Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Terakhir di Puncak Dunia
Suara dentuman keras dari pintu baja bunker bergema seperti lonceng kematian. Di dalam ruangan beton yang dingin itu, Elena bisa merasakan getaran di bawah telapak kakinya setiap kali pasukan D'Angelo mencoba meledakkan jalan masuk. Aroma mesiu dan keringat memenuhi udara yang kian menipis.
Matteo terbaring di lantai, napasnya pendek dan tersengal. Marcella, ibunya, duduk di kursi roda di samping Matteo, memegang tangan pria itu seolah ia adalah putranya sendiri.
"Elena..." Matteo berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan kebisingan. "Micro-SD itu... jika pintu ini terbuka... kau harus memastikan dunia melihatnya. Bukan hanya polisi, tapi unggah ke jaringan publik. Hancurkan fondasi mereka sebelum mereka membunuhmu."
Elena menggeleng keras, air mata jatuh di pipinya yang kotor oleh abu. "Aku tidak akan membiarkan mereka membunuh kita. Tidak hari ini."
Tiba-tiba, suara ledakan yang jauh lebih besar mengguncang seluruh bangunan. Namun, suara itu tidak datang dari pintu bunker, melainkan dari arah luar gedung. Suara baling-baling helikopter yang menderu rendah membelah badai salju Alpen, diikuti oleh rentetan tembakan senapan mesin berat yang membungkam senjata para pengejar.
"Itu Marco," bisik Matteo dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Dia membawa seluruh pasukan cadangan Moretti."
Pintu bunker perlahan terbuka dari luar. Namun, bukan Marco yang berdiri di sana.
Sesosok wanita dengan mantel bulu hitam panjang melangkah masuk melewati kepulan asap. Isabella Valenti. Ia memegang sebuah pistol kecil berlapis emas, matanya menyapu ruangan dengan dingin hingga berhenti pada Elena.
"Ibu, cukup!" Matteo mencoba berteriak, namun ia malah terbatuk darah.
"Kau selalu menjadi putra yang mengecewakan, Matteo," Isabella berkata tanpa emosi. "Kau mencintai putri musuh kita lebih dari kau mencintai warisan keluargamu sendiri. Dan kau, Marcella... kau seharusnya tetap menjadi mayat sepuluh tahun yang lalu."
Isabella mengarahkan senjatanya ke arah Marcella. Namun, sebelum ia sempat menarik pelatuk, Elena bergerak lebih cepat. Ia tidak menggunakan pistolnya—ia menerjang Isabella dengan kemarahan yang terkumpul selama satu dekade.
Keduanya bergulat di lantai beton yang dingin. Elena merasakan kuku Isabella mencakar wajahnya, namun ia tidak peduli. Ia mencengkeram pergelangan tangan Isabella dan menghantamkannya ke dinding hingga pistol emas itu terlepas.
"Ini untuk ayahku!" Elena mendaratkan satu pukulan keras. "Dan ini untuk sepuluh tahun yang kau curi dari ibuku!"
Elena berhasil menindih Isabella, jarinya melingkar di leher wanita yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, saat ia menatap mata Isabella, ia tidak melihat penyesalan. Ia hanya melihat kekosongan yang mengerikan.
"Bunuh aku, Elena," tantang Isabella dengan suara tercekik. "Jadilah seperti kami. Jadilah monster yang kau benci."
Elena tertegun. Jarinya bergetar. Ia melirik ke arah ibunya yang menatapnya dengan penuh permohonan, dan ke arah Matteo yang menggeleng pelan. Jika ia membunuh Isabella sekarang, ia hanya akan melanjutkan siklus darah yang telah membusukkan Verona selama berabad-abad.
