Renjiro Sato, cowok SMA biasa, menemukan MP3 player tuanya bisa menangkap siaran dari masa depan. Suara wanita di seberang sana mengaku sebagai istrinya dan memberinya "kunci jawaban" untuk mendekati Marika Tsukishima, ketua kelas paling galak dan dingin di sekolah. Tapi, apakah suara itu benar-benar membawanya pada happy ending, atau justru menjebaknya ke dalam takdir yang lebih kelam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amamimi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analisis Gula, Bebek Air, dan Variabel Jatuh Cinta
Minggu pagi, pukul 09.45. Taman Kota.
Renjiro Sato duduk di bangku taman yang menghadap ke danau buatan. Dia datang 15 menit lebih awal. Dia mengenakan kemeja kasual yang dilapisi cardigan krem (pilihan terbaiknya setelah membongkar lemari selama satu jam) dan celana jins bersih.
Ren berkali-kali mengecek pantulan wajahnya di layar ponsel yang gelap.
"Rambut aman. Napas aman. Ganteng... ya, standar lah," gumamnya gugup.
Ini bukan kencan. Ren terus mengingatkan dirinya sendiri. Ini adalah Misi Pengujian Sampel Makanan Eksperimental Ibu Ketua. Judul misinya sangat birokratis, tapi jantung Ren berdegup seolah dia mau nembak cewek.
"Sato-kun."
Suara itu datang dari belakang. Ren menoleh dan... freeze. Waktu seolah berhenti.
Tsukishima Marika berdiri di sana.
Tidak ada seragam sekolah kaku. Tidak ada blazer OSIS. Tidak ada papan jalan.
Marika mengenakan gaun terusan selutut berwarna biru langit pastel dengan kerah putih yang manis. Dia memakai kardigan tipis di bahunya dan tas selempang kecil. Rambut hitam panjangnya digerai, tidak diikat kuncir kuda seperti biasa, membuatnya terlihat lebih dewasa dan... lembut.
"M-Marika?" panggil Ren, lupa berdiri saking terpesonanya.
Marika terlihat tidak nyaman. Dia menarik-narik ujung gaunnya, pipinya merona merah muda.
"Kenapa melongo?" tanyanya, berusaha galak tapi gagal total. "Apakah pakaian ini... tidak sesuai standar operasional taman kota?"
Ren akhirnya berdiri. Dia menelan ludah.
"Enggak," kata Ren jujur. "Kamu... cantik banget. Beda banget sama di sekolah. Aku sampe pangling."
PUFF.
Wajah Marika meledak merah padam sampai ke telinga. Dia buru-buru menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Ti-Tidak perlu pujian berlebihan!" serunya panik. "Ini... ini dipilihkan oleh pelayan di rumah! Katanya ini mode 'santai akhir pekan'. Menurutku ini tidak efisien karena tidak ada saku untuk menaruh pulpen!"
Ren tertawa lepas. Marika tetaplah Marika.
"Udah, duduk sini," Ren menepuk space kosong di bangku taman.
Marika duduk dengan postur tegak, menjaga jarak "setengah jengkal" yang sopan. Dia meletakkan kotak kue yang dibungkus kain cantik di pangkuannya.
"Sesuai agenda," kata Marika, berdeham untuk menetralkan detak jantungnya. "Agenda utama hari ini: Uji rasa Sponge Cake Vanilla."
Dia membuka kotak itu. Di dalamnya, ada kue bolu yang terlihat... sedikit bantat di satu sisi, dan agak gosong di sisi lain. Tapi aromanya wangi vanila dan mentega.
"Ini buatan ibu lagi?" tanya Ren dengan senyum jahil.
"Tentu saja," jawab Marika cepat, tidak menatap mata Ren. "Beliau... sedang bereksperimen dengan oven baru. Suhunya tidak stabil. Jadi bentuknya asimetris."
Ren melirik tangan Marika yang memegang pisau kue plastik. Di jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, ada plester luka bergambar beruang lucu.
