Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Second Life
Terlahir kembali, Kehidupan Baru Bintang
Semua mengarahkan pandangan mereka pada asal suara, disana terlihat seorang pria tampan dengan menggunakan setelan jas berwarna hitam ada Bros dengan lambang keluarga Alexander di dada jasnya.
Pria yang berusia 25 tahun, yang mempunyai tinggi 190 cm, berkulit putih dan bermata hitam pekat dengan sorot yang datar dan dingin,
Berambut hitam dengan poni yang menutupi sebelah dahinya, dan berhidung mancung serta mempunyai lesung pipi yang cantik dikedua pipinya, dijari telunjuknya terlihat cincin yang melambangkan pewaris keluarga Alexander bertubuh atletis.
Dan dengan langkah tegap memasuki ruangan itu dengan sepatu pantofel yang berkilat mendekati Bintang yang tampak tertegun melihatnya.
Dia putra sulung keluarga Alexander, Xavier Alexander, CEO Alex l. Crops. Sekaligus seorang panglima jendral dari pasukan Intel.
"Siapa Kau!" Tanya Saka sambil melihat kearah belakang Xavier yang diikuti oleh 2 orang bodyguardnya yang berpenampilan serta tampang yang seram dan tampak mengerikan.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," Sahut Xavier dengan datar sambil menatap Saka.
"Dia adik kami, kami sedang mendidiknya, Kau tidak bisa ikut campur dalam urusan keluarga kami." Sahut Dewa sambil melangkah maju kehadapan Xavier.
"Apakah Kau anggota keluarga mereka?" Tanya Xavier datar tanpa memperdulikan pertanyaan Dewa.
Bintang Senja Miller, putri bungsu dari keluarga Miller, gadis berusia 16 tahun, bertubuh ramping dengan tinggi 160 cm.
Gadis yang berkulit seputih salju, dengan mata bundar yang bening memancarkan ketulusan, ada lesung kecil yang dalam dikedua sudut pipinya, terlihat seperti tersenyum saat diam.
Berhidung yang mancung dan mungil, serta pipi yang sedikit cabi, rambut hitam dan halus , namun selalu tampak pendek sebahu, karena kalau sedit panjang melebihi punggung maka Aurora akan menangis keras, karena tidak mau jika kecantikannya menjadi tersaingi
"Bukan...! Semenjak aku mengambil keputusan untuk mengikuti Mommy masuk kedalam keluarga Alexander, maka sejak itulah aku bukan lagi anggota keluarga Miller." Sahut Bintang dengan tegas.
"Kalian dengar!" Ucap Xavier dingin, dan tatapan yang datar.
"Kak Bintang, bagaimana bisa kakak memutuskan hubungan keluarga kita, bagaimana jika kakak terusir dari kediaman Alexander, maka kemana Kakak akan tinggal?" Ucap Aurora dengan raut wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Jangan hanya melihat dirinya yang tampan dan berkuasa, yang tidak Kau ketahui Dia adalah iblis yang nyata, bisa membunuh orang dengan tanpa berkedip, arogan, serta tak berperasaan." Bisik Aurora didepan wajah Bintang.
Flashback on.
"Daddy, apakah Aurora ini menyebalkan, mengapa mereka memperlakukan Rora seperti ini, Rora sudah tidak tahan lagi berada di mansion itu, Rora ingin ikut Daddy saja, bukankah Kakak-kakak juga sudah sukses semua..." Ucap Aurora dengan air mata yang mengalir deras.
"Siapa orangnya yang tidak suka pada adek Kakak yang cantik dan pintar ini, siapa yang tidak menyukai gadis selembut dirimu, Sayang... Bahkan kami rela tidak memakan apapun hanya agar si cantik ini bisa bersenang-senang... Katakan pada Kakak siapa yang sudah menyakiti hati yang lembut ini? Hemmm," Ucap Dewa sambil meletakan buku yang dibacanya lalu mengelus lembut kepala serta mengusap air mata yang menetes di pipi mulus Aurora yang tengah meringkuk di pangkuannya.
"Mereka... Para Tuan muda Alexander, mereka semua sangat angkuh, mereka tidak pernah memperlihatkan wajahnya pada Aurora,"
"Saat Aurora menyapa, mereka langsung membuang muka, saat Aurora menyanjung mereka langsung pergi begitu saja, bahkan saat dimana pun kami bertemu Mereka pasti akan mengabaikan Aurora." Ucap Aurora dengan suaranya yang manja.
"Siapa yang berani mengabaikan adikku yang cantik ini?" Ucap Saka sambil membawa kue kesukaan Aurora.
Saat itu, Bintang hanya melihat dan mendengarkan saja cerita Aurora, sambil terus membersihkan lantai dan meja.
"Bahkan Nenek tua yang Jahat itu, setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu saja pedas dan sinis, juga menyakitkan, dan yang paling parah dari Xavier selain kejam dan berhati iblis, dia juga psikopat, dan Gavin yang bermulut pedas."
"Tidak ada yang mengalahkan kebaikan dan kasih sayang dari keluarga ini, jadi Daddy bolehkah Aurora kembali ke keluarga ini lagi?" Rengek Aurora dengan manja
Flashback off.
'Aurora... Walau racun sekalipun yang kau sebarkan untuk mempengaruhi ku, akan tetap aku telan, dan aku akan tetap memilih pergi dari pada tinggal didalam keluarga beracun ini,' Ucap Bintang dengan penuh tekad.