NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEGANGAN

"Dari mana kamu!" sebuah suara mengagetkan Rani.

Wanita itu langsung berdiri kaku, Farhan menatapnya tajam. Sorot matanya seakan-akan menelanjangi Rani.

"Kamu pakai ini keluar?" desisnya.

"Aku ... Aku hanya mau show Off. Masa aku istri ...."

"Diam Rani!" potong Farhan cepat.

"Pertanyaanku di awal belum kamu jawab!" lanjutnya dengan suara penuh penekanan.

"Aku ... Aku berbelanja ...."

Lalu matanya melihat tas-tas belanjaannya. Sayang tak ada satupun baju untuk suaminya bahkan dua putri mereka.

"Belanja sampai tengah malam?" tanya Farhan.

"Sumpah aku keluar mall jam tujuh Mas. Macet di mana-mana!" jawab Rani berbohong.

"Lalu sebelum kamu berbelanja kamu kemana?" tanya Farhan mulai kesal.

Rani terdiam, ia langsung mendekati Farhan.

"Mas ... Kita istirahat ya. Kamu kan baru pulang dan lelah ...."

"Aku datang sejak tadi siang Rani. Cepat katakan kamu kemana. Claudia dan Rafna tidak ada ...."

"Bi Asih yang bawa!" seru Rani sambil menahan tangisnya.

"Mas tau kan kalau perempuan itu makin lama makin berani ... Asih selalu bawa anak-anak tanpa persetujuan!"

"Gitu?" tanya Farhan.

"Iya Mas ... kau tau kan Aku tak pernah bohong ...."

"Kau bukannya meninggalkan mereka di klinik untuk mengantar Rafna imunisasi?"

Deg!

Rani mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir.

"Kli... klinik? Mas bicara apa? Aku tadi memang mau antar Rafna, tapi di jalan ada urusan mendadak, jadi aku minta Asih turun duluan dan—"

"Cukup, Rani!" Suara Farhan tidak tinggi, namun getaran amarah di dalamnya membuat lampu gantung di ruang tengah seolah ikut bergetar.

Farhan melangkah maju, memperkecil jarak hingga Rani bisa mencium aroma parfum suaminya yang bercampur dengan dinginnya udara malam. Farhan menarik sebuah kertas dari saku jasnya—sebuah catatan medis yang ia ambil dari meja setelah Asih pulang naik taksi sore tadi.

"Asih meneleponku sambil menangis dari klinik. Dia bingung karena kamu menghilang begitu saja di parkiran, sementara Rafna dinyatakan gizi buruk dan mengalami keterlambatan motorik! Anakku sakit Rani! Dan ibunya? Ibunya sedang sibuk menjinjing tas-tas bermerek ini?"

Farhan menendang salah satu tas belanjaan hingga isinya—sebuah tas kulit mahal—terlempar keluar.

"Tidak mungkin. Berarti Asih teledor mengurus Rafna ... Dia mestinya kau pecat ...."

"Biar apa? Biar kamu bebas ingin membobol brangkas begitu?" mata Rani langsung melebar.

"A-apa ... Maksudmu ... kamu mengintai aku?" desisnya tak percaya.

"Kamu mencurigai aku Mas?" teriaknya. .

Tiba-tiba Rani berperan seolah-olah jadi korban.

"Rani ... Jangan berdrama ... Aku muak!" tandas Farhan.

"Tidak ... Aku tidak terima!" teriak Rani frustrasi antara malu dan sakit hati.

"Apa perlu aku perlihatkan tangkapan kamera pengawas?" sahut Farhan yang membuat Rani kembali membeku.

"Ka-kamera pengawas?" cicit Rani menelan ludah. Pahit.

"Sudah, aku pusing ...," Farhan mulai lelah.

"Mas ... Aku kangen," Rani merengek manja. Ia merangkul lengan Farhan dan menyalurkan kehangatan.

"Rani ... Cukup! Aku lelah. Aku mau di kamar anakku!"

Farhan melepas rangkulan istrinya dengan sikap dingin. Ia berlalu dan meninggalkan Rani di ruang itu begitu saja.

Lagi-lagi Rani membeku, untuk pertama kalinya Farhan menolak terang-terangan sentuhannya. Tangannya bahkan masih menggantung di udara sampai sekarang.

Lalu matanya naik ke atas. Sebuah pikiran busuk melintas. Ia pun melangkah dengan hati kesal tak karuan. Saking kesalnya Rani menangis.

"Sayang, Mama masuk ya. Hiks ... Hiks!" Rani membuka pintu kamar putrinya lalu duduk di pinggir ranjang berukuran queen size itu.

