NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan dari Masa Lalu

Hari itu, Aruna lagi rebahan di kasur.

Nggak ke sekolah. Dia bilang sakit ke Arya. Dan... sebenernya dia emang sakit. Bukan sakit fisik. Tapi... sakit yang nggak keliatan.

Hapenya tergeletak di samping bantal. Layar mati.

Aruna ngeliat hape itu dengan tatapan... kosong.

Tiba-tiba...

Ting.

Notifikasi masuk.

Aruna... ngambil hapenya. Pelan. Buka layar.

Pesan dari nomor nggak dikenal.

Dia mengernyit. Buka pesannya.

Dan...

Jantungnya... berhenti.

Foto.

Foto dirinya waktu SMP. Kelas dua. Di sudut kelas yang gelap.

Wajahnya... penuh lebam. Pipi bengkak. Mata merah habis nangis. Seragam robek dikit di lengan.

Aruna... inget foto itu.

Inget banget.

Itu... itu waktu dia di-bully habis-habisan. Waktu mereka mukul dia. Waktu mereka... nyiksa dia.

Dan salah satu dari mereka... ngambil foto. Buat... buat ledeki dia.

*Kenapa... kenapa foto ini... masih ada...*

Tangan Aruna gemetar pegang hape.

Terus... pesan berikutnya masuk.

*"Inget nggak waktu itu? Kamu masih sama aja. Lemah. Pecundang. Nggak akan pernah berubah."*

Deg.

Aruna... nggak bisa napas.

Dadanya sesak. Napasnya pendek-pendek.

*Siapa... siapa yang ngirim ini...*

Dia coba bales. Ketik dengan tangan gemetar.

Aruna: Siapa kamu? Kenapa kamu ngirim ini?

Tapi... nggak ada balasan.

Aruna nunggu. Lima menit. Sepuluh menit.

Terus...

Ting.

Pesan lagi.

Tapi... dari nomor berbeda.

Aruna buka.

"Kamu pikir kamu bisa kabur? Kamu pikir dengan pindah sekolah semuanya bakal beres?"

Aruna... melempar hapenya ke kasur. Cepat. Kayak hape itu... kayak benda panas yang ngebakar tangannya.

Tapi...

Ting.

Ting.

Ting.

Notifikasi terus masuk. Satu per satu. Kayak... kayak lonceng kematian.

Aruna... ngambil hapenya lagi dengan tangan gemetar parah.

Buka.

Nomor beda lagi.

"Kamu tetep aja sampah yang sama."*

Nomor lain.

*l"Mending mati aja daripada hidup jadi beban."

Nomor lain lagi.

"Nggak ada yang peduli sama kamu. Nggak ada yang sayang sama kamu. Kamu cuma... sampah."

Aruna... nggak kuat.

Dia blokir nomor-nomor itu. Satu per satu. Tangan gemetar. Napas ngos-ngosan.

Tapi...

Pesan tetep masuk. Dari nomor baru. Terus menerus.

"Kamu pikir blokir bakal ngebantu? Kami selalu tau di mana kamu."

"Kami selalu... ngeliat kamu."

Aruna... teriak.

Teriak keras.

Lempar hapenya ke dinding.

PRANG!

Hape jatuh ke lantai. Layarnya retak dikit.

Tapi... masih bunyi.

Ting.

Ting.

Ting.

Aruna... menutup telinga dengan kedua tangan. Erat. Sambil nangis.

"BERHENTI! KUMOHON! BERHENTI!" teriaknya keras.

Tapi... nggak ada yang dengerin.

Cuma... suara notifikasi yang terus berbunyi.

Terus... terus... nggak berhenti.

---

Aruna... jatuh ke lantai.

Duduk di pojok kamar. Peluk lutut. Tubuhnya gemetar hebat.

Napasnya... pendek-pendek. Nggak teratur.

Matanya... kosong. Tapi penuh air mata.

*Kenapa... kenapa mereka nggak bisa ninggalin aku...*

*Kenapa...*

*Aku udah coba... aku udah coba mulai lagi...*

*Aku udah coba... jadi lebih baik...*

*Tapi mereka... mereka tetep nggak mau lepas...*

*Kenapa...*

*Kenapa dunia... begitu kejam sama aku...*

*Apa yang aku lakukan...*

*Apa salah aku...*

Hapenya bunyi lagi.

