Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Akhirnya pernikahan berlangsung!
Hallo teman-teman!Have a nice day ahahahahha
HAPPY READING!!
Pagi hari mansion disibukkan oleh orang-orang yang sudah mondar-mandir kesana kemari. Aluna yang tak bisa tidur nampak dari pupil matanya yang sedikit merah, ia menguap kecil tak sengaja bertabrakan dengan bapak-bapak yang sedang membawa karangan bunga.
"Loh Mbak, jangan di tengah jalan!" seru si bapak-bapak, Aluna angguk kepala dia segera meminggirkan badan mendesah berat, dia berjalan ke area ruang makan yang juga dihias dengan berbagai dekorasi, dipasang patung angsa yang sayapnya dikibarkan di tengah mansion, Aluna meneguk ludah.
'Apa memang nikah harus semeriah ini?' pikirnya mengedip pelan.
Aluna kembali ke kamar, dia dikagetkan oleh dua orang yang akan menata dirinya. "Nyonya Anda kemana saja?"
"Iya jangan sembarangan keluyuran gitu bisa tidak?" ucap mereka terdengar protes.
Aluna angguk kepala, dia menghampiri kotak perhiasan di atas meja rias. Tangannya membuka perlahan, penata rias di sampingnya berkata.
"Itu bukan punya Anda Nyonya, ucap Tuan Arkan perhiasannya pinjam saja daripada beli, ya kan?" kata si penata busana bertanya pada temannya yang langsung diangguki.
Aluna tak tertarik sama sekali, dalam hati ia mencibir.
'Disaat pria itu membelikan perhiasaan mahal dan mewah untuk Clarissa, untukku saja yang hanya seorang budak memakai perhiasan pinjaman... haha aku tak akan kaget lagi.'
Aluna ditarik untuk duduk, tangan para penata rias yang mendorongnya lekas duduk tidak dengan pelan-pelan, pantat Aluna sedikit sakit saat berhantaman dengan kursi rias.
"Jangan bergerak ya Nyonya... nanti make-up kami hancur karena kalau kamu banyak gerak."
Temannya juga setuju, sang teman mengeluarkan air dingin dan lap wajah. Mengusap wajah Aluna dengan sangat kasar, tak bermanusiawi.
"Akh—" Aluna geram, dia menatap penata rias yang bukannya mempercantik dirinya di awal pernikahan malah akan memperburuk kulit wajahnya.
Penata rias itu berdecak, tak merasa bersalah sama sekali.
"Ck, sudah saya bilang kan? Jangan bergerak! Masih aja! Cepet tahan dia," kata si teman, temannya angguk kepala perempuan itu menahan kepala Aluna untuk menatap cermin.
Aluna terkejut saat kepalanya dibuat menoleh paksa.
'Apa-apaan ini... ini yang kau berikan padaku Arkan?'
2 jam kemudian proses mempercantik wajah Aluna telah selesai, wanita itu disuruh membuka mata. Aluna terkejut dengan hasilnya, walau prosesnya tadi sedikit kasar ia memuji keahlian mereka yang ahli membuatnya cantik.
Aluna yang nampak lesu langsung membelalak tak percaya, dia melihat dirinya sendiri yang dicibir oleh dua penata rias tersebut.
"Lihatlah dia merasa cantik sekarang, malah terlihat narsis."
"Iya... lagian memang karena kita kan? Kalau aja ga ada kita pasti wajah Nyonya jadi jelek seperti semula."
Aluna mengepal tangan erat, dia memejamkan mata mencoba tetap sabar. Matanya kembali menyipit, 'Apa aku tidak cantik? Apa karena make-up ini aku ga boleh bahagia melihat diriku sendiri? Lalu apa guna—'
Saat Aluna melamun, ujung matanya melihat Arkan dengan pakaian tuxedo yang tidak terlalu rapi—gaya rambutnya biasa-biasa saja, pria itu menghampiri Aluna membuat dua penata rias yang satunya bencong yang satunya perempuan asli itu tersipu malu dengan kedatangannya.
"Eh Tuan Arkan..."
"Istri saya sudah kalian dandani?"
Mereka berdua angguk kepala semangat, "Tentu saja Tuan, lihat Nyonya lebih cantik dari biasanya kan..." ucap si bencong, membalikkan badan Aluna paksa ke belakang.
