NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Menemukan Langit

Ketika Takdir Menemukan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / CEO / Office Romance
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lacataya_

Embun Nadhira Putri, 28 tahun, terjebak antara tuntutan pekerjaan dan desakan keluarganya untuk segera menikah. Ketika akhirnya mencoba aplikasi kencan, sebuah kesalahan kecil mengubah arah hidupnya—ia salah menyimpan nomor pria yang ia kenal.

Pesan yang seharusnya untuk orang lain justru terkirim kepada Langit Mahendra Atmaja, pria matang dan dewasa yang tidak pernah ia pikirkan akan ia temui. Yang awalnya salah nomor berubah menjadi percakapan hangat, lalu perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.

Di tengah tekanan keluarga terutama sang Mama, rutinitas yang melelahkan, dan rasa takut membuka hati, Embun menemukan seseorang yang hadir tanpa diminta.
Dan Langit menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.

Terkadang takdir tidak datang mengetuk.
Kadang ia tersesat.
Kadang ia salah alamat.

Dan kali ini…
takdir menemukan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 – Pelukan (Seperti) Keluarga

Senin pagi di Global Farmasi terasa seperti biasa—terlalu biasa untuk sebuah hari terakhir. Lorong kantor masih dipenuhi langkah-langkah cepat karyawan yang membawa kopi, suara mesin absensi yang berbunyi ritmis, dan aroma pendingin ruangan yang selalu terlalu dingin. Tidak ada spanduk perpisahan. Tidak ada balon. Tidak ada yang berubah, kecuali satu hal kecil yang hanya diketahui oleh satu orang di ruangan itu.

Embun.

Ia duduk di ruang meeting divisi HRGA & IT bersama panitia inti acara anniversary yang dua hari lalu berhasil mereka selesaikan dengan baik. Wajah-wajah di sekeliling meja masih tampak lelah tapi puas, beberapa orang membuka laptop untuk mencatat evaluasi, sebagian lainnya bersandar santai sambil menyeruput kopi.

Embun membuka map di hadapannya, menunggu semua suara mereda sebelum akhirnya bicara, suaranya tenang, profesional, seperti biasa.

“Sebelum kita tutup meeting evaluasi ini,” ucapnya sambil menatap satu per satu wajah yang sudah sangat familiar baginya, “Izinkan saya mau menyampaikan satu hal.”

Karin, yang duduk di seberang meja, masih fokus pada catatannya. Doni menyandarkan kursinya ke belakang, sama sekali tidak curiga.

“Hari ini,” lanjut Embun, nadanya tetap stabil meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, “adalah hari terakhir saya bekerja di Global Farmasi.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi efeknya seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang.

Karin mengangkat kepala dengan cepat. “Apa?”

Doni yang tadinya santai langsung duduk tegak. “Hah? Bun, bercanda lo?”

Embun tersenyum kecil, senyum yang tidak berlebihan, tapi cukup untuk menegaskan bahwa ini bukan lelucon. “Enggak. Ini bukan bercanda.”

Ruangan mendadak hening. Bahkan suara AC terdengar lebih jelas dari biasanya.

“Kok hari ini?” tanya Karin, alisnya berkerut, ada nada kaget yang tidak disembunyikan. “Lo gak bilang apa-apa ke kita.”

“Iya,” sambung Doni cepat, “kita kan satu divisi, Bun. HRGA & IT bertiga dari dulu. Masa lo cabut gitu aja?”

Embun menarik napas pelan, lalu menjawab dengan jujur, tanpa drama. “Bukan cabut. Aku udah ngajuin resign dari dua bulan lalu. Aku nunggu sampai acara anniversary selesai karena aku gak mau ninggalin tanggung jawab di tengah jalan.”

Nada suaranya membuat tidak ada yang bisa menyela.

“Aku minta maaf,” lanjutnya, kali ini lebih lembut, “aku sengaja gak cerita dulu karena aku pengen fokus beresin acara ini tanpa bikin suasana jadi aneh.”

Karin terdiam, jelas masih memproses. Doni mengusap wajahnya pelan, lalu mendesah. “Gila, Bun. Kita kira lo bakal lama di sini.”

Embun tersenyum tipis. “Enam tahun itu lama, Don.”

Tidak ada yang membantah.

Meeting ditutup dengan suasana yang berbeda dari biasanya—tidak canggung, tapi berat. Bukan karena konflik, melainkan karena semua orang sadar, satu bab sedang ditutup tanpa suara keras.

Setelah ruangan meeting kosong, Embun kembali ke mejanya. Meja yang enam tahun terakhir menjadi pusat hidupnya: tumpukan berkas, sticky notes kecil di monitor, foto lama tim divisi HRGA & IT yang diambil saat mereka masih terlalu muda dan terlalu optimis.

Ia membuka laci bawah dan mengeluarkan map cokelat berisi dokumen serah terima, lalu berdiri dan berjalan menuju ruang Pak Dimar.

