Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasrah Bukan Berarti Kalah
Hesti memutar mata malas, kala melihat larangan dari Nadia.
"Aku gak mau merusak hubungan mereka bu ... Safira gak salah apa-apa," ucap Nadia, memberitahu ibunya.
"Kamu berhak bahagia sama Bagas, Nadia. Jangan bodoh," Hesti menunjuk-nunjuk dahi Nadia dengan jarinya.
"Sudah lah, bu ... Kesempatan ku sudah habis. Bukan kah, kalian yang menolaknya?" ujar Nadia menepis kasar tangan ibunya.
"Heh ... Jadi kamu menyalahkan ibu?" bentak Hesti tak terima.
"Sudah lah, bu. Kita sudahi semua masalah ini. Biarkan aku hidup dengan tenang, biarkan aku tetap dengan rasa cintaku," balas Nadia. Dia berlalu masuk ke kamar dan menguncinya.
Di kamar, Nadia melempari tota bag, sembarang. Dia jatuh duduk di lantai.
Bayangan, Safira hamil, dan gerakannya mengelus perut yang masih rata, enggan menjauh dari pikirannya.
Dulu, itu merupakan impiannya. Yang mana, dia dan Bagas mengidamkan ataupun merencanakan untuk punya empat orang anak. Namun, angan-angannya di hancurkan begitu saja.
Dan penyebabnya, ialah orang kandungnya sendiri.
"Kamu bisa Nadia ... Lupakan mereka, kamu juga bisa bahagai, kala menatap mereka bahagia," ujar Nadia, menyemangati dirinya sendiri.
Sore harinya, Nadia berniat jalan-jalan. Tujuannya ialah ke hilir sungai. Disana, selain ramai, pemandangannya juga menenangkan baginya.
Tiba disana, Nadia duduk di balai paling pojok. Sebelumnya dia juga telah memesan mie rebus serta air teh.
"Jika bang Bagas bisa bahagia tanpa ku, seharusnya aku juga begitu kan? Dia bisa bahagia dengan orang baru, dan seharusnya aku mencobanya kan?" gumam Nadia, kemudian mengambil foto alam, dan mempostingnya di media sosial.
"Yang telah lama bersama, bukan berarti akan selalu sama-sama. Bismillah, saatnya kita melupakan semuanya ~"
"Allah, tuntun aku ..." lirihnya memejamkan mata.
Malam beranjak, Anwar baru pulang dari musala. Dia mendapati Nadia dan Hesti sedang duduk bersama.
Jika Hesti sedang nonton sinteron favoritnya, Nadia malah sedang fokus pada layar ponselnya.
"Nadia, ada hal yang ingin ayah tanyakan," Anwar duduk di bawah. Kepalanya, bersandar di sofa.
"Apa?" tanya Nadia, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku dengar dari ibumu, kamu gak mau lagi, memperjuangkan cintamu dengan Bagas," ujar Anwar, menadah menatap ke arah Nadia.
"Bukan gak mau ayah, tapi gak ada artinya juga kan? Toh, bang Bagas gak mencintaiku lagi," sahut Nadia, mematikan layar ponselnya.
"Siapa bilang gitu?" tanya Hesti, menatap Nadia.
"Aku melihatnya bu ... Mungkin aku masih ada disana. Tapi, posisi Safira lebih besar," jawab Nadia, dengan dingin. "Ibaratnya, Safira berada di istana, bersama bang Bagas. Sedangkan aku, di luar pagar istana, yang hanya di lihat dari jauh saja," lanjut Nadia.
"Kamu menyerah begitu saja? Itu gak adil untukmu bodoh," geram Hesti.
"Semua adil bu ... Aku dengan takdirku, dan bang Bagas, dengan takdirnya," balas Nadia mantap.
Kemudian dia minta izin pada kedua orang tuanya, dengan alasan ngantuk.
Dan malam ini, Nadia tidur dengan hati yang di paksa sembuh, dengan sendirinya.
✨✨✨
Malam beranjak, tepat jam dua malam, Safira terjaga. Dia menoleh ke samping. Bagas tertidur dengan tenang.
Dengan gerakan lembut, Safira mengelus pipi Bagas. Berharap sang punya wajah, cepat membuka matanya.
Benar saja, begitu merasakan sentuhan dari Safira, Bagas langsung membuka matanya.
"Kenapa? Kakinya kram?" tanya Bagas, dengan suara berat.
