Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Hutan Bayangan dan Para Penyamun Roh
Langkah Jiangzhu terseret di atas dedaunan kering yang tidak lagi berwarna hijau, melainkan kelabu seperti abu mayat. Hutan Bayangan menyambut mereka dengan keheningan yang menyesakkan paru-paru. Di sini, pepohonan tidak tumbuh lurus; mereka melilit satu sama lain seperti tubuh-tubuh yang sedang kesakitan. Bau lembap tanah yang membusuk bercampur dengan aroma tajam getah beracun membuat Awan berkali-kali terbatuk di balik jubah Jiangzhu.
"Berhenti," desis Jiangzhu.
Ia mengangkat tangan kanannya yang masih normal, sementara tangan kirinya yang bersisik hitam disembunyikan di balik sobekan kain. Indra sensoriknya, yang kini tajam karena pengaruh energi Iblis, menangkap getaran halus di antara semak berduri.
"Siapa pun kalian, keluar lah. Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk bermain petak umpet dengan pengecut," suara Jiangzhu parau, mengandung nada ganda yang membuat burung-burung gagak di atas mereka terbang ketakutan.
Yue segera menarik belatinya, berdiri di depan Dewi Ling'er yang masih pucat. "Jiangzhu, di depan... ada sepuluh aura. Tidak, lima belas!"
Dari balik pepohonan yang bungkuk, muncullah belasan sosok manusia. Mereka tidak mengenakan zirah mengkilap seperti Sekte Cahaya Suci, melainkan pakaian kulit yang tambal sulam dan jubah penutup wajah yang dekil. Sebagian besar dari mereka memiliki bekas luka bakar atau tato paksa yang menandakan mereka adalah pelarian dari tambang-tambang energi.
"Tenanglah, Nak. Kami tidak punya niat untuk menjadi santapan pedangmu yang berkarat itu," seorang pria tua dengan satu mata dan jenggot yang kusam melangkah maju. Ia membawa tongkat kayu yang diujungnya terikat sebuah tulang jari manusia.
Pria itu adalah Baron Tua, pemimpin kelompok pemberontak Sumpah Darah.
"Baron?" Yue tersentak, sedikit menurunkan kewaspadaannya. "Kau masih hidup setelah pembersihan di Sektor Tujuh?"
"Aku terlalu keras kepala untuk mati, Yue," Baron Tua terkekeh, suara tawanya kering seperti gesekan dua batu nisan. Matanya yang satu melirik ke arah Jiangzhu, lalu beralih ke arah Dewi Ling'er. "Oho... jadi ini alasan seluruh armada Cahaya Suci membakar Lembah Sunyi semalaman? Kau membawa beban yang sangat berat, Anak Muda."
Jiangzhu tidak menurunkan kewaspadaannya. Ia bisa merasakan Li'er di ruang jiwanya menggeram lapar. "Apa maumu? Kami hanya butuh jalur aman melewati hutan ini."
"Hutan ini milik kami, dan di Benua Barat, jalur aman punya harga," Baron Tua menatap lengan kiri Jiangzhu yang terbungkus kain. "Kau terluka oleh racun inkuisitor, bukan? Dan ibumu... nadinya hampir padam. Jika kau terus berlari tanpa bantuan, kalian hanya akan menjadi tumpukan tulang di rawa berikutnya."
Jiangzhu melangkah maju, membiarkan auranya sedikit bocor. "Katakan harganya, atau minggir."
"Bantu kami menyerang konvoi logistik Sekte Cahaya Suci yang akan lewat di perbatasan hutan sore ini. Mereka membawa Pil Embun Surga yang bisa menstabilkan nadi ibumu. Kami ambil emasnya, kau ambil obatnya. Adil?"
Jiangzhu terdiam sejenak. Ia menatap Awan yang gemetar ketakutan, lalu menatap ibunya. Ia tahu ia sedang dimanfaatkan, tapi di dunia yang busuk ini, kerja sama hanyalah nama lain dari saling memanfaatkan secara jujur.
"Aku butuh senjata dan tempat istirahat untuk mereka berdua selama satu jam," kata Jiangzhu.
"Deal," Baron Tua menyeringai, memperlihatkan giginya yang hanya tersisa beberapa.
Mereka dibawa ke sebuah kamp tersembunyi di bawah akar pohon raksasa. Jiangzhu duduk di sudut, membiarkan Awan membersihkan luka di bahunya dengan kain basah. Setiap sentuhan Awan terasa seperti sengatan listrik kecil yang menenangkan gejolak di lengannya.
"Kakak... apakah mereka orang jahat?" tanya Awan pelan.
