"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.
Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.
Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Malam Kehancuran
“Penghargaan terakhir dan paling bergengsi malam ini Scholar of The Year diberikan kepada… Alana Putri Atmadja!”
Riuh tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.
Seorang perempuan dengan gaun merah elegan mengulas senyum kecil ketika namanya disebut.
Hari ini sekolahnya mengadakan acara tahunan yaitu Student Awarding Night. Ini merupakan acara penghargaan kepada siswa siswi berprestasi di sekolahnya.
Sedangkan Scholar of The Year diberikan kepada siswa siswi paling berprestasi dalam satu tahun. Itu merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh sekolah.
Alana kembali mendapatkan penghargaan itu untuk ketiga kalinya selama tiga tahun bersekolah di SMA.
Aula besar sekolah malam itu berubah seperti ballroom hotel bintang lima untuk acara ini. Langit-langitnya dipenuhi lampu kristal, meja-meja bundar dihiasi bunga putih dan lilin kecil yang berkilau.
Sementara Alana duduk di meja paling depan, meja yang dipersiapkan untuk pemilik yayasan sekolah.
Seorang laki-laki paruh baya di sampingnya segera memeluknya erat. Dia adalah Dharma, ayah Alana. “Anak kesayangan Papa.”
Dharma melepaskan pelukannya. Wajahnya memancarkan kebanggaan yang tulus. “Selamat, sayang. Papa tahu kamu akan selalu membanggakan Papa, sayang.”
Satu laki-laki yang duduk di sisi lain Alana bergantian memeluk Alana dengan hangat. Dia adalah Rangga, pacar Alana yang minggu depan akan menjadi tunangannya. “Selamat, sayang. Aku benar-benar bangga jadi pacar kamu.”
Alana membalas dengan senyum lembut yang hangat. “Makasih, Pa. Makasih, Mas.”
Dengan penuh percaya diri, Alana melangkah menuju panggung. Langkahnya mantap dengan ritme yang teratur dan elegan seakan sudah terlatih terlalu sering untuk mendapatkan penghargaan. Tumit sepatunya mengetuk karpet merah dengan ritme yang mantap.
Punggung Alana tegak sempurna dengan dagu yang sedikit terangkat. Sorot matanya tajam dan dingin. Ketika Alana berjalan, udara seolah ikut menahan napas.
Dharma ikut berdiri, tepuk tangannya terdengar hangat dan penuh kebanggaan. Wajahnya berseri-seri, jelas menunjukkan betapa bangganya seorang ayah kepada putrinya.
Rangga juga berdiri, tangan bertepuk pelan namun penuh arti. Tatapannya tak lepas dari Alana.
Hidup Alana sempurna. Dia adalah anak tunggal seorang pengusaha besar yang juga merupakan pemilik yayasan sekolah. Hidupnya bergelimang harta. Hidupnya tersusun rapi sejak dia lahir.
Hidup, pendidikan, karier, cinta… semua masa depan Alana sudah diatur dengan baik.
Sejak kecil, dia anak yang pintar dan selalu membanggakan ayahnya. Dia selalu mendapatkan nilai tertinggi dalam apapun yang dilakukannya, termasuk malam ini.
Setelah ini, dia akan bertunangan dengan Rangga, pacarnya sejak masuk SMA dan akan pindah ke Amerika untuk melanjutkan studinya. Lalu, dia akan menikah setelah studinya selesai dan meneruskan perusahaan ayahnya.
Semuanya sempurna tanpa cela.
Alana berdiri di tengah panggung.
Semua pasang mata sudah menatap ke arahnya. Ketika seseorang bertatapan dengannya, dia buru-buru menunduk. Sebelah bibir Alana terangkat tipis, nyaris tidak terlihat.
Tanpa sengaja, matanya mendarat pada seorang laki-laki yang duduk di kursi belakang ruangan itu. Rayyan.
Ada sesuatu yang naik ke dadanya. Berat, menyesakkan. Tanpa sadar, rahangnya mengeras.
“Lo nggak bisa terus-terusan menghindar dari gue, Na.”
“Lepasin tangan gue,” desis Alana sambil menyentakkan tangan Rayyan.
Sorot matanya tajam hingga rahangnya terlihat mengeras.
Rayyan menghela napas pelan. “Kita perlu bicara, kan?”
“Nggak ada yang perlu dibicarain,” jawab Alana tegas.
Rayyan tidak menjawab.
“Apapun yang terjadi, lo cuma perlu tutup mulut lo dan lupain apapun yang udah terjadi.”
Alana berbalik badan, melangkahkan kaki untuk pergi. Tapi baru satu langkah, Rayyan kembali bicara.
“Lo baik-baik aja, kan, Na?”
Langkah Alana terhenti. Tubuh Alana membeku. Kedua tangannya terkepal kuat.
Rayyan menghela napas yang terdengar sangat berat. “Kalau lo kenapa-napa… gue siap tanggung jawab, Na.”
“Alana," ucap kepala sekolah uang membuatnya menoleh.
Dia baru menyadari napasnya sempat tercekat di tenggorokan.
“Selamat atas prestasi kamu," lanjutnya.
Alana menerima piala kristal dari kepala sekolah. Cahaya lampu memantul lembut dari permukaan piala, seolah menambah kilau kebanggaan di matanya.
“Sebelum Alana memberikan pidato, mari kita saksikan video perjalanan prestasi dan pencapaian Alana selama satu tahun ini,” ucap MC dengan suara yang jelas dan penuh antusiasme.
Lampu panggung meredup. Sorotan beralih ke LED besar di belakang panggung. Suasana berubah menjadi hening dan penuh perhatian.
Alana tersenyum tipis, matanya berbinar mengikuti setiap gambar yang terpampang.
Di layar, terpampang foto-foto kenangan. Momen saat Alana menerima penghargaan, kemenangan dalam berbagai lomba, dan catatan rangking yang membanggakan.
Tapi tiba-tiba, video mulai berkedip. Layar menghitam.
Alana mengerutkan kening. Suasana hening seketika, hanya terdengar suara desis heran dari beberapa tamu undangan.
Kemudian, suara aneh muncul seperti bisikan samar dan deru statis, menggema dari speaker. Layar hitam itu perlahan menampilkan video.
Namun berbeda dari sebelumnya.
Layar itu menampilkan sebuah kamar dengan lampu temaram, suara desahan yang seharusnya tidak terdengar, serta dua tubuh tanpa busana yang disensor di atas ranjang.
Alana terdiam, matanya membelalak sempurna, tubuhnya membeku seperti patung.
Wajah pria itu tidak terlihat. Tapi wajah wanita itu terekam jelas.
Itu adalah dirinya.
Napas Alana tercekat. Dadanya terasa sesak. Rahangnya menegang. Tanpa sadar, tangannya yang memegang piala kristal bergetar hebat.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Semua yang hadir ikut membeku, mata mereka terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terlihat. Bisik-bisik di seluruh ruangan mulai terdengar.
Semua mata menoleh ke arahnya. Bukan dengan tatapan kagum dan iri seperti yang Alana dapatkan selama ini.
Untuk pertama kalinya, semua mata menatapnya hina.
Setengah panitia langsung lari ke sisi panggung, saling teriak.
“Matikan! MATIKAN SEKARANG!”
Layar kembali menghitam, kemudian sebuah suara terdengar.
“Gue hamil. Gue nggak tahu harus gimana sama anak ini.”
...----------------...