NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Keesokan harinya di bengkel, suasana sudah kembali sibuk sejak pagi. Rangga sedang duduk di ruangannya yang kecil, memeriksa beberapa nota pemesanan suku cadang, saat tiba-tiba pintu terbuka dan Dimas nongol dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dibanding kemarin.

Rangga mendongak, alisnya terangkat sebelah. "Lah, ngapain lo ke sini? Emang anak lo udah sembuh? Bukannya jagain di rumah?"

Dimas nyengir sambil narik kursi di depan meja Rangga.

"Udah mendingan, Ngga. Panasnya udah turun tadi pagi, sekarang udah bisa main lagi dia. Gue tadi keluar bentar beli buah buat istri sama mertua, sekalian mampir ke sini."

Dimas kemudian meletakkan sebuah kantong plastik transparan berisi dua bungkus es cekek ke atas meja kerja Rangga.

"Nih, tanda terima kasih gue buat bantuan lo semalam. Seger nih buat cuaca panas begini."

Rangga melirik es plastik itu dengan tatapan datar, lalu mendumel pelan sambil mengambil salah satunya.

"Minimal kopi Starbucks lah, Dim! Gue semalam sampai ganti mobil, beliin obat, angkut barang mertua lo yang beratnya kayak dosa, masa cuma dapet es cekek harga dua ribuan?"

Dimas tertawa lepas mendengar omelan sahabatnya itu. "Halah, gaya lo Starbucks! Biasanya juga minum kopi sachet di depan bengkel. Udah, syukuri aja."

Dimas kemudian memajukan badannya, raut wajahnya berubah jadi kepo. "Eh, btw gimana semalam? Gue lihat lo jemput Ayu buat ke rumah Kang Rian. Hubungan lo sama dia gimana sekarang? Kalian balikan?"

Rangga terdiam sebentar, menyedot es cekeknya kuat-kuat sebelum menjawab dengan nada malas. "Nggak. Siapa juga yang balikan?"

"Yaelah, masa nggak ada kemajuan? Terus status lo sekarang apa sama dia?" desak Dimas.

"Mantan kadung itu mah, Dim. Mau dibilang cuma teman tapi gue masih sayang, mau dibilang pacar tapi dia masih suka jual mahal gara-gara trauma masa lalu. Ribet dah," curhat Rangga jujur.

Dimas tertawa mengejek sambil menyedot es cekeknya sampai berbunyi. "Ya itu mah risiko lo, Ngga! Lagian kalau mau jujur, ini semua kan salah lo mah, lo aja yang kabur dulu."

"Gue nggak kabur, Dim. Gue cuma di usir waktu itu"

Dimas meletakkan plastik esnya, lalu mengubah posisinya menjadi lebih tegak, seolah siap memberikan khotbah.

"Dengerin gue ya, Ngga. Sebagai orang yang udah pengalaman, udah nikah, udah punya anak, gue kasih tahu nih..."

"Mulai deh..." gumam Rangga sambil memutar bola mata.

"Menaklukan hati mantan yang kadung itu beda sama benerin mesin motor yang mogok. Mesin kalau rusak tinggal ganti sparepart, beres. Kalau hati cewek, lo nggak bisa cuma modal antar-jemput doang. Lo harus sabar, lo harus konsisten, dan lo harus bisa buktiin kalau lo bukan Rangga yang dulu lagi. Lo tuh harus....."

"Berisik banget lo!" potong Rangga sambil melempar gumpalan kertas nota yang sudah tidak terpakai ke arah Dimas.

Rangga yang telinganya mulai panas mendengar ceramah Dimas langsung berdiri dari kursinya. Ia menunjuk ke arah pintu keluar ruangannya dengan wajah yang ditekuk.

"Udah, udah! Pergi lo sana! Bukannya bikin adem malah bikin gue makin pusing," usir Rangga kesal. "Katanya mau beli buah buat istri sama mertua? Mana buahnya? Udah sana balik ke rumah, jagain Dafin! Ngapain lo ceramahin gue di sini, mending lo urusin anak lo yang lagi demam itu!"

Dimas berdiri sambil terkekeh-kekeh, merasa menang karena berhasil memancing emosi Rangga. "Iya, iya, ini gue balik. Sensitif banget sih lo, pantesan Ayu masih mikir-mikir mau balikan sama lo!"

"Dimas! Keluar nggak lo!"

Dimas langsung lari keluar ruangan sambil masih tertawa kencang. Begitu pintu tertutup, Rangga kembali duduk dan menghela napas panjang. Ia menyedot sisa es cekeknya sampai bunyi srak-sruk karena esnya sudah habis.

"Sialan si Dimas. Tapi ada benernya juga sih," gumam Rangga.

Sore harinya di kedai, suasana mulai sepi. Pelanggan terakhir baru saja pergi. Ayu mulai sibuk mengelap meja, sementara Nenek Tari perlahan membereskan etalase.