Aluna tak mau menatap wajah pria itu, ia tak ingin dilihat cantik hanya karena keahlian make-up para penata rias.
Bencong tersenyum-senyum riang, berbeda dengan Arkan yang merubah ekspresinya dari kesal jadi bahagia. "Oh iya kalian hebat, cantik juga istriku... kalian bisa pergi, tinggalkan kami berdua di sini?"
Kedua penata rias itu saling memandang, mereka seketika manyun karena tidak bisa memandang ketampanan Arkana Seo Dirgantara lagi.
Setelah keduanya pergi, Aluna kembali menatap cermin dia memejamkan mata pelan.
Arkan mendekat, "Mana senyummu Aluna? Cepat!"
Aluna pasrah, dia memajukan wajah dan memperlihatkan senyum manisnya di depan pria itu.
Ia menatap perawakan pria itu dari atas sampai bawah, "Mas? Serius kenapa pakai itu? Kayak ga niat aja, kita mau nikah lho—seenggaknya pakai yang bagus..."
Arkan terkekeh, dia bersedekap dada memiringkan kepala. "Untuk apa saya harus berdandan tampan di depanmu? Lagian saya juga udah ganteng, tanpa semua ini..."
Aluna merasa tersakiti setelah mendengarnya, apa ia yang pihak perempuan lah yang harus capek-capek latihan berjalan di atas sepatu hak tinggi dan di make-up dengan kasar oleh dua penata rias lain? Sedangkan di sini Arkan seolah hanya memakai baju biasa saja, tak ada effort lain.
Aluna menggenggam tangan erat, suara pikiran hatinya menggema di dalam otak.
'Aku lelah...'
'Ah... aku ingin semua ini selesai...'
'Aku ingin cepat pulang,'
Padahal acara masih belum dimulai, tapi ia sudah banyak mengeluh di sini.
...****************...
Di dalam mobil khusus pengantin yang ada karangan bunga mawar dipasang didepan kap mobil, lagu Tulus—Teman Hidup diputar agar mobil tidak sunyi, 4 menit kemudian diputar lagu milik Raisa—Kali Kedua.
Lagu-lagu yang seharusnya untuk pasangan nyata, bukan untuk mereka berdua yang saling menjauh, dengan Aluna yang menepuk-nepukkan kaki ke lantai mobil.
Saat keduanya tiba di lokasi, karpet merah panjang dikobarkan setelah kendaraan mereka sampai, di sepanjang sisi karpet dijaga ketat oleh pengawal berjas hitam, yang menghalangi para wartawan akan menerobos masuk untuk mengambil foto atau segala macam demi kebutuhan berita.
Aluna turun, ia sudah tidak lagi jatuh. Ia bangga dengan dirinya sendiri akan hal itu. Arkan segera berlari, menggenggam tangan Aluna cepat.
"Tunggu saya," katanya pelan, Aluna mengangguk kecil.
Mereka berdua berjalan degan ritme pelan, alunan lagu terdengar dari para pemain biola agar kericuhan para wartawan dan segala jenis pemotretan dari kamera wartawan tak terdengar.
Aluna memejamkan mata, ia dengan gaun putih yang sangat menyesakkan dadanya ia coba tahan kuat-kuat, setelah ini selesai! Ia yakin itu.
Aluna sedikit menoleh saat melihat keberadaan seseorang yang jelas ia kenal, pria dengan kemeja putih, celana hitam berdiri di ambang karpet merah menepuk tangan—tapi jelas dia tak bahagia melihat Aluna menikah.
Aluna mengedip pelan, 'Reno? Siapa yang undang?' batinnya, ia berpikir satu nama apakah mungkin Arkan yang mengundangnya?
Aluna memasukkan dinding bibir ke dalam, menahan diri sekuat tenaga itu sungguh tak mudah.
...****************...
"Saya Arkana Seo Dirgantara, berjanji akan setia dan selalu menemani Aluna Inatura Kaleo sampai akhir hayat, tak ada yang memisahkan kita berdua sampai ajal tiba." ucap Arkan sangat yakin, dadanya membungsung ke depan.
Kitab suci dihadapkan di depan kepala mereka berdua.
Pendeta angguk kepala, "Apakah Anda setuju dari pihak pengantin perempuan?" tanya sang pendeta.
Aluna menatap mata Arkan pelan, dia angguk kepala. "Ya, saya setuju."
