NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran

Arga mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menghilangkan kantuk yang masih mendera. "Ada apa, Ayah?" tanyanya dengan nada bingung, tampak belum sepenuhnya sadar.

"Apa benar, kemarin Arga sempat marah pada Anya?" tanya Pramudya dengan nada lembut, berusaha tidak menekan putranya.

Arga terdiam sejenak, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. "Emm... iya, Ayah. Anya itu jahat," ucap Arga dengan nada polos, tanpa menyadari implikasi dari ucapannya.

Rini mencibir dengan nada kemenangan. "Sudah jelas kan? Yang jahat itu kamu, bukan Galen anakku!" serunya dengan nada meremehkan, merasa puas karena putranya tidak bersalah.

Anya memutar bola matanya dengan malas, merasa jengah dengan sikap Rini. "Aku jahat karena apa, Arga? Coba ceritakan semuanya dengan jujur, aku janji tidak akan marah padamu," ucap Anya dengan nada sabar, berusaha membujuk Arga untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Waktu di rumah sakit, Galen bilang kalau Anya akan meninggalkan Arga dan memilih Galen," jelas Arga dengan polos, tanpa menyadari bahwa ia baru saja mengungkapkan kebenaran yang selama ini disembunyikan.

"Anda dengar sendiri kan, Tante?" ucap Anya dengan nada penuh penekanan, menatap Rini dengan tatapan yang seolah mengatakan 'skakmat'.

Dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah, Pramudya menatap Galen dengan penuh kekecewaan. "Galen, apa benar semua yang dikatakan Arga? Apa kau benar-benar tega mengatakan hal-hal keji seperti itu padanya?" tanyanya dengan nada suara yang meninggi, menggelegar di seluruh ruangan.

Galen membeku di tempatnya, tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap mata Pramudya yang selama ini telah menjadi figur ayah baginya.

"Pasti ada kesalahpahaman di sini, Mas Pram! Arga kan memang suka berkhayal yang aneh-aneh," sela Rini dengan nada membela, berusaha melindungi putranya dari kemarahan Pramudya dan meyakinkan bahwa Galen tidak bersalah.

Anya tertawa sinis, merasa jijik dengan pembelaan Rini yang jelas-jelas tidak masuk akal. "Berkhayal? Arga itu anak yang polos, Tante. Dia tidak mungkin berbohong atau mengada-ada," bantahnya dengan nada tajam, menyiratkan ketidakpercayaan pada ucapan Rini yang berusaha menutupi kebenaran.

"Sebenarnya, ada satu hal lagi yang perlu Ayah ketahui," ucap Anya dengan nada tenang namun menusuk, memecah kesunyian yang mencekam. "Galen juga mengatakan pada Arga bahwa aku lebih mencintai Galen daripada Arga. Dia sudah benar-benar keterlaluan, Ayah! Padahal aku sama sekali tidak tertarik padanya," ucap Anya sambil menatap Galen dengan tatapan penuh amarah dan jijik.

Pramudya menatap Galen dengan tatapan penuh kekecewaan. "Ayah sangat kecewa padamu, Galen! Ayah tidak menyangka kau bisa mengatakan perkataan yang sangat tidak pantas seperti itu!" ucapnya dengan nada lirih, menunjukkan betapa sakit hatinya ia.

Galen dengan cepat bangkit dari duduknya, lalu bersimpuh di hadapan Pramudya dengan air mata yang membasahi pipinya. "Ayah, maafkan Galen. Galen tidak sengaja melakukan itu," ucap Galen sambil menangis tersedu-sedu, memohon ampunan sambil memeluk erat kaki Pramudya.

Dengan tegas, Pramudya menarik kakinya dari pelukan Galen, membuat Galen kehilangan keseimbangan. "Berdiri, Galen," ucapnya dengan nada dingin yang menusuk. "Hanya dengan kata maaf saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Kau sudah menyakiti hati Arga dan Anya dengan kebohonganmu. Kau harus meminta maaf secara tulus kepada mereka berdua."

"Mas Pram, jangan terlalu menyalahkan Galen. Dia kan masih muda, jadi wajar saja kalau melakukan kesalahan," ucap Rini dengan nada membela, berusaha sekuat tenaga melindungi putranya dari amarah Pramudya.

Anya memutar bola matanya dengan malas, merasa jengah dengan sikap Rini yang selalu berusaha menutupi kesalahan putranya. "Tante, Galen itu sudah bukan anak kecil lagi. Dia tahu persis apa yang dia perbuat," bantahnya dengan nada sinis yang meremehkan.

"Sudah cukup! Cepat minta maaf sekarang pada Arga dan Anya!" bentak Pramudya dengan nada geram, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang tidak ada gunanya.

Tiba-tiba, Arga bersuara dengan nada kesal yang memecah keheningan. "Ayah, Arga tidak mau memaafkan dia! Dia sudah jahat sekali pada Arga! Dia juga jahat pada Anya!" ucapnya dengan nada meninggi.

