Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Resepsi Pernikahan: Wagyu vs Tupperware
Enam bulan kemudian.
Grand Ballroom Hotel Bintang Lima di Jakarta Pusat tampak seperti lokasi syuting film Disney. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, ribuan bunga mawar putih (impor dari Belanda) menghiasi setiap sudut, dan orkestra mini memainkan lagu klasik yang menenangkan jiwa.
Pak Wijaya benar-benar tidak main-main. Dia ingin menebus "dosa" masa lalunya dengan menggelar pernikahan termewah abad ini untuk putra tunggalnya.
Tapi, di tengah kemewahan itu, ada beberapa "anomali" yang membuat Wedding Organizer (WO) stres berat.
Anomali 1: Menu Makanan.
Di sebelah stan Wagyu Beef A5 dan Salmon Sashimi, berdiri dengan gagah sebuah gerobak kayu asli bertuliskan "Bakso Pak Kumis - Gang Kelinci".
Adrian yang meminta itu.
"Itu syarat Rania," kata Adrian tegas saat food testing. "Kalau tidak ada Bakso Pak Kumis, pengantin wanita mogok jalan ke altar."
Anomali 2: Tamu Undangan.
Di sisi kiri ruangan, para sosialita teman Pak Wijaya duduk anggun dengan gaun malam seharga mobil, memegang gelas wine dengan jari kelingking terangkat.
Di sisi kanan, rombongan UGD RS Citra Harapan (masih bau disinfektan sedikit) dan warga Gang Kelinci (Ibu Kos, Pak Mamat, dan Tukang Ojek yang dulu membonceng Adrian) duduk heboh sambil kipas-kipas pakai undangan.
Rania berdiri di pelaminan, kakinya pegal luar biasa karena sepatu hak tinggi Jimmy Choo yang dipilihkan Adrian. Gaunnya... luar biasa. Gaun putih off-shoulder dengan detail renda rumit yang membuat Rania terlihat seperti putri bangsawan, bukan dokter bedah yang hobi teriak.
"Senyum, Sayang," bisik Adrian di sebelahnya. Adrian tampak memukau dengan tuksedo hitam custom-made. Rambutnya tertata sempurna, wajahnya glowing maksimal (hasil perawatan intensif sebulan terakhir).
"Pipi gue kram, Ad," keluh Rania tanpa menggerakkan bibir, tetap tersenyum pada tamu yang menyalami. "Ini tamu bokap lo nggak abis-abis? Udah seribu orang kayaknya."
"Tahan. Tinggal 200 lagi. Inget, amplopnya tebel," canda Adrian.
Tiba giliran rombongan Gang Kelinci naik ke pelaminan.
Ibu Kos, dengan kebaya hijau neon yang mencolok mata, langsung memeluk Adrian erat-erat. Bedak tebal Ibu Kos menempel di jas mahal Adrian.
"Ya ampun, Mas Adrian! Ganteng banget! Ibu nggak nyangka anak kos Ibu yang dulu nyuci baju pake sendok takar obat sekarang jadi pangeran beneran!" seru Ibu Kos heboh.
Adrian tertawa, membiarkan jasnya kotor sedikit. "Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah menampung saya waktu itu."
"Nih, Ibu bawain kado spesial," Ibu Kos menyerahkan bungkusan kado yang bentuknya mencurigakan. "Sprei Hello Kitty baru! Biar tidurnya nyenyak kayak di kosan!"
Rania tertawa terbahak-bahak sampai mahkotanya miring sedikit. "Makasih, Bu! Pasti dipake!"
Setelah sesi salaman selesai, acara masuk ke sesi hiburan.
MC Kevin (yang tampil rapi meski dasinya miring) naik ke panggung.
"Baiklah hadirin sekalian! Sekarang saatnya First Dance kedua mempelai!"
Lampu meredup. Sorot lampu spotlight mengarah ke tengah lantai dansa.
Adrian mengulurkan tangannya pada Rania. "May I, Dr. Rania?"
Rania menerima uluran tangan itu dengan ragu. "Gue nggak bisa dansa waltz, Ad. Gue taunya senam SKJ."
