Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat
Jenara berjalan cepat menyusuri lorong laboratorium, langkah sepatunya bergaung di lantai mengilap. Di jam sepagi ini, gedung riset masih lengang, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang berlalu-lalang.
Di sampingnya, sang asisten, Raline, terlihat tidak fokus. Tatapannya terpaku pada layar ponsel, jari-jarinya gemetar kecil.
“Bu Jenara,” ucap Raline akhirnya, suaranya bergetar menahan antusias.
“Ibu sedang dibicarakan di siaran langsung.”
Jenara mengerling sekilas. “Siaran apa?”
“Berita penelitian Ibu.”
Di layar ponsel, seorang presenter dengan ekspresi antusias sedang berdiri di depan background gambar daun hijau sederhana. Itu adalah tanaman yang selama ini dianggap liar dan tak bernilai.
"Daun kelor, yang selama ini hanya dianggap tanaman pagar, ternyata mengandung protein nabati tinggi, kalsium, zat besi, serta asam amino esensial yang sangat baik untuk pertumbuhan anak."
Grafis berganti. Tampak foto hidangan modern berupa jus, roti kukus, dan sup krim berbasis daun kelor.
"Tim peneliti yang dipimpin oleh Jenara Rahadi berhasil membuktikan bahwa daun kelor dapat diolah menjadi makanan lezat, ramah anak, dan bernilai gizi tinggi. Penemuan ini telah diakui oleh para ahli nutrisi internasional."
Asistennya menelan ludah. “Bu Jenara, sekarang Ibu benar-benar terkenal.”
Jenara berhenti melangkah.
Ia menatap layar itu lama. Tidak ada sorot puas di matanya. Hanya ketenangan seseorang yang telah berdamai dengan tujuannya.
“Terkenal itu bukan prioritas utama,” katanya pelan.
“Kalau penemuan ini bisa membantu satu anak tumbuh lebih sehat, itu sudah cukup untukku."
Ia melanjutkan langkah.
“Kali ini, aku mau mengekstraksi enzim alami dari nanas madu dan kultur probiotik dari susu kambing," ujar Jenara sambil membuka pintu laboratorium utama.
"Kita akan buat yoghurt buah yang lembut, rendah laktosa, dan aman untuk pencernaan anak.”
“Yoghurt semangka,” timpal Raline tersenyum kagum. “Kedengarannya mahal.”
“Seharusnya justru terjangkau,” jawab Jenara.
Namun dari balik lorong servis yang remang, seseorang berdiri diam. Perempuan itu menyilangkan tangan, bibirnya melengkung tajam. Tatapannya mengikuti punggung Jenara dengan penuh kebencian.
“Jenara, kesombonganmu akan berakhir hari ini.”” gumamnya dingin.
Dia adalah Sita, saingan abadi Jenara sejak di bangku kuliah. Dia bukan hanya iri pada kemampuan Jenara yang selalu lebih unggul darinya, tetapi juga membenci perempuan itu begitu dalam.
Sementara, Jenara sudah bersiap di depan meja eksperimen.
Masker menutup wajahnya. Sarung tangan membalut jemari terampilnya. Dan, kacamata pelindung terpasang rapi.
Sebagai seorang peneliti pangan sekaligus chef yang handal, ia memiliki ketenangan yang nyaris sempurna. Seolah tak ada dunia lain di luar tabung-tabung kaca ini.
Raline mencatat suhu dan waktu fermentasi.
“Kalau ini selesai,” ujar Jenara sambil menyalakan mesin ekstraksi, “aku akan istirahat sebentar. Menyelesaikan novel yang sedang kubaca.”
Raline mengangguk. “Semoga kali ini Ibu benar-benar istirahat.”
Mesin berdengung halus. Cairan merah muda mulai berputar perlahan di dalam tabung.
Semuanya tampak normal. Lalu, tiba-tiba ada bau menyengat.
Logam panas. Gas.
Jenara menoleh. “Raline, ada yang—”
Belum selesai ia bicara, api meledak dari panel samping.
Alarm berbunyi nyaring. Lampu berkedip kacau.
“Bu Jenara!” teriak Raline panik.
Jenara berlari ke panel darurat. Tangannya hampir menyentuh tombol. Namun, percikan api membuatnya terlonjak kaget.
DUARRR!!!
Ledakan dahsyat mengguncang ruangan.
Kaca pecah. Api menyambar. Tubuh Jenara terlempar keras. Dunia berubah putih, lalu gelap, seperti ditelan malam tanpa bintang.
Tak ada suara. Tak ada cahaya. Hanya kehampaan yang berdenyut sakit di kepalanya.
Namun di tengah kegelapan pekat, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara kecil menyusup masuk.
Bergetar. Ketakutan.
“Giri, kalau Ibu mati, kita harus bagaimana? A-aku takut...."
Kepala Jenara terasa berat dan sakit, seakan pikirannya diperas.
Siapa anak ini? Dan, Ibu siapa yang dimaksud?"
Ia belum sempat membuka mata ketika#uara itu kembali terdengar. Lebih dekat. Lebih jelas.
“Aku juga tidak tahu,” suara anak lelaki itu terdengar gugup, sedikit terengah.
“Aku cuma memukulnya sedikit. Mungkin dia hanya pingsan.”
