Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I. Panggilan dari Masa Lalu
Hari itu, Aruna lagi rebahan di kasur. Aruna nggak ke sekolah. Ia bilang sakit ke Arya. Dan sebenernya ia emang sakit. Bukan sakit fisik. Tapi sakit yang nggak keliatan.
Ponselnya tergeletak di samping bantal. Aruna melihat ponsel itu dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba, notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Aruna mengambil ponselnya lalu membuka layar dari ponselnya itu.
Pesan dari nomor nggak dikenal, Aruna mengernyit dan membuka pesannya.
Dan saat Aruna membuka pesan itu, jantungnya terasa berhenti.
Sebuah foto dirinya waktu SMP. Kelas dua. Di sudut kelas yang gelap.
Wajahnya penuh lebam. Pipi bengkak. Mata merah habis nangis. Seragam robek dikit di lengan.
Aruna inget foto itu, sangat banget. Itu waktu dia di-bully habis-habisan. Waktu mereka mukul dia. Waktu mereka menyiksa Aruna.
Dan salah satu dari mereka mengambil foto. Buat meledeki Aruna.
*Kenapa foto ini masih ada?*
Tangan Aruna gemetar pegang ponsel. Terus pesan berikutnya masuk.
*"Inget nggak waktu itu? Kamu masih sama aja. Lemah. Pecundang. Nggak akan pernah berubah."*
Deg.
Aruna nggak bisa napas. Dadanya sesak. Napasnya pendek-pendek.
*Siapa yang mengirim ini?*
Dia coba bales. Ketik dengan tangan gemetar.
Aruna: Siapa kamu? Kenapa kamu mengirim ini?
Tapi nggak ada balasan, Aruna menunggu. Hingga akhirnya ada pesan masuk lagi, tapi dari nomor yang berbeda.
"Kamu pikir kamu bisa kabur? Kamu pikir dengan pindah sekolah semuanya bakal beres?"
Aruna melempar ponselnya ke kasur.
Ting.
Ting.
Ting.
Notifikasi terus masuk. Satu per satu. Kayak lonceng kematian. Aruna mengambil ponselnya lagi dengan tangan yang gemetar
"Kamu tetep aja sampah yang sama."
Nomor lain.
"Mending mati aja daripada hidup jadi beban."
Nomor lain lagi.
"Nggak ada yang peduli sama kamu. Nggak ada yang sayang sama kamu. Kamu cuma... sampah."
Aruna nggak kuat, ia memblokir nomor-nomor itu. Satu per satu. Tangan gemetar. Napas ngos-ngosan.
Tapi pesan tetep masuk. Dari nomor baru. Terus menerus.
"Kamu pikir meblokir bakal ngebantu? Kami selalu tau di mana kamu."
"Kami selalu ngeliat kamu."
Aruna teriak.
Teriak keras.
Lempar hapenya ke dinding.
PRANG!
Ponselnya jatuh ke lantai, layarnya retak sedikit. Tapi masih bunyi.
Ting.
Ting.
Ting.
Aruna menutup telinga dengan kedua tangan. Erat. Sambil nangis.
"BERHENTI! KUMOHON! BERHENTI!" teriaknya keras.
Tapi nggak ada yang dengerin, cuma suara notifikasi yang terus berbunyi.
Aruna jatuh ke lantai, ia duduk di pojok kamar. Peluk lutut. Tubuhnya gemetar hebat. Napasnya tersentak dan nggak teratur. Matanya kosong. Tapi penuh air mata.
*Kenapa mereka nggak bisa ninggalin aku?
*Aku udah mencoba mulai lagi*
*Aku udah memcoba jadi lebih baik.
*Tapi mereka tetep nggak mau lepas.*
*Kenapa dunia begitu kejam sama aku?*
Ponselnya bunyi lagi, Aruna melihat ponsel itu dari kejauhan. Nggak berani ambil. Tapi penasaran, hingga akhirnya ia merangkak pelan. Ambil ponselnya.
Layarnya retak tapi masih menyala, pesan baru masuk kembali dan Aruna membukanya.
