Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik hujan
Hujan tak kunjung reda. Suara genting ruko berdentum pelan, seperti irama detak jantung Kirana yang masih belum stabil. Ia duduk memeluk Gio erat, tubuhnya kaku, telinganya menangkap setiap suara—langkah kaki, derit pintu, bahkan desiran angin yang menyelinap lewat celah jendela.
Kirana merasa ketakutan luar biasa ,baru kali ini dia merasa seperti itu ,dia waspada dan tetap memeluk gia ,dia takutan bayangan orang itu akan mendekatinya ,dan akan berbuat jahat pada mereka .
Tapi pria itu tak mendekat.
Setelah lima menit yang terasa seperti lima jam, lampu motor itu menyala lagi, lalu menjauh perlahan. Mesinnya menggerung pelan, lalu lenyap di balik deru hujan.
"Alhamdulillah,dia sudah pergi ." gumamnya ,dia merasa sedikit lega .
Sejak melihat bayangan orang itu ,Sedari tadi Kirana menahan napas sampai dadanya nyaris meledak. Baru setelah yakin pria itu benar-benar pergi, ia berani menghembuskan udara—perlahan, gemetar.
"Aku harus waspada ,sebenarnya siapa dia ? Kenapa dia mengintai tempatku ?" dia mengedarkan pandangannya ,dia takut kalau orang itu akan kembali .
“Mama…?” suara Gio tiba-tiba berbisik pelan, matanya masih setengah terpejam.
Kirana buru-buru mengusap air mata. “Iya, Sayang." jawab Kirana melonggarkan pelukannya
"Gio ngantuk ."
"Ya Gio Tidur lagi, ya. Nggak ada apa-apa.”
Gio mengangguk, lalu membenamkan wajahnya di dada Mama. Tapi tangannya tetap menggenggam erat lengan Kirana, seolah takut dilepas.
Kirana tak bisa tidur lagi malam itu. Ia duduk di lantai dapur, ponsel di genggaman, menatap layar hitam. Jari-jarinya gemetar saat membuka folder tersembunyi di flashdisk—foto lengan biru, chat Aris yang penuh cacian, rekaman suara mertua yang mengancam. Semua kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam, kini harus ia keluarkan lagi.
Tapi kali ini, bukan untuk menangis. Tapi untuk bertahan.
---
Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Kirana sudah bangun sebelum jam lima, meski matanya bengkak dan tubuhnya lelah. Ia mencuci muka dengan air dingin, lalu menatap cermin.
“Kamu kuat,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Kamu harus kuat.”
Gio bangun tak lama setelah itu, masih mengantuk tapi langsung mencari Mama. “Ma, kita masak bareng lagi, ya?”
Kirana tersenyum—kali ini lebih tulus. “Boleh, Sayang. Tapi hari ini cuma nasi goreng sama telur mata sapi, ya? Nggak ada pesanan besar.”
Gio mengangguk semangat. “Aku bantu potong daun bawang!”
Sementara mereka sibuk di dapur, Mbak Sari datang lebih awal dari biasa. “Bu Kir, aku denger kabar dari Bu Anita. Katanya ada yang gangguin kamu?”
Kirana menghentikan gerakan spatulanya sejenak. “Iya… tapi nggak usah khawatir, Mbak. Aku lagi urus semuanya.”
Mbak Sari meletakkan tasnya, lalu menepuk bahu Kirana pelan. “Kalau butuh temen jaga ruko, bilang aja. Aku atau Mbak Yuni siap. Kita kan keluarga kecil di sini.”
Kirana mengangguk, rasa hangat menjalar di dadanya. Di kota asing ini, di antara uap dapur dan aroma bawang goreng, ia punya orang-orang yang peduli.
---
Jam sepuluh pagi, Bu Anita datang lagi—kali ini bersama seorang perempuan paruh baya berjas rapi dan rambut disanggul rapi. Matanya tajam, tapi senyumnya tenang.
“Ini Bu Lusi, pengacara yang aku ceritain,” kata Bu Anita.
Kirana buru-buru menyambut, tangannya berkeringat. “Terima kasih banyak, Bu.”
