Chuzuru seorang wanita cantik di Negeri Sakura, dan selalu membawa pedang Katana Hitam pekat, kemanapun dia pergi. Selain cantik, dia pegang nama besar keluarganya, yang bernama Handoyo, sebagai Samurai Sejati di Tokyo, jelas sangat di hormati banyak orang, bahkan termasuk Kaisar Negeri tersebut, tidak luput dapat hormat darinya. Selain itu, dia sudah bertunangan orang hebat, bahkan kadang-kadang dijuluki pasangan serasi. Akan tetapi hidupnya langsung berubah, saat dirinya melabrak seorang pria pekerja kasar, memukul pantatnya, tanpa pikir panjang, siapa pria yang melecehkan dirinya, ia langsung menyerahkan pihak kepolisian, agar dia di penjara. Hal inilah membuat Kota Tokyo terancam bahaya, oleh pria pekerja kasar, membuat dirinya harus menikah orang tersebut, dan segera memutuskan tunangan yang dia cintai, karena betapa bahaya pria pekerja kasar itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uwakmu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Heboh
Dan di jaga oleh dua orang, Daksa dan Gio namanya.
seperti cerita sebelumnya, Tio Satrio bertindak gegabah dalam Penjara, dengan menghancurkan borgol di tangannya, dan juga menghancurkan pintu sel tahanan, dengan begitu mudahnya.
Sehingga Daksa dan Gio, mendapatkan tugas yang sangat berat, ia tidak menyangka, orang yang mereka hadapi, melebihi di peringkat F.
Dalam kurang beberapa menit saja, mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa.
Awalnya Daksa ingin mencoba, menahan Tio untuk sementara waktu, sedangkan Gio, mencoba kabur dari sana, dan segera melapor kejadian yang ada di sini.
Habis itu, apa yang terjadi? Tidak sesuai harapan mereka, Daksa malah tidak bergeming di tempat, tanpa tahu apa yang harus dilakukan?
Setelah melihat Gio, telah menjadi tawanan Tio, kalau Daksa melakukan gegabah, Gio bisa mati kapan saja.
"Sungguh tolol, menahan orang itu di sini, apa mau mu?! Cepat katakan!" Tanya Daksa, karena dia sama sekali tidak tahu, apa yang dia lakukan? Disebabkan nyawa Gio dalam bahaya.
"Keliatannya kamu tahu keadaan situasi ya." Ujar Tio, dengan senyum menakutkan. "Seperti aku minta, Izinkan aku menghubungi seseorang, ini sangat penting Pak Daksa." Sambungnya.
"Jadi... Ini maksudmu main kasar, kamu sungguh keterlaluan!" Marah Daksa.
"Tidak usah bicara omong kosong, kamu menuruti ku, atau tidak, pilihlah." Tanggapan Tio, dengan gerakan lihai, dia membalikkan badan Gio, dengan tangan terkunci, dan lehernya di cengkram kuat.
"Daksa... Tolong aku!"Teriakan Gio ketakutan, dia tidak nyangka, tugas pertamanya, begitu mengancam nyawanya.
Belum lagi, dengan sekali hentakan saja, Gio bisa mati kapan saja.
"Ini adalah bagian yang paling tidak aku suka, baiklah... Aku ikuti kemauan mu." Jawaban Daksa terpaksa.
Setelah mendengar jawaban seperti itu, dengan mudahnya Tio melepaskan Gio, seolah-olah Gio itu bukanlah ancaman buat Tio.
Sadar dirinya dilepaskan, Gio punya kesempatan untuk menyerang, entah apa terjadi setelah itu?
Dengan mudahnya Tio, mematahkan lengan Gio, karena Gio berusaha memukul dirinya, dengan pakai tongkat di tangannya, agar Tio segera di lumpuhkan olehnya, dan kenyataannya Gio tidak bisa melakukannya dengan baik, dan berakhir berteriak kesakitan, setelah lengannya di patahkan.
Nggak sampai di situ, Tio memukul mundur Gio, membuat Gio tersungkur ke lantai, hingga punggungnya sakit, sekali lagi meraung kesakitan. "Nyawamu ada di tanganku, jangan coba melawan, kecuali kamu pengen cepat mati." Perkataan itu, sungguh sangat mengancam, bagaimana tidak, dia berkata, sambil menginjak dada Gio dengan kasar, setelah selesai berkata begitu, dia segera melepaskannya, sekali lagi membuat Tio lengah.
"Kamu pintar berkelahi, hebat juga kau." Pujian Daksa kepada Tio.
"Tidak usah bicara omong kosong, bukankah aku berkata begitu padamu!" Tegas Tio, seolah-olah dia tidak suka di puji orang, karena yang dia inginkan adalah hubungi seseorang, dan itu merupakan hal penting baginya.
"Daksa... Tanganku patah... Patah!" Teriakan Gio, karena dia sungguh tidak terima kalau tangannya patahkan oleh seseorang.
