Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuai Ramalan
"Mengapa Yang Mulia Raja Yinluo bersama dengan Permaisuri tidak pergi? Apakah benar-benar merasakan putus asa hingga menunggu ku tiba," balas Jendral Besar Tang Weiran.
"Tidak! Hanya menunggu bagaimana awal mula kehancuran Xia dimulai dari kau, Jendral," balas Raja Yinluo yang seketika dibalas tawa.
"Kerajaan Yinluo diujung tanduk bahkan aku telah mengalahkan para gubernur penjaga Yinluo dengan tombak ku menyisakan kalian berdua. Kemenangan Xia berada di tanganku,"ucap Jendral Besar Tang Weiran.
Permaisuri Shen beranjak berdiri dari singgasana nya berjalan kemudian berhenti di depan anak tangga menatap lurus ke arah Jendral Besar Tang Weiran.
"Garis darah Dewa Xuanwu memang begitu hebat namun ambisi mu lah yang akan membuat semua nya hancur wahai Jendral Tang. Aku yang mengubah takdir itu mengaburkan pandangan pengawas langit Xia sebagai balasan atas hukuman ku untukmu,"ucapnya yang seketika ledakan energi besar menguar dari dalam tubuh Permaisuri Shen meluap-luap.
Jendral Besar Tang Weiran yang merasakan ancaman datang dari energi yang dilepaskan oleh Permaisuri Shen mengerahkan energi qi miliknya mengaktifkan garis darah keturunan dewa Xuanwu mengumpulkannya pada tombak kesayangannya berniat menyerang dalam satu kali tembak.
Slashhh!!!!!
Tombak dilemparkannya ke arah Permaisuri Shen dengan kecepatan tinggi menabrak dinding tipis tepat di depannya membuat ujung tombak bergetar berusaha menembus dinding penghalang itu. Pupil mata Permaisuri Shen memiliki pola lingkaran bersusun tiga mengejutkan Jendral Besar Tang Weiran.
"Klan Shen!"pekik nya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Raja Yinluo beranjak berdiri kemudian memeluk Permaisuri Shen melingkarkan tangan di perut wanita cantik itu.
Takkk!!
Waktu berhenti sejenak, Permaisuri Shen menoleh ke arah Wei Liancheng mengucapkan kalimat dengan begitu jelas.
"Kau memiliki waktu 10 detik untuk mengambil mata ku dan serahkan kepada orang yang ada di samping Qingyin itu setelah tombak ini menembus tubuhku,"ucap Permaisuri Shen sebelum menutup kedua matanya yang membuat waktu kembali berjalan dan tombak menembus perutnya hingga punggung Raja Yinluo.
Jendral Besar Tang Weiran berlari hendak mencabut tombaknya secepat mungkin seketika terhenti tatkala Permaisuri Shen membuka kembali kedua matanya seketika susunan pupil matanya bercahaya berkilauan.
Tappp!!!
Pandangan Wei Liancheng kembali kabur kemudian kesadarannya kembali pada kenyataan. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya menatap Raja Yinluo dan Permaisuri Shen dengan tatapan rumit.
"Pergilah ambilkan kota yang ada di atas meja rias ku,"ucap Permaisuri Shen.
"Mengerti Yang Mulia,"balas Wei Liancheng segera melaksanakan tugasnya.
Sementara di halaman istana terdapat seseorang lelaki tua membawa tongkat kayu menghadap ke aula menundukkan kepalanya memberikan salam sebelum pandangannya berbalik ke arah gerbang istana yang terbuka lebar. Ia menghentakkan tongkat kayu miliknya membuat formasi dengan memecahkan jiwa nya menjadi tujuh bagian yang mengisi titik-titik formasi membentang menutupi seluruh ibukota Jiuyin Tai.
"Yin Guixuan melaksanakan perintah terakhir,"ucapnya kemudian menyatu dengan tongkat kayu miliknya yang kemudian akar kayu menjalar memenuhi halaman istana dan sebuah pohon tumbuh menjulang tinggi begitu rimbun.
Slashhh!!!
Boommm!!!
Sebuah tombak melesat lurus dari gerbang istana menghantam dinding tak kasat mata disusul dengan deru suara langkah kaki kuda yang mendai kedatangan Jendral Besar Tang Weiran dengan bermandikan darah disekujur tubuhnya melecutkan tali kudanya menatap dingin tombak miliknya yang berputar menekan dinding tak kasat mata mencoba menerobosnya.
Ia melompat di udara meledakkan auranya mengeluarkna wujud avatar miliknya mengambil kembali tombak sakti miliknya diangkatnya tinggi ke udara sebelum dihantamkannya ke tanah membelah dinding tersebut menjadi dua hingga angin berhembus menghancurkan plakat papan nama aula melesat masuk ke dalam aula.