Ren tersenyum lembut. Ibu mana yang pake plester gambar beruang? Itu pasti kamu yang kena loyang panas.
"Oke, mari kita uji," kata Ren.
Marika memotong sepotong kue dan memberikannya pada Ren di atas piring kertas. Ren memakannya.
Teksturnya padat. Agak kering. Tapi manisnya pas. Ada rasa kerja keras di setiap gigitannya.
"Gimana?" tanya Marika. Dia mencondongkan tubuhnya, matanya menatap mulut Ren dengan intensitas tinggi. "Analisis rasanya? Teksturnya? Tingkat kemanisannya?"
Ren mengunyah pelan, lalu menelan. Dia menatap Marika.
"Enak," kata Ren.
"Jangan cuma bilang enak! Berikan data kualitatif!"
"Rasanya..." Ren berpikir sejenak. "Rasanya anget. Kayak... rasanya kayak pengen dimakan terus tiap hari minggu."
Mata Marika membulat. Mulutnya terbuka sedikit. "Ti-Tiap minggu?"
"Iya. Bilang sama ibu-mu," kata Ren, menekankan kata 'ibu'. "Aku siap jadi testernya seumur hidup."
Marika menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang terurai. "Hmph. Nanti... nanti disampaikan. Kalau beliau sempat masak lagi."
Mereka makan dalam diam yang nyaman. Tiba-tiba, angin berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut Marika ke wajahnya. Krim kue di sudut bibir Ren ikut tersapu angin... eh, tidak, krimnya tetap di situ.
Marika menoleh. Dia melihat noda krim putih di sudut bibir Ren.
"Sato-kun. Mulutmu kotor," kata Marika. "Tidak higienis."
"Eh? Mana?" Ren meraba-raba pipi yang salah.
"Bukan di situ. Di kiri. Bawah."
"Sini?"
"Bukan! Aduh, gemas sekali!"
Tanpa sadar, Marika mengulurkan tangannya. Jempolnya—yang ditempeli plester beruang—menyapu sudut bibir Ren dengan lembut, membersihkan noda krim itu.
Waktu berhenti lagi.
Ren terpaku merasakan sentuhan hangat jempol Marika di bibirnya. Marika terpaku melihat jempolnya sendiri menyentuh bibir Ren.
Jarak wajah mereka hanya sepuluh senti. Ren bisa melihat pantulan dirinya di mata cokelat Marika yang membesar kaget.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"E-Ehem!" Marika menarik tangannya secepat kilat, seolah tersengat listrik. Dia memalingkan wajah ke danau. "Pembersihan noda selesai! Efisiensi waktu!"
Ren memegang bibirnya yang masih terasa hangat. Jantungnya berdisko.
"Makasih... Ketua," bisik Ren.
"Di luar sekolah..." gumam Marika pelan, masih tidak melihat Ren. "Panggil Marika saja."
"Oke... Marika."
Nama itu terasa manis di lidah Ren. Lebih manis dari kuenya.
"Selanjutnya," kata Marika berdiri tiba-tiba, berusaha mengalihkan kecanggungannya. "Agenda kedua: Aktivitas fisik ringan untuk membakar kalori kue."
Dia menunjuk ke dermaga danau. Di sana berjejer perahu bebek (sepeda air).
"Kita naik itu," perintah Marika.
"Bebek air?" Ren tertawa. "Itu wahana anak-anak atau orang pacaran, Marika."
"Itu wahana yang membutuhkan koordinasi motorik kaki!" bantah Marika. "Ayo. Aku ingin menguji seberapa sinkron gerakan kaki kita."
Mereka menyewa satu perahu bebek berwarna pink norak. Ren duduk di kiri (kemudi), Marika di kanan. Ruang di dalam perahu itu sempit. Bahu dan lutut mereka bersentuhan setiap kali bergerak.
"Siap? Dayung!" perintah Marika.
Mereka mulai menggenjot pedal.
"Sato-kun! Iramamu terlalu lambat! Sinkronisasi gagal!" protes Marika.
