Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
suasana di kediaman besar keluarga Ar-Rais tampak begitu hangat dan khidmat. Sore itu, keluarga besar Pak Usman menggelar pengajian rutin bulanan sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran berbagai urusan keluarga belakangan ini.
Tasya, yang kondisinya sudah jauh lebih stabil setelah keluar dari rumah sakit, hadir dengan gamis berwarna krem yang membuatnya tampak anggun namun tetap bersahaja. Ia datang bersama Rima, sepupu Fatih yang juga sahabat dekat Tasya.
Di sudut ruang tengah, Tasya duduk dengan sopan di samping Rima. Di hadapan mereka, ada Ibu Indah, ibu dari Fatih, tengah berbincang hangat dengan beberapa tamu.
"Tante Indah, kenalkan, ini Tasya yang sering Rima ceritakan," ucap Rima sambil menggandeng tangan Tasya. "Dia ini pejuang hebat, Tante. Meskipun kondisinya sempat turun, semangatnya luar biasa. Dia juga rajin sekali mengikuti kegiatan amal."
Ibu Indah menatap Tasya dengan binar mata yang penuh ketertarikan. Wajah Tasya yang lembut dan tutur katanya yang santun seketika mencuri perhatian wanita paruh baya itu.
"Oh, ini Nak Tasya? Masya Allah, wajahnya sangat teduh ya," puji Ibu Indah sambil membelai punggung tangan Tasya. "Fatih sempat cerita sedikit soal pasiennya yang sangat kooperatif, ternyata orangnya secantik ini."
Tasya menunduk malu, rona merah muncul di pipinya yang masih sedikit pucat. "Terima kasih, Tante. Dokter Fatih adalah dokter yang sangat hebat. Tanpa bantuannya, mungkin saya belum bisa duduk di sini sekarang."
Rima menyenggol lengan Tasya sambil berbisik namun cukup terdengar oleh Ibu Indah. "Bukan cuma hebat, Tasya. Fatih itu tipe pria yang sangat menjaga tanggung jawab. Cocok sekali kan, Tante, kalau punya pendamping yang juga lembut seperti Tasya?"
Ibu Indah tersenyum penuh arti. Sebagai seorang ibu yang mendambakan menantu, kriteria Tasya seolah memenuhi semua kolom di daftar keinginannya. Pak Usman yang duduk tidak jauh dari sana pun sesekali mengangguk, terkesan dengan ketenangan Tasya.
Gavin masuk ke ruangan dengan wajah ceria. Ia baru saja pulang dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
"Assalamu’alaikum semuanya! Wah, ramai sekali," seru Gavin sambil menyalami kakek dan neneknya.
"Sini, Gavin. Duduk dulu. Kamu sudah dengar kan kalau sekolahmu bakal dapat program baru dari Yayasan?" tanya Pak Usman.
Gavin duduk di karpet dekat kaki kakeknya. "Iya, Kek! Semua murid di sekolah lagi heboh. Tapi yang paling senang itu guru favorit Gavin. Tadi dia senyumnya lebar banget, kayak beban berat di pundaknya baru saja diangkat."
Ibu Indah yang sedang asyik memperhatikan Tasya, kini beralih menatap cucunya. "Guru favorit? Guru yang mana, Gavin? Sampai-sampai cucu Nenek ini semangat sekali ceritanya."
Gavin mengangguk antusias. "Dia itu guru paling keren, Nek! Tegas banget, sampai-sampai dijuluki Ice Queen sama anak-anak karena auranya yang dingin tapi sebenarnya hatinya baik luar biasa. Dia yang kemarin pasang badan paling depan buat bela korban perundungan, bahkan sampai berani lawan orang tua murid yang kaya raya."
Tasya yang sedang menyesap tehnya, terdiam sejenak. Deskripsi Ice Queen itu terasa sangat familiar di telinganya.
"Namanya siapa, Gavin?" tanya Rima penasaran.
Gavin hampir saja menyebutkan nama, namun ia teringat janjinya pada Dafa untuk tidak terlalu mengumbar urusan pribadi Bu Raisa di depan banyak orang luar. "Aduh, rahasia dulu deh namanya, Nek. Pokoknya dia itu cantik, pintar, dan berprinsip. Om Fatih juga sudah pernah ketemu kok di sekolah, tanya saja sama Om Fatih nanti gimana kerennya guru itu."
Tasya meletakkan cangkir tehnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Hatinya mencelos.
"Dokter Fatih sudah pernah bertemu guru itu?" tanya Tasya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba memastikan kecurigaannya.
