Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 RUANG KANTOR
Langit Jakarta tampak cerah pagi itu, namun di balik dinding kaca gedung tinggi milik perusahaan Abraham Group, pikiran Ammar Abraham sama sekali tak seterang cuaca di luar. Ia duduk di balik meja kerja besar dari kayu mahoni, tumpukan berkas menanti untuk ditandatangani, layar laptop menyala dengan grafik dan laporan keuangan yang tak pernah ada habisnya.
Sejak pagi, Ammar sengaja menjejalkan dirinya ke dalam pekerjaan.
Rapat berturut-turut. Telepon yang tak berhenti berdering. Email yang harus dibalas secepat mungkin. Ia memilih tenggelam dalam kesibukan itu, seolah angka-angka dan target bisa menenggelamkan bayangan yang terus muncul di kepalanya.
Bayangan semalam.
Wajah Sari yang pucat. Tatapan takut yang jelas terlihat di matanya. Dan tangannya sendiri yang sempat kehilangan kendali.
Ammar mengatupkan rahang, jemarinya mencengkeram pulpen lebih erat.
“Aku tidak melakukan apa-apa,” gumamnya pelan, lebih seperti pembelaan untuk dirinya sendiri.
Namun hatinya tak sepenuhnya sepakat.
Ia tahu, meski berhenti sebelum segalanya melampaui batas, niat itu sempat ada. Dan kesadaran itulah yang membuat dadanya terasa berat.
Gengsi.
Itulah benteng terakhirnya. Mengakui bahwa ia hampir menodai Sari seorang gadis desa yang tak bersalah adalah hal yang tak sanggup ia terima. Ammar Abraham tidak pernah terbiasa kalah oleh perasaannya sendiri.
Pintu ruangannya diketuk pelan.
“Masuk,” ucap Ammar tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Betran melangkah masuk dengan membawa map hitam. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, profesional, dan tak banyak bicara. Ia berdiri beberapa langkah dari meja, menunggu momen yang tepat untuk berbicara.
“Tuan,” ucap Betran akhirnya. “Nanti malam ada jamuan makan malam di restoran. Klien dari Singapura sudah mengonfirmasi kehadiran.”
Ammar mengangguk kecil, namun tidak langsung menjawab. Ia menandatangani satu berkas, lalu yang lain. Seolah ucapan Betran hanyalah suara latar.
Betran memperhatikan tuannya dengan saksama. Ia sudah bekerja bertahun-tahun bersama Ammar. Ia tahu betul, sikap seperti ini biasanya menandakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ammar.
Ammar akhirnya meletakkan pulpen. Ia mengangkat wajahnya, melirik Betran bukan untuk menanggapi soal jamuan makan malam.
“Betran,” ucapnya datar.
“Ya, Tuan?”
“Apa sudah ada kabar dari istriku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa rencana. Bahkan Ammar sendiri sedikit terkejut menyadari betapa cepat nama Sabrina kembali muncul di benaknya.
Betran terdiam sejenak, lalu menggeleng sopan.
“Belum, Tuan.”
Ammar menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursinya. Tatapannya kosong, menembus dinding kaca, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat.
“Baik,” ujarnya singkat.
Betran tetap berdiri. “Apakah Tuan akan menghadiri jamuan makan malam itu?”
Ammar mengangguk pelan. “Saya datang. Siapkan semuanya.”
“Baik, Tuan.”
Namun Betran tidak langsung pergi. Ada keraguan kecil di wajahnya.
“Tuan…,” panggilnya hati-hati.
Ammar menoleh. “Ada apa?”
Betran ragu sejenak, lalu memilih kata-kata yang aman. “Saya hanya ingin memastikan… keadaan di rumah baik-baik saja.”
Ammar menatapnya tajam sejenak, lalu menurunkan pandangan. “Rumah baik-baik saja. Queen baik. Tidak ada masalah.”
Jawaban itu terdengar terlalu cepat. Terlalu defensif.
Betran mengangguk, tak berani bertanya lebih jauh.
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit.”
Setelah pintu tertutup, Ammar kembali sendirian.
Ia menatap layar laptop, namun huruf-huruf itu tak lagi bermakna. Pikirannya melayang ke rumah.
Ke Queen.
Ke Sari.
Ia teringat pagi tadi. Cara Sari menghindar. Tatapan yang tak lagi berani terangkat. Gerak tubuh yang selalu menjaga jarak.
Rasa bersalah kembali mencuat, menekan dadanya.
“Aku hanya sedang lelah,” gumamnya. “Itu saja.”
Namun alasan itu terdengar semakin rapuh.
Di sela-sela kesibukan, ponsel Ammar beberapa kali ia periksa. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan dari luar negeri. Nama Sabrina tak muncul di layar.
Istrinya yang secara sah masih menjadi bagian hidupnya terasa semakin jauh.
Ammar teringat bagaimana Melinda, ibu mertuanya, selalu berbicara atas nama Sabrina. Bagaimana setiap kali ia mencoba mendekat, selalu ada dinding bernama karier yang menghalangi.
Ia mengepalkan tangan.
“Seharusnya aku sudah terbiasa,” gumamnya getir.
Namun ia belum pernah benar-benar terbiasa dengan kesepian.
Menjelang sore, Ammar menutup laptopnya. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar ruangannya. Dari lantai tinggi itu, kota tampak sibuk, hiruk-pikuk, penuh kehidupan.
Berbeda dengan rumahnya yang terlalu tenang.
Entah mengapa, wajah Queen muncul di benaknya. Suara kecil itu kembali terngiang.
“Semenjak ada Kak Sari, aku jadi nggak pernah kesepian lagi.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan pelan.
Ammar menutup mata.
Ia sadar, Sari telah mengisi ruang kosong yang selama ini ia biarkan terbuka. Dan itulah yang membuatnya takut. Takut kehilangan kendali. Takut melangkah terlalu jauh.
“Ini tidak boleh terjadi,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia membuka mata, mengambil jasnya, dan bersiap meninggalkan kantor untuk menghadiri jamuan makan malam. Wajahnya kembali dingin, sikapnya kembali tegas.
Ammar Abraham kembali menjadi pria yang dikenal dunia CEO yang rasional, suami dari seorang model ternama, ayah yang bertanggung jawab.
Namun jauh di dalam hatinya, ada konflik yang belum selesai.
Kesibukan mungkin bisa menunda ingatan.
Gengsi mungkin bisa menahan pengakuan.
Tapi rasa bersalah dan benih perasaan yang tak seharusnya tumbuh tak akan bisa dihapus hanya dengan kerja keras.
Dan Ammar tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...