Nenek Tari sesekali melirik ke arah cucunya. Sejak pulang tadi malam, ia merasa ada yang berbeda dari raut wajah Ayu yang terlihat lebih ceria.

"Yu," panggil Nenek Tari lembut.

"Iya, Nek?" sahut Ayu sambil menata kursi.

"Semalam kemana aja sama Rangga? Nenek dengar suara motornya lewat jam sembilan baru sampai rumah," tanya Nenek Tari.

Ayu menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menjelaskan dengan nada tenang. "Itu, Nek... aku nemenin Mas Rangga jenguk istrinya Kang Rian yang baru lahiran. Terus habis dari sana, kita mutar-mutar bentar cari angin ke arah Dago," jawab Ayu jujur.

Nenek Tari manggut-manggut sambil tersenyum penuh arti. Ia meletakkan serbetnya dan menatap Ayu lekat-lekat.

"Ohh... Nenek kira kemana. Kamu nggak ada niat nikah, Yu? Umur kamu udah cocok loh buat berkeluarga," ucap Nenek Tari tiba-tiba, membuat gerakan tangan Ayu yang sedang mengelap meja langsung membeku.

"Nenek kok ngomongnya gitu? Aku kan masih mau jagain Nenek di sini, jagain kedai juga."

"Nenek mah udah tua, Yu. Nenek bakal lebih tenang kalau ada laki-laki yang bisa jagain kamu. Rangga itu Nenek lihat tulus orangnya, meskipun dulu sempat ada masalah. sekarang kelihatannya dia makin dewasa," lanjut Nenek Tari.

Rangga melangkah masuk ke kedai dengan santai, meletakkan kunci motornya di atas meja kasir sambil memberikan senyum terbaiknya kepada Nenek Tari dan Ayu.

"Sore, Nek! Sore, Yu! Sepi nih, enak buat numpang ngopi," sapa Rangga ceria.

"udah tutup" jawab ayu.

Nenek Tari tidak membalas sapaan itu dengan basa-basi biasa. Beliau justru menatap Rangga lekat-lekat, lalu bertanya dengan nada yang sangat serius namun tenang.

"Ngga, Nenek mau tanya langsung sama kamu. Rangga, kamu mau nggak jadi calon suami Ayu?" tanya Nenek Tari tanpa tedeng aling-aling.

Seketika suasana kedai jadi hening. Ayu yang sedang memegang teko hampir saja menjatuhkannya. Wajahnya langsung merah padam sampai ke leher.

"Aduh, Nenek! Apaan sih! Nggak usah dengerin, Mas, Nenek cuma bercanda itu!" bantah Ayu dengan nada tinggi karena saking malunya. Ia mencoba menutupi mulut Neneknya, tapi Nenek Tari hanya terkekeh.

Berbeda dengan Ayu yang panik, Rangga justru berhenti bergerak. Matanya berbinar, dan sebuah cengiran lebar nan percaya diri langsung terukir di wajahnya. Ia sama sekali tidak terlihat kaget, malah tampak seperti baru saja mendapat durian runtuh.

"Mau banget, Nek! Wah, kalau itu sih nggak usah ditanya lagi," jawab Rangga mantap sambil melirik Ayu yang sedang melotot ke arahnya.

"Ini saya juga lagi nunggu, Nek. Nunggu lampu hijau dari cucu Nenek yang satu ini. Sayanya sih udah gas pol, eh dianya masih pasang rem tangan terus."

Ayu semakin salah tingkah. Ia menyambar serbet dan memukulkannya ke bahu Rangga dengan kesal. "Mas Rangga! Jangan malah makin jadi deh! Malu dilihat pelanggan kalau ada yang masuk!"

"Loh, kan Nenek yang tanya, masa Mas bohong?" goda Rangga sambil tertawa lepas.

Nenek Tari hanya tertawa melihat tingkah keduanya. "Nah, denger kan Yu? Rangga-nya aja sudah siap. Kamu jangan kelamaan jual mahalnya, nanti diambil orang baru tahu rasa."

1
Evi Lusiana
mnjaga diri sbg wanita itu wajib,tp hrsny ayu jg jgn egois hrsny dia tahu mksd perhatian rangga slm ini,untung rangga bnr² tulus klo laki² ny model playboy psti d kira ayu sok jual mahal
Aidil Kenzie Zie
yang murahan itu mamanya si Ayu sampai hamil sama selingkuhan nggak ingat umur
Aidil Kenzie Zie
Rangga kalau Ayu nggak mau nggak usah dipaksain mungkin bukan jodoh kamu
Aidil Kenzie Zie
si Ayu dikit dikit hutang diajak nikah nggak mau sok jual mahal apalagi sih yang dicari pria seperti Rangga susah dicari
Evi Lusiana
kok sgtuny ayu sm rangga,pdhl dia udh baik slm ini
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!