NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpaksa Setuju Menikahi Gadis Yang Masih Remaja.

Siapa yang ikhlas harta warisan berjumlah puluhan triliun harus jatuh ke orang lain. Mana mungkin Rio membiarkan seorang gadis belia bernama Rayi menggantikan dirinya diangkat sebagai gadis pewaris dari kakeknya Subrata.

Saudara bukan kok tiba-tiba akan menjadi ahli waris yang seharusnya menjadi miliknya, karena dirinyalah satu-satunya cucu Kakek Subrata.

Entah dapat wahyu dari mana kakeknya tiba-tiba memberi ultimatum. Ah kalau ultimatum bukan wahyu, tolak batin Rio Hadi Subrata. Wahyu adalah kabar atau kejadian yang memberikan kebaikan pada penerimanya, yang di sini tentu orang tersebut adalah Rio.

Namun yang terjadi justru pemuda dua puluh tiga tahun yang sedang menyelesaikan kuliahnya di tahun terakhir itu, harus mundur dari kursi pewaris kekayaan keluarganya dan harus diserahkan pada Rayi gadis delapan belas tahun yang baru berkuliah pada semester pertama.

Itu adalah mimpi buruk yang tak ubahnya sebuah malapetaka atau kutukan entah dari mana datangnya, hingga sang kakek seperti mendapat bisikan yang tak bisa ditolak.

"Walau Rayi masih berumur delapan belas tahun tapi dia sudah boleh menikah. Karena besok kamu harus berangkat ke Jepang untuk mempersingkat waktu pernikahanmu dengan Rayi akan dilakukan secara siri dulu." Suara kakek Brata bagai sebuah godam yang menghantam kepala Rio.

Rio hanya diam, percuma melawan kakeknya. Sudah berapa banyak kata yang terucap dari mulutnya untuk menggagalkan pernikahan ini, bahkan untuk menunda pun tak digubris kakeknya.

"Darimana kamu tahu jika perbedaan usia kalian yang lima tahun itu kurang pas. Dan dari teori apa pula kamu menuduh jika Rayi itu terlalu muda untukmu." Suara kakek Brata mengintimidasi selepas Rio mengatakan jika Rayi itu masih gadis belia, sedangkan dirinya pemuda dewasa.

"Kek menikah itu kan membutuhkan dua orang yang saling sepakat," ujar Rio lirih tak berani menatap lelaki tua yang begitu menyayanginya, menggantikan peran ayah sejak papanya Hadi Subrata meninggal dunia karena kecelakaan pesawat udara sejak dirinya sembilan bulan dalam kandungan ibunya.

"Kesepakatan sudah terjadi antara kakekmu ini dengan kakeknya Rayi, jika kamu menolak sama saja mengantarkan kakekmu ini menjadi seorang pengkhianat pada sahabatnya, pada orang yang telah menyelamatkan jiwa kakekmu ini. Jika demikian sama saja cucu Kakek mengantarkan pada jurang penyesalan lelaki tua ini yang sangat tak punya harga diri jika sampai menjadi orang sepuh yang ingkar janji.

Ah Rio tak bisa melawan kakeknya yang tiba-tiba saja mengeluarkan rangkaian kalimat yang sarat dengan rasa kemanusiaan yang sangat menghormati arti sebuah setia.

"Ah kakekku ini ternyata seorang setia kawan, seorang seorang yang menjunjung tinggi janji yang telah terucap, tapi bukan juga mengorbankan kebebasanku dalam memilih pendamping," seru hati Rio yang kagum campur gedek pada prinsip kakeknya yang menganut teori tunggal azas pemikirannya.

"Menolak pernikahan ini itu artinya lebih keji daripada membunuh kakekmu dengan pedang." Tatap kakek Brata tajam menusuk ke ulu hati Rio.

"Oh!" Rio merasa bergidik menerima tatap mata kakeknya yang bagai mengunci keberaniannya itu. Kakek kenapa bawa-bawa kata pembunuhan segala, sih, mengerikan, batinnya tanpa berani mengeluarkan sepatah kata.

"Kakek tak mau memaksakan kehendak. Tinggal pilih memberikan peluang warisanmu pada Rayi dan mengecewakan kakekmu sama juga membunuh jiwa ini. Atau tetap menjadi pewaris dan memberikan napas kehidupan pada kakekmu ini." Kakek Brata tak mau tanggung-tanggung dalam mengungkapkan rangkaian kata yang sengaja dipilihnya dalam arti yang berat, supaya cucu yang telah dididiknya untuk menjadi pewaris sejak masih usia remaja itu.

Memang terbukti Rio sangat terpukul jiwanya jika sampai mengecewakan kakeknya. Jika pada akhirnya dia menerima pernikahannya dengan Rayi, bukan semata-mata ingin menyelamatkan warisannya, namun juga tak mau kakeknya kecewa dan kemudian sakit. Rio ingin berbakti pada kakeknya.

"Boleh Rio lihat foto gadis itu, Kek?"