"Kamu yang terlalu cepet! Ini bukan balapan F1!" balas Ren.
"Kita harus mencapai tengah danau dalam 3 menit agar efisien!"
"Buat apa buru-buru sih? Nikmatin pemandangannya!"
Mereka berdebat sepanjang jalan, tapi perahu bebek itu melaju lurus dan stabil. Ternyata meski berdebat, kaki mereka bergerak dengan irama yang sama.
Sesampainya di tengah danau, Ren berhenti mengayuh. "Udah, istirahat dulu. Capek."
Perahu bebek itu terombang-ambing pelan di tengah danau yang tenang. Suasana di sekitar mereka damai. Hanya ada suara air kecipak.
Marika menyandarkan punggungnya. Dia terlihat lebih rileks. Angin memainkan rambutnya.
"Sato-kun," panggil Marika pelan.
"Ya, Marika?"
"Terima kasih."
Ren menoleh. "Buat apa lagi?"
"Buat... semuanya," kata Marika, menatap air danau. "Dulu, hari Mingguku isinya cuma les tambahan, belajar mandiri, dan persiapan OSIS. Hari Mingguku warnanya abu-abu."
Dia menoleh menatap Ren, tersenyum tulus tanpa topeng tsundere.
"Hari ini... hari ini warnanya biru. Dan rasanya manis. Seperti vanila."
Ren merasa dadanya sesak oleh rasa sayang. Dia ingin memeluk gadis ini. Tapi dia tahu itu terlalu cepat.
"Aku seneng kalau kamu seneng," kata Ren lembut. "Mulai sekarang, aku bakal warnain hari Minggumu. Mau warna apa aja, aku siapin."
Marika tertawa kecil. "Dasar pembual."
Tiba-tiba, perahu bergoyang karena ombak dari perahu lain yang lewat.
"Kyaa!" Marika kaget dan kehilangan keseimbangan.
Refleks, tangan Ren menyambar tangan Marika untuk menahannya. Dan Marika membalas genggaman itu erat-erat.
Perahu kembali tenang. Tapi tangan mereka tidak terlepas.
Tangan Marika kecil, halus, tapi kuat. Tangan Ren lebih besar dan hangat.
Ren menatap tangan mereka yang saling menggenggam di atas jok perahu. Dia melirik Marika. Marika juga melihat tangan itu.
Biasanya, Marika akan menariknya dan berteriak "Tidak efisien!". Atau "Kontak fisik ilegal!".
Tapi kali ini, Marika tidak menariknya.
Malah, jari-jari Marika perlahan menyusup di sela-sela jari Ren. Intertwined fingers. Genggaman yang intim.
"Ini..." gumam Marika, wajahnya merah tapi ekspresinya serius. "Ini adalah prosedur keselamatan maritim. Berpegangan tangan meningkatkan stabilitas pusat gravitasi di atas wahana air yang tidak stabil."
Ren tersenyum lebar. Alasan yang sangat Marika.
"Masuk akal," kata Ren, mengeratkan genggamannya. "Sangat logis. Kita harus pertahankan posisi ini demi keselamatan."
"B-Benar. Demi keselamatan," cicit Marika.
Dan begitulah, di tengah danau, di dalam bebek pink norak, di bawah langit biru... Renjiro Sato dan Tsukishima Marika berpegangan tangan untuk pertama kalinya. Bukan karena kecelakaan, bukan karena menarik seseorang dari bahaya.
Tapi karena mereka ingin.
"Marika," kata Ren pelan.
"Hm?"
"Tanganmu keringetan."
"DIAM! INI REAKSI BIOLOGIS ALAMI KARENA OLAHRAGA KAKI!"
"Iya, iya. Tangan aku juga kok."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas, bahagia, dan penuh harapan.
Ren berharap waktu bisa berhenti di sini selamanya. Dia lupa soal kematian. Dia lupa soal masa depan yang kelam.
Yang ada hanya dia, Marika, dan rasa hangat di telapak tangan mereka.