NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi di Qinghe datang dengan suara yang sama sekali tidak heroik.

“YUN MA—!!”

Teriakan itu membuat Yun Ma yang sedang menumbuk obat berhenti mendadak. Ayin menoleh pelan. Ye mengangkat telinga. Shen Yu? Tetap tenang, sama sekali tidak peduli.

Hui melompat turun dari atap dan mendarat di meja.

“Tenang,” katanya santai. “Itu bukan serangan. Itu… Xuan.”

Yun Ma menghela napas pendek.

“Kenapa dia teriak pakai namaku dari luar?”

“Karena dia tidak tahu cara masuk dengan normal,” jawab Hui. “Atau mungkin dia ingin memastikan seluruh Qinghe tahu kalian saling kenal.”

Di luar, suara Xuan terdengar lagi.

“PINTUNYA TERKUNCI.”

“Itu pintu. Fungsinya memang begitu,” gumam Yun Ma.

Ia berjalan ke depan, membuka palang kayu. Begitu pintu terbuka, Xuan berdiri di sana dengan ekspresi… bingung.

Dan membawa seekor ayam.

Ayam hidup.

Masih berontak.

“Kenapa kau membawa ayam?” tanya Yun Ma datar.

Xuan menatap ayam itu, lalu menatap Yun Ma.

“Ini menyerangku.”

Hui langsung tertawa sampai terguling.

“Ayam. Menyerang. Pemimpin Pasar Agung,” katanya sambil menepuk meja. “Qinghe benar-benar luar biasa.”

“Aku hanya lewat,” lanjut Xuan defensif. “Lalu ayam ini mengejarku.”

“Itu ayam betina,” Ayin menyela sambil mengamati. “Dan itu wilayah kandangnya.”

Xuan terdiam.

“…Oh.”

Yun Ma menahan senyum.

“Letakkan di sana,” katanya sambil menunjuk kandang di samping rumah. “Dan jangan menatapnya seperti kau akan negosiasi.”

Xuan meletakkan ayam itu dengan hati-hati, lalu mundur dua langkah seolah takut diserang lagi.

Ye mengibaskan ekor, jelas menertawakan dalam hati.

Qinghe dan Pekerjaan-Pekerjaan Aneh

Xuan berjanji atau lebih tepatnya dipaksa untuk membantu kegiatan harian Qinghe.

Bukan rapat.

Bukan peta.

Melainkan hal-hal seperti:

Mengangkut air

Menyapu halaman balai obat

Menjaga anak-anak saat orang dewasa ke ladang

Masalahnya, Xuan terlalu… serius.

“Kau tidak perlu mengawasi sapu seperti itu,” kata Yun Ma saat melihat Xuan berdiri tegak menyapu halaman.

“Aku memastikan tidak ada area yang terlewat.”

“Itu sapu.”

“Justru karena itu.”

Hui duduk di pagar sambil mengunyah buah kering. “Dia menyapu seperti sedang merencanakan penaklukan wilayah.”

Xuan berhenti menyapu.“Apakah aku melakukannya salah?”

Yun Ma menghela napas, lalu mengambil sapu dari tangannya.

“Lihat,” katanya sambil menyapu asal. “Tidak perlu rapi sempurna. Bersih itu cukup.”

Xuan memperhatikan gerakan itu dengan serius.“…Aku akan mencoba.”

Sepuluh menit kemudian, halaman terlihat lebih bersih.

Dan Xuan berkeringat seperti habis duel.

Ayin menggeleng pelan.

“Dia terlalu tidak cocok dengan kehidupan santai.”

“Dia sedang belajar,” jawab Yun Ma.

Xuan mendengar itu.

Ia menoleh.

“Kau… tidak keberatan aku belajar di sini?”

Yun Ma berhenti sejenak, lalu menjawab ringan,

“Kalau keberatan, ayam tadi sudah aku suruh mengejarmu lagi.”

Xuan tertawa kecil.

Insiden Dapur yang Tidak Perlu Terjadi

Masalah terbesar dimulai ketika Xuan menawarkan diri membantu memasak.

“Aku bisa,” katanya yakin.

Hui langsung menunjuknya.

“Kalimat paling berbahaya hari ini.”

“Aku pernah memasak,” bantah Xuan.

“Di mana?”

“…Di perkemahan militer.”

Yun Ma menatapnya lama.

“Kau sadar ini dapur, bukan medan perang?”

“Aku mengerti perbedaannya.”

Sepuluh menit kemudian, dapur dipenuhi asap.

Bukan karena api besar.

Melainkan karena Xuan menaruh terlalu banyak rempah sekaligus.

Ayin membuka jendela.

Hui terbatuk-batuk.

“Apa kau mencoba mengusir roh jahat?”

Xuan panik.

“Ini seharusnya harum.”

