Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Berubah
Perubahan itu tidak terjadi seperti ledakan bom yang menggetarkan pangkalan, melainkan seperti embun beku yang perlahan-lahan menyelimuti kaca jendela, buram dan dingin. Setelah insiden pengiriman bunga ke kantor penerbit yang sempat dianggap Alisa sebagai bumbu manis kecemburuan, sikap Satria justru berputar seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi pesan singkat di pagi hari yang menanyakan apakah Alisa sudah sarapan, tidak ada lagi telepon di jam sembilan malam yang biasanya diisi dengan diskusi plot novel atau sekadar suara tawa Satria yang menenangkan. Jakarta yang biasanya terasa hangat karena kehadiran pria itu, mendadak kembali menjadi kota beton yang asing dan angkuh bagi Alisa. Satria seolah menarik diri ke dalam cangkang militernya yang paling keras, sebuah wilayah yang tidak bisa ditembus oleh metafora atau rayuan paling puitis sekalipun yang Alisa miliki.
Sore itu, Alisa sengaja menunggu Satria di depan lobi kantor Markas Besar. Ia berdiri dengan gelisah, sesekali merapikan tasnya dan menatap gerbang tempat mobil-mobil dinas keluar masuk. Ketika sosok Satria akhirnya muncul, ia tidak berjalan dengan langkah ringan seperti biasanya. Wajahnya datar, matanya tertuju lurus ke depan seolah-olah ia sedang membawa beban rahasia negara yang sangat berat. Saat Alisa melambai dan menghampirinya, Satria hanya mengangguk pelan, sebuah sapaan yang terasa lebih mirip antara atasan dan bawahan daripada sepasang kekasih. "Kak Satria, kok nggak balas pesanku dari pagi? Aku pikir Kakak lagi ada tugas luar kota," tanya Alisa mencoba mencairkan suasana. Satria hanya menoleh sekilas, tangannya sibuk mencari kunci mobil di dalam saku celananya. "Banyak pekerjaan di ruang transmisi, Alisa. Sinyal di sektor utara lagi bermasalah," jawabnya singkat, tanpa nada, tanpa rasa.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, namun keheningan di dalamnya terasa sangat menyesakkan. Alisa mencoba membuka pembicaraan tentang kesibukannya dengan Sanca dan tim kreatif yang baru saja menyelesaikan draf akhir, berharap Satria akan memberikan komentar atau setidaknya sedikit sindiran cemburu seperti kemarin yang bisa ia tangkis dengan candaan. Namun, Satria hanya diam, fokusnya sepenuhnya pada jalanan di depan. Bahkan ketika Alisa menceritakan tentang Sanca yang memuji gaya kepemimpinan Mayor Cakra, Satria tetap tidak bereaksi. "Kak, kamu dengar nggak sih aku ngomong apa? Kok dari tadi diam saja? Aku ada salah ya?" tanya Alisa akhirnya, suaranya mulai terdengar sedikit bergetar karena rasa bingung yang mulai menumpuk menjadi rasa takut. Satria hanya menghela napas panjang, tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku cuma capek, Alisa. Tolong, jangan paksa aku bicara sekarang," sahut Satria dingin, tanpa menoleh sedikit pun.
Sepanjang perjalanan menuju rumah dinas, Alisa merasa seperti duduk di samping orang asing. Satria yang biasanya hangat dan penuh perhatian kini terasa seperti sebuah monumen batu yang bisu. Alisa mencoba mengingat-ingat apakah ada perkataannya yang menyinggung perasaan Satria, atau apakah Sanca melakukan sesuatu yang benar-benar membuat Satria terluka. Tapi seingatnya, semuanya baik-baik saja setelah penjelasan di kafe tempo hari. Keheningan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan Ayahnya dulu. Alisa merasa frekuensi mereka benar-benar terputus, dan ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya karena Satria menutup semua pintu komunikasi. Bahkan musik radio yang biasanya mereka nikmati bersama pun tidak dinyalakan, meninggalkan hanya suara mesin mobil yang menderu dan suara napas mereka yang terasa berat satu sama lain.
