Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 7.
Damian baru menyadari kepergian Viera saat pulang cepat hari itu. Pria itu pulang ke apartemen dengan langkah cepat, dasinya sudah terlepas, wajahnya tampak tegang. Sejak pagi, perasaan gelisah tak mau pergi. Panggilannya tak diangkat Viera. Pesannya hanya dibaca, tanpa balasan.
“Viera?” panggilnya begitu pintu terbuka.
Apartemen sunyi.
Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki, bahkan aroma makanan pun tidak ada. Damian berjalan ke kamar, lemari pakaian Viera terbuka setengah. Beberapa gaun hilang. Dokumen pribadinya tidak lagi tersimpan di laci bawah.
Damian terduduk di tepi ranjang, ia benar-benar panik.
Sedangkan Viera tidak langsung pulang setelah meninggalkan rumah sakit.
Ia duduk di dalam mobilnya, tangan bertumpu di kemudi. Udara di dalam kabin terasa pengap, atau mungkin itu hanya dadanya yang terasa penuh oleh terlalu banyak kebenaran.
Anak ini… bukan milik Damian.
Kalimat itu berulang di kepalanya, bukan sebagai kejutan emosional, melainkan fakta dingin yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Viera membiarkan mobilnya melaju tanpa tujuan beberapa menit, hingga lampu kota mulai terasa terlalu terang untuk matanya yang lelah. Ia akhirnya berhenti di sebuah minimarket kecil, memarkir mobil, lalu mematikan mesin. Sunyi langsung menyergapnya.
Ia bersandar ke kursi, menutup mata.
Tidak ada amarah meledak-ledak, yang ada hanya kesadaran perlahan bahwa hidupnya telah benar-benar berubah tanpa aba-aba.
Tangannya turun ke perutnya yang masih datar.
“Mulai sekarang… kita akan hidup berdua aja,” bisiknya, entah kepada janin itu atau kepada dirinya sendiri.
Ia turun dari mobil, membeli air mineral dan roti tawar. Hal-hal kecil yang dulu sering Damian ejek sebagai “tidak bergizi”. Viera tersenyum tipis mengingatnya. Ia tidak lagi merasa perlu membela pilihannya pada siapa pun.
Saat kembali ke mobil, ponselnya bergetar. Nama Damian muncul di layar. Viera menatapnya beberapa detik. Dulu, satu panggilan dari pria itu cukup membuat jantungnya berdebar. Kini, tidak lagi.
Ia mengangkat panggilan Damian, suaranya sangat tenang. “Ya?”
“Kamu di mana?” suara Damian terdengar tegang. “Aku sengaja pulang siang ini, tapi apartemen kosong."
“Aku nggak akan tinggal di sana lagi.”
“Vie, kenapa kau pergi tanpa bicara?” Nafas Damian terdengar berat.
“Kita sudah terlalu sering bicara, Damian,” jawab Viera datar. “Tapi, kau terlalu sering tidak mendengarkanku. Dan sekarang, waktunya menyudahi semuanya.
Damian terdiam sejenak. “Kamu habis dari rumah sakit, kan? Kenapa nggak bilang? Aku bisa—”
“Tidak perlu,” potong Viera. “Aku sudah urus semuanya.”
Nada suara Viera membuat Damian gelisah. “Kita masih suami-istri.”
“Untuk sementara,” jawab Viera tanpa emosi. “Aku butuh ruang sebelum ketuk palu cerai diresmikan, jangan cari aku”
“Viera—”
Panggilan itu terputus, Viera memilih menutupnya. Tangannya sedikit bergetar setelahnya. Ia menghela napas panjang, lalu menyalakan mesin kembali. Kali ini tujuannya jelas.
Apartemen barunya berada di lantai delapan, tidak besar, tapi bersih dan terang. Jendela besar menghadap jalan utama. Saat Viera masuk, aroma sabun lantai dan kesunyian menyambutnya. Tidak ada jejak Damian disana, hanya masa depan yang menantinya.
Ia menaruh tas, melepas sepatu, lalu duduk di sofa. Cahaya matahari masuk dari jendela, cukup untuk membuat ruangan terasa hidup.