Tepuk tangan meriah dan tawa bahagia beberapa orang yang mengakui keberadaan mereka berdua meriahkan suasana. Aluna menatap nanar saat sebuah cincin emas dipasangkan ke jemari manisnya.
Ia ikut memasang juga, kini mereka berdua menjalankan sesi foto singkat di hadapan kamera, Arkan dibuat sebahagia mungkin—sedangkan Aluna hanya senyum kecut.
"Kini kedua pasangan diperbolehkan saling berciuman." ucap pak pendeta, penghulu yang paling semangat sendiri kalau sudah berada di adegan seperti ini.
Aluna meneguk ludah, sudah berapa kali dia dicium? Setiap ciuman yang Arkan berikan selalu kasar, Aluna tak yakin kalau pria itu bisa menciumnya dengan lembut.
Arkan mendekatkan bibirnya, mengecup cepat. Aluna mengedip mata, apakah secepat itu?
Kakek Seo mengibarkan saputangannya ke atas,
"LETS GO ARKAN!! Hiks—cucuku memang yang terbaik, mereka sudah sah lho! Rosa! Lihat ponakanmu! Sinta lihat sepupumu!!"
Mereka berdua di belakang Kakek Seo saling memandang, tatapan yang mereka berikan sama persis. "Dih najis."
Resepsi dimulai, Clarissa membanggakan diri di depan Aluna yang saat itu duduk bersama Arkan. Wanita itu memperlihatkan seluruh perhiasan dari gelang sampai kalung. "Lihat ini kau tau dari siapa?"
Arkan mendelik, dia mengingatkan wanita itu untuk tidak berulah tapi Clarissa wanita pintar itu berbisik.
"Apa istri palsu juga diberikan perhiasan yang sama? Auh ku lihat perhiasan yang kamu pakai ini bukan dari brand terkenal? Ups... sorry..."
Aluna mengepal tangan erat, dia menarik dadanya kembali agar tak terlihat menahan amarah.
Clarissa memeluk Aluna, "Selamat ya? Istri palsu... budaknya Arkan pasti seneng banget tuh, jangan lupa gonggongannya ya? Kan kamu hanya anjing peliharaan... haha" bisiknya lalu pergi menuruni tangga.
Aluna melihat kembali ke Arkan, seolah dia minta bantuan kepada pria itu agar membelanya tadi. Tapi seakan Arkan yang buta malah berbincang dengan orang lain, Aluna merasa sesak sendiri dadanya, ia sungguh tak kuat.
"Mas." Aluna berdiri, Arkan menaikkan sebelah alis melihat wanita itu memanggilnya.
"Kenapa?"
"Mas aku izin ke toilet sebentar, boleh gak?"
Arkan angguk kepala, tak memedulikan ia akan ditemani siapa. Aluna juga tak berharap dia dikawal, dia lebih memilih sendiri karena mungkin di luar sana ia bisa menghirup udara segar.
Di koridor sangat sepi, Aluna menghela nafas saat tak ada orang yang mengikutinya, ia tak sadar bahwa ada orang di depannya yang sengaja diam dan membuat wanita itu menabrak dada bidangnya.
Aluna akan jatuh namun untungnya tangan pria itu menangkap pinggangnya, "Kamu ga apa Luna?"
Deg—
Aluna langsung berdiri, kenapa bisa ada Reno di sini?
Ia geleng kepala cepat, akan meninggalkan pria itu tapi Reno sudah menangkap tangannya.
"Luna... tolong dengarkan aku sebentar, aku... aku mau ngajak kamu kabur aja sepertinya kamu tersiksa di sini... juga dengan gaunmu itu, aku tau itu kekecilan atau apa..."
Aluna terbungkam, bagaimana bisa Reno tau hal itu? Padahal Aluna di setiap detiknya mencoba memasang wajah bahagia agar tak terlihat ia tersiksa di dalam gaun putih yang ia pakai.
Aluna menepis tangan pria itu, "Jangan Ren,"
"Kenapa Luna?! Aku juga baru tau kalau kamu dijual sama ayahmu, ayahmu jahat banget ya Luna..."
Mendengar ayahnya dihina, Aluna tak terima.
"Ren, dia ayahku kamu ga berhak komentar."
"Tap—tapi Luna, kalau aja ayahmu ga berhutang sampai bermiliaran pasti kamu ga menderita seperti ini..."