Ada jeda. Suara napas tertahan.
“Sekarang kita bebaskan Gatra saja,” lanjutnya cepat, seperti sedang meyakinkan diri sendiri.
Kata "memukul" menghantam kesadaran Jenara seperti palu. Kepalanya terasa berat, bagai ada kabut tebal yang menekan dari dalam.
Ia memaksa mengerjapkan mata, sekali… dua kali… hingga akhirnya cahaya remang menyelinap masuk. Pandangan Jenara masih buram, tetapi dua sosok kecil perlahan terbentuk di hadapannya.
Seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Usia mereka sekitar tujuh tahun, dan wajah mereka bak pinang dibelah dua.
Bentuk mata, hidung kecil, bahkan lengkung bibirnya sama persis. Namun ekspresi mereka jauh dari kemiripan yang menenangkan. Wajah itu dipenuhi ketakutan.
Kulit mereka kusam, ada noda debu dan bekas tanah di pipi dan dahi. Pakaian mereka lusuh.
Anak perempuan itu mengenakan baju dari kain kasar berwarna pudar, mungkin dulunya cokelat muda, kini hampir tak jelas warnanya. Ujung lengannya robek, jahitannya terurai. Roknya panjang terlalu besar, dilipat asal di pinggang dengan tali tipis.
Anak lelaki itu tak lebih baik. Bajunya longgar dan tambal-sulam, noda lumpur mengering di bagian dada. Celananya terlalu pendek, memperlihatkan betis kecil yang penuh goresan. Mereka tampak seperti anak-anak tak terurus yang terlalu sering bersembunyi.
Jenara terbelalak. Setelah menarik napas panjang, barulah ia menyadari sekelilingnya.
Ia tidak berada di rumah sakit, bukan pula di laboratorium. Namun, ia berada di ruang tengah sebuah rumah desa yang sederhana.
Dindingnya terbuat dari papan kayu tua dan anyaman bambu. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menciptakan garis tipis di lantai tanah yang dipadatkan. Tidak ada sofa. Hanya tikar yang sudah usang, sebuah meja kayu dengan sudut terkelupas, dan bau kayu lembap bercampur asap dapur.
Jenara refleks bangkit, tetapi tubuhnya sempoyongan.
“Agh—!”
Rasa sakit menjalar tajam dari punggungnya. Sensasinya bukan luka sayat, melainkan nyeri otot akibat dibenturkan keras atau dipukul sesuatu. Terpaksa, Jenara menopang tubuhnya dengan satu tangan.
Dan saat itulah matanya menangkap sesuatu. Sebuah tongkat kayu masih tergenggam di tangan anak lelaki itu.
“Kau yang memukulku?" tanya Jenara, suaranya serak hampir tidak keluar.
Anak lelaki itu tersentak. Tongkat kayu langsung terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Ia spontan menarik tangan saudara perempuannya.
“Lari!” bisiknya panik.
Mereka hendak kabur meninggalkan Jenara, tetapi langkah anak perempuan itu tersandung. Kakinya menginjak ujung rok yang terlalu panjang, hingga tubuh kecilnya terjerembap ke lantai tanah.
“Giri!" panggilnya panik.
Dengan mengabaikan rasa sakit di punggungnya, Jenara berusaha bergerak lebih cepat. Ia melangkah tertatih dan berlutut, tangannya refleks meraih tangan kecil anak perempuan itu.
Hangat, nyata.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya tanpa sadar.
Anak perempuan itu gemetar hebat. Tangannya dingin dan matanya berkaca-kaca.
Jenara menahan napas, mencoba bertanya dengan lembut. “Siapa kamu? Ini di mana?"
Tak ada jawaban. Namun, tiba-tiba dorongan keras menghantam bahu Jenara. Membuatnya terhuyung ke belakang.
Anak lelaki itu berdiri di depan Jenara. Sikapnya protektif, bagaikan perisai di depan saudara perempuannya.
“Ibu, jangan sakiti Gita!” teriaknya dengan suara bergetar.
Jenara membeku. “Ibu?”
“Aku yang memukul Ibu,” lanjut anak itu cepat, matanya merah, napasnya tersengal.
“Jangan marahi Gita. Hukum saja aku."
Nama itu bergaung di kepala Jenara. Mendadak, potongan ingatan menyambar.
Gita adalah nama anak perempuan dalam novel yang sedang ia baca. Salah satu dari anak kembar tiga yang teraniaya oleh ibu tiri jahat. Sedangkan anak lelaki pemberani ini adalah Giri.
Jantung Jenara berdegup kencang. Tidak mungkin.
Mungkinkah tokoh antagonis di novel tersebut adalah dirinya sendiri? Seorang wanita yang suka menyiksa anak-anak, hobi berjudi dan menghamburkan uang, lalu akan diceraikan suami.
Dengan panik, Jenara menatap kedua tangannya sendiri, lalu menatap wajah-wajah kecil yang ketakutan di hadapannya.
Apakah dia sedang bermimpi? Atau dia berhalusinasi karena ledakan itu?
Sebuah pikiran mengerikan perlahan terbentuk di benaknya. Benarkah dia sudah mati lalu berpindah ke dalam dunia novel sebagai Jenara, Sang Ibu Tiri Jahat?