NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Rencana Perayaan Bertiga

(Terdapat perubahan alur cerita sementara, dikarenakan ada revisi khusus dari editor. Disarankan untuk membaca kembali sejak bab dua untuk memperoleh keruntutan cerita yang lebih baik.)

-

Keluar dari pintu kaca showroom mobil dengan map berisi Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) di tangan, wajah Arga bersinar terang, seolah dia baru saja memenangkan piala kejuaraan dunia. Adrenalin kemenangan membanjiri otaknya. Dia merasa gagah, kaya, dan tak terkalahkan.

"Din, ini gila. Aku beneran beli Pajero," gumam Arga sambil menatap map di tangannya, lalu menatap Nadinta dengan mata berbinar.

"Makasih ya, kamu udah dukung aku. Kalau nggak ada dorongan kamu, mungkin aku masih maju mundur."

Nadinta tersenyum lembut, merapikan kerah kemeja Arga. "Sama-sama, Mas. Aku cuma mau Mas dapat yang pantas Mas dapatkan. Mobil itu... cocok banget sama image Mas yang sekarang. Kelihatan 'mahal'."

"Kita harus rayain ini," kata Arga semangat. "Makan enak yuk? Bistecca? Atau Union? Sekalian cari suasana baru."

Mereka masuk kembali ke dalam Honda City tua Arga. Begitu mesin menyala dengan suara grereng yang kasar, Arga memukul setir pelan. "Sabar ya, rongsokan. Bentar lagi tugas kamu selesai. Majikanmu udah naik kelas."

Saat mobil mulai melaju membelah kemacetan Senopati yang padat merayap, Nadinta mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, sedang membuka pesan yang dikirimkan oleh Maya beberapa saat lalu.

"Oh ya, Mas," panggil Nadinta tiba-tiba, nadanya terdengar kaget yang natural. "Tadi Maya chat aku, katanya dia udah balik ke Jakarta."

Arga menoleh sekilas, tertarik. "Oh ya? Dia sudah balik ke Jakarta? Katanya masih lama di Surabaya?"

"Kayaknya udah. Ini dia check-in lokasi di Bandara Soekarno-Hatta satu jam yang lalu," kata Nadinta, menunjukkan layar ponselnya. "Terus, statusnya galau gitu, Mas. Katanya, 'Back in town but feeling lonely. Butuh asupan daging enak dan teman ngobrol.' Kasihan ya, baru balik langsung kesepian."

Nadinta menatap Arga dengan tatapan polos yang manipulatif.

"Gimana kalau kita ajak Maya sekalian, Mas? Itung-itung syukuran mobil baru Mas Arga. Maya kan sahabat kita, dia pasti seneng banget dengar kabar sukses Mas. Sekalian Mas bisa pamer dikit ke dia, biar dia tahu Mas Arga sekarang udah sukses. Hehe."

Wajah Arga cerah seketika. Ide itu sangat menggoda. Pamer ke Nadinta sudah, tapi pamer ke Maya—wanita yang dia sembunyikan—adalah level kepuasan yang berbeda.

"Boleh banget! Kamu emang pengertian, Din. Tahu aja aku lagi pengen rame-rame," seru Arga. "Yaudah, kamu yang chat dia ya? Suruh nyusul ke Union Plaza Senayan. Bilang kita traktir."

"Oke, Mas. Aku hubungi dia sekarang."

Satu jam kemudian.

Suasana di Union Plaza Senayan sangat hidup. Restoran itu dipenuhi oleh eksekutif muda dan sosialita yang memamerkan gaya hidup mereka.

Nadinta dan Arga mendapatkan meja di sudut yang cukup strategis. Arga sudah memesan minuman, dan sekarang dia sibuk mengatur letak map brosur Pajero di atas meja. Dia menggeser vas bunga, memindahkan tempat tisu, memastikan brosur itu terlihat "tidak sengaja" ada di sana namun sangat mencolok mata.

Nadinta duduk tenang, menyesap Ice Lychee Tea-nya. Namun, di balik ketenangannya, jantungnya mulai berdegup kencang.

Dari pintu masuk restoran, sosok itu muncul.

Maya.

Wanita itu mengenakan dress sabrina bermotif bunga yang manis namun memamerkan bahu mulusnya. Rambut panjangnya digerai indah. Dia berjalan dengan senyum lebar, menebar pesona ke beberapa meja yang dia lewati.