"Dunia akan lebih baik tanpa kamu."
Aruna menatap pesan itu lama, matanya nggak berkedip. Dan sebagian darinya mulai percaya.
*Mungkin mereka benar.*
*Mungkin dunia emang lebih baik tanpa aku.*
*Mungkin aku emang nggak seharusnya ada.*
Aruna menjatuhkan ponselnya lagi, ia terus menangis.
Di luar kamar, Arya mendenger teriakan Aruna, dan ia mendenger suara barang yang di banting. Arya lari ke kamar Aruna, dan mengetuk pintu dengab keras.
"RUN! RUN! BUKA PINTUNYA!"
Tapi nggak ada jawaban, cuma suara tangisan yang pelan.
Arya ngetuk lagi. Keras. "RUN! KAKAK MASUK YA!"
Arya membuka pintu dengan paksa. Untung pintunya nggak dikunci. Arya langsung masuk. Dan ia melibat Aruna yang tengah duduk di pojok kamar. Dengan tubuh yang gemetar. Ponselnya tergeletak di lantai dengan layar yang retak.
"RUN!" Arya langsung lari. Peluk adiknya erat.
Aruna cuma menangis di pelukan kakaknya. Nggak ngomong apa-apa. Arya mengambil ponsel Aruna dan melihat pesan-pesan itu.
Matanya melebar. Marah. Sangat marah.
"Siapa yang mengirim ini?" gumamnya dengan rahang mengeras.
Tapi Arya tau, sekarang bukan waktunya untuk marah. Arya langsung peluk Aruna lebih erat.
"Udah nggak apa-apa, kakak di sini. Kakak di sini, Run," bisik Arya sambil mengelus kepala adiknya.
Tapi Aruna tetep menangis, menangis sampai ketiduran di pelukan kakaknya.
Ponsel Aruna kembali berbunyi lagi, dan Arya langsung melihatnya. Dan ternyata, Kayla yang menghubungi Aruna.
Arya angkat, menjawab panggilan dari Kayla.
"Halo?"
^^^"Kak Arya? Aruna oke? Gue nelpon dia dari tadi, tapi nggak diangkat," suara Kayla khawatir.^^^
Arya melihat Aruna yang lagi tidur di pelukannya. Wajah terlihat pucat dengan mata yang sembab.
"Dia lagi nggak baik, Kay. Ada yang menyiksa dia lewat pesan."
^^^"APA?!" Kayla nyaris teriak. "Siapa? Kapan, Kak?"^^^
"Gue nggak tau. Tapi pesannya kejam banget. Tentang masa lalunya. Tentang bully waktu Aruna SMP."
Kayla diam sebentar. Terus suaranya bergetar.
^^^"Oke. Gue kesana sekarang."^^^
"Nggak usah, Kay. Dia lagi tidur. Biar dia istirahat dulu. Besok aja."
Kayla nggak mau, tapi akhirnya setuju.
^^^"Oke. Tapi tolong jaga dia, Kak. Gue takut dia kenapa-kenapa."^^^
"Gue janji, Kay. Gue nggak akan ninggalin dia."
Telepon ditutup.
Arya menatap adiknya yang tidur dengan wajah nggak tenang. Bahkan dalam tidur pun, dia keliatan tersiksa.
Arya mengelap air matanya sendiri yang mulai jatuh.
"Maafkan kakak, Run. Maafkan kakak karena kakak nggak bisa melindungi kamu."
Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali mencengkram.
Lebih keras.
Lebih menyakitkan.
Dan kali ini, Aruna nggak tau, apakah dia masih bisa bertahan? Atau dia akan menyerah selamanya.
...——…★…——...
...Masa lalu itu memang menyakitkan, dan kamu pikir kamu udah sembuh dari luka di masa lalu itu. Kamu pikir kamu udah kabur cukup jauh. Tapi suatu hari dia akan kembali dengan wajah yang lebih menakutkan. Dengan cengkeraman yang lebih kuat, dan kali ini dia nggak akan lepas. Sampai kamu benar-benar hancur....
...——…★Mentari Senja★…——...
So, be happy on your days 🤝😇