"Ikuti saya. Taruh kaki kamu di atas kaki saya kalau perlu," bisik Adrian.
Musik waltz klasik mengalun. Adrian memimpin dengan lembut. Tangan kirinya memegang tangan Rania, tangan kanannya di pinggang Rania yang ramping. Mereka berputar pelan.
Rania menatap mata Adrian. Di tengah ribuan orang, rasanya dunia hanya milik berdua.
"Lo ganteng banget hari ini," bisik Rania jujur.
"Kamu juga. Cantik. Walaupun tadi saya liat kamu nyelip-nyelipin tisu di balik gaun buat ngelap keringet," balas Adrian.
Rania terkekeh. "Kebiasaan."
Tiba-tiba, musik waltz berhenti dengan suara jarum piringan hitam digores. Sreeet.
Semua tamu kaget. Pak Wijaya hampir tersedak wine-nya.
Kevin di panggung menyeringai. "Eits, jangan bubar dulu! Atas permintaan khusus Mempelai Pria, kita ganti suasana!"
Musik berubah drastis.
Gendang ditabuh. Suling ditiup.
Intro lagu "Cendol Dawet" (Pamer Bojo) versi koplo bergema di ballroom hotel bintang lima itu.
Rania melongo. Dia menatap Adrian.
"Ad? Ini...?"
Adrian tersenyum miring, melepas dasi kupu-kupunya dan melemparnya ke kerumunan.
"Saya sudah janji, kan? Saya nggak akan ngelarang lagu dangdut kamu lagi. Malam ini, kita goyang."
"SERIUS?!" mata Rania berbinar.
"Serius. Tapi tolong jangan injak kaki saya."
Dan terjadilah sejarah.
Di tengah ballroom mewah itu, Adrian Bratadikara—dokter bedah plastik lulusan Korea yang kaku dan perfeksionis—berjoget dangdut. Gerakannya kaku, canggung, sangat tidak luwes, persis robot yang korslet.
Tapi dia tertawa. Dia bernyanyi.
"Cendol dawet, cendol dawet seger..."
Rania tertawa sampai menangis melihat suaminya berjoget. Dia ikut bergabung, bergoyang heboh dengan gaun pengantinnya yang berat.
Tamu-tamu sosialita awalnya syok. Tapi melihat Pak Wijaya di meja VIP tiba-tiba mengetuk-ngetukkan jari mengikuti irama (dan Suster Yanti menarik tangan Pak Wijaya untuk ikut joget), suasana cair seketika.
Dalam sekejap, lantai dansa penuh.
Dokter spesialis jantung berjoget dengan tukang ojek. Ibu-ibu sosialita (yang ternyata diam-diam suka dangdut) bergoyang bareng Ibu Kos.
Batas sosial runtuh.
Tidak ada lagi kelas atas atau kelas bawah.
Yang ada hanya kebahagiaan.
Di tengah kerumunan yang berjoget "ular naga", Adrian menarik Rania mendekat, memeluknya dari belakang.
"Terima kasih," bisik Adrian di telinga Rania.
"Buat apa? Buat goyangannya?"
"Buat semuanya. Buat ngajarin saya bahwa hidup itu nggak perlu sempurna buat jadi indah. Hidup itu kayak lagu koplo. Kadang berisik, kadang norak, tapi bikin bahagia."
Rania berbalik, mengalungkan lengannya di leher Adrian.
"Sama-sama, Pangeran Koplo."
Mereka berciuman di tengah hujan confetti dan teriakan "Aselole!" dari Kevin.
Sementara itu, di pojok ruangan, Suster Yanti sibuk membungkus sate kambing dan kue-kue mahal ke dalam wadah Tupperware yang dia bawa diam-diam di balik kebayanya.
"Lumayan," gumam Yanti. "Buat bekal jaga malam besok."
Pesta itu bukan pesta kerajaan yang sempurna. Ada noda kuah bakso di karpet mahal, ada gelas pecah karena tersenggol orang joget, dan suaranya terlalu berisik.
Tapi bagi Adrian dan Rania, itu adalah pesta pernikahan paling sempurna di dunia.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget