Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanfaatkan kedekatannya
“Sedikit,” ulang Mandala, mencoba terdengar ringan. Ia mengusap lagi hidungnya asal, tapi gerakan itu justru membuat Keyla mendecak pelan.
“Jangan dipegang,” katanya refleks. Nada suaranya bukan perintah, tapi kepedulian yang tak ia sembunyikan.
Keyla membuka tasnya lagi. Kali ini ia mengeluarkan tisu baru, bersih. Ia mendekat satu langkah. Terlalu dekat untuk sekadar formalitas.
“Diam,” katanya singkat.
Mandala menurut.
Ia berdiri tegak, membiarkan Keyla menyeka darah di hidungnya dengan hati-hati. Jarinya sedikit gemetar, entah karena marah yang belum reda atau karena jarak mereka yang kini hanya sebatas napas.
“Aku capek sama dia,” ucap Keyla tiba-tiba, suaranya lebih rendah. “Capek dijagain seolah aku barang. Capek ditarik-tarik ke drama yang bukan aku mulai.”
Mandala menelan ludah. “Kamu nggak harus jelasin ke aku.”
“Aku mau,” sahut Keyla cepat, lalu berhenti menyeka. Ia menatap Mandala lurus-lurus. “Karena kamu yang kena.”
Kalimat itu sederhana, tapi jatuhnya berat.
Mandala menahan diri untuk tidak berkata terlalu banyak. Ia tahu, setiap kata yang keluar sekarang bisa jadi satu langkah lagi ke arah yang ia rencanakan atau justru menjauhkan segalanya.
“Aku bisa urus diri sendiri,” lanjut Keyla, lebih tenang. “Dan aku nggak butuh dia buat nentuin siapa yang boleh dekat sama aku.”
Mandala mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Keyla menarik tangannya, melipat tisu yang sudah ternoda darah. Ia tampak ragu sesaat, lalu berkata, “Kamu… kalau kejadian kayak gini lagi, bilang. Jangan sok kuat.”
Mandala tersenyum tipis. “Kamu juga.”
Bel kedua berbunyi. Mahasiswa mulai bergegas masuk kelas. Suasana di lorong kembali normal, seolah insiden barusan hanyalah selipan singkat dalam pagi yang sibuk.
Keyla melirik jam tangannya. “Ayo. Kita sudah telat.”
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Kali ini, langkah Mandala sejajar. Tidak lagi setengah langkah di belakang.
Di belakang mereka, dari kejauhan, Erga masih berdiri. Matanya mengikuti mereka dengan sorot yang berubah bukan sekadar marah, tapi curiga. Seolah baru menyadari ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang tak bisa ia kendalikan lagi.
Mandala tidak menoleh.
Di dalam dadanya, rencana yang semalam terasa dingin dan rapi kini bergetar pelan. Keyla bukan sekadar “kesempatan” lagi. Ia adalah garis yang makin sulit ia lewati tanpa konsekuensi.
Dan entah sejak kapan, Mandala mulai sadar bukan hanya Keyla yang bisa hancur oleh kebenaran. Dirinya juga.
...
Tak berselang lama, langkah Erga terdengar menyusul di lorong yang sama.
Bukan mengejar.
Bukan juga menantang.
Hanya mengikuti arus karena mereka satu angkatan, satu kelas, satu ruang yang tak bisa dihindari.
Mandala menyadarinya dari pantulan kaca jendela kelas. Sosok Erga masuk beberapa langkah di belakang mereka, wajahnya kembali tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan kendali di parkiran.
Tenang yang dibuat-buat.
Di dalam kelas, suasana cepat berubah formal. Kursi-kursi berderit, tas dibuka, laptop dinyalakan. Dunia kembali pada perannya masing-masing.
Keyla duduk di belakang Mandala, seperti biasa.
Jarak satu bangku. Aman. Netral setidaknya di atas kertas.
Erga masuk terakhir, menarik kursi di sebelah Keyla. Gerakannya santai, seolah pagi tadi tak pernah ada dorongan, tak pernah ada darah, tak pernah ada kata “bukan urusanmu” yang menghantam egonya.
Keyla tak menoleh.
Mandala duduk tegak, menatap ke depan. Punggungnya terasa lebih tegang dari biasanya bukan karena Erga di belakangnya, tapi karena kesadaran bahwa posisi ini kini penuh arti.
Belum sempat apa pun terjadi, pintu kelas terbuka.
Dosen masuk.
Langkahnya mantap, wajahnya datar, map tebal di tangan. Tanpa basa-basi, ia langsung berdiri di depan kelas.
“Selamat pagi,” ucapnya singkat.
“Pagi, Pak,” jawab mahasiswa serempak.
“Baik. Kita langsung mulai. Tidak ada diskusi di luar materi hari ini.”
Kalimat itu seperti palu.
Menutup semua kemungkinan.
Memaksa semua emosi kembali dikurung.
Layar proyektor menyala. Slide pertama muncul. Suara dosen mulai mengalir, stabil, tak terpengaruh apa pun yang baru saja terjadi di luar ruangan ini.
Mandala mencatat. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Di belakangnya, ia bisa merasakan keberadaan Keyla diam, fokus, tapi berbeda.
Di samping Keyla, Erga duduk bersandar, satu lengannya di meja, matanya sesekali bergerak… bukan ke layar, melainkan ke Mandala.
Tatapan itu tak lagi penuh amarah terbuka.
Lebih dingin.
Lebih menghitung.
Mandala tidak menoleh. Ia tahu, selama kelas ini berlangsung, tak akan ada konfrontasi. Tak ada kata-kata. Tak ada ledakan.
Justru itulah yang membuatnya waspada.
Karena Mandala tahu betul
orang seperti Erga tidak berhenti saat ruang menjadi sunyi.
Mereka hanya menunggu waktu yang tepat.
Dan di dalam kelas yang tampak normal itu, tiga orang duduk berdekatan, masing-masing menyimpan niat yang tak tercatat di buku catatan mana pun. Kuliah berlangsung.
...
Siang datang perlahan, menyapu kampus dengan panas yang malas dan keramaian yang lebih cair. Kelas usai. Kursi ditinggalkan. Dinding-dinding yang tadi membungkam emosi kini tak lagi punya kuasa.
Keyla berdiri hampir bersamaan dengan Mandala.
“Kamu nggak keluar?” tanya Keyla, suaranya ringan, seolah tak ada sisa pagi yang berdarah itu.
Mandala menggeleng. “Ada jeda sebelum kelas berikutnya.”
“Oh.” Keyla mengangguk. Lalu, setelah ragu sepersekian detik, ia menambahkan, “Aku juga.”
Biasanya, Keyla akan langsung menyusul Erga atau sibuk dengan ponselnya. Tapi kali ini tidak. Ia melangkah lebih dekat, berdiri di sisi Mandala, jarak mereka cukup dekat untuk saling menyadari napas.
“Laper nggak?” tanya Keyla.
Mandala meliriknya. Senyum tipis terbit sengaja ditahan agar terlihat wajar. “Lumayan.”
“Kantin, yuk.”
Ajakan itu sederhana. Tapi bagi Mandala, itu pintu yang terbuka lebar.
Mereka berjalan berdampingan, bahu nyaris bersentuhan. Mandala tidak lagi mengambil posisi di depan atau di belakang. Ia sejajar. Setara. Dan Keyla membiarkannya.
Di kejauhan, Erga keluar kelas beberapa langkah di belakang. Saat melihat mereka berjalan bersama, alisnya langsung mengeras. Langkahnya melambat. Matanya mengunci.
Mandala tahu.
Ia bisa merasakannya tanpa menoleh.
Di kantin, Keyla duduk berhadapan dengan Mandala. Bukan di samping. Bukan berjarak. Tepat di depannya. Tasnya ia letakkan di kursi kosong, seolah sengaja menghilangkan ruang untuk orang lain.
Mandala memesan minum untuk mereka berdua tanpa bertanya. Teh dingin. Seperti biasanya Keyla suka.
Keyla mengangkat alis. “Kamu masih ingat-ingat yang tadi?"
Mandala menggeleng. “Tidak, sudah... Jangan di bahas."
Keyla tersenyum. Senyum kecil, tapi jujur. Dan di situlah Mandala tahu ia sudah masuk lebih jauh dari yang seharusnya.
Mereka berbincang hal-hal ringan. Tugas. Dosen yang menyebalkan. Musik yang sedang sering Keyla dengar. Mandala mendengarkan dengan penuh perhatian, dan kesetiaan.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