" Tian yang sudah hafal bagaimana sifat Vera pacar sahabatnya ini pun memperingati Vano.

"Yaelah biarin aja dah. Gak semua kemauan dia gw turutin kan"

"Eh iya lupa, lo kan cuma jadiin dia..." Belum selesai Tian berkata sudah Vano potong dengan ngegas.

"Sialan lo gak usah sebut merk bisa kan bangsat!" umpat Vano.

"Selow mamen sorry sorry" Tian hanya nyengir kuda.

"Kalo gw sama Vano pindah lo ikutan nggak Dit?" Tian kini menatap Radit yang sedang memainkan ponselnya.

"Yakali nggak"

Vano dan Tian pun langsung bertos ria mendengar jawaban singkat Radit namun menyenangkan untuk didengar.

"Ntar gw bilang bokap deh biar sekalian kalian berdua diurus juga surat pindah nya" Vano berkata dengan gaya bossy nya.

"Yakin dibolehin lo Van sama om Hendra?" tanya Tian.

"Ya iya lah apapun yang gw mau selalu bisa gw dapatkan" Ucap Vano sombong.

"Oke gw percayain sama lo" ucap Radit sambil menatap Vano.

"Gw juga deh" Tian ikut-ikutan

"Oke siap brother. Percayain semuanya sama gw" Vano berkata sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.

"Gw ke kelas dulu ya bentar lagi bel" Radit pun beranjak dari duduknya lalu mulai berjalan menjauh.

"Tunggu woi gw ikut" Tian juga bangkit dari duduknya lalu mengejar Radit yang sudah lumayan jauh.

Saat Vano akan menyusul Tian tangan nya sudah dicekal oleh seseorang. Vano pun melihat siapa yang berani menyentuhnya. Hampir saja Vano memarahi gadis didepannya ini jika saja tak melihat jika itu pacarnya.

"Kenapa? Mau marahin aku?" Vera melepaskan cekalan tangannya pada Vano lalu menatap Vano tajam.

"Ehehe nggak lah sayang mana berani aku marahin kamu" Vano pun menuntun bahu Vera untuk duduk di kursi yang tadi Tian tempati.

"Mau makan apa biar aku pesenin?"

"Aku nggak laper yang. Btw ntar kamu datang kan ke acara ulang tahun aku?" Vera menatap Vano menunggu jawabannya.

"Ya dateng dong sayang. Aku udah siapin kado buat kamu"

Vera tersenyum mendengarnya "Awas aja kalo kadonya mengecewakan"

"Ga akan lah sayang kamu pasti suka sama pilihan aku" Vano berucap dengan sombongnya.

"Yaudah aku mau ke kelas dulu. Bye sayang" Vera pun beranjak dari duduknya dan mencium pipi kanan Vano kemudian mulai berjalan menjauh. Vano pun bernafas lega. Bagi nya berhadapan dengan Vera seperti sedang menghadapi ujian. Salah sedikit bisa membuat kacau.

***

"Kantin kuy" Vanya mengajak Lea dan Rain kekantin setelah guru yang mengajar dikelasnya meninggalkan kelas karna bel istirahat.

"Lo kenapa Rain? Lecek bener muka lo" Lea yang sudah berdiri disamping Vanya memperhatikan Rain yang belum beranjak juga dari bangkunya.

"Lo tanya aja dah sama Vanya" Lea pun menatap Vanya meminta penjelasan.

"Gw kan udah minta maaf Rain"

Rain pun mengangguk memaafkan. Bagaimanapun ia tak bisa marah lama-lama dengan saudara sintingnya ini. Vanya pun tersenyum.

"Nah gitu dong. Kuy kantin keburu masuk nih"

Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin seolah barusan tak terjadi apa-apa. Setelah mendapat tempat Lea pun memesankan makanan dan minuman. Hari ini jadwal nya untuk memesan makanan.

Saat akan membawa makanan kemejanya Lea tampak kesusahan membuat seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya mulai beranjak dari duduknya dan membantu Lea.

"Eh Bagas!!! Gw bisa sendiri kok" Lea mencoba meraih mangkok yang kini berada ditangan Bagas. Bagas merupakan Ketua Osis di SMA Bhakti Wiratmadja.

"Gapapa kok Gan, gw bantuin ya" Lea pun pasrah dan menyuruh Bagas mengikutinya.

Setelah meletakkan makanan pesanan mereka Lea kembali untuk mengambil minuman dan diikuti Bagas dibelakangnya. Sebenarnya ada nampan untuk membawa pesanan namun sepertinya sedang habis dipakai siswa siswi lainnya.

"Thank's ya Gas udah bantuin gw" Ucap Lea setelah duduk dikursi samping kiri Rain.

