NovelToon NovelToon
My Magic Room

My Magic Room

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irish_kookie

Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan dan Pembuka Gerbang

Bau alkohol sudah lebih dulu menyambut Jemima Shadow bahkan sebelum dia membuka pintu rumah.

Bau itu sudah terlalu lama dia kenal. Bau yang menempel di dinding, di sofa lapuk di ruang tamu, dan di seluruh ruangan rumah kecilnya.

Seorang lelaki di hadapannya berdiri dengan susah payah ketika dia masuk ke dalam rumah itu.

Harum alkohol segera menyeruak dari napas pria tua yang seharusnya dia panggil ayah itu.

"Lambat sekali kau ini! Anak malas!" Leon Shadow menyeret kedua kakinya untuk masuk dan tiba-tiba saja, dia tergeletak setengah duduk di kursi kayu, satu botol kosong berguling di lantai, satu lagi masih digenggam dengan malas.

Jemima segera menopang tubuh pria itu dengan susah payah. “Ayah selalu seperti ini!"

"Kapan Ayah bisa sadar dan berubah? Aku lelah setiap kali Ayah pulang dengan kondisi seperti ini!" kata Jemima lagi.

Leon mendengus, membuka mata setengah, menatapnya tanpa benar-benar melihat. “Huh! Tugasmu hanya mencari uang untukku, Anak Sial!"

Setelah itu, Leon mengulurkan tangan dekilnya ke arah Jemima. "Setoran untukku! Mana?"

Jemima menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Aku baru dibayar besok. Tidurlah, Ayah! Biar aku yang merapikan piring bekas makan seharian ini."

"Aarrggghhh!" Leon menyambar piring dan melemparkannya ke arah putrinya. "Omong kosong! Anak durhaka kau ini, Jemima! Anak sialan!"

Tangan Jemi otomatis terangkat untuk melindungi wajahnya.

Namun, belum sempat Jemi membuka mulut, tangan kekar ayahnya mendarat tepat di wajahnya dan membuat tubuh mungil Jemima tersungkur.

"Apa yang kau pelajari selama hidupmu, huh! Tidak bisakah kau membalas budi? Anak tak tau diri! Tak tau diuntung! Anak sialan! Ibumu saja sampai kabur karena tak sudi mengurusmu!" Leon terus menghujat dan tanpa henti menghujani tubuh putrinya dengan pukulan bertubi-tubi.

Jemima hanya meringkuk di lantai. Air matanya mengalir sunyi tanpa suara.

Setelah merasa lelah, Leon meludahi lantai persis di sebelah tubuh Jemima. "Besok siapkan uang, aku tidak mau tau!"

Merasa situasi sudah aman, Jemima perlahan bangkit dari posisi meringkuknya. Dia mengusap air matanya dan meringis kesakitan saat mencoba berjalan.

"Ouch," katanya sambil terus bergerak menuju kamar.

Saat Jemima tiba di kamar, dia melihat pantulan dirinya di depan cermin. Wajahnya aman, tetapi sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar dan lebam.

"Kuatlah, tubuhku! Tapi, kalau kau tak sanggup, kau boleh menyerah," kata Jemima pada dirinya sendiri yang berada di dalam cermin.

Keesokan harinya, Jemima sudah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan makanan bagi ayahnya.

Dia mengintip ke kamar Leon dan melihat kamar itu kosong. Jemima menghela napas panjang dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Setelah makanan dihidangkan di atas meja, Jemima pun pergi bekerja.

Jemima Shadow, gadis berusia 25 tahun. Dia seorang gadis pekerja keras yang tinggal bersama dengan ayahnya, Leon Shadow.

Saat ini, dia bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran terkenal.

Gaji yang dia terima memang cukup besar, tetapi karena Leon seorang pemabuk, penjudi, dan pemain wanita, Jemima menyimpan uangnya tanpa sepengetahuan Leon.

"Kau dipukuli lagi?" tanya seorang teman Jemima saat garis itu sampai di tempat kerjanya.

Jemima hanya menyeringai. "Kalau aku tidak dipukuli, itu baru aneh dan bisakah kau tidak melihatku seperti itu, Ash?"