Sesampainya di depan gerbang rumah dinas, Satria tidak mematikan mesin mobilnya. Ia hanya menatap lurus ke depan, menunggu Alisa turun tanpa ada niat untuk mengantarnya sampai ke pintu depan atau sekadar memberikan ucapan selamat malam yang biasanya disertai dengan usapan lembut di kepala. "Terima kasih sudah antar pulang, Kak," ucap Alisa pelan, tangannya masih memegang pegangan pintu mobil, berharap Satria akan menahannya sebentar dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Satria hanya menjawab dengan gumaman pendek, "Ya, istirahatlah. Kamu ada rapat pagi besok dengan timmu, kan?" Kata "timmu" diucapkan Satria dengan penekanan yang sangat tipis namun tajam, seolah-olah ia sedang membangun jarak pemisah antara dunianya dan dunia Alisa bersama Sanca. Alisa turun dengan hati yang hancur, ia menatap mobil Satria yang segera meluncur pergi begitu pintu mobil tertutup, meninggalkan debu dan tanda tanya besar yang menyesakkan dadanya.
Malam itu, Alisa tidak bisa tidur. Ia duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop yang kosong. Biasanya, ia akan mengirimkan kutipan kalimat yang baru ia tulis kepada Satria untuk sekadar mendapatkan respon balik yang memicu semangatnya. Tapi malam ini, ia merasa tangannya membeku. Ia teringat tatapan Satria terakhir kali sebelum ia turun dari mobil—bukan tatapan cemburu, tapi tatapan yang penuh dengan kekecewaan dan keraguan yang tidak terucap. Apakah Satria melihat sesuatu yang tidak Alisa sadari? Atau apakah kepindahan ke Jakarta dan kedekatan Alisa dengan dunia barunya telah membuat Satria merasa kehilangan tempat? Alisa mencoba mengirim pesan terakhir: "Kak, kalau ada masalah, tolong bicara. Jangan diam kayak gini, aku nggak tahu harus gimana." Pesan itu hanya berakhir dengan dua centang biru, tanpa ada balasan hingga jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Ketidakpastian ini mulai mengganggu fokus Alisa dalam pekerjaannya. Di kantor penerbit, ia sering melamun, bahkan Sanca berkali-kali harus menegurnya karena Alisa salah memasukkan data naskah. Sanca yang menyadari perubahan raut wajah Alisa sempat bertanya apakah ada masalah dengan "ksatria antenanya", namun Alisa hanya menggeleng dan mencoba tersenyum paksa. Ia tidak ingin membawa masalah pribadinya ke dalam tim, apalagi ia tahu betapa sensitifnya posisi Satria jika sampai terdengar oleh Ayahnya. Alisa merasa terjebak di antara dua dunia yang kini seolah saling bertolak belakang. Satu sisi ia ingin mengejar mimpinya di Jakarta, tapi di sisi lain ia merasa kehilangan jangkar yang selama ini membuatnya merasa aman. Perubahan drastis Satria yang tiba-tiba menjadi dingin ini terasa seperti sebuah peringatan dini akan badai yang lebih besar yang mungkin akan menghantam hubungan mereka.
Puncaknya adalah ketika Alisa mendengar kabar dari Damar melalui telepon singkat bahwa Satria mengajukan izin untuk tugas lapangan ke wilayah perbatasan yang sangat terpencil selama beberapa minggu kedepan. Kabar itu tidak datang dari Satria sendiri, melainkan dari orang lain. Alisa merasa seperti dihantam kenyataan pahit bahwa Satria benar-benar ingin menjauh darinya. Kenapa Satria tidak bicara langsung? Kenapa dia memilih untuk pergi saat mereka sedang dalam kondisi yang tidak jelas begini? Alisa mencoba menghubungi Satria berkali-kali, namun nomornya selalu berada di luar jangkauan atau dialihkan. Rasa sesak itu kini berubah menjadi rasa takut yang nyata. Ia merasa frekuensi mereka benar-benar sudah hilang di tengah hiruk pikuk Jakarta, meninggalkan Alisa sendirian dengan ribuan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, sementara Satria bersiap pergi menjauh ke tempat di mana sinyal pun mungkin tidak akan bisa menjangkau luka di hati mereka.