Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shadow Fire
Petugas Sarah melangkah masuk ke dalam kedai kecil yang terletak tak jauh dari bengkel Santaroni. Suasana kedai itu hangat dan wangi aroma makanan yang lezat begitu kental memanjakan indra penciuman. Sarah memindai ruangan, matanya berhenti pada seorang wanita dengan rambut hitam yang sedang sibuk memasak di dapur. Itulah Yomi, wanita yang ia cari.
Sarah mendekati Yomi, menunjukkan kartu identitasnya. "Yomi, saya Detektif Sarah. Bisa saya bicara dengan Anda sebentar?"
Yomi menoleh, mata coklatnya sedikit melebar. "Apa yang saya bisa bantu, Detektif?"
Sarah tersenyum, "Saya ingin bertanya tentang hubungan Anda dengan Rey dan Marco. Dan tentang apa yang terjadi di bengkel Marco beberapa hari yang lalu."
Yomi berhenti memasak, wajahnya menjadi serius. "Saya tidak tahu apa-apa tentang itu, Detektif."
Sarah memperhatikan Yomi, mencoba membaca ekspresi wajahnya. "Yomi, saya tahu Anda merusak kamera CCTV di tepi jalan, sehingga kami hanya tahu kedatangan anda ke wilayah itu, tapi tak tahu kepergian anda, dan apa yang anda bawa dari sana. Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjad"
Yomi tak mengubah ekspresi dan tatapan dinginnya. "Saya hanya seorang karyawan yang datang menolong bos saya. Dia terluka karena penyerangan yang dilakukan pemilik bengkel itu," bohongnya.
"Penyerangan? Pemuda gagah seperti Rey, harus meminta bantuan hanya karena melawan seorang pria renta?" tuntut Sarah merasa keterangan itu tak masuk akal.
Yomi kembali memotong sayuran, hentakan keras pisaunya menimbulkan suara tak tak yang teratur dan tenang, seolah wanita itu sengaja ingin menunjukkan bahwa ia tak tertekan. "Petugas, dia bukan pria tua biasa. Dia memiliki senjata," tandas Yomi tetap fokus pada sayuran di tangannya.
"Ah, aku baru ingat, aku melihat sebuah pistol di laci mejanya, tuan Rey hampir tertembak di bagian lehernya," ucapnya menutupi hal yang sebenarnya terjadi.
Sarah memperhatikan Yomi, kedua alisnya terangkat oleh rasa tak percaya, namun tak ada ekspresi apapun yang bisa ia baca. "Pistol?” tanya balik Sarah. ‘Tapi tak ada sisa peluru di TKP,’ pikirnya.
"Hmm, benar.” sahut cepat Yomi. Gerakan pisaunya yang memotong sayuran terhenti, bibirnya menyunggingkan senyum yang berkesan aneh, dingin tanpa perasaan. “Itu tampak seperti Glock 19, model Compact dengan sistem kemanan yang canggih, pas digunakan pria tua sepertinya. Berwarna hitam, kaliber 9mm dengan kapasitas magasin 15 peluru, cukup akurat untuk menembus sasaran dengan jarak 25meter."
Tatapan Sarah melebar konstan, mendengar detail yang mustahil diketahui oleh wanita biasa—seorang koki. “Kau… sebenarnya siapa?”
Yomi mengangkat wajahnya, kali ini ia tampak percaya diri bertatap muka dengan Sarah, meski tatapan itu tetap terasa dingin. “Aku membacanya, hampir setiap hari… majalah di sana,” aku-nya menunjuk pada rak buku di sudut kedai itu. “Apa perlu ku ambilkan untukmu?”
“Hm, boleh!” tantang Sarah tak ingin mudah percaya.
“Ham, tolong ambilkan majalah tentang senjata di rak itu, petugas ini ingin melihatnya!” perintah Yomi pada salah satu pramusaji pria yang sibuk membersihkan salah satu meja.
‘Dua pria itu... pramusaji, mereka komplotan.’ batin Sarah mengingat dua wajah itu di rekaman CCTV.
Kemudian pramusaji itu pun mendekati Sarah, melemparkan senyuman ramah, layaknya pramusaji pada umumnya, seraya mengulurkan sebuah majalah dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya tengah membawa nampan berisi gelas dan piring kotor.
“Halaman 32.” Bahkan Yomi tampak sangat menghafal seluruh isi majalah dengan judul sampul ‘Shadow Fire, pengetahuan dan edukasi senjata’.
Sarah pun membuka halaman yang ditunjukkan Yomi. ‘Aku tak pernah tahu ada buku seperti ini,’ gummanya dalam hati. Dan benar, tertulis di sana, penjelasan detail seperti yang sebelumnya dikatakannya oleh Yomi.
Namun Sarah masih merasa bahwa Yomi tidak mengatakan yang sebenarnya, masih ada sesuatu yang tersembunyi. Tapi Sarah tak bisa memaksanya. "Baiklah, Yomi. Saya akan mencatat itu. Tapi saya akan kembali lagi jika sayaembutuhkan informasi lebih lanjut."
Yomi tidak menoleh, hanya mengangguk sedikit, pisaunya terus bergerak dengan teratur. Sarah tahu bahwa dia harus berhati-hati, Yomi tidak akan mudah diprobokasi.
Yomi terus memotong sayuran dengan gerakan yang teratur, tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat Sarah meninggalkan kedai. Namun, dari pantulan bayangan di bilah pisau, dia mengawasi Sarah hingga wanita itu benar-benar keluar dari kedai.
