NovelToon NovelToon
Suami Tanpa Giliran

Suami Tanpa Giliran

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Kebangkitan pecundang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.

Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sesampainya di rumah, Lidya langsung melempar tasnya ke sofa. Sepatunya ditendang asal, tubuhnya menjatuhkan diri ke kursi dengan napas yang masih naik turun. Kekesalan jelas belum surut, malah terasa semakin mengental sejak kejadian di restoran.

Ia menggerutu sendiri, mondar-mandir seperti singa yang kehilangan mangsa.

“Dasar lelaki brengsek,” gumamnya kesal. “Pengecut. Pecundang.”

Langkahnya terhenti di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan wajah masam.

“Pantas saja jadi suami nggak guna,” lanjutnya. “Katanya dulu penguasa, disegani banyak orang. Sekarang? Udah kayak kerupuk kena air. Lembek.”

Lidya mengusap wajahnya kasar, lalu menjatuhkan diri lagi ke kursi.

“Astaga,” keluhnya sambil mendongak ke langit-langit rumah. “Kenapa juga dulu aku nerima wasiat Kakek Haris.”

Ia menghela napas panjang, lalu mendesis pelan, “Sial.”

Dari arah tangga, langkah kaki terdengar mendekat. Nurma yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya menghampiri. Wanita paruh baya itu berhenti di hadapan Lidya dengan tangan bersedekap, sorot matanya tajam, namun jelas menunjukkan bahwa ia sudah terlalu sering menghadapi tingkah cucu angkatnya itu.

“Apa kamu tidak bisa,” ucap Nurma pelan tetapi tegas, “menghilangkan tabiatmu yang selalu mengumpat seperti itu?”

Lidya menoleh cepat. Alisnya terangkat, seolah baru menyadari dirinya tidak sendirian.

“Kalau nggak ngumpat, dada aku bisa meledak, Nek,” sahutnya ketus. “Aku udah bela dia di depan orang banyak, eh ujung-ujungnya malah disuruh tahu diri.”

Nurma menghela napas panjang, lalu duduk tepat di hadapan Lidya. Tatapannya meneliti, seakan sedang menimbang sejauh mana emosi itu akan meledak.

“Kamu sadar nggak, Lid,” katanya perlahan, “kamu sudah terlalu jauh tadi.”

“Jauh?” Lidya terkekeh pendek tanpa humor. “Aku cuma ngelakuin apa yang orang-orang itu mulai duluan.”

“Dan Kevin?” tanya Nurma pelan, namun tekanannya terasa jelas.

Lidya terdiam sesaat. Tatapannya menghindar, ada kilat tidak nyaman di matanya. Ia tahu, cepat atau lambat, kejadian di restoran pasti sampai juga ke telinga Nurma dan sekarang terbukti dengan sangat jelas.

“Kamu itu seorang gadis,” lanjut Nurma dengan suara lebih rendah namun menusuk. “Nggak seharusnya kamu mencium lelaki beristri di depan umum.”

Nurma menghela napas lagi sebelum melanjutkan, “Dan soal penampilanmu. Kamu tidak bisa selalu tampil seenaknya. Kamu menemui Kevin dengan tampilan seperti itu. Jangankan dilirik sebagai calon istri, kamu hanya akan dianggap gadis ingusan.”

Lidya mendecak pelan. Ia menyandarkan punggung, lalu memutar mata dengan ekspresi sebal.

“Aduh, Nek,” katanya akhirnya. “Sebentar lagi dia juga jadi suamiku. Nyicip dikit doang, emangnya kenapa?”

Ia melirik pakaiannya sendiri, lalu menambahkan dengan nada menjelaskan, “Dan soal tampilan ini, aku tadi buru-buru. Nggak sempat ganti baju.”

Nurma menatapnya lama. “Pernikahan itu bukan soal ‘sebentar lagi’ atau ‘nyicip sedikit’,” ucapnya tegas. “Kamu sedang masuk ke hidup orang yang rumit, Lidya. Kalau kamu terus pakai caramu sendiri, kamu bukan cuma bikin orang lain salah paham. Kamu juga sedang menjatuhkan dirimu sendiri.”

Lidya terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia tidak langsung membalas. Bibirnya terkatup, dadanya naik turun pelan.

“Ingat, Lidya,” lanjut Nurma sebelum beranjak pergi, “karena Kakek Haris, kamu dan Kevin akan menikah. Ini tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada mengurus perusahaan.”

Setelah itu Nurma meninggalkan ruang tamu, membiarkan Lidya sendirian dengan pikirannya sendiri.

Lidya bangkit perlahan dan melangkah ke arah cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya lama, lalu menarik sudut bibirnya tipis. Dalam benaknya, ingatan lama kembali muncul. Jika dulu ia tidak ditolong Kakek Haris, mungkin sampai sekarang ia masih menjadi anak panti yang hanya tahu rasa takut dan ejekan. Tidak akan ada Lidya yang berdiri di sini, tidak ada pewaris, tidak ada nama besar yang kini melekat padanya.

Ia tahu, selama ini ia hidup dengan mengenakan banyak wajah. Setiap hari menjadi orang lain agar layak disebut pemimpin, agar pantas mewarisi segalanya.

Bagi Lidya, itu bukan masalah. Selama ia bisa membalas kebaikan Kakek Haris, selama ia tidak mengkhianati alasan mengapa ia berdiri sejauh ini, maka apa pun perannya akan ia jalani, meski harus menelan perasaan sendiri. Dan pernikahan itu, suka atau tidak, adalah bagian dari harga yang harus ia bayar.