"Tidak usah cengeng! Bangunlah! Nyawa kita sedang terancam tahu! Lagipula tangan patah, bisa sembuh!" Perintah Daksa.
Hal inilah membuat Gio menurutinya. "Baiklah Daksa, ya ampun sakit sekali tanganku." Jawaban Gio sambil mengeluh kesakitan, yang harus dia tahan.
Mau gimana juga, situasi mereka berdua masih gawat, sehingga mereka berdua harus turutin perintah Tio, kalau ingin selamat.
Dengan helaan napas, Daksa berkata. "Ikuti aku, kalau ingin menghubungi seseorang."
"Aku pikir, kamu menyerahkan handphone anda, kenyataan tidak ya." Tanggapan Tio tak percaya.
"Apakah kamu tidak tahu? Setiap penjaga bertugas tidak boleh pegang Handphone di sini, kecuali jam istirahat dan pulang." Balasan Daksa, yang begitu tenang, lagipula nyawa mereka berdua, sementara waktu masih aman, dan berpikir cara, bagaimana melawan Tio balik.
Dan segera berikan laporan ke atasan, bagaimana pun, mereka berdua tidak akan selamanya untuk menuruti kemauan Tio, karena Tio seorang tahanan.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan? Kalian mencoba untuk melawanku, sebaiknya urungkan niat kalian, atau aku tidak sengaja, membunuhmu di tempat." Tanggapan Tio, karena Tio tahu, mereka berdua tidak bisa diajak kerja sama.
Lagipula para penjaga itu, tidak pernah percaya, kalau Tio mampu membunuh orang.
......................
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga, sudah sampai, di brankas pintu penjara, membuat Tio merasa heran. "Kamu sungguh menyimpan Handphone mu di sini." Ucapan Tio, yang begitu mencurigakan.
"Tentu saja, keamanan di sini, sangat ketat tahu, sungguh berbeda di Negara asalmu." Jawaban Pak Daksa, untuk mencoba menyakinkan Tio, bahwa Handphone dirinya, ada di balik pintu brankas itu.
"Kalau emang begitu, coba buka, jangan membuat aku menunggu." Perintah Tio, nggak yakin.
Daksa tentu buka pintu Brankas itu, secara perlahan, karena cara bukanya kayak kemudi kapal, begitu banyak sandi yang dia masukkan.
Dan berhasil di buka, dia tidak nyangka, ruangan di dalamnya, seperti ruangan penjara, seperti ada kasur dan toilet, dalam satu ruangan. "Ku rasa kalian salah." Ucapan Tio tidak percaya, apa barusan saja dia lihat.
Tanpa ragu, lihai dan cepat, mereka berdua mendorong Tio dengan kasar, agar berhasil memasuki Tio ke ruangan tersebut, akan tetapi mereka salah langkah, karena Tio menyadari kehadiran bahaya, Tio dengan mudahnya menghindari mereka berdua.
Dan membiarkan mereka berdua, memasuki ke ruangan tersebut, sadar mereka berdua gagal, dan segera membalik badan, dan melihat Tio mengunci pintu brankas tersebut. "Untung aku sadar, kalau tidak aku akan termakan jebakan kalian, dasar kalian licik!" Teriakan Tio, yang begitu bangga, karena berhasil membuat para penjaga, termakan jebakan mereka sendiri.
Sayangnya tidak ada suara dibalik pintu brankas tersebut, dan menyadari sesuatu, bahwa ruangan brankas tersebut, malah kedap suara. "Penjara ini sungguh menakutkan, untung saja, aku tidak masuk ke ruangan tersebut, bisa mampus aku nanti." Resah Tio, tanpa tunggu waktu, dia pergi dari sana, meskipun dia tidak tahu arah.
Dan menyadari dia tersesat. "Sial... Tempat ini seperti labirin, apa sebaiknya ku hancurkan saja, aku rasa itu ide bagus." Tanggapan Tio.
Pada akhirnya di temukan penjaga lain, padahal sebelumnya dia berusaha menghindari mereka, untuk bisa keluar dari sini. "Lihat itu, dia seseorang tahanan, tangkap dia!" Teriakan salah satu penjaga.
Sehingga alarm menyala, menandakan ada tahanan ingin coba meloloskan diri.
Tapi Tio, tetap saja tenang, karena dia merasa, tidak melakukan kesalahan, dengan konsentrasi, dia mengumpulkan energi Sihirnya, di telapak tinjunya.
Dengan kobaran api kegelapan yang sangat pekat, tanpa ragu, dia segera meninju nya, hanya saja tidak terjadi apa-apa, membuat Tio kaget setengah mati. "Yang benar saja! Tinju ku tidak berhasil!" Perkataan ya, yang tidak bisa percaya, sehingga dirinya di tangkap dan di borgol.