NovelToon NovelToon
Bayang Dendam Dalam Cinta

Bayang Dendam Dalam Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Noona.sv95

Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.

Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maya Pulang

Setelah kondisi Maya benar-benar pulih, Amora kembali datang dan mengatakan keinginannya untuk mengajak Maya tinggal di rumahnya.

"Maya... bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih ada keluhan yang kau rasakan saat in, Nak?"

Maya tersenyum, lanta menggeleng pelan. "Aku sudah jauh lebih baik, Bibi. dan itu berkat anda dan juga Thom,' jawab Maya.

Amora mengusap belakang kepala Maya dengan penuh sayang. Beberapa bulan merawatnya di rumah sakit, Amora menyadari kalau perasaan itu tumbuh begitu saja di hatinya untuk Maya.

"jangan bilang kalau ini berkat kami, tapi selalu yakinkan diri kalau kesembuhan ini berkat dirimu sendiri yang benar-benar ingin sembuh dan kembali seperti semula," sahut Amora.

"Itu pasti, Bibi. Tapi aku juga sadar, tanpa kalian yang mendukung dan membantuku untuk pulih, aku jelas tidak akan bisa u dengan cepat," imbuh Maya.

"Sudah-sudah, kalau terus berterima kasih seperti ini, kita akan terus berada di rumah sakit sampai besok," sela Thomas, membuat Amora dan juga Maya menoleh secara bersamaan.

Amora terkekeh,"Baiklah, aku mengalah sekarang. Thom, kau urus administrasi kepulangan Maya, dan hubungi orang di rumah untuk menyiapkan semuanya."

"Itu sudah diatur sejak tadi, tinggal menunggu kita pulang saja."

Maya mendengar kata pulang, ia merasa bingung sebab tidak tahu harus pulang kemana.

"Jangan bingung. Kau pulang ke rumah kami, rumah yang akan menjadi rumahmu juga," ujar Amora seakan bisa membaca pikiran Maya melalui raut wajahnya.

"Tapi Bibi, apa aku tidak merepotkan kalian? Untuk biaya rumah sakit ini saja, aku tidak tahu bagaimana cara menggantinya. Apalagi.."

"Jangan mengatakan hal tidak penting, Maya. Sejak kami menemukanmu, kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Keluarga Louis."

Maya terdiam. Ia seperti merasa berada dalam sebuah mimpi, dimana kejadian berat terus terjadi beruntun dalam hidupnya, kini justru beberapa kebaikan terus menghampiri hidupnya secara beruntun.

"Sekarang, kita pulang ke rumahku. Aku harap, rasa traumamu terhadap orang asing atau pria asing sedikit berkurang. Setidaknya... jangan sampai terlalu histeris seperti sebelumnya," ungkap Amora.

"Iya, Bibi. Aku baik-baik saja sekarang, bahkan mungkin aku sudah cukup berdamai dengan keadaan," aku Maya. "Thomas selalu mengatakan kalau aku tida boleh terus hidup dalam trauma dan ketakutan, karena itu akan menghambat kehidupanku nantinya dan mungkin menyulitkan ku untuk bisa kembali hidup dalam keadaan normal."

Thomas tersenyum mendengar pengakuan Maya dan pujian yang menyebutkan namanya.

"Yasudah, sekarang kita pulang. Pelayan di rumah pati sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut kedatangan Maya."

Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaan campur aduk yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Kata pulang masih terdengar asing baginya, namun kali ini tidak sepenuhnya menakutkan.

Ia menatap Amora, lalu beralih pada Thomas. Ada keraguan di sana, tapi juga kehangatan yang perlahan tumbuh—sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

“Terima kasih… karena masih mau menerimaku,” ucap Maya pelan. “Aku takut… kalau aku belum bisa menjadi orang yang menyenangkan untuk diajak hidup bersama.”

Amora tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Maya dengan erat. “Kau tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk diterima, Maya. Cukup menjadi dirimu sendiri. Luka-lukamu, ketakutanmu, semuanya... itu bagian darimu. Dan kami tidak keberatan dengan itu.”

Mata Maya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini senyumnya ikut mengembang. “Aku akan berusaha… tidak mengecewakan Bibi.”

“Kau tidak punya kewajiban apa pun untuk menyenangkan kami,” sela Thomas sambil meraih tas kecil milik Maya. “Tugasmu cuma satu, hidup dengan tenang. Sisanya, biar kami bantu.”

Amora mengangguk setuju. “Benar. Anggap saja ini rumah persinggahan hatimu. Kau boleh berantakan, boleh pelan-pelan. Tidak ada yang memaksamu kuat.”

Maya hanya mengangguk, disertai senyuman dan tatapan penuh haru atas apa yang ia dapatkan saat ini.

Mereka bertiga kemudian keluar dari kamar rumah sakit. Langkah Maya masih hati-hati, namun jauh lebih stabil dari sebelumnya. Thomas berjalan di sampingnya, siap menopang jika sewaktu-waktu ia ambruk karena kakinya yang terasa kebas. Dan Amora, ia berjalan paling depan dengan sesekali menoleh kebelakang memastikan kondisi Maya.

--

Setelh menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, akhirnya mereka tiba di kediaman Amora yang letaknya sedikit berjauhan dengan komplek lainnya. Rumah itu berukuran besar dan juga elegan, namun yang membuat takjub bukan bangunannya. Tapi lahan disekitar tempat itu sangat luas, bahkan lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola internasional.

Di sekitar bangunan utama rumah Amora, terdapat bangunan-bangunan kecil yang berbentuk seperti Gazebo. Namun bedanya, bangunan ini lebih seperti sebuah rumah pondok daripada seperti sebuah Gazebo, hanya mungkin ukurannya saja yang sedikit lebih kecil.

Selain itu, ada juga rumah kaca terletak ditengah-tengah jejeran gazebo, yang di isi dengan berbagai jenis tanaman bung, tanaman herbal dan juga beberapa tanaman buah.

Maya menatap takjup sekeliling rumah Amora, jujur saja Maya sangat menyukai suasana di sana.Suasana yang hening, jauh dari keramaian dan juga tidak terlalu banyak bangunan rumah lain di sekitarnya, karena rumah itu terletak sedikit menjorok kedalam dan sedikit menanjak seperti bukit.

"Selamat datang di rumah kami Maya. Ayo masuklah, jangan sungkan anggap saja sebagai rumahmu sendiri, karena nantinya ini juga akan menjadi rumahmu!" ajak Amora, saat Maya mulai memasuki area halaman rumahnya.

Maya mengangguk canggung, kemudian mengikuti langkah Amora yang membawanya masuk kedalam rumah, menuju salah satu kamar yang tak jauh dari tangga.

"Kemarilah Maya, ayo masuk. Ini adalah kamarmu sekarang, tidak begitu besar tapi aku harap semoga kau menyukainya!" tunjuk Amora, pada kamar yang ia siapkan untuk Maya.

"Terima kasih Bibi, anda sungguh baik karena mau menolong dan juga menampung orang asing sepertiku disini!" ucap Maya, perasaannya begitu sungkan.

"Nooo! Jangan seperti itu Maya. Mulai saat ini kau bukan lagi orang asing, kau adalah bagian dari keluarga Louis sama seperti Thomas! Tapi meskipun begitu, kau jangan  sampai mengikuti jejak Thomas, yang masih suka  memanggilku dengan sebutan Nyonya. Padahal aku sudah berkali-kali memintanya memanggilku dengan sebutan Mommy!" gerutu Amora mengungkapkan kekesalannya, dan itu hanya mendapatkan kekehan dari Maya.

Sedangkan Thomas, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Interaksi keduanya nyaris seperti ibu, yang mengeluh tentang kelakuan anak laki-lakinya pada menantu ataupun pada anak gadisnya.

"Istirahatlah dulu Maya. Aku akan meminta pelayan disini untuk menyiapkan makan malam kita nanti, aku pergi dulu! Thom, kau jaga dulu Maya. Mungkin saja dia membutuhkan sesuatu nanti!" Perintah Amora, setelah berpamitan pada Maya, lalu dia melangkah meniggalkan Maya dan juga Thomas disana.

Maya masuk kedalam kamar di temani Thomas. Maya mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar yang cukup luas itu, satu kamar ini nyaris seperti ukuran rumahnya yang berada di pinggiran kota.

"Sudah berapa lama kau tinggal disini Thom?" tanya Maya.

"Sudah cukup lama, mungkin hampir 8 atau sepuluh tahun. Tepatnya semenjak kematian istriku dan juga kejadian dimana aku nyaris di habisi waktu itu!" jawab Thomas.

"Aku yang sekarat di temukan di pinggiran sungai dalam keadaan terluka parah, di bawa oleh nyonya kesini dan dianggap seperti keluarga olehnya! Aku selalu mendapatkan perhatian dan juga kasih sayang, layaknya seorang anak yang mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya!"ungkap Thomas.

"Nyonya Amora orang yang begitu baik. Aku tidak menyangka, di kota yang kebanyakan orangnya lebih cenderung individual dan tidak mau tahu permasalahan orang lain, Nyonya malah mau menolong dan menampungku yang hanya orang asing disini!" ucap Maya.

"Ya, dulu aku juga sama terkejutnya sepertimu, bahkan aku sempat berpikir jika nyonya bisa saja memanfaatkanku nantinya. Kau mungkin mengerti! Semenjak mengalami pengkhianatan, aku lebih waspada pada sekitarku."

