"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Dekat stan es teh, ya." Ryan berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah ia melihat-lihat akhirnya ia menemukan bakpao yang di maksud, yaitu dekat dengan stan es teh.
Ryan mencari-cari penjualnya, ternyata orangnya sedang membenarkan kompor gasnya. Mungkin karena gasnya sudah habis jadi di isi dengan yang baru.
"Mbak, saya pesan semua rasa, masing-masing dua."
"Baik, tunggu sebentar." Jawab Naina yang masih tertunduk membenarkan tabung gas.
Ryan terdiam, suaranya nampak tak asing. Suara lembut dan mendayu khas gadis desa. Tidak mungkin gadis itu adalah dia. Pikir Ryan.
"Tunggu sebentar, ya ..."
Keduanya terkejut. Naina akhirnya bisa bertemu dengan Ryan. Tapi tidak dengan Ryan. Ia seolah ingin menghindar dari pertemuan itu. Buru-buru Ryan memalingkan wajahnya, dan hendak pergi. Namun langkahnya terhenti.
"Tunggu Pak." Seru Naina.
"Tidak bisakah kita bicara dulu? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Naina berjalan mendekati Ryan dan memegang tangan pria tersebut.
"Sikapmu yang seperti ini, aku paham maksudnya. Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi beri aku satu kesempatan untuk berbicara denganmu, sekali saja. Bukan di sini. Aku butuh tempat yang nyaman untuk kita berbicara."
Ryan masih bergeming, bahkan ia tak ingin melihat wajah Naina. Sebisa mungkin Ryan tetap pada posisinya membelakangi Naina.
"Aku tidak akan mengganggumu dengan pasangan barumu. Aku ikhlaskan kamu dengannya. Aku yang mundur, Pak. Aku ikhlas. Mari kita bicara, aku akan memberikan buku nikah kita, agar perceraian kita secepatnya di proses oleh pengadilan."
"Berkali-kali aku menemui mu, tapi tak dapat bertemu. Satpam di perusahaan itu melarang ku bertemu denganmu. Tidak hanya satu, dua, tiga kali aku menemui mu. Selama satu bulan lalu aku berusaha mencari mu, tapi tak juga bertemu. Takdir mempertemukan kita kembali, untuk kita berpisah dengan benar." Naina mencoba menahan air matanya.
"Kau pernah datang ke perusahaan?" Tanya Ryan lirih.
"Iya,"
"Baik, besok datanglah kembali ke sana. Kita bicara di sana." Ryan melepaskan tangan Naina dan berlalu meninggalkan Naina.
"Pak Ryan, tunggu sebentar." Naina buru-buru mengemasi bakpao pesanan Ryan tadi ke dalam kantong keresek bening.
"Ini pesanan mu. Ambillah." Naina menyerahkan bakpao itu pada Ryan dan berlalu pergi tanpa meminta uang.
Ryan terdiam, ia tak ingin berurusan dengan Naina. Ia berlalu meninggalkan Naina tanpa ucapan apapun.
Naina tertunduk, air matanya tak lagi kuasa ia bendung. Air matanya terus menetes seiring sesak di dadanya. Naina tak bisa berucap, menjerit pun tak kuasa. Sakit. Hatinya hancur hanya dengan hitungan menit.
Setidak layak itukah Naina di mata orang itu? Apakah memang Naina tak pantas bersama dengan orang lain?
Setelah menunggu hari berganti, akhirnya waktu yang di tunggu datang juga. Naina mempersiapkan segala kebutuhannya. Ia akan mengembalikan sisa emas yang dulu Ryan berikan padanya. Serta buku nikah yang menjadi syarat utama ikatan mereka.
"Akhirnya, semua telah berakhir." Gumam Naina
"Nay, mari kita bertemu ayahmu untuk terakhir kalinya." Naina menggendong Nayla.
Naina telah berucap pada Cecilia. Jika ia tak pulang dalam waktu 4 atau 5 jam, tolong cari Nayla di perusahaan PT Adijaya Grafis. Tolong rawat Nayla dengan baik. Begitulah pesan yang Naina minta pada kedua orang baik itu.
Naina cukup berjalan, karena perusahaan dan tempat tinggalnya sekarang hanya berjarak kurang lebih 1 km.
...****************...
"Nanti ada wanita yang bernama Naina datang ke sini. Langsung antar dia ke ruangan ku." Ucap Ryan pada satpam yang bertugas saat ini.
"Baik Pak."
hanya berselang waktu satu jam, akhirnya Naina datang. Ia menghampiri satpam yang dulu sempat ia temui. Dengan Nayla di pelukannya, Naina meminta izin pada satpam itu.
Belum sempat Naina berkata, satpam itu telah membentang tangan kanannya, mencegah Naina masuk.
"Saya sudah membuat janji dengan Pak Ryan." Ucap Naina memastikan.
"Siapa nama mu?"
"Naina. Saya sudah buat janji dengan Pak Ryan kemarin, dan saya di suruh menemuinya." Jelas Naina.
"Baik, ikut saya."
Naina berjalan di belakang pria bongsor itu. Menaiki lift untuk pertama kalinya bagi Naina. Dalam hatinya Naina berdecak kagum, inikah yang namanya lift seperti orang-orang di desa bilang. Di dalamnya dingin meski terkesan sempit, mungkin hanya cukup 15-20 orang.
Lift itu terus menunjukkan angkanya sampai akhir berhenti di angka 5. Setelah bunyi tring pintu lift itu terbuka, satpam bongsor itu pun kembali menunjukkan jalan untuk Naina.