Elena melepaskan cengkeramannya. Ia berdiri dan mengambil pistolnya yang terjatuh, namun ia tidak mengarahkannya ke jantung Isabella. Ia mengeluarkan micro-SD dari sakunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Aku tidak akan membunuhmu, Isabella. Itu terlalu mudah," ucap Elena dengan nada suara yang tenang namun mematikan. "Aku akan membiarkanmu hidup untuk melihat seluruh duniamu runtuh. Besok pagi, seluruh Italia akan tahu siapa yang membakar Moretti. Kau tidak akan memiliki tempat untuk bersembunyi, tidak di Verona, tidak di mana pun."
Tepat saat itu, Marco dan Luca menyerbu masuk ke dalam bunker bersama pasukan bersenjata lengkap. Mereka segera melumpuhkan Isabella dan memborgolnya.
"Bawa dia pergi," perintah Marco dingin.
Marco menghampiri Elena dan Marcella. "Semuanya sudah berakhir, Signorina. Tim medis sudah di luar. Tuan Matteo harus segera dievakuasi."
Ketenangan di Sanatorium Alpen ternyata hanyalah ilusi singkat. Saat fajar menyingsing dan helikopter medis siap membawa Matteo menuju Verona, sebuah transmisi radio masuk ke perangkat Luca. Suaranya penuh gangguan statis, namun pesan yang disampaikan cukup untuk membuat darah Elena kembali membeku.
"Luca... ini Marco. Jangan kembali ke Verona. Ulangi, jangan kembali melalui jalur utama."
"Ada apa, Marco?" Luca bertanya sambil memeriksa GPS-nya.
"Pihak kepolisian yang disuap oleh Pietro tidak berhenti karena dia mati. Mereka sekarang dipimpin oleh seseorang yang lebih tinggi di Roma. Mereka melabeli Matteo sebagai teroris domestik dan Elena sebagai kaki tangannya. Balai kota yang terbakar itu dijadikan alasan untuk memburu kalian secara legal."
Elena yang sedang duduk di samping tandu Matteo menatap pria itu. Matteo masih setengah sadar, namun matanya terbuka sedikit saat mendengar nama 'Roma'.
"Isabella tidak bekerja sendirian," gumam Matteo dengan suara parau. "Ada 'Dewan Tujuh' di Roma yang mengatur jalur perdagangan gelap di seluruh Italia. Isabella hanyalah pion mereka di Utara."
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah gerbang belakang sanatorium. Marco belum sampai dengan pasukan penuh, dan ternyata tim pembersihan dari Roma sudah tiba lebih dulu dengan helikopter siluman.
"Elena... ambil micro-SD itu," Matteo meraih tangan Elena, meremasnya kuat. "Di sana ada folder terenkripsi yang belum sempat kubuka. Kodenya adalah tanggal malam kita pertama kali bertemu di kanal Venesia sepuluh tahun lalu."
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Elena panik saat melihat pasukan berpakaian hitam mulai turun menggunakan tali dari helikopter di atas gedung.
"Karena di sana ada bukti bahwa ayahmu tidak dibunuh karena Gema Verona," Matteo batuk, darah kembali merembes. "Dia dibunuh karena dia menemukan siapa sebenarnya pemimpin 'Dewan Tujuh' itu. Dan orang itu... adalah seseorang yang sangat kita kenal di pemerintahan."
Luca membanting setir SUV yang baru saja mereka naiki, keluar dari pintu belakang rumah sakit tepat saat pintu utama meledak. Mereka tidak menuju ke arah Verona, melainkan berbalik arah menuju Venesia. Kota air yang penuh labirin, tempat di mana pengkhianatan pertama dimulai, dan tempat di mana kunci terakhir dari rahasia keluarga Moretti disimpan di sebuah brankas bawah air yang hanya bisa dibuka dengan liontin di leher Elena.
"Kita kembali ke tempat semuanya dimulai," desis Elena sambil mengokang senjatanya. "Jika Roma menginginkan perang, mereka akan mendapatkannya."
Mobil mereka melesat menembus kabut pagi, dikejar oleh dua helikopter hitam yang tidak memiliki tanda identitas. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai.