Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Korup
Tangan Arman terkepal kuat, buku tangannya memutih. Dia sempat membaca tulisan itu sebelum Firda merem4snya. Dadanya diliputi perasaan cemburu. Dia bisa melihat bahwa Arjuna masih sangat mencintai Firda. Namun, Arman sedikit lebih lega ketika melihat Firda malah membuang gumpalan kertas itu ke tempat sampah.
"Mas Juna benar-benar sudah berubah. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu padaku, padahal dia sudah beristri. Dia pikir aku perempuan apaan?" batin Firda, kecewa dan sedih di waktu yang bersamaan.
Firda memang tidak tahu kalau Arjuna sudah bercerai dengan istrinya. Dia sudah lama terisolasi dari dunia luar. Setelah menikah dengan Aris, dia tidak mau tahu apa-apa lagi tentang pria itu—pria yang menjadi kecewa dan patah hati terbesar sepanjang sejarah perjalanan hidupnya.
Terakhir kali kabar yang Firda ketahui, Arjuna datang menemui Firda sebulan sebelum dia menikah dengan Aris. Arjuna berpamitan, katanya sengaja meminta dipindah tugaskan ke tempat yang sangat jauh dari Kota Manggala karena tidak sanggup melihat Firda bahagia bersama pria lain. Setelah itu, mereka tidak pernah lagi berkomunikasi—hingga beberapa waktu lalu, saat Firda tidak sengaja bertabrakan dengan pria itu di depan pintu masuk restoran. Juga pertemuan tak terduga barusan.
Sesampainya di parkiran, Firda meminta mengambil alih Akira dari gendongan Arman. Diam-diam Arman memperhatikan wajah Firda yang nampak murung, tak cerah seperti biasanya.
"Masuklah." Arman membuka pintu jok depan untuk Firda. Wanita itu mendongak menatapnya heran.
"Memang tidak apa-apa, Tuan?" tanyanya, sebab sejak tadi pagi dia dan Akira duduknya di belakang.
"Hem, tidak apa-apa. Kalau kalian tetap duduk di belakang, rasanya aku seperti sopir kalian," jawabnya. Firda tersenyum tipis, lalu masuk dan duduk di depan tepat di samping Arman.
Tak ada percakapan sepanjang jalan pulang. Keduanya sibuk dengan pikiran di kepala masing-masing, sementara Akira terlelap di dalam dekapan ibu susunya dengan posisi tertutup selimut karena tadi saat masuk mobil dia langsung minta susu pada Firda.
Sesekali Arman melirik Firda yang lebih banyak melamun. Ingin memulai pembicaraan tapi bingung mau membahas apa dengan wanita itu.
Beberapa saat kemudian, mobil Arman mulai memasuki pintu gerbang rumah mewahnya. Keningnya berkerut ketika mendapati 1 buah mobil asing terparkir bersama dengan mobil pribadi Pras di halaman depan rumahnya.
"Siapa yang datang, Pak Seno?" tanyanya pada pria paruh itu yang kebetulan membukan pintu mobil untuk Firda dan Akira.
"Kalau tidak salah, tadi den Pras datang bersama dengan seorang pengacara dan satu orang lagi dari PT Sinar Abadi, Tuan."
Arman mengangguk mengerti. Sudah pasti orang-orang itu datang karena ada keperluan dengan Firda.
"Orang dari PT Sinar Abadi? Ada perlu apa datang kemari?" Kening Firda mengernyit heran. Pasalnya, orang itu datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Aku rasa ada hal penting yang ingin mereka bicarakan denganmu. Masuklah dulu, bawa Akira ke kamarnya, setelah itu datanglah ke ruang kerjaku," ucap Arman, dan Firda pun mengangguk mengerti.
Firda segera ke ruang kerja Arman setelah memastikan Akira terlelap di dalam box bayinya. Di sana ada Bi Mina yang menggantikannya menjaga Akira, takut tiba-tiba anak itu terbangun dan menangis.
Firda masuk ke dalam ruangan Arman setelah mengetuk pintu. 2 Dari 4 pria di dalam ruangan itu, yaitu Pengacara Mark dan seorang pria asing yang tampaknya berusia 50-an tahun, berdiri menyambut Firda. Pria ketiga dan keempat tentunya adalah Arman dan Pras hanya mengangguk dari tempat duduknya.
"Selamat siang, Nona Firda. Saya perkenalkan, ini adalah Tuan Rachmat, anggota Dewan Komisaris PT Sinar Abadi," kata Pengacara Mark, menunjuk pria asing itu.