Tepat di depan pintu besar yang kokoh terbuat dari jati, satpam itu mengetuk pintu dan menyuruh Naina masuk ke dalam setelah ada sautan dari seseorang dari dalam ruangan.
"Silahkan masuk." Ucap Satpam itu ramah.
"Terimakasih."
Hati Naina berdebar tak karuan. Perasaannya panas dingin. Mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya. Naina harus kuat dan tak boleh lemah di depan Ryan nanti.
Ruangan yang besar dan rapih, semerbak aroma terapi yang begitu wangi dan menenangkan. Naina berjalan menuju sofa, ia berdiri tak berani duduk sebelum pemilik ruangan itu mengizinkannya duduk.
"Duduklah..." ucapan Ryan terhenti begitu ia melihat gadis kecil dalam pelukan Naina.
Hatinya tak karuan, wajah anak kecil itu begitu familiar, seperti gadis 4 tahun dalam mimpinya. Tapi itu masih bayi yang berumur 1 tahun kemungkinannya. Ryan berjalan menuju sofa dan mempersilahkan Naina duduk dengan isyarat tangannya.
Keduanya menjadi canggung, entah harus apa yang mereka lakukan, dan perkataan apa untuk memulai percakapan mereka.
Tatapan Ryan tertuju pada anak kecil itu, ada rasa rindu dalam dadanya. Bukan, bukan hanya rindu, tapi kesakitan dan penyesalan pun singgah dalam diri Ryan.
Setelah sama-sama terdiam sekitar 10 menitan tanpa suara. Naina memberanikan diri untuk berucap. Ia menyerah buku nikahnya pada Ryan.
"Aku serahkan ini pada anda."
Ryan masih bergeming, ia tak tahu harus berkata apa. Seketika Ryan menjadi manusia bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Mari kita bercerai, dan menjalani kehidupan masing-masing." Ucapan Naina belum dapat menyadarkan Ryan dari lamunan dan tatapannya pada Nayla.
"Siapa dia?" Pertanyaan Ryan jelas membuat Naina bingung.
"Maksud anda, anak ini? Dia Nayla."
"Nay..." ucapannya Ryan terhenti, ia teringat kembali mimpi indahnya.
"Ayah, Nay di sini."
"Ayah, Nay kangen sama ayah."
Suara nyaring anak kecil itu terdengar jelas di telinga dan pikiran Ryan. Bayangan manis gadis kecil yang terus bergelayutan di kakinya seolah mengajak bermain. Senyuman manis Nay masih terukir jelas dalam pikiran Ryan, meski itu adalah lukisan alam bawah sadarnya.
"Nay, dia anak..."
"Anakku." Ucap Naina mantap memotong ucapan Ryan.
Ryan melotot, rasanya sakit di dada kirinya. Naina yang dulu selalu tersenyum manis padanya, dan menuruti semua ucapan dan keinginannya meski harus mengomel tak karuan.
"Maksud ku, siapa ayahnya?" Tanya Ryan hati-hati.
"Dia tak memiliki ayah."
Lagi-lagi hatinya sakit. Ryan tak percaya perubahan drastis pada Naina. Rasa sakit yang tak tahu apa penyebabnya membuat Ryan lemas dalam ketenangannya. Ia ingin tumbang, namun raganya tak mengizinkannya.
"Mari kita bercerai. Setidaknya anda bisa hidup damai dan saya dapat mengikhlaskan semuanya." Jelas terdengar suara Naina bergetar menahan tangis yang tak sanggup ia bendung.
"Aku minta maaf."
Naina bergeming, tak menjawab perkataan Ryan.
"Siapa ayah anak itu?" Ryan kembali bertanya namun tak ada jawaban. Naina tetap bergeming menahan tangisnya.
"Apakah dia anakku?" Kembali Ryan memastikan.
Kali ini Ryan mendengar tangis yang tertahan dari bibir Naina. Antara sakitnya hati Ryan dan lemahnya jiwa Ryan ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdiam diri menatap lurus ke arah Naina.
Bayi dalam dekapan Naina pun ikut menangis karena melihat Ibunya menangis. Ryan di buat kalut dengan pemandangan yang tak biasa itu.
"Beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki hubungan ini." Ucapan Ryan sukses membuat Naina tercengang.
"Bagaimana dengan wanita yang ada ...."
"Tidak ada. Aku hanya sengaja meninggalkan mu dan fokus pada pekerjaan ku." Buru-buru Ryan memotong ucapan Naina.
Ryan berbohong. Ia tak bisa melepaskan Naina, hatinya terlalu sakit bila Naina pergi dari sisinya dalam perasaan benci padanya. Terlebih ada Nay kecil yang menjadi kebahagiaan tersendiri dalam diri Ryan.
Tapi Ryan tak bisa berkata jujur akan hadirnya Maeta yang lebih dulu singgah di hidupnya sebelum adanya Naina. Apakah Ryan terlalu serakah? Ryan tak bisa melepaskan 1 diantara 3 wanita dalam hidupnya.
Ryan butuh Nay, namun Nay sangat butuh Naina. Ryan tak ingin melepaskan Maeta, tapi jika mempertahankan Maeta 2 wanita itu akan hancur. Bila mempertahankan M2 wanita ini, hidup Ryan akan tak karuan.
Sungguh pilihan hidup yang sulit bagi Ryan. Setidaknya masih ada waktu satu tahun untuk Ryan berpikir dan memutuskan pilihan yang mantap.