Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sesampainya di rumah, Lidya langsung melempar tasnya ke sofa. Sepatunya ditendang asal, tubuhnya menjatuhkan diri ke kursi dengan napas yang masih naik turun. Kekesalan jelas belum surut, malah terasa semakin mengental sejak kejadian di restoran.
Ia menggerutu sendiri, mondar-mandir seperti singa yang kehilangan mangsa.
“Dasar lelaki brengsek,” gumamnya kesal. “Pengecut. Pecundang.”
Langkahnya terhenti di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan wajah masam.
“Pantas saja jadi suami nggak guna,” lanjutnya. “Katanya dulu penguasa, disegani banyak orang. Sekarang? Udah kayak kerupuk kena air. Lembek.”
Lidya mengusap wajahnya kasar, lalu menjatuhkan diri lagi ke kursi.
“Astaga,” keluhnya sambil mendongak ke langit-langit rumah. “Kenapa juga dulu aku nerima wasiat Kakek Haris.”
Ia menghela napas panjang, lalu mendesis pelan, “Sial.”
Dari arah tangga, langkah kaki terdengar mendekat. Nurma yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya menghampiri. Wanita paruh baya itu berhenti di hadapan Lidya dengan tangan bersedekap, sorot matanya tajam, namun jelas menunjukkan bahwa ia sudah terlalu sering menghadapi tingkah cucu angkatnya itu.
“Apa kamu tidak bisa,” ucap Nurma pelan tetapi tegas, “menghilangkan tabiatmu yang selalu mengumpat seperti itu?”
Lidya menoleh cepat. Alisnya terangkat, seolah baru menyadari dirinya tidak sendirian.
“Kalau nggak ngumpat, dada aku bisa meledak, Nek,” sahutnya ketus. “Aku udah bela dia di depan orang banyak, eh ujung-ujungnya malah disuruh tahu diri.”
Nurma menghela napas panjang, lalu duduk tepat di hadapan Lidya. Tatapannya meneliti, seakan sedang menimbang sejauh mana emosi itu akan meledak.
“Kamu sadar nggak, Lid,” katanya perlahan, “kamu sudah terlalu jauh tadi.”
“Jauh?” Lidya terkekeh pendek tanpa humor. “Aku cuma ngelakuin apa yang orang-orang itu mulai duluan.”
“Dan Kevin?” tanya Nurma pelan, namun tekanannya terasa jelas.
Lidya terdiam sesaat. Tatapannya menghindar, ada kilat tidak nyaman di matanya. Ia tahu, cepat atau lambat, kejadian di restoran pasti sampai juga ke telinga Nurma dan sekarang terbukti dengan sangat jelas.
“Kamu itu seorang gadis,” lanjut Nurma dengan suara lebih rendah namun menusuk. “Nggak seharusnya kamu mencium lelaki beristri di depan umum.”
Nurma menghela napas lagi sebelum melanjutkan, “Dan soal penampilanmu. Kamu tidak bisa selalu tampil seenaknya. Kamu menemui Kevin dengan tampilan seperti itu. Jangankan dilirik sebagai calon istri, kamu hanya akan dianggap gadis ingusan.”
Lidya mendecak pelan. Ia menyandarkan punggung, lalu memutar mata dengan ekspresi sebal.
“Aduh, Nek,” katanya akhirnya. “Sebentar lagi dia juga jadi suamiku. Nyicip dikit doang, emangnya kenapa?”
Ia melirik pakaiannya sendiri, lalu menambahkan dengan nada menjelaskan, “Dan soal tampilan ini, aku tadi buru-buru. Nggak sempat ganti baju.”
Nurma menatapnya lama. “Pernikahan itu bukan soal ‘sebentar lagi’ atau ‘nyicip sedikit’,” ucapnya tegas. “Kamu sedang masuk ke hidup orang yang rumit, Lidya. Kalau kamu terus pakai caramu sendiri, kamu bukan cuma bikin orang lain salah paham. Kamu juga sedang menjatuhkan dirimu sendiri.”
Lidya terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia tidak langsung membalas. Bibirnya terkatup, dadanya naik turun pelan.
“Ingat, Lidya,” lanjut Nurma sebelum beranjak pergi, “karena Kakek Haris, kamu dan Kevin akan menikah. Ini tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada mengurus perusahaan.”
Setelah itu Nurma meninggalkan ruang tamu, membiarkan Lidya sendirian dengan pikirannya sendiri.
Lidya bangkit perlahan dan melangkah ke arah cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya lama, lalu menarik sudut bibirnya tipis. Dalam benaknya, ingatan lama kembali muncul. Jika dulu ia tidak ditolong Kakek Haris, mungkin sampai sekarang ia masih menjadi anak panti yang hanya tahu rasa takut dan ejekan. Tidak akan ada Lidya yang berdiri di sini, tidak ada pewaris, tidak ada nama besar yang kini melekat padanya.
Ia tahu, selama ini ia hidup dengan mengenakan banyak wajah. Setiap hari menjadi orang lain agar layak disebut pemimpin, agar pantas mewarisi segalanya.
Bagi Lidya, itu bukan masalah. Selama ia bisa membalas kebaikan Kakek Haris, selama ia tidak mengkhianati alasan mengapa ia berdiri sejauh ini, maka apa pun perannya akan ia jalani, meski harus menelan perasaan sendiri. Dan pernikahan itu, suka atau tidak, adalah bagian dari harga yang harus ia bayar.
***
Di sisi lain, Kevin yang baru saja sampai di rumah bahkan belum sempat duduk ketika amukan Iren langsung menyambutnya.
“Apa maksud ucapanmu tadi, Kevin?” suara Iren meninggi, menahan emosi yang sejak di restoran tak sempat ia lepaskan.
Kevin menanggalkan jasnya dengan gerakan datar, lalu menoleh sekilas. “Ucapan yang mana?”
Iren berdecak keras. “Jangan pura-pura lupa. Kamu bilang di depan orang banyak kalau sementara ini kamu masih suamiku.”
Kevin terdiam sesaat. Pandangannya lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Menurutmu?” balasnya akhirnya, dingin.
Sikap itu justru menyulut emosi Iren semakin menjadi. Ia melangkah lebih dekat, tatapannya tajam dan penuh tuntutan.
“Kevin, aku tidak suka kamu bertingkah seperti ini,” ucap Iren tegas. “Cemburu pun ada batasnya. Jangan jadikan aku bahan permainanmu.”
Kevin tertawa kecil, hambar, tanpa humor. “Oh, jadi semua yang aku bilang kamu anggap cuma cemburu?” tanyanya pelan tapi menusuk. “Dan aku yang harus tahu batasan?”
Ia melangkah satu langkah mendekat, sorot matanya dingin.
“Kamu menuntut aku menganggapmu sebagai istriku,” lanjut Kevin, suaranya kini lebih rendah namun sarat tekanan. “Tapi di depan publik kamu tanpa ragu menuduh aku selingkuh.”
Iren hendak menyela, tetapi Kevin lebih dulu melanjutkan.
“Dan lebih lucunya lagi,” katanya tajam, “kamu memberi lelaki lain hak untuk memegang tubuhmu, merangkulmu seolah itu wajar.”
Ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras.
“Sementara aku?” Kevin tersenyum miring. “Jangankan memegang, menyentuh sehelai rambutmu saja aku harus menghormati batasan yang kamu buat sendiri.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Kata-kata Kevin menggantung di udara, berat dan tak bisa ditarik kembali. Dalam kesunyian yang menekan itu, Kevin menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa kesabarannya.
“Iren,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun jelas, tidak bergetar, tidak pula ragu. “Kita cerai saja.”