“Harum versi siapa?” tanya Yun Ma sambil mematikan api.

Mereka akhirnya duduk di lantai dapur, membuka pintu lebar-lebar.

Sup yang dibuat Xuan tidak bisa dimakan.

Namun tidak ada yang marah.

Yun Ma malah tertawa kecil.

“Aku sudah lama tidak melihat dapur sekacau ini.”

Xuan menatapnya.

“Kau menertawakanku?”

“Sedikit.”

“…Aku tidak keberatan.”

Hui membelalak.

“WOW. Ini lebih berbahaya dari supnya.”

----

Beberapa hari kemudian, Qinghe mengadakan festival kecil.

Bukan perayaan besar.

Hanya pasar malam, lentera sederhana, dan makanan rumahan.

Yun Ma awalnya tidak berniat ikut.

Xuan berdiri di sampingnya.

“Kau tidak pergi?”

“Aku melihat setiap hari,” jawab Yun Ma.

“Itu berbeda.”

“Bedanya?”

Xuan berpikir sejenak.

“Hari ini kau tidak bekerja.”

Yun Ma terdiam.

Ayin langsung mendorong punggung Yun Ma.

“Pergi. Aku jaga balai obat.”

Hui melompat ke bahu Yun Ma.

“Kalau dia bosan, aku akan membuat kekacauan.”

Ye ikut berjalan, tentu saja.

Mereka menyusuri pasar.

Lampu lentera menggantung rendah. Musik sederhana terdengar. Anak-anak tertawa.

Xuan terlihat… kikuk.

“Kenapa kau berjalan seperti itu?” tanya Yun Ma.

“Seperti apa?”

“Seperti takut menginjak sesuatu.”

“Aku tidak ingin mengganggu.”

Yun Ma menarik lengan bajunya pelan.

“Kau sudah mengganggu sejak membawa ayam.”

Xuan tersenyum.

Mereka berhenti di sebuah lapak mainan kayu.

Penjual tua tersenyum.

“Untuk pasangan?”

Hui langsung bersorak.

“YA.”

“Tidak,” kata Yun Ma cepat.

“Belum,” tambah Xuan tanpa sadar.

Semua orang menoleh padanya.

“…Maksudku....”

Yun Ma menatapnya datar.

Xuan menutup mulut.

Hui jatuh terguling.

Akhirnya, Xuan membeli mainan kecil seekor burung kayu yang bisa bergerak.

Ia menyerahkannya ke Yun Ma.

“Aku… tidak tahu harus memberi apa.”

Yun Ma menerima.

“Terima kasih.”

Itu saja.

Tapi Xuan terlihat puas.

Hal-Hal Kecil yang Bertahan

Malam itu, mereka duduk di tepi sungai lagi.

Tidak membicarakan masa lalu.

Tidak membicarakan masa depan.

Hanya suara air.

“Aku tidak pernah hidup seperti ini,” kata Xuan akhirnya.

“Seperti apa?”

“Tenang. Tidak perlu menjadi siapa-siapa.”

Yun Ma memandang langit.

“Kau bisa memilih.”

“Aku sedang memilih,” jawab Xuan pelan.

Hui menguap.

“Kalau kalian mulai serius, aku tidur.”

Ye berbaring.

Ayin menatap dari kejauhan, tersenyum kecil.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada ciuman dramatis.

Namun sesuatu berubah.

Bukan ledakan.

Melainkan keputusan kecil yang terus diulang.

Dan untuk Yun Ma untuk pertama kalinya merasa romantis tidak terasa menakutkan.

Bersambung.

1
Narimah Ahmad
makasih thor ,👍akhirnya selasai juga
Shai'er
end 🥺🥺🥺
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
Shai'er
karena memang........bahagia itu tak perlu dijelaskan🥰🥰🥰
Shai'er
🤣🤣🤣🥰🥰🥰
Shai'er
suami + ayah siaga🥰🥰🥰
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
ikutan lega 😌🥰🥰🥰🥰
Shai'er
lahir😱😱😱🥰🥰🥰🥰
Shai'er
🥰💪🏻💪🏻💪🏻
Shai'er
jadi rileks sedikit, untung ada Hui 🥰🥰🥰
Shai'er
ikutan dagdigdurser😣😣😣
Shai'er
😱😱😱😱😱
Shai'er
🥺🥺🥺🥺🥺
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰
Shai'er
capek😣😣😣
tapi menikmati 🥰🥰🥰
Diah Susanti
disini 3 hari sama dengan 1 tarikan napas/beberapa detik. terus diatas penjaga ruang dimensi bilang '1hari disana = 10 hari diluar' yang benar yang mana
Biyan Narendra
Terimakasih thor
yeti kurniati1003
menarik
Narimah Ahmad
masa lalu biarlah berlalu , yang penting masa depan hadapi seadanya
Shai'er
sudahlah 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!