"Iya sama-sama. Gw duluan ya, mau ke Ruang Osis soalnya"

"Oke"

Bagas pun berlalu meninggalkan mereka bertiga yang kini mulai memakan pesanan nya masing-masing.

"Kayak nya Bagas suka sama lo tuh Gan" Ucap Vanya setelah menelan bakso nya.

"Sembarangan lo kalo ngomong. Mana mungkin lah Bagas suka sama gw" Lea menimpali dengan mulut penuh bakso.

"Telen dulu elah. Keselek baru tau rasa lo" Rain menasihati Lea yang seperti biasa selalu berbicara saat sedang mengunyah makanan. Alhasil ia sering kali tersedak.

"Nggak aka...uhuk uhuk" Tiba-tiba Lea tersedak sebelum sempat menyelesaikan ucapannya. Rain yang berada disebelahnya pun langsung menyodorkan es jeruk milik Lea sambil mengusap punggung nya pelan.

"Baru juga dibilang" Vanya tertawa terbahak-bahak.

"Lo juga ketawa ketawa keselek baru tau loh" Rain pun memperingati Vanya yang kini sedang meminum es tehnya dengan tawa yang tak kunjung reda.Karna takut tersedak juga Vanya pun menghentikan tawanya.

"Sendiko dhawuh kanjeng"

Setelah insiden Lea tersedak bakso, ketiganya pun menyelesaikan makan sebelum bel masuk berbunyi.

"Hheeuuggkkhh alhamdulillah kenyang" Vanya bersendawa dengan kerasnya setelah menghabiskan semangkok bakso dan setengah gelas es tehnya.

"Jorok bgt lo anjir" Lea bergidik melihat tingkah Vanya yang jauh dari kata feminim.

Seperti biasa Vanya lah yang pertama selesai dalam urusan makan. Berikutnya Lea dan terahir Rain karna memang Rain yang paling feminim diantara ketiga nya. Tidak seperti saudaranya yang sering kali bertingkah barbar.

"Yang penting banyak yang suka" Ucap Vanya sambil mengibaskan rambutnya yang dikuncir kuda.

"Suka suka lo dah maemunah" Lea memutar kedua bola matanya malas.

"Balik yuk keburu bel nih" Rain yang baru saja selesai makan mengajak ketiganya kembali ke kelas karna 3 menit lagi bel masuk akan berbunyi.

Ketiganya pun beranjak berdiri dan mulai berjalan menuju kelas mereka. Saat sampai didepan pintu kelas tiba-tiba ada yang menghadang jalan mereka.

"Ntar lo ada acara nggak Van?" Raza tersenyum melihat kedatangan Vanya dan langsung menghadang sang pujaan hati membuat Vanya menghentikan langkahnya. Lea dan Rain sudah lebih dulu masuk melewati Raza yang berada ditengah pintu.

"Minggir!!! Lo ngehalangin jalan gw" Vanya mengacuhkan Raza yang kini memudarkan senyumnya.

"Gw cuman mau ngajak lo jalan,kalau lo gak mau yaudah deh"

Vanya sebenarnya tak tega melihat Raza yang terlihat lesu mulai membalikkan badan nya. Bagaimana pun ia masih memiliki hati.

"Tunggu gw rapat kalo lo mau" Setelah mengucapkan itu Vanya langsung berjalan melewati Raza yang kini terlihat berbinar.

Raza duduk di kursinya lalu menghadap belakang tempat Vanya duduk.

"Lo serius Van?" Raza menatap Vanya penuh harap dan hanya dibalas deheman singkat oleh Vanya.

"Oke deh nanti gw tunggu di parkiran ya" Raza masih menatap Vanya yang kini sedang mengeluarkan buku tulis dan Vanya kembali membalasnya dengan deheman singkat.

"Cie cie ada yang mau ngedate nih" Lea yang sedari tadi memperhatikan keduanya mulai menggoda Vanya sambil mencolek-colek lengan nya karna memang tidak sulit untuk ia jangkau.

Raza langsung menghadap kedepan dengan wajah semerah tomat sedangkan Vanya hanya cuek cuek saja.

"Kayaknya bentar lagi bakalan ada yang jadian nih" Lea masih saja menggoda Vanya yang mulai menatapnya tajam.

"Lo pilih diem atau gw sumpel mulut lo pake tangan gw ini" Vanya menunjukkan tangan nya yang sedang mengepal kuat mengarah ke wajah Lea.

"Eits santai zeyeng gw cuma becanda. Maapin yak" Lea yang tau kemampuan beladiri Vanya langsung kicep dan menghadap kedepan. Kebetulan guru yang akan mengajar sudah sampai didepan pintu kelas.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!