Aruna... ngeliat hape itu dari kejauhan. Nggak berani ambil.

Tapi... penasaran.

Akhirnya... dia merangkak pelan. Ambil hapenya.

Layar retak tapi masih nyala.

Pesan baru.

Aruna... buka.

"Dunia akan lebih baik tanpa kamu."

Aruna... menatap pesan itu.

Lama.

Sangat lama.

Matanya... nggak kedip.

Dan... sebagian darinya...

Mulai percaya.

*Mungkin... mungkin mereka benar...*

*Mungkin... dunia emang lebih baik... tanpa aku...*

*Mungkin... aku emang... nggak seharusnya ada...*

Aruna... menjatuhkan hapenya lagi.

Terus... nangis.

Nangis keras.

Keras banget.

Sampai suaranya serak.

Sampai... nggak ada air mata lagi.

---

Di luar kamar.

Arya denger teriakan Aruna tadi. Denger suara banting.

Dia lari ke kamar Aruna. Ngetuk pintu keras.

"RUN! RUN! BUKA PINTUNYA!"

Tapi... nggak ada jawaban.

Cuma... suara tangisan yang pelan.

Arya ngetuk lagi. Keras. "RUN! KAKAK MASUK YA!"

Arya buka pintu paksa. Untung nggak dikunci.

Dia masuk.

Dan...

Ngeliat Aruna duduk di pojok kamar. Tubuh gemetar. Nangis.

Hape tergeletak di lantai dengan layar retak.

"RUN!" Arya langsung lari. Peluk adiknya erat.

Aruna... cuma nangis di pelukan kakaknya. Nggak ngomong apa-apa. Cuma... nangis.

Arya... ngambil hape Aruna. Liat pesan-pesan itu.

Matanya... melebar. Marah. Sangat marah.

"Siapa... siapa yang ngirim ini..." gumamnya dengan rahang mengeras.

Tapi... dia tau sekarang bukan waktu buat marah.

Dia peluk Aruna lebih erat.

"Udah... udah nggak apa-apa... kakak di sini... kakak di sini, Run..." bisik Arya sambil mengelus kepala adiknya.

Tapi Aruna... tetep nangis.

Nangis sampai... ketiduran di pelukan kakaknya.

Kelelahan.

Kelelahan nangis.

Kelelahan... hidup.

---

Sementara itu.

Hape Aruna bunyi lagi.

Arya liat.

Kayla nelpon.

Arya angkat. "Halo?"

"Kak Arya? Aruna oke? Gue nelpon dia dari tadi nggak diangkat..." suara Kayla khawatir.

Arya... ngeliat Aruna yang lagi tidur di pelukannya. Wajah pucat. Mata bengkak.

"Dia... dia lagi nggak baik, Kay. Ada yang... ada yang nyiksa dia lewat pesan."

"APA?!" Kayla nyaris teriak. "Siapa? Kapan?"

"Gue nggak tau. Tapi... pesannya kejam banget. Tentang masa lalunya. Tentang... tentang bully waktu SMP."

Kayla... diam sebentar. Terus... suaranya bergetar. "Gue... gue ke sana sekarang."

"Nggak usah, Kay. Dia lagi tidur. Biar dia istirahat dulu. Besok aja."

Kayla... nggak mau tapi akhirnya setuju. "Oke. Tapi tolong... tolong jaga dia, Kak. Gue... gue takut dia kenapa-kenapa..."

"Gue janji, Kay. Gue nggak akan ninggalin dia."

Telepon ditutup.

Arya... menatap adiknya yang tidur dengan wajah... nggak tenang. Bahkan dalam tidur pun... dia keliatan... tersiksa.

Arya... ngelap air matanya sendiri yang mulai jatuh.

"Maafkan kakak, Run... maafkan kakak... karena kakak nggak bisa lindungi kamu..."

---

Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali mencengkram.

Lebih keras.

Lebih menyakitkan.

Dan kali ini...

Aruna... nggak tau...

Apakah dia masih bisa bertahan.

Atau... dia akan menyerah.

Selamanya.

---

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!