Saat melihat mobil Sarah benar-benar meninggalkan halaman kedai, ekspresi wajah Yomi seketika berubah. Dia melepas apron dengan cepat, wajahnya kini terlihat waspada dan serius. Yomi menghampiri pria rekannya tadi. "Lanjutkan membuka kedai, aku harus memastikan sesuatu!"
Pria itu mengangguk, seolah telah terlatih memperhatikan perubahan ekspresi Yomi. "Baik, Yomi. Aku akan jaga di sini."
Yomi tidak menjawab, hanya mengangguk singkat sebelum berbalik dan meninggalkan dapur dengan cepat.
Yomi masuk ke ruang penyimpanan bahan, kemudian menyelinap melalui pintu sempit yang tersembunyi di balik rak-rak bahan masakan, pintu itu hampir tidak terlihat jika tidak tahu letaknya. Dia melewati lorong kecil yang gelap dan sempit, suaranya tidak terdengar karena lantainya dilapisi karpet tebal.
Lorong itu berakhir di sebuah tangga yang menurun, Yomi mulai menuruni tangga dengan cepat, langkahnya ringan dan terlatih. Udara di sekitarnya mulai berubah, menjadi lebih sejuk.
"Ah, semua masih aman," gumamnya hampir tak terdengar.
Tangga itu berakhir di sebuah ruang bawah tanah yang luas dan terang, beberapa ventilasi di dinding memberikan sirkulasi udara yang baik. Ruangan yang dipenuhi berbagai set alat olahraga lengkap. Beberapa pasang mata menatap kedatangan Yomi, beberapa tetap fokus dengan latihannya, beberapa hanya melempar senyum sapaan, dan beberapa lagi hanya melambaikan tangan.
Yomi melewati gymnasium yang penuh dengan orang-orang yang sedang berolahraga itu dengan wajar. Ia terus berjalan ke belakang, mendekati dinding kaca.
Seorang pria tampak merapikan dombbell, menatanya kembali dalam rak, Yomi menepuk pundaknya, "Katakan pada Tuan Rey, berhati-hatilah, anjing liar mulai mengendus jejaknya,” ucapnya menekankan peringatan itu.
Orang itu mengangguk, mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan. Sedangkan Yomi berhenti di depan kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit, lalu menunjukkan tangannya ke arah sudut kaca.
Sesuatu terpindai, dan terdengar bunyi ‘bib’ seperti kunci elektrik terbuka.
Yomi mendorong lembut kaca di depannya, sebuah jalan rahasia terbuka. Dia melangkah masuk, dan kaca itu menutup kembali dengan suara lembut.
Ruangan di balik kaca itu terang, tapi penuh dengan peralatan medis yang canggih. Marco terbaring di brangkar, terikat dengan sabuk-sabuk yang kuat. Dia belum sadar, wajahnya pucat dan dadanya masih terbalut kain kasa.
Yomi melangkah ke arah Marco, matanya memindai kondisi tubuhnya. "Bagaimana kondisinya?" tanya Yomi kepada seseorang di belakangnya.
Sebuah suara menjawab, "Stabil, hanya perlu menunggu pengaruh anestesinya hilang.”
............
Sementara itu, Sammy dan Jack telah tiba di seberang.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"tanya Jack setelah mengeluarkan mobilnya dari kapal.
"Parkir!" jawab cepat Sammy. "Kita coba tanya pada taksi-taksi di sana, Roni pasti menumpang salah satunya!"
Beberapa sopir taksi mereka tanyain, dan hampir semuanya menggeleng. Hingga tersisa satu taksi nun sopirnya tampak tertidur.
Sammy mencondongkan tubuhnya, mensejajarkan tinggi dengan pintu taksi yang di utarakan terbuka. "Permisi, kami petugas, bisa tolong bangun sebentar, Pak?"
"Ah sialan, ini bukan wilayah kita?" umpat Jack putus asa. "Kita tak bisa bertindak seenaknya, perlukah kusapa kantor polisi terdekat, Senior?"
"Nanti saja," sahutnya cepat seraya menegakkan kembali tubuhnya. " Jangan membuat keributan di negara orang!" tandasnya lagi.
"Membangunkan dia harus dengan teriakan keras, Nona! Jika butuh tumpangan, aku bisa mengantarmu!" seru seseorang yang berjalan mendekat ke arah Sammy. "Apa yang kau cari hingga melewatkan antrian taksi kosong didepan?" tanyanya lagi setelah berhenti di depan Sammy dan Jack.
"Ah, aku sedang mencari seseorang, apa kau melihatnya?" tanya Sammy menyodorkan foto Santaroni.
Pria paruh baya itu mengernyit sejenak, mengingat beberapa wajah penumpangnya hari ini. "Ah! Aku ingat, dia menumpang padaku tadi!"
Seketika Sammy dan Jack saling pandang dengan senyum lega terkembang. "Kau bisa berikan alamat yang dia tuju?"
namun disaat yang sama, ponsel Jack berdering. Ia menjauh beberapa saat untuk menerima panggilan.
"Senior, aku akan menyapa kenalan lamaku dulu, kau mau ikut, atau...." ujar Jack setelah selesai dengan panggilan singkatnya.
"Aku akan ke alamat itu bersama sopir taksi ini, kau selesaikan urusanmu dengan cepat, lalu segera menyusul ku!"
...****************...
Bersambung....
Makin rumit? Atau mulai bisa menebak?😁