Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Dari Mertua
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Reza pun setuju untuk bersilaturahmi pada besannya. Sekalian meminta maaf atas kelancangan Reynan yang menikahi Zara tanpa memberi tau orang tua.
“Kamu ikut, Ren?” tanya Reza pada anak tengahnya.
“Engga,” jawab Rendi.
“Ya udah, tunggu kami bersiap dulu, ya.” Yola bicara pada Reynan dan Zara.
“Iya, Ma.” Keduanya menjawab.
Reza san Yola pun bergegas pergi untuk berganti pakaian
Menunggu sekitar lima belas menit, Reza dan Yola pun sudah siap.
“Jaga rumah, Ren. Jangan keluyuran,” ucap Reza pada Rendi.
“Ngapain rumah di jagain. Lagian aku mau main,” jawab Rendi.
Reza berdecak.
“Ya udah, ayo Pah. Nanti kesorean di jalan,” ujar Yola.
Kini mereka pun pergi dengan mobil yang berbeda. Reza dan Yola di antar sopir.
Satu jam kurang di perjalanan, mereka pun sampai di rumah.
“Selama ini kamu tinggal di sini?” tanya Reza pada Reynan.
Karena selama ia memerintahkan Reynan, ia tidak tahu sang anak tinggal di mana. Reza hanya memerintahkan sang anak untuk melihat bagaimana pabrik berjalan, karena lima tahun belakangan ini pendapatan selalu turun setiap bulannya.
“Iya,” jawab Reynan.
“Berapa beli rumah ini?” tanya Reza lagi.
“Ya … sekitaran … ya Papa udah bisa menebaknya lah,” kata Reynan.
“Tiga ratus? Empat ratus? Empat ratus setengah?” tanya Reza.
“Ya gak jauh dari sana,” jawab Reynan lagi.
“Cukup nyaman,” ucap Reza. “Tapi kamarnya satu, ya?” tanyanya.
“Iya … ya buat apa banyak juga, cuma berdua yang nempatin. Lagian untuk sementara,” kata Reynan.
Sedangkan di ruang tengah, sudah ada Zara dan Yola.
“Maaf ya, Ma. Adanya cuma ini, kami belum sempat belanja,” kata Zara. Seraya menaruh air minum dan makanan kering.
“Ya gak apa-apa, gak usah repot-repot. Sini duduk.” Yola menepuk sofa di sampingnya.
Dengan ragu, Zara pun berjalan ke arah sana, lalu duduk.
“Mama tanya boleh?” tanya Yola.
“Iya, Ma. Mau tanya apa?” tanya Zara dengan senyumnya. Meski begitu, hatinya berdebar-debar takut pertanyaan yang akan diucapkan sang mertua yang tidak-tidak.
“Tolong ceritakan, bagaimana bisa Reynan menikahi kamu,” kata Yola dengan pelan dan lembut.
Zara terdiam.
“Tidak usah takut. Mama hanya ingin tau saja,” ucap Yola, seolah ia tahu bagaimana perasaan Zara.
Zara menarik napas dengan dalam. “Sebenarnya, saya pun kurang tau jelasnya seperti apa. Tapi sesuai dengan apa yang Pak Kades katakan, seharusnya hari itu saya menikah dengan lelaki bernama Danish, tapi dia tidak datang. Lalu Ayah ingin menikahkan saya dengan lelaki pilihannya, tapi saat saya keluar kamar setelah ijab kabul, Mas Rey yang duduk di sana. Bukan lelaki pilihan Ayah,” ucap Zara.
Yola terdiam sebentar. Lalu kembali bertanya:
“Kamu tau alasan lelaki itu tidak datang?” tanya Yola lagi.
“Sebelumnya saya tidak tau. Tapi kemarin malam saya baru mengetahuinya,” jawab Zara.
“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Yola lagi.
“Ya—” Zara menjeda ucapannya, setelah itu ia membuang napas dengan kasar. “Dia punya wanita di belakang saya, dan wanita itu sudah berbadan dua,” lanjut Zara. Ia tidak memberi tahu jika wanita itu adalah Kakak sepupunya.
“Oalah …” kata Yola seraya mengusap punggung tangan Zara.
“Sebenarnya, Reynan ini tidak pernah dekat dengan wanita. Makanya kami inisiatif untuk menjodohkannya dengan Keysa, anak dari rekan bisnis kami. Tapi ya seperti itu, respon Rey. Sempat Mama dan Papa berpikir, jika Rey menyimpang.” Yola menjeda ucapannya. “Tapi tadi, tiba-tiba kami dapat kabar, jika Rey udah nikah. Kagetlah,” lanjut Yola disertai kekehan.
Zara menanggapinya dengan tersenyum. Namun seketika, senyum itu kembali surut.
Sebentar. Menyimpang?
Apa benar menyimpang? Mengingat selama satu minggu ini mereka menikah, Reynan tidak pernah membahas masalah nafkah batin.
Yola menepuk pundak Zara. “Mikirin apa?” tanyanya.