Tapp!!
Jendral Besar Tang Weiran menginjakkan kakinya di halaman istana tanpa disadarinya bahwa awal kehancuran yang diakibatkan oleh perasaan emosional nya. Langkah kakinya menaiki anak tangga aula dengan aura membunuh dan kewibawaan seorang Jendral yang selama hidupnya bertempur di medan perang. Ketika memasuki aula, hembusan angin membawa aroma anyir darah yang begitu khas.
"Mengapa Yang Mulia Raja Yinluo bersama dengan Permaisuri tidak pergi? Apakah benar-benar merasakan putus asa hingga menunggu ku tiba," balas Jendral Besar Tang Weiran.
"Tidak! Hanya menunggu bagaimana awal mula kehancuran Xia dimulai dari kau, Jendral," balas Raja Yinluo yang seketika dibalas tawa.
"Kerajaan Yinluo diujung tanduk bahkan aku telah mengalahkan para gubernur penjaga Yinluo dengan tombak ku menyisakan kalian berdua. Kemenangan Xia berada di tanganku,"ucap Jendral Besar Tang Weiran.
Permaisuri Shen beranjak berdiri dari singgasana nya berjalan kemudian berhenti di depan anak tangga menatap lurus ke arah Jendral Besar Tang Weiran.
"Garis darah Dewa Xuanwu memang begitu hebat namun ambisi mu lah yang akan membuat semua nya hancur wahai Jendral Tang. Aku yang mengubah takdir itu mengaburkan pandangan pengawas langit Xia sebagai balasan atas hukuman ku untukmu,"ucapnya yang seketika ledakan energi besar menguar dari dalam tubuh Permaisuri Shen meluap-luap.
Jendral Besar Tang Weiran yang merasakan ancaman datang dari energi yang dilepaskan oleh Permaisuri Shen mengerahkan energi qi miliknya mengaktifkan garis darah keturunan dewa Xuanwu mengumpulkannya pada tombak kesayangannya berniat menyerang dalam satu kali tembak.
Slashhh!!!!!
Tombak dilemparkannya ke arah Permaisuri Shen dengan kecepatan tinggi menabrak dinding tipis tepat di depannya membuat ujung tombak bergetar berusaha menembus dinding penghalang itu. Pupil mata Permaisuri Shen memiliki pola lingkaran bersusun tiga mengejutkan Jendral Besar Tang Weiran.
"Klan Shen!"pekik nya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Raja Yinluo beranjak berdiri kemudian memeluk Permaisuri Shen melingkarkan tangan di perut wanita cantik itu. Jendral Besar Tang Weiran berlari hendak menghentikan tombaknya terlambat tatkala ujung tombak telah menembus perut Permaisuri Shen hingga Raja Yinluo membuat tubuh mereka ambruk.
Takk!!
Permaisuri Shen menghentikan waktu tepat disaat kemunculan Wei Liancheng dengan kotak giok berada di tangannnya memandang Permaisuri Shen sedih tanpa ragu mengambil kedua bola matanya memasukkannya ke dalam kotak giok kemudian pergi menghilang.
Takk!!
Waktu kembali berjalan setelahnya. Raja Yinluo tewas terlebih dahulu sedangkan Permaisuri Shen menghadapi pandangan Jendral Besar Tang Weiran yang memandang dirinya dengan tatapan rumit.
"Takdirmu berada dalam genggaman ku,"ucapnya tersenyum senang menghembuskan nafas terakhirnya.
Jendral Besar Tang Weiran dengan dingin mencabut tombak miliknya berbalik badan berjalan dengan tenang ke luar dari aula. Di halaman istana, Tang Zhanyue dan Tang Zhilan telah menunggu ayahandanya.
"Taklukkan Beiyue!"perintahnya kepada putra dan putri nya.
Jendral Besar Tang Weiran membagi pasukannya menduduki istana kerajaan dan tempat vital lainnya di wilayah Yinluo. Ia bersama dengan Tang Zhanyue dan Tang Zhilan dan ratusan ribu pasukan lainnya menuju ke Beiyue.
"Ayahanda, apa yang terjadi sebenarnya? tanya Tang Zhilan.
"Bunuh seluruh keturunan keluarga kerajaan Yinluo tanpa sisa," jawab Jendra Besar Tang Weiran dengan amarahnya yang menggebu-gebu.
Tang Zhanyue dan Tang Zhilan begitupula Tang Shuyun merasakan amarah ayahandanya begitu menggebu-gebu seakan amarah yang tak lagi bisa dibendung meledak begitu saja.