"Semacam trust issue?"

Thomas mengedikan bahu seraya menggerakkan kepalanya pelan diikuti anggukan.

"Begitulah. Aku berpikir kalau bisa saja nyonya sama seperti para pengkhianat itu. Memberikan kebaikan dulu, baru setelahnya aku dimanfaatkan atau bahkan dibuang setelah tidakberguna," jawab Thomas. "Tapi ternyata, setelah beberapa waktu aku tinggal bersamanya, ternyata aku salah. Nyonya begitu baik dan tulus, selain menolongku dia juga banyak mengajarkanku berbagai hal. Seperti tentang dunia bisnis, hukum dan juga dunia saham serta psikologi. Ah kemarilah, Maya."

Maya berdiri, laliu menghampiri thom yang berdiri didepan jendela.

"Lihat ke depan itu."

"Aku melihatnya. lalu..."

"Nah kau lihat rumah-rumah kecil yang seperti gazebo di sana juga kan?" tanya Thomas, dengan jari telunjuk mengarah rumah-rumah kecil yang berbetuk gazebo yang sebelumnya Maya lihat ketika di luar.

Maya mengikuti arah telunjuk Thomas, lalu mengangguk saat dia memperhatikan bangunan tersebut. Melihat respon Maya, Thomas menjelaskan apa saja yang ada disana.

"Bangunan itu memang sengaja di buat dengan bentuk seperti gazebo oleh orang tua angkat nyonya dulu. Menurut Nyonya, bangunan itu di buat untuk di gunakan sebagai tempat meracik obat-obatan tradisional dan juga beberapa formula herbal! Kau tahu, orang tua angkat nyonya pernah membuat obat untuk menyembuhkan penyakit menular, yang hampir sejenis dengan penyakit Aids. Dan saat ini, nyonya masih terus mempelajari cara membuat obat tersebut yang masih belum berhasil dia lakukan! Karena sebelum meninggal, mendiang orangtua angkat nyonya hanya meninggalkan buku catatan tanpa sempat mengajarinya secara langsung!"

"Jadi maksudmu, tempat itu sekarang menjadi tempat nyonya mempelajari tentang obat-obatan??"

"Iya. Tapi nyonya tidak menggunakan bahan kimia yang memerlukan perlatan canggih saat membuat obat itu. Nyonya hanya mengandalkan tumbuhan dan juga berbagai tanaman obat herbal, untuk di jadikan obat tradisional!

Dan ada satu hal yang mungkin tidak kau duga dari bangunan itu. Mungkin dari luar, bangunan itu tampak kecil dan sederhana. Tapi jika sudah masuk kedalam, ada satu pintu yang menghubungkan pada ruangan bawah tanah yang saling terhubung satu sama lain" ungkap Thomas.

"Menarik, ternyata nyonya wanita yang sangat hebat!" gumam Maya dengan sorot mata yang begitu penuh akan ke kaguman, pada wanita yang sudah menyelamatkannya dari kematian itu.

"Ya, dia memang wanita hebat. Selain baik hati, dia juga cerdas dan tangguh!" sahut Thomas memuji Nyonya Mora.

"Ah maaf aku sampai lupa, kau pasti lelah dan harus beristirahat! Maafkan aku, karena malah terus mengajakmu bicara!" ucapThom.

"Tidak apa Thom, aku merasa baik-baik saja aku senang ada yang bisa aku aja bicara saat ini. Oh ya, terima kasih Thom. Selama di rumah sakit hingga hari ini kau selalu menemaniku dan membantuku keluar dari rasa traumaku," ucap Maya.

"Sama-sama, aku juga senang bisa menolongmu. Ah tapi lupakan saja itu, sekarang istirahatlah. Nanti kita bicara lagi saat makan malam, aku pergi dulu!" ucap Thomas lalu bersiap pergi meninggalkan Maya sendirian didalam kamarnya.

Namun baru saja melangkah, seekor cicak jatuh ke bahu Maya yang membuatnya refleks menjerit dan tidak sengaja menarik thomas.

Thomas yang sama sekali tidak menyangka akan ditarik begitu saja, ia berbalik dan justru membuat Maya tidak seimbang hingga akhirnya..

"Akkkhhh!!"

1
falea sezi
males harusnya jujur km biar di bantuin bales dendam oon novel pret
falea sezi
max di bunuh berarti
falea sezi
penulis pro penjahat kayaknya
falea sezi
penulis nya bego
Noona_SV: contohin jd penulis pintar dong kak. biar aku bisa belajar
total 1 replies
falea sezi
semoga bisa di penjara
falea sezi
bejat gtt mreka
FELNI JULIANI
sangat bagus
FELNI JULIANI
lanjut kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!