Namun, bagi Nadinta, pemandangan itu memicu alarm bahaya di kepalanya.

Waktu seolah melambat. Suara bising restoran meredup, digantikan oleh suara detak jantung Nadinta sendiri. Dug. Dug. Dug.

Bayangan Maya yang sedang berjalan mendekat dengan senyum lebar itu tumpang tindih, bergeser, dan berubah menjadi ingatan mengerikan dari masa depan.

Dunia berubah menjadi tangga darurat yang dingin.

Nadinta melihat Maya berdiri di atas anak tangga, menatapnya ke bawah. Bukan dengan senyum manis, tapi dengan tatapan dingin dan kejam.

Dia melihat tangan Maya yang lentik itu—tangan yang sama yang kini melambai ceria pada pelayan—sedang melepaskan jari-jari Arga yang memegangi pergelangan tangan Nadinta yang tergantung di udara.

Dia mendengar suara Maya di kepalanya: "Selamat tinggal, Nadinta."

Lalu sensasi jatuh itu datang lagi. Rasa melayang. Angin yang menderu. Dan akhirnya, rasa sakit yang meledak saat tulang-tulangnya remuk menghantam lantai beton.

Di masa kini, di bawah meja restoran yang mewah, tangan Nadinta mencengkeram serbet kain begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Napasnya tercekat, matanya membelalak menatap hantu masa lalunya.

Ada dorongan purba yang sangat kuat untuk berdiri, mengambil pisau steak di meja, dan menancapkannya tepat di dada wanita itu sekarang juga.

"Hai, kalian!"

Suara Maya yang ceria dan cempreng memecahkan lamunan mengerikan itu.

Nadinta berkedip cepat, memaksa paru-parunya menghirup udara. Realita kembali. Dia bukan di tangga darurat. Dia di restoran mahal. Dan dia masih hidup.

"Hai, May!" sapa Arga antusias, setengah berdiri untuk menyambut.

Maya menghampiri mereka, aroma parfum vanilla-nya langsung tercium. Dia memeluk Arga sekilas, lalu beralih memeluk Nadinta dengan hangat.

"Nadin! Kangen banget ih!" seru Maya, memeluk tubuh kaku Nadinta erat-erat. "Lama banget kita nggak ketemu. Kamu apa kabar, Beb? Kok kurusan? Pasti kerja rodi ya?"

Nadinta merasakan kulitnya merinding disentuh oleh pembunuhnya. Dia menahan napas, menekan rasa jijik yang meluap-luap, lalu membalas pelukan itu dengan kaku namun sopan.

"Baik, May. Kamu juga kelihatan fresh banget," jawab Nadinta, melepaskan pelukan secepat mungkin.

Maya duduk di hadapan mereka, meletakkan tasnya. "Iya nih, baru sampai banget dari Labuan Bajo. Capek banget abis jalan-jalan. Tapi seneng sih bisa balik ke Jakarta, kangen macetnya."

Maya tertawa renyah. Matanya kemudian tertuju pada map di meja yang sengaja ditaruh Arga.

"Eh, apa nih? Kok ada logo Mitsubishi?" tanya Maya penasaran.

Arga tersenyum lebar, momen yang dia tunggu-tunggu. Dia menyodorkan map itu ke hadapan Maya.

"Buka deh, May. Kejutan."

Maya membukanya. Matanya membelalak lebar saat melihat brosur glossy Pajero Sport Dakar Ultimate dan lembar bukti pembayaran DP 150 juta.

"Demi apa?! Arga, kamu beli Pajero?!" pekik Maya, menutup mulutnya dengan tangan, ekspresinya benar-benar kaget dan kagum. "Seriusan? Gila! Keren banget! Ini kan mobil impian cowok-cowok sukses!"

"Serius dong. Lusa unitnya dikirim ke kantor," jawab Arga, membusungkan dada, menikmati setiap detik kekaguman Maya.

"Wah, selamat ya! Aku nggak nyangka lho. Diam-diam sudah jadi sultan saja teman aku ini," puji Maya terdengar tulus.

Dia menoleh ke Nadinta. "Din, kamu beruntung banget punya calon suami kayak Arga. Sudah ganteng, mapan lagi. Duh, jadi pengen punya pacar kayak gini."

Maya bercanda, tapi matanya menatap Arga dengan kilatan ketertarikan yang baru. Kilatan kalkulatif.

