Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI TERKUAK
"Kurang apa aku?" teriak Melani, istri Pak Amar untung saja bayi itu tidak di sekitar Melani, kalau gak mungkin saja dibanting. Mental ibu baru melahirkan itu belum stabil, baru juga pulang dari rumah sakit sudah disuguhkan kenyataan pahit. Kedua orang tua belah pihak yang masih berada di rumah Pak Amar berusaha menghentikan, menengahi, tapi tak bisa malah kedua ibu menangis setelah mengetahui kenyataan dari Melani, bahwa Amar punya selingkuhan.
"Itu bukan anakku, Sayang!" masih saja Amar ngotot kalau itu bukan anak Amar, dan meyakinkan keluarga bahwa perempuan itu hanya mengada-ada.
"Sebagai perempuan, aku tahu pasti siapa yang menghamili, dia tak mungkin ke sini kalau kalian tak ada hubungan!" sentak Melani tanpa peduli ada mertuanya. Ia hanya ingin kejelasan karena ia sudah memendam cukup lama atas sikap sang suami.
"Apa kamu pernah tidur dengan dia?" tanya papa Melani, mungkin karena emosi beliau lebih stabil sehingga pertanyaan pemantik lebih terarah.
Ditanya begitu oleh mertua lagi, Amar mengangguk pelan. "Bajingan kamu!" teriak Melani sembari memukul dada Amar, dan langsung menjambak Amar.
"Melani, Mel, sudah Mel, tenang!" papa Melani meski tak terima tetap tak mau ada kekerasan, apalagi tenaga Melani belum pulih benar, ia tak mau sang putri kesakitan.
"Kamu kejam, bangsat kamu. Aku sudah sabar menghadapi kamu. Selama ini kamu sibuk dengan kegiatan kamu, aku tak pernah protes. Bahkan sejak menikah, kamu hanya memberiku nafkah batin satu bulan sekali, aku tak pernah protes. Ternyata kamu lebih memilih dengan wanita lain daripada dengan istri kamu. Aku kurang apa, Bangsat!" teriak Melani tak karuan.
Amar hanya diam saja, posisinya dia salah, tak mungkin ia membela diri. "Aku tahu, aku gak perawan saat kamu menjamahku pertama kali, tapi aku sudah minta maaf dan itu masa lalu, selama menikah aku setia sama kamu, tapi kenapa kamu tega menyakitiku begini! Jawab!" Melani sudah kesetanan, matanya menyalak dengan deraian air mata. Tenaganya serasa full energi hendak menghajar sang suami, kalau tidak dihalang oleh papanya.
"Bahkan aku dengan sabar tak bertanya soal Karina, aku diam, aku hanya berdoa semoga dia tak pernah menjadi perempuan bahagia saat bersamamu." Amar langsung mendongakkan kepala saat sang istri menyebut Karina. Melani menangis meraung. Sampai terduduk lemah, dengan tangisan dan memukul dada.
"Kamu tiap hari ke cafe tempat Karina bekerja, aku masih membuntuti kamu, bahkan kamu selalu mengajak dia ke apartemen kamu aku masih diam. Aku tahu kamu akan melampiaskan kemarahan kamu dengan mencari seorang gadis, tapi lihatlah perempuan itu kamu bunuh dan aku masih diam, saat kamu mau kembali padaku lagi. Kamu juga sudah berapa kali main dengan perempuan lain, dan aku masih bisa terima. Tapi kini kamu menghancurkan kesabaranku, kamu tahu perempuan itu lebih berani daripada Karin, dan dia bisa melakukan banyak hal untuk meminta pertanggung jawabkan perbuatan kamu. Bangsat, aku gak mau sama kamu lagi!" teriak Melani dengan tangisan histeris.
Papa Melani melirik Amar dengan tatapan tajam, selama ini ia pikir rumah tangga sang putri baik-baik saja, nyatanya dia menderita dan penuh kesabaran menghadapi kenakalan suami di luar sana. Sebagai laki-laki ia paham, kalau mendapatkan istri tak gadis rasanya seperti dibohongi saja, tapi kalau gak mau kenapa gak dikembalikan saja, cerai saja saat itu. Kenapa harus ada pengkhianatan?
