Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 – Tekanan Terbuka
Hari itu dimulai tanpa satu pun pengumuman resmi, tapi seluruh murid dalam langsung menyadari ada yang berubah.
Udara sekte terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena cuaca, melainkan karena tekanan qi yang sengaja dipadatkan. Setiap tarikan napas terasa sedikit lebih lambat, sedikit lebih menekan, seolah sekte sedang menguji siapa yang masih bisa berpikir jernih di bawah tekanan konstan.
Ren Tao berdiri di barisan Unit Ketujuh. Jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin pagi, wajahnya tenang tanpa emosi berlebihan. Matanya menyapu lapangan latihan yang kini diperluas hampir dua kali lipat. Formasi di tanah diganti sepenuhnya. Jalur aman yang sebelumnya jelas kini menyempit dan berlapis, memaksa setiap unit mengambil keputusan cepat.
Jumlah pengawas bertambah.
Dan di platform tertinggi, Wei Kang berdiri dengan tangan di belakang punggung. Tatapannya tidak menekan secara langsung, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat banyak murid tanpa sadar menegang.
“Ini bukan latihan biasa,” bisik Li Shen pelan. “Tekanannya dinaikkan sejak pagi.”
Ren Tao mengangguk tipis. Ia sudah merasakannya sejak membuka mata. Tekanan seperti ini bukan untuk menguji kekuatan, melainkan ketenangan. Dan itu selalu menjadi medan favoritnya.
Tanpa aba-aba panjang, formasi aktif.
Tanah bergetar ringan. Aliran Qi mulai bergerak. Medan berubah secara bertahap.
Beberapa unit langsung terpencar. Ada yang bergerak terlalu agresif, mencoba mendahului yang lain. Ada pula yang terlalu berhati-hati, langkah mereka justru tersendat dan kehilangan ritme.
Ren Tao mengangkat tangan perlahan.
“Jarak tiga langkah. Jangan memaksa. Ikuti aliran, bukan melawannya.”
Unit Ketujuh bergerak serempak.
Bukan cepat. Tapi rapi.
Namun kali ini, tekanan tidak hanya datang dari medan.
Unit Ketiga bergerak menyamping, sengaja memotong jalur Unit Ketujuh. Gerakan mereka bersih, nyaris sempurna di atas kertas tidak melanggar aturan apa pun. Tapi niatnya jelas mengganggu ritme.
Zhou Min mengertakkan gigi. “Mereka sengaja cari masalah.”
Ren Tao mengamati dengan tenang. “Biarkan.”
Unit Ketiga semakin menekan. Salah satu murid mereka mendorong aliran qi ke samping, cukup untuk membuat jalur Unit Ketujuh menyempit secara tidak alami.
Formasi bergetar.
Dua murid Unit Ketujuh kehilangan keseimbangan dan berlutut.
Kesalahan tercatat.
Beberapa tatapan langsung tertuju pada Ren Tao, menunggu reaksinya.
Namun ia tidak marah. Tidak terburu-buru.
Ia membantu dua murid itu bangkit, lalu mengubah rute.
Bukan menjauh.
Tapi masuk ke area dengan tekanan Qi lebih tinggi.
Pilihan berbahaya. Namun sepenuhnya sah.
Tekanan meningkat drastis. Napas beberapa murid mulai berat. Keringat dingin mengalir di pelipis mereka, tapi Ren Tao menjaga ritme langkah tetap stabil.
“Jangan fokus pada tekanan,” katanya tenang. “Fokus pada napas. Panik lebih mematikan daripada qi.”
Unit Ketiga ragu.
Mereka tidak berani mengikuti.
Dan di situlah kesalahan mereka muncul.
Formasi di bawah kaki Unit Ketiga mulai beresonansi tidak seimbang. Aliran qi saling bertabrakan karena posisi yang salah. Tiga murid mereka kehilangan pijakan dan terhuyung ke luar jalur.
Kesalahan tercatat.
Di aula pengamatan, beberapa tetua saling bertukar pandang.
“Dia tidak melawan secara langsung,” ujar salah satu pelan. “Dia memancing mereka masuk ke tekanan.”
Wei Kang tersenyum tipis.
Bukan senyum ramah. Melainkan senyum orang yang akhirnya melihat lawan yang layak diuji lebih jauh.
Sore hari, pengujian ditutup.
Hasil sementara diumumkan secara terbuka.
Unit Ketujuh tidak naik peringkat. Tidak turun. Tetap stabil.
Terlalu stabil untuk ukuran tekanan hari ini.
Di lorong batu, seorang pengawas menghentikan Ren Tao.
“Besok,” katanya singkat, “akan ada evaluasi individu tambahan. Permintaan langsung.”
Ren Tao tidak bertanya dari siapa.
Ia mengangguk. “Dimengerti.”
Malam itu, Ren Tao duduk bersila di kamarnya. Ia tidak langsung berkultivasi. Ia mengulang seluruh kejadian hari itu di kepalanya arah tekanan, momen perubahan medan, dan waktu ketika tatapan Wei Kang tidak lagi berusaha disembunyikan.
Permainan sudah naik level.
Ren Tao membuka mata, tatapannya dingin tapi jernih.
“Kalau begitu,” gumamnya pelan,
“aku juga berhenti main aman.”
Di luar jendela, lampu qi sekte menyala satu per satu.
Besok bukan lagi latihan.
Itu akan menjadi ujian yang benar-benar ditujukan padanya.
semangat terus ya...