"Iya dong, May. Arga gitu lho," sahut Nadinta, ikut memuji, memainkan perannya sebagai tunangan yang suportif. "Dia kerja keras banget buat ini. Lembur terus demi masa depan."

Nadinta kemudian memajukan tubuhnya, menatap Arga dan Maya bergantian. Dia melihat celah untuk mendorong Arga lebih jauh ke dalam jurang pengeluaran.

"Mas," panggil Nadinta. "Sayang banget lho kalau mobil segede dan semewah itu cuma dipakai macet-macetan di Sudirman doang. Mesinnya nanti nangis."

"Maksudnya?" tanya Arga bingung.

"Mobil diesel baru itu harus di-test drive jarak jauh, Mas. Biar mesinnya panas, biar inreyen-nya bagus. Sekalian kita ngerasain suspensinya di jalan tol," usul Nadinta.

Nadinta menatap Maya, lalu tersenyum mengundang.

"Gimana kalau weekend ini kita tes jalan ke Bandung? Kita roadtrip bertiga. Sekalian Maya refreshing kan baru balik dari luar kota? Kasihan dia stres urus warisan."

Mata Maya berbinar seketika. "Hah? Ke Bandung? Naik Pajero baru?"

"Iya! Seru kan?" kompor Nadinta.

"Mau banget!" seru Maya antusias. Dia memegang lengan Arga tanpa ragu. "Ga, ayo dong! Please... aku suntuk banget di kosan sendirian. Aku pengen jalan-jalan, foto-foto, makan enak. Kita ke kafe Dago yang lagi viral itu yuk? Teman-teman aku pada ke sana semua."

Arga tampak ragu sejenak. Dia memikirkan biaya bensin dan tol. Tapi melihat dua wanita di hadapannya menatap dengan penuh harap—terutama Maya yang menatapnya dengan kekaguman seolah Arga adalah pahlawannya—egonya langsung mengambil alih logika.

Dia tidak bisa terlihat pelit atau miskin sekarang. Dia baru saja beli mobil setengah miliar.

"Boleh juga," kata Arga dengan gaya sok santai. "Sekalian jajal tenaga mesinnya di Cipularang. Katanya sih handling-nya stabil banget."

"Yesss!" Maya bertepuk tangan girang seperti anak kecil. "Tapi aku numpang ya? Malas bawa mobil sendiri, capek nyetir."

"Ya memang kita pergi satu mobil, May. Biar ramai. Aku juga mau duduk di belakang, mau ngerasain jadi penumpang," kata Nadinta sambil tersenyum.

"Oke, deal! Sabtu pagi kita berangkat! Aku jemput kalian," putus Arga semangat.

"Arga yang bayarin bensin sama makannya ya? Kan syukuran mobil baru. Masa kita yang bayar?" canda Maya sambil mengedipkan mata genit.

Arga tertawa, menutupi rasa getir di hatinya. "Beres. Tenang aja. Aman."

Nadinta kembali bersandar di kursinya, menyesap minumannya yang sudah mulai cair. Dia melihat Maya dan Arga yang mulai asyik membahas rencana perjalanan, saling bertukar rekomendasi tempat, dan tertawa bersama.

Skenario telah tertulis.

Nadinta tidak akan menghindar. Dia akan ikut duduk di mobil itu. Dia akan menjadi saksi mata langsung bagaimana Maya menggerogoti Arga, dan bagaimana Arga menghancurkan dirinya sendiri demi gengsi di depan "sahabat" palsunya ini.

Perjalanan ke Bandung nanti bukan sekadar liburan. Itu adalah awal dari kejatuhan Arga. Dan Nadinta akan duduk di barisan paling depan untuk menikmatinya.

1
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
Wida_Ast Jcy
Waduh... bakalan miskin gak tu. atau betul-betul sudah jatuh miskin thor
chemistrynana
Iyah gimana sih mas, bukannya tau diri kamu/Facepalm//Facepalm/
chemistrynana
WHAT THE??? gak modal bet dah🤣🤣
PrettyDuck
udah dikasih hidup kedua, jangan dibuang gitu aja. bales semua sakit yg pernah mereka kasih dinnn.
PrettyDuck
gampang banget dijebaknyaa.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
PrettyDuck
lau sendiri apa rud kalo bukan predator?
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/
MARDONI
KARINA 😭🤍 Sikap sopannya itu kuat banget. Aku ikut ngerasa sedih tapi kagum sama ketenangannya.
MARDONI
NAH INI 😭📅 Karina tipikal rekan kerja sigap.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!