Firda mengangguk sopan. "Selamat siang, Tuan Rachmat. Apa yang bisa saya bantu?"
Tuan Rachmat tersenyum. "Kami datang karena ada urusan penting dengan Anda terkait dengan perusahaan. Beberapa waktu lalu mendiang tuan Kusnandar telah menunjuk saya sebagai pelaksana tugas CEO PT Sinar Abadi. Saya ditugaskan hingga pewaris perusahaan datang, yaitu Anda sendiri, Nona, selaku menantu dari Keluarga Kusnandar."
Tuan Rachmat lantas melanjutkan, "Kami ingin meminta Anda untuk datang ke kantor PT Sinar Abadi secepatnya. Ada beberapa hal yang perlu dibahas terkait dengan perusahaan."
Firda mengangguk. "Apa itu, Tuan?"
Pengacara Mark menambahkan, "Kami telah menemukan bukti bahwa Direktur Keuangan, Tuan Hendra, yaitu adik kandung dari nyonya Risma telah melakukan korupsi. Kami telah melaporkan hal ini ke Polresta Manggala dan mereka sedang menyelidiki kasus ini."
Firda terkejut. "Apa? Korupsi? Berapa jumlahnya?"
Tuan Rachmat mengangguk serius. "Kami belum bisa memastikan jumlahnya, tapi kami punya bukti yang cukup kuat. Kami perlu Anda untuk datang ke kantor dan membantu kami mengurus masalah ini, serta memutuskan langkah selanjutnya untuk perusahaan."
Arman yang diam sejak tadi akhirnya berbicara, "Firda, ada baiknya kamu segera datang ke sana. Aku tidak ingin perusahaan itu jatuh ke tangan yang salah. Mengenai Akira, kamu tidak perlu khawatir, ada Bi Mina yang bisa menjaganya."
Firda mengangguk, tapi merasa khawatir di waktu bersamaan. "Baik, saya akan pergi besok pagi. Tapi kalau boleh jujur, saya tidak terlalu mengerti dengan urusan seperti itu."
Arman berjalan menghampiri dan tersenyum padanya. "Tenang, aku akan membimbingmu sampai kamu benar-benar mengerti," katanya sambil memegang bahu wanita itu.
Firda mendongak dan tersenyum. "Terima kasih banyak, Tuan."
Setelah kesepakatan itu, Pengacara Mark dan Tuan Rachmat akhirnya pamit undur diri. Kini yang tersisa di ruang kerja Arman hanya mereka bertiga.
Pras berpindah tempat duduk di sofa panjang yang sama dengan Firda, namun tidak berani lagi mepet-mepet seperti sebelumnya, takut wanita itu kembali marah padanya seperti waktu itu. "Dek Firda, masalah perusahaan, jangan khawatir. Ada Mas Pras di sini. Kalau perlu, demi membantu Dek Firda mengatasi dan memberantas korupsi, Mas akan resign dari Valmara Holding dan pindah ke PT Sinar Abadi untuk menjadi sekretarismu," bisiknya.
Firda hanya tersenyum menanggapi, sementara Arman yang ternyata pendengarannya sangat tajam langsung marah dan sewot. "Kamu bilang apa barusan, Pras? Coba ulangi sekali lagi. Aku ingin mendengarnya."
Pras tertawa dan salah tingkah. "Apa sih Bos ini, marah-marah lagi?" tanya Pras. Merusak suasana saja, tambahnya dalam hati.
"Pras, aku perintahkan kamu pulang sekarang, dan mulai besok, kamu yang menangani semua urusan di kantor, karena mulai besok aku yang akan menemani Firda pergi ke PT Sinar Abadi untuk mengatasi masalah yang ada di sana," titah Arman dengan tegas, tidak mau dibantah.
Bibir Pras mencebik. Dia bangkit dari duduknya. "Baik, Bos," jawabnya dengan suara lemah.
Halah, Si Bos ini. Dia ini sebenarnya atasan atau saingan cintaku sih? Kenapa gelagatnya mencurigakan sekali? Katanya tidak mungkin suka dengan anaknya Subroto, lalu ini apa? Sadar tidak, cemburunya kelihatan sekali kalau aku berusaha dekat-dekat dengan Dek Firda. Ini sih tidak adil namanya, karena urusan pribadi malah dicampur adukkan dengan urusan pekerjaan.