NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 "Makan sate"

Udara siang itu terasa menggantung, tidak panas, tidak pula sejuk—seperti perasaan Cherrin yang terjebak di antara rasa ingin tahu dan kegelisahan yang belum menemukan ujungnya.

Ucapan Zivaniel barusan masih terngiang jelas di kepalanya.

Jangan pernah cari tahu.

Nada suaranya bukan sekadar dingin. Ada sesuatu yang lain di sana. Ketegasan yang nyaris terdengar… takut.

Cherrin berdiri mematung beberapa detik, menatap punggung Zivaniel yang kini bersandar santai di ranjangnya sendiri, seolah tidak baru saja mengucapkan kalimat yang membuat jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya. Pemuda itu merebahkan diri dengan satu tangan menutup mata, napasnya teratur, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang melelahkan—bukan secara fisik, melainkan batin.

“Kamu barusan marah?” tanya Cherrin pelan.

Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar, bukan Cherrin. “Enggak.”

“Kedengarannya kayak marah,” gumam Cherrin, setengah bercanda, setengah menguji.

Zivaniel menghela napas pelan, lalu bangkit duduk. Rambutnya yang masih sedikit basah jatuh ke dahi, meneteskan air kecil ke kaus hitam polos yang dikenakannya. “Aku cuma… nggak mau kamu ikut-ikutan hal yang bukan urusan kamu. Apalagi hal kayak begitu, Cher”

“Kalau itu berbahaya?”

“Apalagi.”

Jawaban singkat itu membuat ruangan kembali hening. Cherrin menggenggam ponselnya, lalu akhirnya mengangguk kecil. Ia tahu, memaksa sekarang hanya akan membuat Zivaniel menutup diri lebih rapat. Ada tembok tak kasatmata di sekeliling pemuda itu—tinggi, dingin, dan tidak mudah ditembus.

“Yaudah,” katanya akhirnya. “Aku mandi.”

Zivaniel menoleh. “Pakai jaket. Di luar anginnya kencang.”

Cherrin berhenti sejenak di depan pintu kamar mandi, menoleh ke arahnya dengan alis sedikit terangkat. “Kamu perhatiin banget.”

“Biasa aja,” jawab Zivaniel cepat, lalu kembali merebahkan diri.

Namun Cherrin tersenyum tipis sebelum menutup pintu.

Air hangat mengalir di kulitnya, membawa sedikit kelegaan. Cherrin memejamkan mata, membiarkan suara air menenggelamkan pikirannya—meski tidak sepenuhnya berhasil. Wajah bertopeng itu masih muncul sekilas, lalu tergantikan oleh wajah Zivaniel yang tadi menatapnya dengan intensitas yang sulit ia jelaskan.

Kenapa dia peduli?

Kenapa dia tahu soal sate? Semalam saat kejadian itu, ia bahkan tidak jadi makan sate dengan Icha, keduanya terlanjur ketakutan dan pergi dari tempat itu. Bahkan, mereka tidak tau orang yang tergeletak tak jauh dari sana hidup atau mati.

Beruntung media pagi ini tidak ada meliput tentang kejadian semalam. Cherrin merasa aneh juga, padahal itu kasus pembunuhan, kok awak media tidak mengabarkannya?

Cherrin bahkan sudah pantengin sosial media maupun televisi. Namun, hasilnya nihil.

Cherrin menghela napas, mematikan keran, lalu mengeringkan rambutnya seadanya. Ia mengenakan jaket abu-abu tipis, jeans, dan sepatu kets. Sederhana. Aman.

Saat ia keluar, Zivaniel sudah berdiri di dekat pintu, kunci mobil berputar pelan di jarinya.

“Siap?” tanyanya.

“Siap,” jawab Cherrin semangat.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong mansion. Tidak ada pembicaraan. Tidak ada pertanyaan. Namun langkah mereka seirama, seolah diam-diam sudah terbiasa satu sama lain.

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman luas mansion. Pepohonan rindang bergeser ke belakang, digantikan jalanan kota yang mulai ramai. Cherrin menatap keluar jendela, melihat kehidupan berjalan seperti biasa—orang-orang tertawa, pedagang menjajakan dagangan, motor berlalu-lalang.

Dunia tampak normal.

Seolah tidak ada monster yang berkeliaran di malam hari.

“Tempatnya agak jauh,” ujar Zivaniel memecah keheningan. “Tapi satenya enak.”

“Kamu sering ke sana?” tanya Cherrin.

“Dulu,” jawabnya singkat.

Jawaban itu lagi-lagi menyisakan ruang kosong. Namun Cherrin tidak mendesak. Ia hanya mengangguk, menikmati suara mesin dan radio yang diputar pelan—lagu lama dengan melodi sendu.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Sebuah gerobak sate berdiri di bawah lampu jalan, asap tipis mengepul, membawa aroma daging terbakar dan bumbu kacang yang hangat. Beberapa bangku plastik tersusun sederhana, sudah ada dua atau tiga orang pelanggan.