Teman wanitanya itu menggelengkan kepalanya. "Kau seharusnya melawan, Jem. Kau tidak boleh diam saja! Gemas sekali melihatmu hanya diam dipukuli seperti itu! Aku rasa, dia bukan ayahmu, tapi iblis yang menyamar jadi ayahmu!"

"Hahaha! Aku rasa juga seperti itu. Tapi, mungkin ada saatnya nanti aku akan melawan," kata Jemi sambil menolehkan wajah Ashley ke arah lain. "Perhatikan saja tamu-tamu itu, adakah yang mengangkat tangan?"

Ashley berdecih kesal dan melemparkan kain lap untuk mengelap botol ke arah Jemima. "Cih! Kau hanya berani kepadaku, Jem! Aku benci sekali padamu!"

Hanya di tempat kerja saja, Jemima misa bernapas lega dan tertawa selayaknya seorang gadis normal.

Tetapi, ketika dia berada di rumah, dia hanya menjadi pelampiasan emosi ayahnya.

Sampai suatu ketika, takdir memaksanya untuk bisa lebih berani.

Seorang pria berpakaian rapi datang ke gubuk kecilnya. "Selamat sore, apa saya bisa bertemu dengan Nona Jemima Shadow?"

Saat itu, Jemima yang membukakan pintu dan gadis itu mengangguk. "Ya, saya Jemima Shadow. Tapi, maaf, Anda siapa?"

"Perkenalkan, saya Adrian Lopez. Saya pengacara dari Nyonya Catherine Wood yang tak lain adalah nenek buyut dari Jemima Shadow," kata pria itu sambil memberikan kartu nama pada Jemi.

Jemima mempersilakan pria itu masuk dengan canggung. "Ya, saya Jemima Shadow. Silakan masuk, tapi maaf, rumah kami berantakan. Silakan duduk."

Adrian duduk dengan santai dan tak memperdulikan sampah kaleng atau botol atau bahkan sampah bekas makanan ringan yang berserakan di sofa rumah itu.

"Apa Nona tinggal sendiri?" tanya Adrian lagi.

Jemima menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ada Leon, ayah saya."

Entah bagaimana, pria itu tiba-tiba saja mendengus cukup kencang. "Huh! Si pria tak berguna itu. Apa dia masih hidup?"

Dengan ragu-ragu, Jemima mengangguk. "Y-ya, ayah saya masih hidup walaupun sedikit-, .... Tapi, darimana Anda tau tentang ayah saya?"

Sebelum Adrian sempat menjawab pertanyaan itu, Leon muncul di ruang tamu. Bau alkohol segera saja mengikutinya sampai ke ruang sempit itu.

"Kupikir ada siapa sampai seberisik ini, ternyata kau! Mau apa kau datang ke sini?" tanya Adrian dengan suara sengau mengantuk.

Adrian hanya memandang Leon dengan tatapan muak. Lalu, dia melanjutkan obrolannya dengan Jemima dan menjelaskan tujuannya datang ke sana.

Pria itu sama sekali tidak peduli dengan Leon yang terkadang menyela atau memotong pembicaraan mereka.

"Warisan katamu?" tanya Leon.

Kedua matanya membesar dan wajahnya berubah menjadi lapar dan rakus.

"Ya, Shadow. Putrimu mendapatkan warisan dari nenek buyutnya." Adrian memberikan sebuah kotak berukuran sedang berwarna merah.

Kotak itu ternyata tidak menarik minat Leon, karena dia hanya melirik ke arah kotak itu dan meludah tepat di hadapan Adrian. "Wanita tua pelit itu! Cucunya hanya mendapatkan ini?"

"Apa dia sudah mati sampai harus memberikan barang sampah ini lewat kau, huh!" tanya Leon sambil tertawa mengejek.

Adrian mengeraskan rahangnya. "Dia masih hidup, Shadow! Hanya saja dia malas bertemu denganmu!"

