Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepian dan luka
“…Apa?” bisiknya.
Prajurit itu mengangkat wajah.
Tatapannya penuh penyesalan.
“Tuan Alden gugur saat melindungi pasukannya.”
Elara menggeleng pelan.
Tidak.
Tidak mungkin.
“Tidak… paman… akan pulang,” gumamnya.
“Paman janji…”
Kakinya melemas. Tubuhnya goyah. Eryn segera menangkapnya.
“Elara!” panggilnya panik.
Elara mencengkeram baju Eryn.
Air matanya jatuh deras.
“Paman...paman bilang akan kembali…” isaknya. “Paman janji sama aku…”
Dadanya terasa seperti diremas.
Sakit.
Sesak.
Hancur.
Prajurit itu kembali menunduk.
“Kami membawa barang-barang terakhir beliau,” ucapnya lirih.
“Dan pesan untukmu.”
Mereka menyerahkan sebuah kain kecil yang terlipat rapi. Elara menerimanya dengan tangan gemetar.Di dalamnya, terdapat liontin tua milik Alden.
Benda yang selalu Alden pakai ke mana pun pergi.
Begitu melihatnya…Tangis Elara pecah. Memeluk liontin itu ke dadanya.
“Paman…” lirihnya.
Eryn memeluk bahu Elara erat. Tak berkata apa-apa.
Karena tak ada kata yang cukup untuk menghibur kehilangan sebesar itu.
Di luar, hujan turun semakin deras.
Seolah ikut menangisi kepergian satu-satunya keluarga yang Elara miliki.
**
Esoknya, Pemakaman Alden berlangsung sederhana. Tidak ada pesta kehormatan besar, hanya beberapa prajurit, beberapa warga, dan orang-orang yang benar-benar mengenalnya.
Elara berdiri di depan pusara. Memakai gaun hitam sederhana.
Wajahnya pucat. Matanya sembap. Bibirnya kering karena terlalu banyak menangis semalaman.
Di tangannya, ia menggenggam liontin milik Alden.
Benda terakhir yang tersisa dari paman yang membesarkannya.
Ketika tanah terakhir ditaburkan…Elara tak sanggup lagi menahan diri. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Paman…” bisiknya. “Aku sekarang sendiri…”
Eryn berdiri di sampingnya. Tangannya menggenggam bahu Elara pelan Memberi kekuatan tanpa kata.
Tak jauh dari sana, Marquis berdiri bersama ibunya.
Wajahnya tenang seperti biasa, namun sorot matanya berkali-kali melirik ke arah Elara, melihat bagaimana gadis itu berdiri nyaris tanpa sandaran.
Marianne memperhatikan semua itu dengan mata tajam, melihat setiap tatapan putranya.
Bagaimana Putranya diam-diam mengamati gadis itu. Bagaimana sorot matanya berubah setiap kali Elara tampak rapuh. Betapa putranya mengkhawatirkan gadis itu.
Dan itu membuat Marianne dipenuhi amarah.
**
Pemakaman telah usai.
Orang-orang mulai kembali ke kehidupan masing-masing.
Eryn berdiri di samping Elara.
“Maaf… aku harus menemui ayahku. Ada urusan penting,” ucapnya pelan.
Elara mengangguk.
“Tidak apa-apa. Pergi saja.”
Eryn ragu sejenak.
“Kau yakin bisa pulang sendiri?”
“Aku bisa,” jawab Elara sambil tersenyum tipis—senyum yang dipaksakan.
Setelah Eryn pergi, Elara berjalan sendirian.
Langkahnya pelan. Bahu kecilnya terasa berat.
Jalan setapak menuju pondok tampak lebih panjang dari biasanya.
Di belakangnya, tanpa Elara adari, seseorang mengikuti. Marquiz. Dia berjalan menjaga jarak, tidak ingin terlihat.Namun juga tidak ingin membiarkan gadis itu sendirian dalam keadaan seperti itu.
Elara terus berjalan.
Hingga akhirnya...Air matanya jatuh lagi.
Diam-diam.
Satu.
Dua.
Semakin banyak.
“Kenapa… semua jadi begini…” bisiknya.
Paman pergi.
Tempat tinggal terancam.
Gosip tak berhenti.
Dan di tengah semua itu…
Ada satu nama yang terus muncul di pikirannya.
Marquis.
“Andai saja aku tidak pernah dekat dengannya…” lirihnya.
Langkahnya mulai goyah. Pandangan kabur oleh air mata. Elara tidak melihat akar pohon yang melintang di jalan.
Kakinya tersandung.
Tubuhnya oleng.
“A—!”
Hampir jatuh—
Namun tangan kuat menangkap pergelangan tangannya.
Menahannya.
“Elara.”
Suara itu membuatnya membeku.Elara menoleh.
Marquis. Wajahnya tampak khawatir.
“Fokus,” ucapnya. “Kau bisa jatuh, jika terus seperti itu.”
Elara terdiam, beberapa detik, sebelum menepis tangannya dengan kasar.
“Jangan sentuh aku!” bentaknya.
“Elara, aku hanya—”
“Cukup!” potongnya, suaranya bergetar.
Air matanya kembali jatuh.
Elara menatapnya dengan mata merah.
“Aku capek, aku mohon, menjauh dariku Tuan Marquis. Tolong jangan seperti ini.” katanya lirih.
“Apa keberadaanku… benar-benar membuatmu menderita sejauh itu?” tanyanya lirih.
Elara memejamkan mata sejenak. Air matanya jatuh lagi.
“Aku sudah kehilangan paman, nyonya Marianne marah karena gosip itu, aku tidak ingin membuat kekacaun lagi. Aku tidak ingin paman Alden yang sudah tiada, aku coret nama baik nya karena tuan selalu didekatku.” lirih Elara.
Marquis menggenggam tangannya sendiri. Dia tidak tahu jika dirinya seperti itu dimata Elara.
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Elara.”
“Aku tahu,” jawab Elara cepat.
“Tapi justru itu yang membuatku semakin sakit.”
“Hidupku sudah cukup berat tanpa harus menjadi bahan gosip bangsawan.” Lirih Elara, matanya merah.
“Baik,” ucapnya pelan. “Aku akan menjauh.”
Elara terkejut.
“Aku tidak akan datang lagi dihadapanmu,”
“Aku tidak akan mencarimu.”
“Aku tidak akan ikut campur dalam hidupmu.”
“Kalau itu yang membuatmu lebih tenang.” Ucapan
Lalu Marquis berbalik. Melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Elara yang masih berdiri di tempatnya.