Safira menggeleng.
"Terus, adeknya minta di jenguk?"
Safira langsung meremas mulut Bagas, geram. "Bukan," balasnya.
"Jadi, apa sayang?" tanya Bagas, kini mengubah posisi, dengan bersandar di ranjang.
"A-aku mau nasi berkat, yang biasanya abang bawa setelah salat jumat," ujar Safira malu-malu .
"Hah?" Bagas ingin memastikan pendengarannya.
Mata Safira langsung berkaca-kaca.
"Eh kok nangis," Bagas gelagapan.
"Habis abang ihhh. Aku kan, cuma pengen nasi. Bukan jalan-jalan keluar negeri," cetus Safira.
"Ya Allah, ya Rabbi ... Tapi besok baru hari selasa sayang." Bagas mulai frustasi.
"Emang abang gak mencintaiku ... Makanya, bilang begitu,"
"Lah, kenapa merembet kemana-mana sih," ujar Bagas menjambak rambutnya, bahkan nada bicaranya naik satu oktaf.
"Tuh kan, abang marah-marah, abang memang belum mencintaiku," kembali Safira merengek.
Bagas menghela napas. Dia kembali teringat tentang pesan ibunya.
"Ibu hamil moodnya sering berubah. Kamu harus sabar, dan tentu jangan buat moodnya semakin berantakan,"
Bagas menggeserkan duduknya. Dia mendekati Safira yang sudah berada di posisi ujung ranjang.
"Sayang ..." Bagas, memengangi bahu Safira.
"Jangan panggil aku sayang, kalo sayangmu aja masih sama yang lain," bentak Safira, enggan menoleh.
"Cinta," Bagas mengubah nama panggilan.
"Jangan omongin cinta sama aku. Abang kan, gak cinta sama aku," lirih Safira.
"Jantung hatiku, istriku, kesayanganku, cintaku ... Maafkan abang ya," ujar Bagas memeluk Safira.
Safira diam. Dia mulai menikmati pelukan suaminya.
"Aku mau nasi berkat," balas Safira lagi.
"Iya, abang usahakan ya ..."
"Sekarang," rengek Safira membalikan badannya.
"Jam dua, nasi berkat gak di bagi di mesjid. Lagipula ini bukan hari jumat. Tapi abang janji, abang akan mengusahakannya," ucap Bagas.
Safira mengangguk. Dan malam ini, dia kembali terlelap di pelukan suaminya.
✨✨✨
Besoknya, selesai subuh di mesjid Bagas tak langsung pulang. Dia mulai mencari warung yang menjual atau yang biasa menerima pesanan untuk jumat berkah.
Hampir setengah jam, akhirnya dia tiba di warung yang alamatnya di dapatkan dari marbot mesjid
Warung memang masih tutup. Tapi aroma masakan sudah tercium, walaupun Bagas masih di luar.
Dia langsung mengetuk dan mengucapkan salam.
Begitu pintu terbuka, dia menyampaikan maksud dan tujuannya.
Beruntung, pemilik warung berhati baik. Dia dengan telaten membungkuskan nasi kotak seperti yang biasa di pesan di mesjid, kampung Bagas.
"Ini hanya kurang touco, maaf ya ..." ujar pemilik warung, menyerahkan dua kotak nasi.
"Berapa bu?" Bagas, mengeluarkan uang dari saku bajunya.
"Eh, gak usah ... Pesanan ibu hamil itu berkah. Doakan, warung kami laris manis," tolak pemilik warung, menangkup tangannya.
"Kalo begitu, aku pesan seratus nasi kotak untuk jumat depan bu," ujar Bagas, karena merasa gak enak dengan kebaikan hati dari pemilik warung.
"Beneran? Masya Allah, Alhamdulillah," ujar pemilik warung, bersyukur.
"Atas nama siapa?" tanya pemilik warung, setelah mengambil buku, untuk mencatat pesanan Bagas.
"Hamba Allah, bayarnya, bisa aku transfer saja?"
"Bisa, bayar setengah untuk dp. Dan pelunasan, ketika pesanan tiba," kembali pemilik warung, menunjukkan nomor rekeningnya.
"Aku bayar lunas saja. Aku percaya sama kalian," balas Bagas.
Dan pagi itu, bukan hanya Bagas yang senang karena bisa menyenangkan Safira. Melainkan pemilik warung juga senang, karena kecipratan rejeki dari arah yang tak terduga.