Mereka duduk di meja kecil depan ruko, sementara Gio bermain di dalam dengan puzzle barunya. Bu Lusi mendengarkan dengan sabar saat Kirana menceritakan semuanya—dari pernikahan yang awalnya penuh harapan, tekanan dari mertua, kekerasan emosional yang tak pernah berhenti, sampai akhirnya ia diusir hanya dengan hanya membawa Gio dan satu koper kecil.
“Dan ini buktinya, Bu,” kata Kirana sambil menyerahkan flashdisk.
Bu Lusi membuka laptop, lalu memeriksa file-file itu satu per satu. Ekspresinya tak berubah, tapi alisnya sedikit terangkat saat melihat rekaman suara.
“Ini cukup kuat,” katanya pelan. “Apalagi kalau kamu punya saksi—tetangga lama, misalnya. Atau catatan medis, kalau pernah ke rumah sakit.”
Kirana mengangguk. “Ada satu foto luka di lengan, waktu aku ke puskesmas karena demam tinggi. Dokter waktu itu sempat nanya, tapi aku bilang jatuh.”
“Masih ingat nama dokternya?”
“Iya. Dr. Rina. Di Puskesmas Cipinang Lama.”
Bu Lusi mencatat. “Bagus. Kita bisa minta salinan rekam medis. Dan kalau Aris benar-benar menghubungi polisi, kita harus lebih cepat daripada mereka. Kita ajukan permohonan perlindungan anak dan ibu korban KDRT. Hak asuh akan otomatis jadi milikmu selama proses hukum berjalan—apalagi Gio masih di bawah tujuh tahun.”
Kirana menarik napas panjang. “Tapi… kalau dia datang langsung ke sini? Ambil Gio paksa?”
Bu Lusi menatapnya tegas. “Kalau itu terjadi, langsung telepon polisi. Dan simpan nomor darurat ini.” Ia menyerahkan kartu kecil. “Aku juga punya kontak di Satuan Perlindungan Perempuan dan Anak. Mereka bisa datang dalam 30 menit.”
Kirana menyimpan kartu itu di dompet, tepat di samping foto Gio.
---
Siang itu, setelah Bu Lusi dan Bu Anita pulang, Kirana merasa beban di dadanya sedikit lebih ringan. Bukan karena ancaman itu hilang—tapi karena ia tahu, kali ini ia tidak sendiri.
Ia mengajak Gio jalan-jalan ke warung dekat ruko, beli es teh dan pisang goreng. Gio tertawa riang, berlari-lari kecil sambil memegang esnya.
“Ma, nanti kalau aku besar, aku mau jadi polisi biar bisa jaga Mama!”
Kirana tertawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca. “Kenapa polisi, Nak?”
“Soalnya Mama sering takut. Aku nggak mau Mama takut lagi.”
Kirana berhenti sejenak, lalu memeluk Gio erat. “Mama nggak takut lagi, Sayang. Karena Mama punya kamu.”
---
Malam kembali datang. Tapi kali ini, Kirana tak menyalakan lampu terlalu terang. Ia duduk di depan pintu, memastikan semua kunci terkunci rapat. Ponselnya tetap di samping, notifikasi diaktifkan, nomor darurat tersimpan di layar utama.
Gio sudah tidur pulas, boneka kelinci kesayangannya digenggam erat.
Kirana menatap langit malam yang mulai cerah setelah hujan. Udara segar, tapi jantungnya masih waspada.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Kirana langsung mengecek—bukan nomor asing. Tapi Mbak Yuni.
#“Bu Kir, aku liat motor hitam muter-muter depan gang tadi. Kayaknya nungguin sesuatu. Aku takut, jadi lapor RT. Mereka janji bakal patroli malam.”
Kirana mengetik balasan dengan tangan gemetar. “Makasih banget, Mbak. Tolong jaga diri juga.”
Ia menarik napas dalam, lalu menatap Gio yang tidur tenang.
“Aku nggak akan biarkan siapa pun ambil kamu,” bisiknya lagi.
Di luar, angin malam berhembus pelan. Tapi kali ini, Kirana tak menunduk. Ia menatap gelap dengan mata yang mulai berani.
Karena ia tahu—ia bukan lagi korban yang kabur.
Ia adalah ibu yang siap melawan