“Oh … hehe … nggak,” kilahnya.
Tidak lama, datanglah Reynan dan Reza.
“Em- Ma, Pah, Zara izin mau bersih-bersih dulu,” kata Zara.
“Iya … sebentar lagi magrib ya,” ujar Reza. “Tahlilannya habis isya?” tanyanya.
“Iya, Pah.”
Reza pun menganggukan kepalanya.
Zara pun pergi ke kamar, sedangkan Reynan, Reza dan Yola kembali berbincang masalah pabrik.
***
“Assalamualaikum,” ucap Zara, Reynan, Reza dan Yola saat masuk ke dalam rumah Budi.
Mereka berempat datang setelah shalat magrib.
“Waalaikum salam. Siapa ini?” Budi menyambutnya dengan suka cita.
“Ini Papa sama Mama saya, Yah.” Reynan memperkenalkan kedua orang tuanya.
“Masya Allah … ayo duduk, duduk.”
“Terima kasih. Pak,” ucap Reza.
“Kami ucapkan belasungkawa ya, Pak. Atas meninggal Nenek-nya Zara.” Reza memulai bicara.
“Terima kasih, Pak. Kami sangat berterima kasih atas kehadiran Bapak sama Ibu,” kata Budi.
Reza tersenyum
“Sebelumnya … kami minta maaf, Pak. Atas Reynan yang menikahi anak Bapak tanpa persiapan. Bahkan uang mahar pun, hanya satu juta.” Reza bicara dengan sedikit malu. Bagaimana tidak, ia baru tahu, jika sang anak memberi uang mahar hanya satu juta rupiah.
Padahal, untuk harga satu hektar sawah pun, Reynan mampu.
Namun balik lagi, saat itu Reynan hanya ada uang cash satu juta saja.
“Ya tidak apa-apa. Mahar itu sebagai syarat saja,” kata Budi.
“Ya nggak gitu juga, Pak. Rasanya tidak sebanding saja,” ucap Reza.
Budi terkekeh kecil.
“Begini saja, sebagai gantinya ... Ini hadiah dari Papa ya, Za. Gimana kalo mobil Mini Cooper 3 Door, mau gak?” tanya Reza.
Seketika Zara membulatkan matanya. Begitu juga dengan Budi. Sedangkan dengan Reynan, ia tersenyum kecil.
Papanya ini, ada-ada saja.
Tadi di rumah udah kaya serigala. Meski begitu, Reynan tahu Papanya ini berhati Hello Kitty.
“Mau gak, Za?” tanya Reza lagi.
“Em- apa gak berlebihan, Pah?” tanya Zara.
“Nggak … ini gak berlebihan. Gimana?” tanyanya.
“Udah, terima aja. Habis itu kita jual, lumayan buat modal usaha,” celetuk Reynan.
Seketika mata Reza melotot. Ia tidak suka dengan ucapan Reynan.
Berbeda dengan Yola, yang terkekeh. Yola tahu, suaminya merasa senang karena sang anak sudah menikah. Meski bukan dengan wanita pilihannya.
Setidaknya, ia tahu jika sang anak tidak menyimpang.
“Betul kata Zara, Pak. Ini berlebihan sekali,” kata Budi. Bagaimana tidak, Mini Cooper 3 Door itu harganya hampir satu M.
“Nggak … ini sesuai kok,” kata Reza. “Mau ya, Za?”
Zara menoleh pada Reynan. Seolah ‘bagaimana ini’.
“Terima saja,” kata Reynan.
“Benar kata, Rey. Terima ya, Za. Lusa Papa kirim mobilnya ke sini,” ucap Reza.
“Em- begini, Pah. Bukan nolak rezeki, tapi banyak kendaraan buat apa? Saya ada mobil, Mas Rey juga ada mobil. Kalo Papa ngasih mobil lagi, yang ada sayang gak bakalan kepake,” kata Zara.
“Ya terima aja dulu, kalo mobilnya udah ada, gampang. Bisa kita jual atau disewakan,” celetuk Reynan lagi.
“Mana bisa begitu. Rey,” sahut Reza.
“Ya daripada gak dipake,” kata Reynan sekenanya.
“Jadi kamu nolak nih?” tanya Reza pada Zara.
“Nggak juga. Ya … mentahnya aja, Pah. Sesuai dengan harga mobil itu,” jawab Zara disertai senyuman.
Reza berdecak. Namun berbeda dengan Yola dan Reynan, keduanya menggigit pipi dalamnya. Supaya senyumnya tidak melebar.
Sedangkan dengan Budi, ia hanya diam dan mendengarkan saja.
Ia membiarkan anaknya itu memilih mau seperti apa. Dibalik itu, Budi pun bersyukur. Jika orang tua Reynan orang-orang baik.
“Jadi mentahnya aja nih?” tanya Reza.
“Iya, Pah. Mentah aja,” jawab Zara.
“Eh ada tamu.” Lia yang sedari tadi di dalam kamar, ia baru keluar.
Namun seketika Lia mematung, melihat siapa tamu itu.