"Sudah, Kak Tasya! Malah Om Fatih kemarin kayak jadi bodyguard pribadinya pas ada yang mau menyerang di sekolah," jawab Gavin polos tanpa menyadari ketegangan yang mulai merayap di wajah Tasya.
Ibu Indah tertawa kecil. "Wah, jarang-jarang Fatih mau jadi pelindung orang lain selain pasiennya. Guru itu pasti sangat spesial."
Tasya hanya bisa tersenyum getirpenuturan itu menimbulkan rasa sesak yang mulai menghimpit dadanya.
Sementara itu, dari kejauhan, Fatih yang baru saja pulang dan berdiri di ambang pintu, mendengar sayup-sayup pembicaraan tentang guru favorit tersebut. Ia tetap diam dengan wajah datarnya, namun matanya menatap tajam ke arah Gavin, seolah memberi peringatan agar tidak bicara lebih jauh.
......................
Setelah acara pengajian selesai dan para tamu mulai berpamitan, suasana rumah besar itu perlahan kembali tenang. Tasya, yang merasa sangat berterima kasih atas keramahan keluarga Pak Usman, tidak ingin hanya duduk diam. Meski tubuhnya belum sepenuhnya bugar, ia mencoba membantu asisten rumah tangga membereskan piring-piring kecil dan gelas di ruang tengah.
Tasya membungkuk untuk mengambil nampan kayu yang cukup besar. Namun, saat ia mencoba mengangkatnya, tangannya sedikit gemetar. Efek pengobatan sarafnya terkadang masih menyisakan sedikit kelemahan pada motorik halus dan keseimbangannya. Nampan itu miring, dan gelas-gelas di atasnya mulai beradu menimbulkan bunyi denting yang nyaring.
Tepat sebelum nampan itu tergelincir, sebuah tangan yang kokoh dan stabil menahan ujung nampan tersebut.
Fatih, yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, sudah berdiri di sampingnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengambil alih beban nampan itu dari tangan Tasya. ia memastikan tidak ada gelas yang jatuh.
Tasya mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Fatih yang datar namun tajam. "Dokter... maaf, saya hanya ingin membantu," bisik Tasya dengan perasaan tidak enak.
Fatih tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat dagu agar Tasya melepaskan pegangannya, lalu ia membawa nampan itu menuju dapur dengan langkah tenang.
Rima, yang kebetulan lewat sambil membawa tumpukan taplak meja, langsung menghentikan langkahnya. Matanya membelalak melihat pemandangan langka itu. Ia segera menghampiri mereka dengan senyum jahil yang mengembang sempurna.
"Wah, wah... pemandangan apa ini?" goda Rima sambil melirik Fatih. "Sejak kapan Pangeran Es kita mau turun tangan beresin gelas? Biasanya kalau ada piring kotor di depan mata pun, kamu cuma lewat begitu saja seperti tidak melihat apa-apa, tih."
Fatih meletakkan nampan di meja pantri dapur dengan hati-hati. Ia berbalik dan menatap Rima dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Tasya sedang dalam masa pemulihan. Mengangkat beban berat bisa memicu ketegangan otot sarafnya kembali," jawab Fatih dengan nada klinis yang dingin.
"Alasan medis terus," sahut Rima sambil terkekeh. "Tapi jujur saja, aku belum pernah lihat kamu membantu perempuan selain pasien di rumah sakit, apalagi sampai sigap begitu. Sepertinya ada yang mulai cair nih esnya."
Tasya yang berdiri di belakang mereka merasa pipinya memanas. Ada harapan kecil yang menyeruak di hatinya, namun ia juga tahu betapa kaku dan logisnya pria di hadapannya ini.
Fatih mencuci tangannya di wastafel, lalu mengeringkannya dengan tisu. Ia menoleh sekilas ke arah Tasya yang tampak salah tingkah. Setelah itu, Fatih menatap Rima dengan wajah tanpa ekspresi. Kemudian melangkah pergi meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi.
" Dia memang begitu, gengsinya setinggi langit. Tapi lihat kan? Dia tahu persis kapan kamu butuh bantuan bahkan sebelum kamu minta. Itu namanya perhatian yang tersembunyi."
Tasya hanya tersenyum tipis, meski dalam hatinya ia teringat pada cerita Gavin tentang guru Ice Queen tadi. Ia bertanya-tanya, apakah bantuan kecil yang diberikan Fatih kepadanya sama nilainya dengan bantuan yang Fatih berikan untuk melindungi guru itu di sekolah?