NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Pagi itu bahkan belum benar-benar terang saat mobil Kakek Jo berhenti di depan rumah Zara.

Zara keluar dengan hoodie tipis dan rambut dikuncir sederhana.

“Kek... ini mataharinya masih malu-malu loh…”

“Kamu butuh udara segar.”

Zara tersenyum kecil.

Ia tahu.

Ini bukan cuma soal joging.

Mereka berjalan pelan menyusuri jalan kompleks cluster Maheswara.

Udara pagi sejuk.

Rumput masih basah oleh embun.

Kakek sengaja berjalan santai.

Tidak terlalu cepat.

Tidak terlalu lambat.

Zara tertawa ketika Kakek pura-pura salah langkah karena batu kecil.

“Kakek drama banget sih.”

“Biar kamu ketawa.”

Zara terdiam sepersekian detik.

Lalu tersenyum lagi.

Tawanya terdengar.

Wajahnya terlihat cerah.

Tapi Kakek tahu.

Pikirannya tidak ada di sini.

Pikirannya masih berada di kamar kenzy.

Di ranjang itu.

Di pelukan yang ia lihat semalam.

“Kamu nunggu kenzy yang datang ke rumah?” tanya Kakek tiba-tiba.

Zara tidak langsung menjawab.

“Aku cuma berpikir…”

“Iya?”

“Harusnya pagi ini kenzy yang ngajak aku joging.”

Nada suaranya ringan.

Tapi terlalu ringan.

“Atau setidaknya datang. Jelasin semuanya.”

Ia menatap jalan di depan.

“Aku ini tunangannya kan, Kek.”

Kata itu terdengar pelan.

“Setidaknya untuk sekarang.”

Kakek menoleh.

“Apa kamu meragukan posisi kamu?”

Zara menggeleng kecil.

“Aku cuma… takut ternyata posisiku cuma sementara.”

Sunyi.

Kicauan burung-burung mulai terdengar.

Matahari naik pelan.

Kakek Jo berhenti sebentar.

“Zara.”

“Iya, Kek?”

“Kalau kamu pergi sekarang… kamu pergi karena takut atau karena yakin?”

Zara terdiam.

Pertanyaan itu sulit.

“Aku belum tahu,” jawabnya jujur.

Kakek tersenyum kecil.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Artinya kamu belum menyerah."

Sepulang joging, Kakek berhenti di warung sarapan favoritnya.

Mereka membeli bubur ayam, lontong sayur, dan roti hangat.

“Bungkus semua.”

“Kek, banyak banget.”

“Kita sarapan bareng-bareng.”

Zara ragu sebentar.

Lalu mengangguk.

“Iya… Ken juga pasti belum sarapan.”

ART rumah memang sedang cuti karena anaknya menikah.

Rumah itu pagi ini hanya diisi mereka.

Dan… Eve.

Nama itu kembali muncul di kepala Zara.

Begitu mereka masuk ke rumah.

Ken sudah turun dari tangga.

Bajunya belum ia ganti, masih sama yang dipakai kemarin.

Rambutnya belum sepenuhnya rapi.

Seperti orang yang kurang tidur.

Ia berhenti saat melihat Zara dan Kakek.

“Kalian dari mana?”

“Joging,” jawab Kakek santai.

Ken mengangguk pelan.

Lalu berjalan ke arah dapur.

“Kamu mau apa?” tanya Zara spontan.

Ken menoleh.

“Aku mau beli sarapan... Eve juga pasti butuh makan.”

Nama itu terdengar natural keluar dari bibirnya.

Zara merasakan sesuatu bergetar di dadanya.

Tapi ia tersenyum.

“Ini aku sama Kakek sudah beli sarapan.”

Ia mengangkat kantong plastik dengan ceria.

“Kita sarapan bareng-bareng ya.”

Ken menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Zara langsung bergerak cekatan.

Membuka bungkusan.

Menyusun piring.

Menuang teh hangat.

Seperti biasa.

Seperti tidak ada apa-apa.

Ken memperhatikannya sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Aku jemput Eve dulu ya.”

Ia hendak berbalik.

Tapi suara Kakek menghentikannya.

“Tidak usah.”

Ken mengernyit.

“Kenapa?”

“Biar Eve sarapan di kamar saja. Dia pasti masih lemah.”

Kakek mengambil satu nampan.

“Biar Kakek yang antar. Sekalian temani dia makan.”

Ken ragu.

“Tapi…”

Kakek menyela ringan.

“Kamu sarapan di sini saja.”

Ia melirik Zara.

“Bersama… ehem… sayangmu itu.”

Zara tersedak kecil.

Ken terdiam.

Ada keheningan yang canggung.

Namun Kakek sudah berjalan naik tangga membawa nampan.

Sengaja.

Dengan sangat sengaja.

Kini hanya ada mereka berdua di meja makan.

Zara masih berdiri di dekat meja.

Ken akhirnya duduk.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Zara duduk di seberangnya.

“Untuk apa?”

“Untuk tetap datang.”

Zara tersenyum kecil.

“Kakek yang menculikku kesini.”

Ken terdiam.

Beberapa detik hanya suara sendok menyentuh mangkuk.

Lalu Ken angkat bicara.

“Kamu pasti banyak pertanyaan yang ingin kamu tanyakan.”

Zara mengangkat wajahnya.

“Iya.”

“Aku akan jelasin.”

“Kapan?”

Pertanyaan itu tidak tajam.

Tapi langsung.

Ken menatapnya.

“Hari ini.”

Zara mengangguk.

“Oke.”

Sunyi lagi.

Ken menatap wajah Zara yang terlihat tenang.

Tapi matanya.

Tidak sepenuhnya cerah seperti saat liburan.

“Kamu marah?”

Zara tersenyum tipis.

“Aku nggak tahu harus marah atau bersikap bagaimana, kalaupun marah, aku mau marah ke siapa?.”

Jawaban jujur.

Ken meletakkan sendoknya.

“Zara.”

“Hm?”

“Aku tidak pernah mengharapkan ini terjadi.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan dia.”

Kalimat itu pelan.

Berat.

Zara menunduk.

“Aku juga nggak minta kamu mengabaikan siapa pun.”

Ia menarik napas pelan.

“Aku cuma minta jangan abaikan aku.”

Ken terdiam.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan.

Di atas sana.

Kakek mungkin sedang menemani masa lalu.

Di bawah sini.

Masa kini sedang menunggu jawaban.

Dan di meja makan .

Cinta, rasa bersalah, dan ketakutan

Duduk berdampingan.

Tanpa ada yang benar-benar tahu.

Siapa yang akan tetap tinggal.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!