Ponselnya kembali bergetar, kali ini pesan singkat.
Damian: [Kita harus bicarakan soal anak itu, pulanglah... jangan begini.]
Viera mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Akhirnya, hanya satu kalimat yang ia kirim.
Viera: [Anak ini tanggung jawabku. Selebihnya, mengenai perceraian... akan kita bicarakan lewat pengacara.]
Setelah itu, ia mematikan ponsel. Viera berdiri, lalu membuka koper berisi barang-barangnya. Ia menyusun pakaian satu per satu, seperti sedang menyusun ulang hidupnya sendiri.
Tidak ada air mata yang jatuh. Yang ada hanya keputusan yang mulai mengeras di dadanya, begitu dingin dan tidak bisa ditawar.
Ini bukan pelarian, ini sebuah awal.
Sementara di apartemennya, Damian melempar ponselnya ke sofa setelah panggilan dari Viera berakhir. Dadanya terasa kosong, dan kali ini tidak ada siapa pun yang bisa ia salahkan.
Hari-hari Viera setelah itu berjalan dalam ritme baru. Pagi diisi dengan kontrol kesehatan, sore dengan membaca atau bekerja secara daring, dan malam dengan keheningan yang tidak lagi menyakitkan.
Ia juga bicara dengan pengacaranya tentang anak dalam kandungannya.
“Ada kemungkinan kasus ini akan berkembang menjadi sengketa hukum besar,” ujar sang pengacara hati-hati. “Rumah sakit jelas bersalah. Tapi soal ayah biologis—”
“Aku tidak menuntut apa pun dari ayah biologis anak ini,” potong Viera. “Aku hanya ingin memastikan tidak ada satu pihak pun yang bisa mengklaim anakku tanpa persetujuanku.”
Pengacara itu terdiam sejenak. “Berarti Anda ingin perlindungan hukum penuh.”
“Ya.”
Keputusan itu mutlak.
Sementara itu di gedung tinggi berlapis kaca di pusat kota, Lucca berdiri di depan jendela besar kantornya. Kota terbentang di bawahnya seperti papan catur, rapi dan terkontrol.
Asistennya masuk dengan wajah tegang. “Tuan, laporan rumah sakit sudah lengkap.”
Lucca mengambil map itu tanpa menoleh. Ia membacanya cepat, lalu menutupnya perlahan.
“Nyonya Viera tidak menuntut apapun,” ujar asistennya heran. “Tidak ada gugatan, tidak ada tuntutan finansial.”
Lucca tersenyum tipis, bukan senyum senang melainkan senyum penuh perhitungan.
“Perempuan seperti itu tidak bergerak karena emosi, dia bergerak karena prinsip.” Ia menoleh pada asistennya. “Dan justru itu... yang membuatnya berbahaya.”
Asisten itu ragu. “Apa kita akan menghubunginya?”
“Belum.” Lucca merapikan manset kemejanya. “Biarkan dia tenang dulu. Perempuan yang baru saja kehilangan pernikahan… dan mendapatkan anak tapi ada cacat medis, tidak bisa diganggu.”
“Tapi Tuan, anak itu—”
“Adalah miliknya,” potong Lucca dingin. “Dan suatu hari nanti, jika dia siap... aku akan bicara dengannya. Bukan sebagai seorang Ayah yang menuntut hak atas anaknya, tapi sebagai laki-laki yang siap bertanggung jawab jika dia menginginkannya. Sementara ini, aku tidak akan memaksa masuk dalam hidupnya.”
Di sudut lain kota, Calista duduk sendirian di rumah mewahnya. Ponselnya mati di atas meja. Ia menatap kosong ke dinding, riasannya belum dibersihkan.
Lucca telah meninggalkannya tanpa peringatan dan penjelasan. Dan Damian, telah memutuskannya dengan dingin.
“Tidak… ini belum berakhir. Aku tidak terima aku ditinggalkan kalian berdua begitu saja!” Gumam Calista lalu tersenyum menyeringai.