"Akhirnya cucuku ini penasaran dan ingin memandang kecantikan calon istrinya ..." senyum penuh kemenangan si kakek yang masih gagah diusianya yang ke tujuh puluh lima membuat Rio menggeram dalam diam.

"Harus dong masa aku harus beli kucing dalam karung?!" Rio memberikan pepatah yang tak asing lagi bagi sebagian orang.

"Karena Rayi bukan kucing tak perlu kamu lihat fotonya, toh nanti juga akan menemani seumur hidupmu ..." ujar kakek Brata santai.

Rio menahan rasa kesalnya pada kakeknya yang dia nilai sok tahu kalau Rayi akan menjadi pendamping seumur hidupnya, kayak peramal saja, sungut hatinya.

"Iksan kamu segera hubungi pak Kyai untuk menikahkan cucuku dengan calon istrinya," perintah kakek Brata melunak namun tampak serius pada asisten kepercayaannya.

"Baik, Pak,"

"Utus orang untuk menjemput calon cucu mantuku,"

"Baik, Pak,"

Rio mengernyitkan alis mendengar perintah jika kakeknya meminta orang kepercayaannya menjemput gadis itu.

"Berarti gadis itu sudah sepakat dengan kakek dan sekarang juga siap untuk menikah denganku, hem bocil yang menganggap aku sama dengan kakekku. Rupanya dia sudah janjian sama kakek, awas ajah kalau udah jadi istriku !" Ancam Rio salah menduga dikira Rayi sengaja bekerja sama dengan kakek Brata.

"Rio kamu sekarang bersiap di ruangan untuk acara ijab kabul. Iksan sudah menjemput pak Kyai dan Rayi calon istrimu pun sudah dijemput." Ujar kakek Brata dengan suara yang pantang untuk ditolak.

Rio melangkah ke ruangan yang ditunjuk kakeknya.

"Rio ..."

Rio menoleh.

Kakek Brata menatap penampilan cucunya yang mengenakan kaos oblong dan celana jeans.

Rio masih berdiri tak mengerti arti tatapan kakeknya.

"Kamu mau menikah apa mau santai ke mal?"

"Oh ..." Rio menunduk seperti menyadari penampilannya.

Salah seorang yang ditugaskan mempersiapkan tampilan Rio mendekat.

"Tuan muda mari silahkan untuk ganti pakaian dulu," ujar seorang lelaki berpakaian kemeja batik dan celana panjang hitam.

Rio menurut. Rupa sudah dipersiapkan setelan jas dan celananya warna kream. Tak lama kemudian Rio melangkah keluar didampingi lelaki yang mengawalnya tadi.

Kakek Brata yang menyambut kedatangan Rio tertegun menatap cucu tunggalnya dalam pakaian resmi tampak gagah dan tampan.

"Cucuku tampan dan gagah papamu dari sana pasti bangga padamu, sayang mama kamu sampai detik ini belum kita temukan ..." gumam kakek Brata, tapi jelas dapat terdengar oleh Rio yang tiba-tiba hatinya mengharu biru teringat pada papanya, serta perasaan ibah pada mama yang menghilang.

Kakek Brata mendekat lalu mengalungkan rangkaian bunga melati ke leher cucunya. Lalu memeluk Rio tulus, dan Rio kesal pada kakeknya sejak diharuskan menikahi Rayi mendadak hatinya lumer oleh pelukan tulus satu-satunya orang terdekatnya itu. Maka dia membalas pelukan sang kakek.

Kemudian kakek dan cucu itu bertatapan tanpa suara. Lalu kakek Brata membimbing Rio ke ruangan yang sudah dirias untuk acara ijab kabul.

Di ruangan yang kini wangi semerbak bunga mawar merah dan putih Rio tertegun. Wow ternyata sudah niat banget kakekku ini, batinnya.

Kakek Brata membimbing Rio ke sebuah meja yang sudah rapih di kelilingi enam kursi.

"Itu mas kawinnya ..." bisik kakek Brata.

Rio terbelalak karena menyadari kakeknya sungguh sangat detil mempersiapkan semuanya.

"Seperangkat alat sholat dan uang lima ratus juta,"

Rio menatap uang lima ratus juta uang ditempatkan pada sebuah rajut berwarna emas, serta sajadah warna coklat muda serta mukena warna putih.

"Cincin berlian untukmu dan Rayi,"

Rio menatap kakeknya, harus gitu aku makai cincin kawin?

Tapi pertanyaan itu hanya diucapkan dalam hati saja. Apalah daya dirinya kini. Aduh tak pernah terbayang akan menikahi gadis remaja yang belum dikenalnya, bahkan tak tahu wajahnya.

Huh tuh cewek murah amat sih mau dinikahkan sama cowok yang belum dikenalnya. Sungut Rio merasa benci seketika dengan remaja yang bernama Rayi itu.

Tiba-tiba sebuah prasangka melintas di kepalanya. Jangan-jangan nih cewek sengaja deketi kakek karena bestian ma kakeknya dulu, dan pastinya dia ingin numpang hidup mewah. Huh awas saja tak akan pernah kamu mendapatkan apa yang kamu incar bocil!

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!