NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Hari ini Alya memulai harinya dengan mata berat, semalaman ia tidak bisa tidur, memikirkan pesan balasannya pada Reyhan yang terkesan ingkar janji.

Tapi Alya butuh jeda, dia ingin semuanya tenang dulu setelah apa yang terjadi.

Sekali lagi ia mengecek ponselnya, pesan itu belum dibuka Reyhan, Alya juga tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan jika balasan Reyhan tidak sesuai ekspektasinya.

Alya takut Reyhan merasa dipermainkan.

Alya takut Reyhan kecewa.

Dan yang lebih menguras pikirannya, ia takut Reyhan berpikir bahwa dirinya hanya memanfaatkan pria itu.

Masalah ini muncul tepat setelah kerja sama antara mereka berakhir.

Sekali lagi Alya mengusak rambutnya menjadi berantakan, ia belum mau turun dari ranjangnya meski waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, Alya terbiasa bangun lebih pagi dari ini.

Tapi pagi ini, semuanya terasa berat.

Alya menegakkan badannya, mencoba mengambil alih dirinya dari hati dan perasaan yang sedang kacau akhir-akhir ini.

Hari ini mungkin akan jadi pembeda dari hari sebelumnya, atau mungkin hari dimana ia kembali ke setelan awal.

Kembali ke titik sebelum Reyhan hadir dalam hidupnya.

Ia turun dari ranjang, kemudian berjalan ke dapur, memulai hari nya dengan memasak sarapan.

Tepat setelah pukul tujuh Alya sudah siap dengan setelan kerjanya.

Alya kembali pada mode seriusnya, dia bicara seperlunya dan selalu fokus pada laptop dan buku agendanya.

Alya menghabiskan pagi di kantor dengan ritme yang nyaris mekanis.

Ia membuka email satu per satu, menandai mana yang harus dibalas hari ini dan mana yang bisa ditunda. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, matanya jarang beralih dari layar. Jika ada yang bertanya, ia menjawab singkat, tepat, tanpa tambahan apa pun yang tidak perlu.

Tidak ada yang salah.

Justru terlalu benar.

Beberapa orang menyadari Alya kembali seperti dulu rapi, fokus, tidak banyak terlibat obrolan ringan. Pingkan sempat meliriknya dari seberang meja, seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu memilih kembali ke pekerjaannya sendiri.

“Alya lagi kejar target, ya?” ujar salah satu staf saat jam makan siang.

Alya mengangguk. “Iya. Biar beres.”

Kalimat itu terasa familiar. Ia sudah mengucapkannya bertahun-tahun, jauh sebelum nama Reyhan pernah muncul dalam hidupnya.

Sore hari, sebuah email masuk dari bagian perencanaan lanjutan. Ada catatan evaluasi pasca-program dan permintaan laporan tambahan. Alya membaca isinya pelan, lalu membuka folder lama, kemudian mengerjakannya.

Alya mengetik dengan cepat, hampir tanpa berhenti. Tidak ada diskusi, tidak ada pertukaran ide, tidak ada pertanyaan yang harus dilempar ke siapa pun. Semua berjalan satu arah dan untuk pertama kalinya setelah sekian waktu, ia merasa aman dengan itu.

Menjelang pulang, Alya membereskan mejanya lebih rapi dari biasanya. Buku agenda dimasukkan ke tas, pulpen disusun sejajar, kertas-kertas disatukan. Ia berdiri, mengembuskan napas pelan, lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke meja siapa pun.

Di perjalanan pulang, Alya menyetir motornya dengan kecepatan sedang. Kota berjalan seperti biasa—lampu lalu lintas, orang-orang yang terburu-buru, klakson yang saling bersahutan. Tidak ada yang berubah, dan mungkin itulah yang ia butuhkan sekarang.

Sampai di rumah, Alya langsung membantu ibunya di dapur. Ia memotong sayuran, mencicipi kuah, menanyakan kabar ayahnya dengan suara ringan. Semua percakapan berjalan normal. Terlalu normal.

“Kamu kelihatan sibuk lagi,” kata ibunya sambil mengaduk masakan.