Leon tertawa lagi dan membuka kotak beludru merah itu, lalu mengeluarkan sebuah kalung Opal berwarna ungu cerah dari dalamnya. "Hahaha! Lihatlah, si wanita tua itu benar-benar pelit sekali pada kita, Jemi! Dia hanya memberikanmu kalung mainan yang dijual pun tak laku! Gila!"

Dengan sabar dan tarikan napas panjang, Jemima mengambil kalung itu dan menyimpannya dengan hati-hati. "Tuan Lopez, terima kasih untuk pesannya. Tapi, apa ini benar-benar untuk saya?"

Adrian mengangguk. "Tentu saja. Itu kemauan nenek Anda, Nona."

Jemima mengangguk-angguk. Entah siapa nenek yang dimaksudkan oleh pria itu.

Sepanjang hidupnya, Jemima hanya mengenal Leon sebagai ayahnya. Tidak ada om, Tante, keponakan, sepupu, atau bahkan nenek.

Dia sendiri pun tidak berharap akan menemukan 'keluarga' dalam perjalanan hidupnya.

"Baik, akan saya simpan baik-baik pemberian nenek yang berharga ini," kata Jemima dengan senyum manis.

Berbeda dengan Jemima, Leon hanya berdecih dan meminta Adrian untuk segera pergi. "Sudah selesai, kan urusanmu di sini? Sekarang, pergilah! Kalau bisa, bawa barang dan anak tidak berguna ini! Biarkan wanita tua bangka itu yang mengurusnya!"

Adrian bangkit berdiri dan menundukkan kepala ke arah Jemima. "Sampai bertemu kembali, Nona Shadow."

Jemima pun membalas salam Adrian dengan hormat.

Satu menit setelah kepergian Adrian, Leon menatap putrinya dengan penuh kebencian. "Uangku! Mana uangku?"

"Tidak ada," kata Jemima. "Aku sudah bilang kalau aku belum gajian. Uang yang kemarin aku berikan, apa sudah Ayah habiskan semua?"

Leon menarik rambut Jemima kasar dan mengguncangkan kepala putrinya itu. "Anak Bodoh! Uang yang kau berikan itu hanya sedikit dan aku harus berhutang karena uangku kurang!"

"Sekarang aku harus membayar hutangku! Kalau kau tidak memberiku uang, akan kubunuh kau malam ini!" Leon semakin kencang mengguncang kepala Jemima.

Jemima memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan. "Bunuh saja aku, Ayah! Aku juga sudah lelah hidup seperti ini!"

Leon tertawa dan melemparkan tubuh kurus Jemima begitu saja.

"Eerggh!" Jemima mengerang kesakitan saat tubuhnya bertumbukan dengan lantai kasar dan dingin.

Belum sempat Jemima menghela napas, Leon berjongkok di sebelahnya, dan kembali menjenggut rambutnya. "Cari uang itu sekarang atau kau akan benar-benar mati malam ini!"

Setelah itu, Leon pergi dengan membanting pintu. Jemima bangkit perlahan dan mengusap kepalanya yang pedih.

Dia berjalan terseok-seok menuju kamar sambil terus merintih kesakitan.

Jemima menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Kenapa aku terus bertahan? Lelah sekali rasanya, bolehkah malam ini aku menyerah?"

Selagi Jemima meratapi nasibnya, kotak kalung warisan itu tiba-tiba terbuka.

Jemima mengeluarkan kalung itu dan memakainya di leher. "Cantik sekali kalung ini."

Gadis itu kemudian berbaring di ranjang dengan kalung Opal berwarna ungu cerah yang melingkari leher jenjangnya.

Tiba-tiba saja, dari balik jendela muncul sinar putih yang menyilaukan dan Jemima menutupi mata dengan kedua tangannya.

Tak lama, Jemima merasa ada tangan besar mencengkeram pergelangan kakinya dan menariknya kuat-kuat.

"A-apa ini? Siapa kau? T-tolong!" Jemima terus berteriak dan berpegangan pada ujung ranjang.

Namun, ditengah kepanikannya Jemima berusaha untuk tenang. "Jika ini memang akhir hidupku, maka aku tidak akan melawan lagi.”

Dan tangan itu pun semakin mudah membawanya.

***

1
Andira Rahmawati
hadir thorr..👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!