"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Terima kasih yang sudah mampir kalian tim Nabila apa Alka nih!....
Hari ini Nabila sudah siap dengan baju tunik dan hijab segi empat polos warna coklat.
akhirnya Nabila bisa bernapas lega, setidaknya saat ia sudah magang jarang bertemu dosennya tersebut yang sering buat tensinya naik.
Dan yang membuat Nabila tambah senang ia di terima magang di salah satu perusahaan yang cukup besar dan terkenal, lebih-lebih ia di posisikan di tempat yang lumayan bagus jarang-jarang anak magang langsung di jadikan sekertaris tapi Nabila sangat bersukur dengan begitu ia langsung punya pengalaman kerja sebagai sekertaris.
Seperti biasa Nabila naik ojek online kemana-manan selain hemat juga tidak macet.
"Hai, kamu anak baru ya?" sapa salah satu karyawan di kantor PT Mandala Jaya.
"Eh iya Kak, saya cum anak magang di sini," sahut Nabila memanggil kakak karena orang yang menyapanya lebih tua darinya.
"Panggil nama aja, aku Anita, umur saya masih dua puluh empat kok dan aku juga belum menikah," kata Anita mengulurkan tangan pada Nabila.
Nabila meringis tidak enak sudah menganggap Anita lebih dewasa.
"Maaf, aku Nabila."
"Oh ya kamu di terima di bagian apa, La?" tanya Anita.
"Alhamdulilah, sebagai sekertaris CEO."
"Hah? Kamu serius, bukannya kamu hanya anak magang tapi kok terima sebagai sekertaris, anih." ucap Anita heran.
"Kalau nggak percaya ini bukti surat pengantar yang aku terima, aku sendiri juga heran tapi aku bersyukur."
"Kamu beruntung sekali La, jarang sekali Pak CEO menerima anak magang sebagai sekertaris, eh itu sih CEO udah datang, kita tundukkan pandangan," ucap Anita cepat mengajak Nabila untuk memberikan penghormatan pada CEO yang baru datang.
"Ya sudah, aku masuk duluan ya An, nanti kita ngobrol lagi takut telat karena Pak CEO sudah datang," ujar Nabila melangkah pergi.
"Iya La, good luck ya."
Karena Nabila tadi masih ngobrol dengan Anita tidak langsung masuk ruangan jadinya ia saat ini barengan sama para karyawan lain yang hendak masuk melalui lift karyawan.
Nabila mengalah mundur karena desakan orang-orang, melihat salah satu ajudan pak CEO menarik tangan Nabila.
"Kamu sekertaris baru Pak CEO, kan?" tanyanya datar pada Nabila.
"Iya Pak, saya anak magang dari universitas gajah Mada.
"Ikut saya, kamu lewat lift sini aja." titahnya.
"Tapi Pak, itu lift para petinggi nanti yang ada saya kenak sp apa lagi saya cuma anak magang," tolak Nabila tidak mau cari masalah di hari pertama kalinya magang.
"Pak CEO sudah ada di atas sebentar lagi meeting kalau kamu telat yang ada kamu di marahin, sudah sana." Nabila mengangguk patuh walau dalam hatinya ia serba bingung mengingat dirinya hanya anak magang dan masih baru tapi sudah berani lewat lift para petinggi, sadar akan gunjingan tapi ia juga tidak punya pilihan.
Dan benar saja karyawan lain menatap sinis ke arah Nabila karena berani lewat lift padahal ia hanya karyawan baru.
. "Itu kan cuma anak magang kenapa ia bisa berani lewat lift Pan CEO, benar tidak tahu sopan santun anak jaman sekarang." ujar salah satu karyawan namannya Sinta ia kepada devisi satu yang diam-diam selama ini mencoba menarik perhatian Pak CEO.
"Iya Bu Sinta, dia anak magang. Saya juga heran kenapa dia bisa keterima menjadi sekertaris padahal selama ini Pak CEO tidak mau sekertaris perempuan, anih bukan kan!" sahut salah satu staf seolah ikut mengumpori.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk."
"Permisi Pak, saya sekertaris baru yang menggantikan Pak Lucas perkenalkan nama saya Nabila mahasiswi magang dari universitas gajah Mada." ucap Nabila saat di beri masuk ke ruang CEO dan langsung memperkenalkan diri.
"Iya, silahkan bekerja dengan baik, sepuluh menit temani saya meeting," ucap CEO datar.
Suara itu! Nabila mendongak.
"Kamu!" ucap Nabila terkejut.
"Kenapa, ada yang salah dengan saya?" ucap Alka dingin.
"Kenapa Bapak bisa ada di sini, bukannya Bapak seorang dosen ya?" ujar Nabila heran.
"Menurut kamu, saya ngapain di sini?" tanya Alka balik.
