Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Salju turun tanpa jeda sepanjang malam, membungkus seluruh wilayah Utara dalam putih yang memantulkan cahaya bulan dengan pucat keperakan. Anastasia berdiri di balkon kamar tamunya, tubuhnya diselimuti jubah bulu putih pemberian Aloric, jubah yang jauh lebih hangat dibandingkan apa pun yang pernah ia miliki. Namun malam ini, dingin bukan berasal dari salju—melainkan dari sesuatu yang menggerogoti hatinya.
Theodora.
Nama itu saja membuat dadanya mengeras.
Ia menutup mata.
Ingatan hidup lamanya muncul seperti bayangan hitam yang merayap dari sudut ruang. Suara kakaknya, manis tapi penuh racun, berbisik dari belakang lehernya.
"Kau hanya beban, Anastasia."
"Kalau bukan karena aku, kau sudah mati."
"Ibu Ayah tidak akan menyayangimu. Tapi aku bisa membuat mereka mencintaimu… kalau kau menurut."
Anastasia membuka mata cepat-cepat. Napasnya sesak.
Setelah kembali hidup, setelah semua luka itu ia telan dalam diam, ia pikir ia sudah cukup kuat untuk menghadapi apa pun. Tetapi berita terakhir yang datang dari intel Aloric membuat tangannya kembali gemetar.
Bukan hanya Theodora yang hidup dalam kemewahan penuh pujian—
Theodora terlibat konspirasi istana.
Dan lebih buruknya…
Ia sedang dalam perjalanan menuju Ibu Kota bersama Kaisar.
Ke arah Aloric.
Seolah takdir sengaja menarik benang dua kehidupan itu agar kembali saling menghancurkan.
Pintu kamar terbuka.
Langkah berat, tegas, dan dingin memasuki ruangan.
Anastasia tidak perlu menoleh. Ia sudah hafal ritme langkah itu. Seolah bumi sendiri menunduk hormat setiap kali Duke Utara itu berjalan.
“Kenapa kau belum tidur?”
Suara Aloric terdengar berat, dalam, dan sedikit… lelah.
Anastasia mengalihkan pandangannya dari balkon, menatap pria yang kini berdiri beberapa langkah darinya. Aloric masih mengenakan mantel perang hitamnya, salju menempel di bahu dan rambutnya. Armor hitam itu membuatnya terlihat seperti iblis penjaga gerbang dunia bawah. Tapi tatapannya… tatapan itu selalu membuatnya kehilangan kata-kata.
“Aku tidak mengantuk,” jawabnya pelan.
Aloric mengerutkan alis. “Kau memikirkan sesuatu.”
Tentu saja ia memikirkan sesuatu. Bagaimana ia tidak? Theodora bukan hanya ancaman masa lalu. Kakaknya itu adalah racun yang ia tahu sangat lihai menipu orang-orang penting, bahkan bangsawan tinggi. Ia memanipulasi semua orang dengan wajah malaikat dan lidah iblisnya.
“Kau gelisah,” ulang Aloric, lebih tegas.
“Aku hanya…” Anastasia menggigit bibir. “Aku takut masa laluku akan merusak kedamaian wilayah ini. Aku tidak ingin menjadi beban.”
Aloric menatapnya lama, menembus.
Kemudian ia berjalan, langkah besar, menghampirinya. Suara sepatu botnya menggema lembut namun menekan udara sekitar.
Ia berhenti tepat di depannya. Satu tangan besar dan dingin terangkat, menyentuh dagu Anastasia, mengangkatnya perlahan.
Tatapan mereka bertemu.
Mata hitam tajam itu menyala seperti bara yang terperangkap dalam es.
“Kau tidak pernah menjadi beban,” suara Aloric rendah, hampir seperti geraman. “Kalau ada yang mencoba menyakitimu… aku sendiri yang akan menghabisinya.”
Anastasia membeku.
Ia terbiasa dengan Aloric yang dingin, keras, seperti tembok es. Tapi saat-saat tertentu, ketika emosinya muncul sedikit saja, rasanya lebih dahsyat daripada badai.
“Kau tidak mengerti,” bisik Anastasia kecil. “Theodora… dia bukan orang biasa. Dia bisa meyakinkan seluruh dunia bahwa aku iblis sekalipun.”
“Aku tidak peduli,” jawab Aloric cepat tanpa ragu. “Siapa pun yang mencoba merusak kehidupanmu—aku akan mematahkan mereka.”
Nada suaranya begitu dingin, begitu meyakinkan, sehingga jantung Anastasia berdetak keras.
“Aloric…”
Pria itu mendekat, menurunkan tubuhnya sedikit agar wajah mereka sejajar. Hidung mereka hampir bersentuhan. Nafas hangat Aloric menyapu kulitnya.
“Masa lalumu adalah milikku sekarang,” gumamnya, lirih namun berbahaya.
Anastasia merasakan sesuatu di dadanya seperti retakan kecil—antara takut dan… berharap.
Namun ia belum sempat mengeluarkan suara ketika seseorang mengetuk pintu dengan cepat. Urgensi terdengar dari hentakan langkahnya.
“Yang Mulia Duke!” panggil seorang prajurit dari luar. “Berita penting dari utusan istana!”
Wajah Aloric berubah membeku, kembali menjadi dinding batu.
“Masuk,” perintahnya.
Pintu terbuka.
Seorang prajurit membawa gulungan surat bersegel emas kaisar. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkannya pada Aloric.
“Ini baru saja tiba, Yang Mulia. Dikirim dengan kuda tercepat.”
Aloric merobek segelnya.
Matanya bergerak cepat membaca isi surat. Otot rahangnya mengeras, bahunya menegang seperti busur yang hendak patah.
“Apa isinya?” tanya Anastasia hati-hati.
Aloric tidak menjawab langsung.
Ia menutup gulungan itu, napasnya berat.
“Putra Mahkota telah resmi ditahan di istana.”
Aloric berhenti sejenak.
“Tapi bukan itu masalahnya.”
Prajurit itu menelan ludah. Anastasia memandang keduanya, menunggu.
“Yang Mulia Kaisar memanggilku.” Mata Aloric menyipit. “Segera.”
Anastasia menegang. “Kenapa?”
“Untuk menghadapi penyelidikan tentang kekuatan tempur keluargaku,” jawab Aloric dengan dingin. “Mereka mencurigai aku menyembunyikan sesuatu.”
Tentu saja. Kekuatan keluarga Silas selalu ditakuti. Mereka yang menjaga perbatasan Utara selama ratusan tahun, kekuatan yang bahkan konon bisa menghancurkan sebuah pasukan hanya dengan satu orang.
Namun…
Aloric menatap lagi surat itu.
“Dan… ada satu hal lagi.”
Anastasia menunggu, jantungnya berdetak keras.
“Anastasia Zylph diminta hadir sebagai saksi.”
Jantungnya seolah berhenti.
“A… apa?”
Aloric memandangnya lama, sangat lama, hingga Anastasia merasa telanjang di bawah tatapannya.
“Theodora berada bersama Kaisar.”
Suaranya berubah sangat dingin.
“Dan dia menuduhmu sebagai penyebab kerusuhan di keluarga Marquess.”
Anastasia membeku.
Rasanya seperti ada tangan dingin meremas tenggorokannya.
“Tentu saja… dia melakukan itu,” gumamnya pahit.
Prajurit menunduk dalam-dalam. “Perintah Kaisar sangat mendesak, Yang Mulia. Mereka menunggu Duke dan Lady Anastasia dalam tiga hari.”
Pintu tertutup setelah prajurit pergi.
Kamar menjadi sunyi.
Aloric memandang Anastasia, tidak berkedip.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu,” katanya pelan tapi sangat tegas.
Anastasia menggeleng. “Aloric… ini bukan pertempuran fisik. Ini… intrik istana. Theodora… dia sangat—”
“Biarkan dia mencoba.”
Nada Aloric merendah menjadi sesuatu yang gelap, dingin, mematikan.
“Aku akan melindungimu.”
Tatapannya menembus.
“Bahkan dari keluargamu sendiri.”
Anastasia menahan napas.
Karena saat Aloric mengucapkan itu… ia tahu pria itu benar-benar bersedia menghancurkan dunia jika itu berarti ia selamat.
Namun…
Tiba-tiba ia sadar akan sesuatu.
Ada satu hal yang belum ia ceritakan pada Aloric.
Tentang kemampuannya menghidupkan kembali orang mati.
Tentang batas tiga kali.
Tentang fakta bahwa ia telah menggunakan dua kali.
Dan… bahwa hidup Aloric kini bergantung pada yang terakhir.
Ia menatap pria itu dengan perasaan campur aduk—takut, sayang, marah pada dirinya sendiri, dan… terluka.
“Aloric,” bisiknya, “Jika… jika istana mengetahui kebenaran tentang ku…”
“Kuseret mereka ke neraka,” potong Aloric datar.
Anastasia menunduk.
Ia tidak tahu apakah harus takut atau merasa aman.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan bukan kepada dunia—
melainkan rasa takut kehilangan pria ini.
“Besok kita berangkat,” lanjut Aloric. “Aku tidak akan membiarkan mereka mengatur rencana sebelum kita tiba.”
Ia berbalik untuk pergi.
Namun sebelum melangkah melewati pintu, ia berhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata:
“Anastasia.”
“…Ya?”
“Jangan pernah berpikir kau sendirian.”
Nada suaranya pecah sedikit.
“Tidak lagi.”
Pintu tertutup.
Anastasia berdiri di balkon, memandang salju yang turun.
Mulai besok… mereka akan berjalan menuju istana.
Menuju Theodora.
Menuju kebenaran masa lalu yang ingin ia kubur.
Bahwa ia pernah dibunuh oleh kakaknya sendiri.
Dan bahwa kali ini…
ia tidak akan mati dengan mudah.