"Aku mau cerai, Pa. Aku sanggup membesarkan anakku sendiri. Aku gak mau anakku kena karma atas perbuatan ayahnya, apalagi anakku perempuan, Pa!" ucap Melani pilu dengan memeluk sang papa.
"Baik, Nak. Baik, akan papa urus segalanya. Demi kebahagiaan kamu," ucap papa Melani sembari menatap Amar tajam.
Sang papa sangat merasa bersalah, karena dulu menjodohkan sang putri dengan Amar. Seorang pemuda, yang dianggap sebagai seorang dosen dengan berkelakuan baik, dosen muda pula. Tapi nyatanya punya kebiadaban tak termaafkan. Papa baru sadar kalau sang putri tidak diperhatikan secara layak selama ini, bahkan hampir 10 tahun pernikahan baru memiliki anak. Beliau menganggap sang putri yang kurang subur, nyatanya Amar yang tak pernah menjalankan suami dengan benar.
"Pa, aku mohon!" ucap Amar sepertinya menyesal. Namun papa sudah tak mau tahu, kalau sang putri sudah diambang batas kesabaran, maka selesai sudah tidak ada kesempatan untuk Amar.
"Pa, aku benaran untuk kali ini aku tidak akan mengulanginya lagi, Pa. Aku minta maaf. Aku melakukan dengan dia juga bukan dengan jiwa Sandrina, melainkan jiwa Karin, saat itu aku ketakutan, mau tak mau aku menuruti hantu itu!" ucap Amar jujur, tapi apa semua percaya apalagi urusan dengan hantu.
Melani tertawa sumbang, mendengar penjelasan sang suami. "Hanya orang bodoh yang percaya sama kamu. Karin sudah meninggal, dan tidak akan pernah ada. Kamu saja yang pintar mengarang cerita, kalau mau tidur tidur saja tak perlu mengungkit orang yang sudah meninggal," ucap Melani muak.
"Tapi aku gak bohong Sayang!"
"Akan aku robek kamu bilang Sayang lagi," ancam Melani dengan tatapan tajam pada Amar. Sungguh, Amar baru merasakan powernya perempuan tersakiti pada siang ini. Selama ini ia pikir sang istri tak mau tahu kehidupan luar Amar, tapi ternyata dia sampai membuntuti dan tahu soal Karin. Memang ya firasat istri tak bisa diremehkan.
Amar sendiri mau mempertahankan pernikahan bukan karena cinta, tapi karena Amar merasa kapan lagi punya pasangan yang baik, dan sabar tak pernah menuntut ini itu. Amar nyaman dengan kondisi sang istri yang penurut begini. Tidak ada perempuan yang sanggup bertahan dengannya seperti Melani. Tapi sekarang, gara-gara kehadiran Sandrina, semua hancur dan Amar harus siap kehilangan istri dan anaknya.
"Kami minta maaf," ucap ibu Amar, tak akan beliau membela sang anak, karena kesalahannya sudah fatal.
"Silahkan keluar, rumah dan tanah serta isi rumah ini hasil pemberian orang tuaku, laki-laki miskin banyak tingkah," ucap Melani dengan tajam, sengaja mengejek harga diri sang suami. Selama ini, Melani bekerja di rumah dan tak pernah menuntut nafkah lahir pada Amar, meski kebutuhan rumah tangga dibayar olehnya.
"Ayo Nak ayo pulang," ujar ayah Amar. Anaknya sudah salah dan kelewat kejam pada sang istri hingga Melani berani menginjak harga dirinya.
"Tapi, Yah. Aku ingin mempertahankan rumah tangga ini," ucap Amar sendu. Ia tidak menampakkan seperti dosen bijak, hanya seperti pria tua yang oleng pikirannya.
"Tolong bawa pulang, Ayah dan Ibu. Akan aku layangkan gugatan, tinggal tanda tangan tanpa keluar uang sepeser pun. Aku hanya ingin bercerai dan hak asuh anak ada di tanganku," ucap Melani berkuasa.