Alya tersenyum. “Iya, Ma. Banyak kerjaan.”

Ibunya mengangguk, seolah kalimat itu cukup menjelaskan segalanya.

Ditempat yang sudha ditinggalkan Alya tepat pada jam pulang kantor Reyhan datang, bukan untuk mencari seseorang yang mengabaikan pesannya sejak pagi.

Ia hanya mengantar dokumen kerjasama program magang prodinya pada kantor itu. Tidak ada janji temu, tidak ada rencana bertemu Alya. Ia bahkan sempat ragu sebelum masuk ke gedung—ragu yang tidak ia pahami sepenuhnya.

Di lorong menuju ruang administrasi, Reyhan berhenti sejenak ketika mendengar suara dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Bukan suara keras.

Bukan pula perdebatan.

Hanya potongan percakapan yang tidak sengaja tertangkap.

“…sudah dipanggil Kabid.”

“Katanya sih Alya nggak disalahkan.”

“Justru Raya yang ditegur. Lisan, tapi cukup tegas.”

Reyhan tidak bermaksud menguping. Namun kakinya terlanjur diam. Nama itu—Alya—terdengar terlalu jelas di antara gumaman lainnya.

“Pantas beberapa hari ini Alya kelihatan beda,” lanjut suara lain. “Lebih pendiam. Nggak kayak biasanya.”

Reyhan menarik napas pelan, lalu melangkah pergi sebelum percakapan itu selesai. Ia tidak ingin tahu lebih banyak. Tidak ingin mendengar versi siapa pun.

Tapi potongan itu sudah cukup.

Saat menyerahkan dokumen, Reyhan menyadari sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya: meja Alya kosong. Tidak ada berkas terbuka, tidak ada gelas kopi setengah penuh, tidak ada tanda bahwa ia baru saja duduk di sana.

Ia bertanya pada staf lain dengan nada ringan.

“Bu Alya masih di luar?”

“Sudah pulang duluan,” jawabnya singkat. “Belakangan sering begitu.”

Reyhan mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan keluar gedung dengan langkah yang sedikit lebih lambat.

Di parkiran, ia berdiri sebentar sebelum masuk ke mobil. Bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu yang mengendap di dadanya—bukan marah, bukan kecewa. Lebih seperti kesadaran yang datang terlambat.

Bahwa ada hal-hal yang terjadi di sekitar Alya yang tidak ia ketahui.

Bahwa Alya memilih menghadapinya sendiri.

Dan mungkin, tanpa pernah mengatakannya, Alya juga sedang memilih untuk menjauh.

Reyhan menyalakan mesin mobil. Tidak ada pesan yang ia ketik. Tidak ada panggilan yang ia lakukan. Ia hanya duduk diam beberapa detik lebih lama dari biasanya, menatap lurus ke depan.

Ia tidak tahu harus berada di posisi apa.

Yang ia tahu, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi berdiri di sisi yang sama dengan Alya.

Dan perasaan itu—anehnya—lebih sunyi daripada yang ia bayangkan.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Alya duduk di kamarnya dengan lampu redup. Ia membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, dan melihat layar yang sejak pagi sengaja ia abaikan.

Folder pesan yang diarsipkan tetap memunculkan angka satu, Alya belum siap membukanya, entah pesan balasan dari Reyhan atau pesan lain.

Alya menatap layar itu lama, lalu menguncinya kembali. Ia menyelipkan ponsel ke dalam laci meja, menutupnya pelan, seolah sedang menyimpan sesuatu yang belum siap ia hadapi.

Ia berbaring, memunggungi jendela, membiarkan pikirannya kosong. Tidak ada rencana besar, tidak ada keputusan dramatis. Hanya satu tekad kecil yang ia pegang erat malam itu.

Ia akan menjalani hidupnya seperti dulu.

Teratur. Terkendali. Aman.

Dan jika perasaan tidak nyaman itu masih ada, Alya memilih menyimpannya sendiri—setidaknya sampai ia yakin, hidupnya cukup lapang untuk menampungnya kembali.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!