ongoing
Tian Wei Li mahasiswi miskin yang terobsesi pada satu hal sederhana: uang dan kebebasan. Hidupnya di dunia nyata cukup keras, penuh kerja paruh waktu dan malam tanpa tidur hingga sebuah kecelakaan membangunkannya di tempat yang mustahil. Ia terbangun sebagai wanita jahat dalam sebuah novel.
Seorang tokoh yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Kun A Tai, CEO dingin yang menguasai dunia gelap dan dikenal sebagai tiran kejam yang jatuh cinta pada pemeran utama wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Wei Li tidak langsung bergerak setelah namanya memenuhi tajuk berita. Itu yang membuat banyak orang salah paham.
Pagi itu, ia bangun seperti biasa. Mandi. Mengikat rambutnya sederhana. Memilih pakaian yang tidak mencolok kemeja putih, celana hitam. Tidak ada perhiasan besar. Tidak ada simbol kekuasaan. Ia duduk di meja makan, mengaduk kopi pelan, menatap cairan hitam itu berputar.
“anda kelihatan santai,” komentar Jae Hyun dari seberang meja. Wei Li mengangkat bahu. “Karena panik gak guna.”
“Publik menunggu respons,” lanjut Jae Hyun. Wei Li menyesap kopi. “Publik selalu nunggu drama. aku nggak wajib ngasih.” Ia meletakkan cangkir, lalu menatap Jae Hyun. “Tapi aku juga nggak mau jadi korban.” Jae Hyun mengangguk. “Rencana?” Wei Li menyandarkan punggung. Tangannya terlipat di dada. “aku mau orang-orang liat sesuatu.”
“Seperti apa?” Wei Li tersenyum tipis. “Konsistensi.”
Hari itu, Wei Li muncul di acara amal teknologi bukan sebagai tamu kehormatan, bukan sebagai pembicara utama. Ia duduk di barisan tengah, mendengarkan. Kamera tetap menangkapnya. Tidak ada pernyataan. Tidak ada pembelaan. Ia menyumbang, menandatangani dokumen, berbicara singkat dengan panitia. Berita malam itu berubah lagi.
TIAN WEI LI HADIRI ACARA SOSIAL, TETAP TENANG DI TENGAH RUMOR
Kun A Tai membaca laporan itu di ruang kerjanya. Alisnya sedikit berkerut. “Dia tidak bereaksi seperti target,” kata salah satu staf. Kun A Tai menatap layar. “Karena dia bukan target.”
Malamnya, Wei Li duduk di ruang kerja kecil di rumah. Laptop terbuka. Layar gelap, hanya baris kode sederhana. Tangannya bergerak cepat, tapi ekspresinya datar. Tidak ada adrenalin. Tidak ada senyum puas. Ini bukan balas dendam emosional. Ini pekerjaan. “aku nggak nyentuh dia,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “tapi aku nyentuh lingkarannya.” Ia tidak membobol. Tidak meretas. Ia mengamati. Pola investasi. Yayasan yang terlihat bersih. Laporan keuangan yang terlalu sempurna. Ada satu nama yang terus muncul. Bukan Shen Yu An.
Asisten lamanya. Wei Li bersandar, menghela napas kecil. “kau ceroboh.” Ponselnya bergetar. Pesan dari Kun A Tai.
'Kau lembur'
Wei Li membalas cepat. 'Biasa. Jangan tunggu'. Beberapa detik kemudian:
'Hati-hati'
Wei Li tersenyum tipis. Kata orang paling berbahaya di dunia ini. Keesokan harinya, artikel baru muncul. Bukan tentang Wei Li.
YAYASAN SOSIAL TERKAIT SHEN GROUP DISOROT — LAPORAN KEUANGAN DIPERTANYAKAN
Nama Shen Yu An tidak disebut langsung. Tapi lingkarannya mulai disentuh. Wei Li membaca artikel itu sambil sarapan, satu alis terangkat. “Cepat,” komentar Jae Hyun. Wei Li mengangguk. “Karena itu bukan aku.”
“Media menemukan sendiri,” lanjut Jae Hyun. Wei Li tersenyum kecil. “Media suka merasa pintar.” Telepon masuk. Nomor tidak dikenal. Wei Li menjawab tanpa ragu. “Halo.”
“Ini cepat,” kata suara Shen Yu An untuk pertama kalinya langsung di telinganya. Suaranya rendah, tenang, hampir ramah. Wei Li menyandarkan tubuh ke kursi. “ya kau juga.”
“Permainanmu rapi,” lanjut Shen Yu An. “Tidak ada sidik jari.” Wei Li menguap kecil. “aku benci berantakan.” Shen Yu An tertawa pelan. “Kau sadar apa yang kau lakukan?”
Wei Li menatap meja. “aku cuma bikin lampu nyala. Orang lain yang ngeliat kotorannya.” Keheningan singkat. “Kau berani,” kata Shen Yu An.
Wei Li tersenyum tipis. “kau salah. aku capek.”
“Capek biasanya membuat orang ceroboh.” Wei Li mencondongkan tubuh. “Atau jujur.” Shen Yu An menghela napas kecil. “Kita bisa berhenti.”
Wei Li menatap kosong ke depan. “kau mulai duluan.” telepon terputus. Wei Li meletakkan ponsel, lalu menatap Jae Hyun. “Dia menelfon, apa sebuah ancaman?”
“Penawaran,” jawab Wei Li. “Lebih bahaya.”
Di sisi lain kota, Kun A Tai menerima laporan yang sama. Ia berdiri, menatap jendela. “Dia bergerak tanpa menyentuh,” gumamnya. Asistennya mengangguk. “Efektif.” Kun A Tai tersenyum kecil. “Dan itu membuatku khawatir.”
Malam itu, Wei Li duduk di balkon. Angin malam dingin, tapi menyegarkan. Ia memeluk lengannya sendiri, menatap lampu kota. Kun A Tai keluar, berdiri di sampingnya. “Kau menyerangnya,” kata Kun A Tai. Wei Li menggeleng. “Belum.”
“Lingkarannya goyah.” Wei Li menoleh. “Itu efek samping. Kun A Tai menatapnya lama. “Kau tahu ini tidak akan berhenti di sini.”
Wei Li mengangguk. “aku tau.”
“Kau masih ingin hidup normal?” tanya Kun A Tai. Wei Li tersenyum lelah. “Justru karena itu.” Keheningan jatuh. “Aku tidak akan menghentikanmu,” kata Kun A Tai akhirnya. “Tapi aku akan berada di belakangmu.” Wei Li menatapnya. “Itu cukup.”
Keesokan paginya, artikel lanjutan muncul. DONATUR MISTERIUS TARIK DANA DARI YAYASAN SHEN GROUP
Nama Wei Li tidak disebut. Tapi Shen Yu An tahu. Ia duduk di ruang kerjanya, menatap layar, senyum tipis di wajahnya. “Menarik,” gumamnya. “Dia belajar cepat.”
Kembali ke rumah, Wei Li menutup laptopnya. Tangannya sedikit gemetar bukan takut, tapi lelah. Ia berbaring, menatap langit-langit. 'aku nggak mau jadi monster' pikirnya 'Tapi aku juga nggak mau dimakan'.
Di dunia ini, pilihan itu jarang bersih. Dan Wei Li akhirnya menerima satu hal Untuk hidup normal, kadang kau harus memastikan orang lain tidak berani mengganggumu lagi. Dan itu ironisnya adalah langkah paling tidak normal yang pernah ia ambil.