"Di tempat ini, Awan, tidak ada orang baik," Jiangzhu menjawab sambil menajamkan bilah pedang hitamnya dengan batu asah yang kasar. "Hanya ada orang yang bertahan hidup dan orang yang sudah mati. Jangan pernah lepaskan peganganmu pada jubah Ibu."
Yue mendekat, wajahnya tanpa topeng kini terlihat sangat letih. "Jiangzhu, Baron Tua itu licik. Dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja setelah urusan selesai. Dia menginginkan kepalamu untuk diberikan kepada Bayangan Senja atau justru menjualmu kembali ke Cahaya Suci jika tawaran mereka lebih tinggi."
"Aku tahu," Jiangzhu berdiri, otot-ototnya yang baru pulih berderak keras. "Tapi biarkan dia berpikir dia memegang kendali. Saat konvoi itu datang, aku akan memastikan dia melihat monster yang sebenarnya."
Bocah, perhatikan pria yang berdiri di sebelah kiri Baron, bisik Penatua Mo. Dia bukan pemberontak biasa. Dia punya bau esensi 'Pencuri Roh' yang sangat kental. Jika kau lengah saat bertarung, dia akan menarik intimu dari belakang.
Jiangzhu melirik sekilas ke arah pria yang dimaksud seorang pemuda pendiam dengan pedang ganda yang tipis. Jiangzhu menyeringai tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai serigala. "Bagus. Aku butuh lebih banyak energi untuk memulihkan lenganku. Jika dia mencoba, dia akan menjadi camilan pertamaku sore ini."
Matahari Benua Barat yang berwarna merah mulai turun, memberikan bayangan panjang yang menyeramkan di Hutan Bayangan. Persiapan penyergapan dimulai. Jiangzhu mengikatkan kain hitam di matanya, bukan untuk membutakan, tapi untuk menajamkan indra energinya.
Lengan kirinya mulai berdenyut lagi, seirama dengan derap langkah kuda-kuda ksatria cahaya yang mulai terdengar dari kejauhan. Perburuan baru dimulai, dan Jiangzhu tidak berencana membiarkan satu pun mangsanya lolos.
Jiangzhu mencengkeram gagang pedangnya yang terbungkus kain kasar, merasakan sisa-sisa karat dan darah kering yang mengganjal di telapak tangannya. Ia meludah ke akar pohon yang membusuk di bawahnya; cairan yang keluar kini lebih mirip jelaga hitam yang kental, meninggalkan rasa pahit logam yang tak kunjung hilang dari pangkal tenggorokannya. Setiap kali ia menarik napas, uap asam hutan ini terasa seperti menguliti bagian dalam paru-parunya, memicu batuk kering yang menyakitkan.
"Kau menatapku seolah aku adalah tumpukan emas yang berjalan, Baron," desis Jiangzhu tanpa menoleh ke arah pria tua di sampingnya. Suaranya rendah, bergetar dengan nada ganda yang menyeramkan suara manusianya yang serak bertarung dengan geraman Li’er yang tak kunjung diam. "Saran dariku; simpan niat busukmu itu untuk nanti. Jika kau mencoba menusukku saat konvoi itu datang, aku akan memastikan ususmu menjadi benda pertama yang menghiasi dahan pohon ini."
Baron Tua hanya terkekeh, meski tangannya yang memegang tongkat tulang sedikit gemetar. Di bawah cahaya remang hutan yang berwarna kemerahan, ia melihat lengan kiri Jiangzhu yang terbungkus kain mulai berdenyut sisik hitam di balik kain itu seolah-olah bernapas, mengeluarkan panas yang membuat udara di sekitar Jiangzhu tampak membias.
Bocah, jangan biarkan rasa lapar itu mengambil alih sepenuhnya, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar seperti gesekan kertas tua yang hampir robek. Esensi 'Pencuri Roh' dari pria di sebelah kiri itu mulai merayap di tanah, mencoba mengendus kelemahan di nadimu. Dia bukan sekutu, dia adalah parasit yang sedang menunggu inangnya melemah.
Jiangzhu memejamkan mata sejenak, merasakan detak jantung Awan yang ketakutan di dalam kamp sebagai satu-satunya jangkar yang menahan kewarasannya. Ia tidak lagi peduli pada pengkhianatan atau loyalitas. Baginya, setiap orang di hutan ini hanyalah bidak catur yang bisa ia patahkan kapan saja. Ia menekan lengan kirinya yang mulai membesar secara abnormal, merasakan kuku-kukunya yang hitam menusuk dagingnya sendiri. Rasa sakit itu justru membuatnya merasa nyata, sebuah pengingat bahwa di balik mutasi mengerikan ini, masih ada sekerat nyawa manusia yang sedang berjuang untuk tetap berdiri.