***

Di sisi lain, Kevin yang baru saja sampai di rumah bahkan belum sempat duduk ketika amukan Iren langsung menyambutnya.

“Apa maksud ucapanmu tadi, Kevin?” suara Iren meninggi, menahan emosi yang sejak di restoran tak sempat ia lepaskan.

Kevin menanggalkan jasnya dengan gerakan datar, lalu menoleh sekilas. “Ucapan yang mana?”

Iren berdecak keras. “Jangan pura-pura lupa. Kamu bilang di depan orang banyak kalau sementara ini kamu masih suamiku.”

Kevin terdiam sesaat. Pandangannya lurus ke depan, rahangnya mengeras.

“Menurutmu?” balasnya akhirnya, dingin.

Sikap itu justru menyulut emosi Iren semakin menjadi. Ia melangkah lebih dekat, tatapannya tajam dan penuh tuntutan.

“Kevin, aku tidak suka kamu bertingkah seperti ini,” ucap Iren tegas. “Cemburu pun ada batasnya. Jangan jadikan aku bahan permainanmu.”

Kevin tertawa kecil, hambar, tanpa humor. “Oh, jadi semua yang aku bilang kamu anggap cuma cemburu?” tanyanya pelan tapi menusuk. “Dan aku yang harus tahu batasan?”

Ia melangkah satu langkah mendekat, sorot matanya dingin.

“Kamu menuntut aku menganggapmu sebagai istriku,” lanjut Kevin, suaranya kini lebih rendah namun sarat tekanan. “Tapi di depan publik kamu tanpa ragu menuduh aku selingkuh.”

Iren hendak menyela, tetapi Kevin lebih dulu melanjutkan.

“Dan lebih lucunya lagi,” katanya tajam, “kamu memberi lelaki lain hak untuk memegang tubuhmu, merangkulmu seolah itu wajar.”

Ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras.

“Sementara aku?” Kevin tersenyum miring. “Jangankan memegang, menyentuh sehelai rambutmu saja aku harus menghormati batasan yang kamu buat sendiri.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Kata-kata Kevin menggantung di udara, berat dan tak bisa ditarik kembali. Dalam kesunyian yang menekan itu, Kevin menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa kesabarannya.

“Iren,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun jelas, tidak bergetar, tidak pula ragu. “Kita cerai saja.”

1
Ariany Sudjana
kevin kamu juga bodoh, sudah tahu pelacur murahan seperti Irene, punya beribu macam cara untuk menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya percaya sama omongan pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Kevin kamu jangan terjebak dengan perkataan Irene, kalau kamu percaya dengan omongan Irene, kamu bodoh
Ariany Sudjana
Irene kamu bodoh, kamu menyalahkan Kevin untuk semua masalah kamu, padahal kamu sendiri sumber masalahnya, kamu saja yang jadi perempuan gatal 🤭🤭
Ridwani
👍👍👍
falea sezi
lanjut g sabar nunggu kehancuran iren
Ariany Sudjana
hahaha dua orang pecundang, yang satu pelacur murahan, yang satu pebinor 🤣🤣😂😂 silakan menikmati kejatuhan kalian
Ariany Sudjana
hahaha ada lagi perempuan , yang katanya CEO, tapi bodoh, dan bisa dimanipulasi sama laki-laki yang licik dan culas 😂😂🤣🤣
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hahhaha katanya si paling beruntung kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
sdh di tinggalkan baru nyari2 kevin dulu dijadikan banu iren kau pikir kevin buta tau kau yg tak punya malu gmn selalu dgn vano pegang2an dll ngapain jd bodoh kevin buang istri tak tau diri itu
Ridwani
semoga cepat cerai,iren semoga menyesal
Ridwani: iy kita liat nanti apa iren nangis histeris kebahagiaan kevin
total 2 replies
Yuliana Tunru
akhir x kau bicara sosl cerai jg benar2 iren tak punya malu dan otak..msh kurang keras kevin biar iren shock
Yuliana Tunru
ya ampun.iten.punya kaca ndk lha kamu dgn.vano bkn x lebih dr selingkuh kebin cm.makan kamu malah tiap.saat dgn vano gandrngan aplh fatwa mak lampir matre berani mau nampar ...tampar balik biar sadar
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: merasa paling benar dia kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
bahus kevin ingatkan pisisi masing2 knp jg eelama ini kevin jd babu di rmh sendiei dan.istri yg tak tau diri jg klga x jd penguasa jd lupa status 😡
Yuliana Tunru
bagus kevin iren siap2 kau jd sampah buangan kevin kau wanuta miskin ahlak dan harta semena2 krn kevin takluk tinggu balsan karma yg sebenar x
Ridwani
👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
kenapa alki2 arogan mulut beracun kalah dgn wanita bekas teman kau bkn kere kevintp bagai pengemis hancurkan iren ambil kembali sahqm vano dgn bayaran perceraian yg di mibta iren nurma bkn musush turuti kata 2 x dan jadilqh raja hancurkqn keangjuhan.dan lenghiatan vano dan iren mrk manusia sampqh
Yuliana Tunru
vano dan iren brnar teman lucnut ..ayo kevin ambil hak mu mlm ini dan jika iren ingin cerai suruh kembalikan saham itu jgn buarkan penghianat itu mengambil bayaran atas lukamu jika saham sdh kembali buang iren pd vano bagai sampah 😡😡
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: biarkan Vano dan Iren bersatu lagi ya, masalah Iren jatuh biarkan saja
total 1 replies
Ma Em
Iren kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Kevin dan malah memilih Vano yg tdk pernah mencintaimu , mampir Thor aku suka , ceritanya seru .
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: terimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!