"Maksud Bapak, Pak Alka CEO di sini?"
"Pertanyaan tidak penting, sekarang siapkan bahan untuk meeting."
"Oh Dewa, kenapa nasib gue malang terus," batin Nabila menghela napas.
"Baik, Pak." jawab Nabila mengalah, mau tak mau ia harus berhadapan dengan orang yang sudah buat hidupnya susah selama ini.
"Tunggu!" panggil Alka lagi.
"Iya Pak?" Nabila menoleh tapi yang memanggil sibuk.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Alka tanpa menoleh.
Nabila terkesiap, tidak biasanya Alka bertanya seperti itu padahal ia sudah dua minggu menjadi asistennya baru kali ia terlihat perhatian.
"Hm," Nabila belum jawab karena takut salah dengar.
"Kamu sudah sarapan, belum Nabila?" tanya Alka lagi.
"Maaf Pak, biasanya saya sarapan sekalian makan siang, tapi tadi saya sudah makan roti, itu sarapan saya sudah biasa." jawab Nabila jujur.
Alka menggelengkan kepalanya.
"Di sini kamu untuk bekerja bukan bermanja, kalau nanti mendadak kamu pingsan lagi gimana, karena kamu laper! Ingat ya, saya tidak menyukai punya sekertaris lemah," ucap Alka dingin, lalu ia melirik ke jam tangannya.
"Ayo kita sarapan dulu, meetingnya saya tunda satu jam lagi, jadi setelah sarapan kamu masih punya waktu untuk menyiapkan bahanya," ucap Alka, lalu berbalik badan dan berjalan tanpa menunggu persetujuan Nabila.
Nabila menelan salivanya sendiri.
"Oh Dewa! dia kenapa ya, jangan-jangan dia lagi lupa minum obat," batin Nabila, lalu ikut berjalan di belakang Alka.
"Kamu itu sebenarnya umur berapa sih, masak soal sarapan saja tidak tahu betapa pentingnya menjaga kesehatan itu, seharusnya kamu bersyukur di beri kesehatan eh ini malah menyepelekan," ucap Alka datar sepanjang jalan.
"Iya Pak, terima kasih sudah mengingatkan," jawab Nabila pelan.
"Kok kayaknya Pak Alka kalau di kantor berubah ya, apa itu orang memang memiliki kepribadian ganda," batin Nabila.
"Pagi,Pak!" sapa beberapa karyawan dan juga staf yang berpesan dengan mereka.
Namun Alka hanya mengangguk datar, tanpa menyaut sapa'an para karyawannya dan bagi mereka itu sudah biasa apa lagi Alka jarang masuk kantor.
"loh itu kan Pak Alka! dia mau ngapain ya di kantin, hah! beliau ngajak anak magang itu sarapan!"batin salah satu karyawan yang melihat Alka dan Nabila kini duduk di kursi kantin kantor.
Bukan hanya satu karyawan tapi yang lain juga pada heran melihat Bos besarnya mau sarapan di kantin kantor, anihnya lagi bersama sekretaris baru yang masih di bawah umur khusus belum kreteria orang bekerja sungguhan.
"Mulai sekarang kamu harus rutin sarapan, apa lagi selama kamu magang disini, saya tidak mau kamu pingsan seperti yang di kampus, itu merepotkan sekali buat orang lain, mengerti!" ucap Alka lagi seolah belum selesai menceramai Nabila.
Sebenarnya ini bukan ceramah melainkan bentuk perhatian Alka pada Nabila tapi ia masih gengsi menunjukkan perhatian secara langsung pada Nabila tapi intinya Alka tak ingin Nabila kenapa-napa.
"Cepatan milih makanan, apa perlu yang juga yang milih?" ucap Alka dingin.
"Huh! ini orang maunya apa sih, yang ngajak makan siapa."
"Ti-dak Pak, biar saya milih sendiri," cicit Nabila gugup.
Nabila bingung mau pilih yang mana mengingat ia jarang makan di kantin seperti ini karena ia terbiasa makan di rumah dan itupun ia juga jarang sarapan karena kalau pagi Nabila biasa sarapan roti atau buah.
Sementara Alka hanya memesan kopi karena ia sudah sarapan di rumah, dan tidak mungkin ia diam saja saat Nabila makan.
"loh Bapak kok tidak pesan?" tanya Nabila.
"Saya sudah sarapan," sahut Alka santai.
"Hah! lalu kenapa Bapak ajak saya sarapan?"
"Kamu nggak lihat saya pesan ini," Alka ngelirik ke kopi satu gelas.
"Itu kan namanya bukan sarapan Pak," dumel Nabila.
"Tidak usah protes, cepat makan setelah ini kita ada meeting."
"Huh! Nyebelin banget sih, gue beneran itu orang sudah insaf ternyata sama saja." batin Nabila.