Pramudya mengusap kepala putranya dengan lembut, berusaha meredakan emosinya. "Arga, kita sebagai manusia harus saling memaafkan kesalahan orang lain. Tapi, kalau mereka sudah terlalu jahat dan menyakitimu, kamu berhak untuk melakukan apapun yang menurutmu benar," jelas Pramudya dengan nada bijaksana.

"Jadi, Arga mau memberi Galen kesempatan untuk memperbaiki diri? Tapi ingat, kalau Galen mengulangi kesalahannya lagi, kamu tidak perlu memaafkannya. Cukup untuk hari ini saja kamu memaafkan Galen," ucap Pramudya dengan nada lembut, memberikan pengertian pada putranya.

Tanpa sepengetahuan siapapun, Galen menatap Arga dengan tatapan penuh kebencian yang membara. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kenapa harus dia yang selalu disayang Ayah? Kenapa bukan aku yang mendapatkan perhatian itu?" gerutunya dalam hati dengan nada penuh iri dan dengki.

Arga menghela napas berat, menunjukkan kekesalannya yang tak tertahankan. "Arga tetap tidak mau memaafkannya, Ayah. Dia sudah membuat Arga sangat kesal dan membuat Arga marah pada Anya! Arga tidak bisa begitu saja melupakan perbuatannya," ucap Arga dengan nada keras kepala dan penuh kekecewaan.

Pramudya menghela napas panjang, merasa lelah dengan situasi yang pelik ini. "Baiklah, Ayah mengerti," ucapnya dengan nada pasrah. "Galen, Ayah harap kamu bisa mengambil pelajaran dari kesalahanmu ini. Jangan pernah sekali pun mengulangi perbuatanmu lagi." Ia menatap Galen dengan tatapan tajam yang memperingatkan.

Galen hanya mengangguk kecil sebagai tanda setuju, namun di dalam hatinya masih tersimpan dendam dan kebencian yang mendalam.

Anya menggenggam tangan Arga, mencoba menenangkannya. "Arga, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu memaafkan Galen kalau kamu tidak mau," ucapnya dengan nada lembut. Ia menatap Galen dengan tatapan tajam. "Dan perlu kau ingat baik-baik, Galen. Kalau kau masih terus menuduhku mencintaimu, itu sangat menjijikkan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Anya dengan nada tegas dan penuh penekanan.

"Ini tidak adil!" teriak Rini dengan nada tinggi, menarik perhatian semua orang. "Kenapa Galen yang selalu disalahkan? Arga juga tidak sepenuhnya benar dalam hal ini. Kalian semua hanya menyudutkan Galen!"

Pramudya menatap Rini dengan tatapan tajam. "Rini, cukup! Jangan membuat situasi semakin rumit. Galen sudah mengakui kesalahannya, dan dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya."

Anya mendecih sinis. "Jangan mencoba memutarbalikkan fakta, Tante. Ini bukan tentang perhatian, tapi tentang kebohongan dan manipulasi."

"Kamu! Kamu yang sudah merusak semuanya!" tuduh Rini sambil menunjuk Anya dengan jari telunjuknya. "Kalau saja kamu tidak datang ke kehidupan mereka, semua ini tidak akan terjadi. Galen tidak akan melakukan hal seperti ini!"

Arga yang mendengar ucapan Rini, langsung memasang badan untuk melindungi Anya. "Jangan salahkan Anya! Ini semua salah Galen, bukan salah Anya!"

Dengan nada memelas dan penuh keyakinan, Rini berusaha meyakinkan Pramudya. "Mas! Percayalah padaku! Galen tidak mungkin melakukan semua ini kalau bukan karena perempuan itu yang sudah menggoda Galen terlebih dahulu! Pasti dia yang merayu Galen sampai Galen kehilangan akal sehatnya, Mas!" ucap Rini dengan nada memohon.

Anya merasa darahnya mendidih mendengar tuduhan Rini yang sama sekali tidak berdasar. "Tante! Jaga mulut Tante! Saya tidak akan tinggal diam jika Tante terus menuduh saya dengan hal-hal yang tidak benar!" balasnya dengan nada marah dan penuh peringatan.

Dengan nada membentak yang menggelegar, Pramudya membungkam Rini. "Rini, hentikan!" bentaknya dengan nada keras, membuat semua orang terdiam membisu. "Jangan bicara yang tidak-tidak! Seharusnya kamu merasa malu membela anakmu yang jelas-jelas melakukan kesalahan." Ia menatap Rini dengan tatapan kecewa yang menusuk. "Aku tidak pernah menyangka kamu bisa memiliki pemikiran yang begitu sempit."

Setelah meluapkan kekecewaannya, Pramudya segera menggandeng Anya dan Arga menjauh dari Rini, tidak ingin mereka terus menjadi korban kemarahan dan tuduhan yang tidak berdasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!