"Huuuuu ... Uuu ...!!" tangisan Rani antara sungguhan dan bohongan. Ia ingin kembali meracuni pikiran sang putri.

"Sayang Mama tidur sama kamu ya. Ayah jahat soalnya. Dia lebih sayang sama Rafna dibanding kamu ...."

Diam ... Tidak ada respon sama sekali. Rani mengerutkan keningnya. Ia menoleh dan membuka pelan-pelan selimut yang menutupi ....

"Ah ... Berengsek ... Guling!" umpatnya kesal saat melihat guling yang ditutupi selimut tadi.

Rani berdiri, berkacak pinggang. Ia berpikir tak mungkin putrinya tidur di tempat lain. Claudia termasuk kurang suka bercampur.

Sementara yang dicari Rani tengah tertidur lelap di pelukan Asih.

Suasana rumah yang biasanya hangat itu kini terasa mencekam, seperti sebuah panggung sandiwara yang dekorasinya mulai runtuh satu per satu.

Rani berdiri mematung di tengah kamar Claudia yang sunyi, menatap guling tak berdosa itu dengan napas memburu.

Kebohongan yang ia susun sedemikian rupa ternyata hanya berujung pada kesunyian yang menulikan.

Rani menyibak selimut itu dengan kasar, melempar guling tersebut ke lantai. Amarahnya memuncak bukan karena peduli pada putrinya, melainkan karena ia kehilangan "senjata" untuk meluluhkan hati Farhan.

"Sialan! Asih benar-benar membawa mereka pergi!" desisnya.

Ia berlari keluar kamar, menuju kamar tamu di ujung lorong—tempat yang biasanya digunakan Asih.

Ia menendang pintu itu hingga terbuka. Kosong. Hanya aroma minyak telon sisa keberadaan Rafna yang tertinggal, seolah mengejek hidung Rani yang baru saja menghirup bau parfum mahal dari mall.

Rani terduduk di lantai kamar yang dingin. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian di istana megah ini. Semua aksesori emas di tubuhnya terasa berat dan menjerat, seperti rantai yang ia pasang sendiri.

Pelukan yang Tulus

Di sebuah kamar kecil namun sangat bersih di sudut rumah yang lain, Farhan sedang duduk di tepi ranjang Bi Asih.

Matanya berkaca-kaca menatap Claudia yang tertidur pulas sambil memeluk lengan Asih. Di boks bayi di samping mereka, Rafna tertidur dengan napas yang sedikit berat karena sisa demam pasca imunisasi.

Farhan mengusap wajahnya kasar.

"Maafkan saya, Bi. Saya terlalu sibuk sampai buta dengan apa yang terjadi di depan mata saya sendiri."

"Tuan... saya tidak bermaksud lancang," bisik Asih sambil memperbaiki letak selimut Claudia.

"Tapi Non Claudia tadi menangis sesenggukan. Dia bilang, Mama lebih sayang tas baru daripada adek yang sakit. Hati saya hancur mendengarnya, Tuan."

Farhan menunduk, ia sebagai ayah merasa gagal melindungi dua buah hatinya. Walau Claudia hanya sebagai anak sambung. Tapi baginya Claudia sudah merupakan darah dagingnya sendiri.

"Saya seorang perempuan yang diambil rahimnya akibat suatu penyakit. Mantan suami yang katanya akan mencintai saya seumur hidup langsung lenyap tak berbekas ...," lirih suara Asih bercerita kehidupannya yang pilu.

"Saya sendirian melawan virus langka yang menggerogoti rahim saya. Saya divonis hidup tak lama walau rahim saya diangkat ...," sambungnya dengan suara lemah.

"Namun Qadarullah ... ketika rahim saya diangkat. Saya sembuh total dan hidup sampai sekarang ... Sudah tujuh tahun berlalu ...," Asih mengakhiri kisah pilunya.

"Pak ... Saya sangat mencintai anak-anak. Saya sayang sama Non Claudia terlebih Neng Rafna. Tapi saya hanya seorang pengasuh ... Bukan ibu mereka ...."

"Saya tau Bi. Maka dari itu saya akan ambil alih. Kesehatan dan perkembangan Rafna dan kasih sayang adil untuk Claudia!" ujar Farhan tegas.

"Lalu Nyonya?" Farhan terdiam. Ia menghela nafas panjang, ia masih sangat mencintai Rani istrinya.

"Aku tidak tau Bi ... Aku sungguh tidak tau ...," jawabnya lemah.

Bersambung.

Dududuu ....

Next?

1
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
sama sama anak kandung kok begitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!