Mendengar perkataan Reno seketika Aluna terdiam, ah benar juga... kalau saja ayahnya tidak berhutang hanya demi kepuasannya pasti ia tak akan tersiksa.
"Ayo Luna, kita buat KTP palsu lalu kita diam-diam kabur dari negara ini agar suamimu ga tau..."
Aluna terbungkam, tangannya terangkat akan mengikuti entah karena pikirannya memikirkan kebebasan atau ia tak berpikir dahulu bahwa itu resiko yang sangat besar untuk dia jalani.
Tangan Aluna ditarik kencang dari belakang, Aluna terkejut ia hampir saja jatuh karena high heels-nya tak seimbang.
"Apa yang kau lakukan pada istriku."
"Istrimu? Itu yang kau sebut istri Tuan Arkan? Dia tersiksa! Lihat wajahnya!" seru Reno menunjuk,
Aluna segera menutup wajahnya dengan tangan tak mau dilihat. Tapi Arkan masa bodoh, dia menarik Aluna ke belakang punggungnya.
"Pelacur ini di hari pernikahannya masa harus selingkuh sama yang lain?"
"Pelacur?!" Reno terkejut mendengar hal itu dari bibir Arkan, Aluna menggigit bibir sudah merasa terbiasa. Reno terperangah, "Tuan Arkan jangan berpikir macam-macam kepada Aluna dan aku."
"Lalu? Mau sok jadi pahlawan kesiangan? Kami sudah sah sekarang lihat..." ucap Arkan memamerkan cincin di kedua jari mereka bahkan tangan Aluna dipaksa ke atas agar dengan jelas Reno bisa melihatnya.
Reno berdecak, "Tidak... kau membelinya dan pernikahan ini hanya pernikahan kontrak... ya kan?"
Arkan mengusap dagu, dia memajukan badan Aluna di depan Reno yang jelas keduanya kaget. "Aluna katakan pada teman kuliahmu apakah kau itu dijual dan saya beli?"
Aluna terdiam, matanya membengkak rasanya. Ia geleng kepala, "Ren... kami... kami saling cinta... karena kita ga lama ketemu makanya kamu ga tau kalau aku sangat sayang dengan Mas Arkan..."
Reno geleng kepala sempat tak percaya, tapi saat tangan Reno akan menarik Aluna, ia sudah didahului oleh Arkan yang memeluknya erat, mengecup leher Aluna keras sampai berbentuk cupang/kiss mark.
Aluna merintih, ia memegang lehernya. "Bagus Sayang... kau hanya milikku..." ucap Arkan sudah gila.
...****************...
Kakek Seo memberikan pidato sangat panjang dan mengharukan, tapi bagi orang yang iri malah menggosipi dari belakang.
"Ck Kakek ini ada-ada saja jangan-jangan pidatonya buat sendiri?"
"Ya mestilah, orang dari bicaranya saja pasti tulisan Kakek sendiri..."
"Duh Kakek sampai jam berapa sih..." kata mereka bahkan tamu undangan lain sampai resah karena Kakek Seo tak berhenti-henti juga.
Setelah pidato selesai semua orang bertepuk tangan, memang kuasa sang kepala besar tidak ada tandingannya.
Aluna juga ikut menangis bahagia, karena dari tadi Arkan terus mencubitnya.
Clarissa yang melihat ada bekas cupang di leher Aluna akan menanyakan perihal tersebut pada Arkan, tapi pasutri itu sudah masuk ke mobil duluan.
Clarissa langsung menghentakkan kaki keras, "Anjing!!! Anjing!!! Kau PHP Arkan!!" seru wanita itu, dia meremas tisu di genggaman tangannya.
Sesampainya mereka di mansion, keduanya disuruh sang kakek untuk ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.
Aluna dan Arkan saling memalingkan pandangan dengan bentuk ranjang yang terlihat ambigu untuk pasangan pura-pura ini.
Aluna tersentak oleh setumpuk kado di sebelah meja, ia mengelus pinggangnya, akhirnya ia bisa melepas sepatu terkutuk tersebut. Dia berdiri di depan cermin akan melepaskan resleting di belakang pundaknya.
'Kok susah banget sih...'
"Ck, bisa gak sih?" kata Arkan, dia mendekat menggelung lengan kemeja tuxedonya lalu pelan-pelan melepaskan resleting belakang gaun Aluna yang membuat wanita itu sedikit tersipu.
Bersambung...
AAAAAAAAA