“Di sini,” kata Zivaniel sambil turun.

Cherrin ikut turun, hidungnya langsung menangkap aroma yang membuat perutnya bereaksi. “Baunya enak banget.”

Zivaniel tersenyum tipis—hampir tak terlihat.

Mereka duduk berhadapan. Zivaniel memesan dua porsi sate ayam, lontong, dan es teh manis. Suaranya datar, tapi jelas. Pedagang itu mengangguk ramah, langsung bekerja.

Asap sate menari di udara, sesekali tersapu angin. Cherrin mengusap lengannya, bukan karena dingin, tapi karena perasaan aneh yang kembali muncul. Duduk di sini, di tempat sederhana, bersama Zivaniel—rasanya kontras dengan segala ketegangan yang mengelilingi mereka.

“Tempat ini tenang banget Niel...” ucap Cherrin pelan matanya berbinar.

Zivaniel menatap jalanan sejenak. “Iya. Nggak banyak orang peduli sama orang lain.”

Cherrin menatapnya sinis. “Itu kedengarannya sedih banget.”

“Realistis,” koreksi Zivaniel.

Tak lama, sate datang. Tusukan-tusukan cokelat keemasan ditata rapi, saus kacang kental mengalir di atasnya, taburan bawang goreng dan kecap melengkapi. Cherrin menelan ludah.

“Makan,” kata Zivaniel.

Cherrin mengambil satu tusuk, meniupnya sebentar, lalu menggigit. Matanya langsung berbinar. “Enak.”

Zivaniel mengangguk, mengambil tusukannya sendiri. Mereka makan dalam diam beberapa saat. Hanya suara gigitan, kendaraan lewat, dan sesekali suara pedagang menyapa pelanggan lain.

“Aneh ya,” ujar Cherrin tiba-tiba. “Setelah semua yang terjadi, kita masih bisa makan sate kayak gini.”

Zivaniel berhenti mengunyah. “Hidup harus jalan.”

“Meski ada hal-hal gelap?”

“Iya.”

Cherrin menatap piringnya. “Kalau kamu di posisiku, apa yang kamu lakukan?”

Zivaniel menatapnya tajam. “Maksud kamu?”

“Kalau kamu lihat sesuatu yang seharusnya nggak kamu lihat,” lanjut Cherrin pelan. “Sesuatu yang berbahaya. Kamu bakal pura-pura nggak tahu?”

Zivaniel meletakkan tusuk sate perlahan. “Aku bakal memastikan orang yang aku peduliin aman.”

Jawaban itu membuat Cherrin terdiam. “Dan kalau itu berarti bohong?”

“Kadang bohong lebih baik daripada jujur,” jawab Zivaniel tanpa ragu.

Cherrin menghela napas. “Aku nggak suka dibohongi.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Terus aku tetap bakal bohong kalau itu buat kebaikan kamu.”

Nada suaranya lembut, tapi tegas. Cherrin menatapnya lama, mencoba mencari celah—namun tidak menemukannya. Zivaniel seperti dinding batu: dingin, keras, dan tak mudah runtuh.

Mereka melanjutkan makan. Sate demi sate habis, perut Cherrin terasa hangat. Ketegangan di dadanya sedikit mengendur, meski pikirannya belum sepenuhnya tenang.

Es teh datang. Cherrin menyeruputnya pelan. “Niel.”

“Hmm?”

“Kamu percaya aku?”

Zivaniel menatapnya langsung. Kali ini, tidak menghindar. “Percaya.”

“Meski aku kepo?”

“Meski kamu keras kepala.”

Cherrin tersenyum kecil. “Kalau gitu, percaya juga kalau aku bisa jaga diri.”

Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan, lalu kembali pada Cherrin. “Aku nggak ragu kamu kuat.”

“Tapi?”

“Tapi ada dunia yang lebih kejam dari yang kamu bayangkan.”

Kata-kata itu menggantung. Angin bertiup pelan, membawa sisa asap sate. Cherrin memeluk jaketnya.

“Kalau suatu hari aku tahu kebenaran,” kata Cherrin pelan, “aku harap kamu nggak marah.”

Zivaniel menatapnya lama. “Aku lebih takut kamu terluka.”

Cherrin tersenyum tipis. “Kamu ini protektif banget.”

“Biasa aja,” jawabnya, lagi-lagi cepat.

Mereka bangkit setelah membayar. Saat berjalan kembali ke mobil, Cherrin melirik Zivaniel dari samping. Di bawah lampu jalan, wajah pemuda itu tampak lebih manusiawi—tidak sedingin biasanya. Ada garis lelah di matanya. Ada beban yang ia sembunyikan rapat-rapat.

“Niel,” panggil Cherrin pelan sebelum masuk mobil.

Zivaniel menoleh.

“Terima kasih… buat satenya.”

Zivaniel mengangguk. “Kapan-kapan lagi.”

Cherrin tersenyum lebar dengan pipi merona.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!