Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Gerbang Sekolah
Pagi itu, SMK tempat Kenan dan Kala menimba ilmu terasa lebih riuh. Setelah tiga bulan "menghilang" di dunia kerja, para siswa kelas dua akhirnya kembali ke habitat asli mereka. Kenan berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Dia memakai seragam Akuntansi yang sekarang sudah benar-benar pas di badan, tidak lagi terlihat seperti sosis yang mau meletus. Rambut ikalnya tertata rapi, dan wajahnya bersih—hanya tersisa sedikit bekas jerawat yang samar.
"Nan, kau berangkat sekolah atau mau ikut pemilihan model majalah remaja?" celetuk Jovan yang sudah menunggu di depan rumah dengan motornya. Jovan sendiri kulitnya makin legam karena tiga bulan main kunci pas di bengkel walaupun sebenarnya dia anak akuntansi.
"Ini namanya rebranding, Van. Aku mau menghapus memori 'raksasa jerawatan' dari otak budak-budak sekolah kita," jawab Kenan sambil memakai helmnya.
Sesampainya di gerbang sekolah, Kenan sengaja berjalan dengan langkah tegap. Begitu dia melewati kerumunan siswa yang lagi nongkrong di depan kantin, suasana mendadak hening sejenak.
"Eh, itu siapa? Anak baru?" bisik seorang siswi kelas satu.
"Bukan, itu... itu bukannya si Kenan anak Akuntansi yang dulu gendut itu?"
"Masa sih? Kok jadi tinggi tegap gitu? Mana mukanya bersih lagi!"
Kenan hanya tersenyum tipis, mencoba tetap rendah hati meski hatinya sudah melompat-lompat kegirangan. Tak lama kemudian, dia melihat Kala turun dari angkot di depan gerbang. Kala tampak sangat manis dengan hijabnya yang rapi dan aroma bunga matahari yang samar-samar tercium saat dia lewat.
"Pagi, Kenan!" sapa Kala ceria.
"Pagi, Kal. Siap menghadapi kenyataan kalau kita bukan lagi staf kantor?" goda Kenan.
"Siap nggak siap sih, Nan. Tapi aku lebih siap buat belajar lagi," jawab Kala.
Saat mereka berjalan berdua menyusuri koridor, semua mata tertuju pada mereka. Rumor tentang kedekatan mereka selama magang ternyata sudah sampai duluan ke sekolah lewat cerita-cerita Elin dan Maura.
"Cieee! Pasangan magang paling hits sudah balik!" teriak Elin dari depan kelas TKJ.
"Apa sih, Lin! Jangan mulai deh," balas Kala sambil tersenyum malu.
Di kelas, Kenan disambut meriah oleh teman-teman se-jurusan Akuntansi. Bahkan Bu Nurul, guru produktif mereka, sampai melepaskan kacamata untuk memastikan kalau itu benar Kenan.
"Kenan? Ibu kira kamu salah masuk kelas. Kamu sehat kan? Kok bisa berubah drastis begini?" tanya Bu Nurul kagum.
"Sehat, Bu. Rahasianya cuma nasi merah sama sering angkat berkas pajak yang berat, Bu," jawab Kenan yang langsung disambut tawa seisi kelas.
Namun, di tengah suasana gembira itu, Kenan tetap waspada. Dia tahu, meski Revan sekolah di STM yang jaraknya satu jam dari sini, berita tentang "Kenan Baru" ini pasti akan sampai ke telinga cowok itu lewat informan-informannya.
Saat jam istirahat, Kenan duduk bersama Jovan di bawah pohon ketapang legendaris mereka.
"Nan, kau harus hati-hati. Aku dengar dari anak-anak otomotif yang sering main ke sekolah Revan, si Revan itu lagi panas betul hatinya. Dia merasa harga dirinya jatuh karena diputuskan Kala gara-gara video kita kemarin," lapor Jovan.
"Biarkan sajalah, Van. Dia kan di sana, kami di sini. Satu jam perjalanan itu lumayan buat bikin dia malas datang tiap hari," sahut Kenan santai.
"Jangan salah, Nan. Cowok manipulatif macam dia itu rela menempuh perjalanan jauh demi 'balas dendam'. Apalagi dia merasa kau itu saingan yang tak selevel sama dia. Dia itu anak STM, Nan. Kau tahu sendirilah mental budak-budak sana kalau lagi emosi," Jovan memperingatkan.
Kenan terdiam sejenak. Dia melihat Kala yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di kejauhan. "Apapun yang terjadi, aku takkan biarkan dia ganggu Kala lagi. Satu jam atau sepuluh jam perjalanan pun, aku bakal tetap jadi benteng buat Kala."
Tiba-tiba, HP Kala yang diletakkan di atas meja kantin bergetar. Ada nomor baru yang tidak dikenal mengirim SMS. Kala membacanya, dan raut wajahnya langsung berubah pucat. Dia menatap ke arah Kenan dengan tatapan gelisah.
Kenan segera menghampiri Kala. "Ada apa, Kal?"
Kala menyodorkan HP-nya.
Isi SMS: "Satu jam itu waktu yang singkat untuk aku datang ke sekolahmu dan memberi pelajaran pada raksasa sombong itu. Tunggu aku di depan gerbang jam pulang sekolah nanti. -R"
Kenan menarik napas panjang. Ternyata dugaannya benar. Jarak satu jam tidak menghalangi niat buruk Revan.
"Nan, gimana nih? Dia mau datang ke sini. Aku takut ada keributan," suara Kala gemetar.
Kenan memegang tangan Kala dengan lembut. "Tenang, Kal. Biarkan dia datang. Kita hadapi sama-sama. Ini sekolah kita, dia itu tamu. Tamu yang tak diundang harus dikasih tahu sopan santun sikit."
Kenan melirik Jovan. Jovan langsung mengangguk, seolah sudah paham apa yang harus dilakukan. Operasi pertahanan sekolah pun dimulai. Kenan tidak lagi takut. Dia bukan lagi Kenan yang hanya bisa sembunyi di balik jerawatnya.