Ketukan pelan. “Masuk,” suara Pak Dimar terdengar dari dalam.

Pak Dimar, Manager HRGA & IT, menoleh dari layar komputernya saat Embun masuk dan langsung tersenyum kecil. “Duduk, Bun.”

Embun menyerahkan map itu dengan dua tangan. “Ini berkas serah terima saya, Pak. Semua sistem HRIS, database employee tracking, dokumentasi server, sampai catatan maintenance jaringan.”

Pak Dimar membukanya sebentar, membaca cepat, lalu mengangguk puas. “Lengkap, seperti biasa.”

Embun tersenyum kecil. “Besok pengganti saya sudah masuk, ya Pak?”

“Iya,” jawab Pak Dimar sambil menutup map. “Tapi gak perlu serah terima langsung sama kamu. Dia mantan staf HRD di perusahaan sebelumnya, scope kerjanya hampir sama. Untuk adaptasi internal, nanti Karin yang bantu.”

Embun mengangguk pelan. Tidak ada rasa tersinggung. Tidak ada rasa kehilangan posisi. Justru ada rasa lega yang sulit dijelaskan.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus. “Atas enam tahun ini.”

Pak Dimar menatapnya lebih lama dari biasanya, lalu berkata dengan nada yang lebih personal, “Kamu salah satu staf yang paling bisa diandalkan yang pernah saya punya, Bun. Dan jujur saja, saya tahu kamu bukan berhenti karena gak mampu—tapi karena kamu akhirnya berani pulang ke tempat yang seharusnya.”

Embun menunduk kecil, matanya sedikit hangat. “Terima kasih, Pak.”

Saat ia keluar dari ruangan itu, membawa semua kenangan saat ia berada di Global Farmasi dari awal sampai hari ini, langkahnya terasa ringan—bukan karena tidak ada yang ditinggalkan, tapi karena ia tahu ia pergi dengan cara yang benar.

Hari ini, ia masih Embun dari Global Farmasi.

Besok, Selasa pagi, ia akan menjadi Embun yang baru—di tempat yang selama ini hanya berani ia impikan.

Embun kembali ke kubikalnya dengan langkah pelan, membawa sisa suasana meeting yang masih menggantung di udara, dan belum sempat ia benar-benar duduk ketika Karin yang sejak tadi menatap layar monitornya tiba-tiba berdiri begitu saja, kursinya bergeser kasar ke belakang, lalu—tanpa aba-aba—langsung memeluk Embun erat seperti takut kehilangannya di detik itu juga.

“Bun…” suara Karin pecah bahkan sebelum kalimatnya selesai, tangisnya meledak tanpa saringan, bahunya bergetar hebat, dan wajahnya ia sembunyikan di bahu Embun. “Kenapa sih lo gak bilang dari kemarin-kemarin? Kok hari ini langsung terakhir aja?”

Embun terdiam sepersekian detik, lalu mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu, menepuk punggung Karin pelan, ritmis, seperti dulu—seperti setiap kali mereka pernah sama-sama capek, sama-sama hampir menyerah, sama-sama ingin pulang tapi tidak bisa.

“Rin,” ucap Embun lembut, “kalau gue bilang dari jauh-jauh hari, lo bakal nangis dari minggu lalu.”

“YA TERUS?” Karin menyela di sela isaknya, hidungnya mulai merah, suaranya bindeng. “Sekarang kan gue nangis juga!”

Embun terkekeh kecil meski matanya ikut menghangat. Ia tahu betul kenangan apa saja yang sedang diputar ulang di kepala Karin. Mereka pernah berbagi bekal makan siang di meja sempit ini, saling suap sambil ngetik laporan. Pernah berbagi gosip kantor dengan suara ditekan setengah berbisik tapi tawa lepas. Pernah berbagi tangis di malam lembur ketika sistem payroll nge-hang parah, data tidak bisa ditarik, dan pihak bank terus-menerus menelepon karena besok pagi ribuan karyawan harus sudah menerima gaji.

Saat itu mereka duduk berdua di lantai, bersandar di lemari arsip, mata merah, kopi dingin di tangan, dan Embun yang berkata, “Tenang, kita beresin pelan-pelan, jangan panik dulu.”

Kenangan itu tidak pernah benar-benar pergi.

“Gue gak siap ditinggal partner segila lo,” Karin terisak lagi, kali ini sambil mengusap hidungnya cepat-cepat dengan tisu. “Satu-satunya orang yang bisa ketawa di tengah error server.”

Dari kubikal sebelah, Doni berdiri dengan wajah ditekuk total, bibirnya maju sedikit, alisnya turun, ekspresinya mirip anak kecil yang mainannya diambil tanpa izin. Ia tidak menangis, tapi aura cemberutnya nyaris bisa diukur pakai alat meteorologi.

Embun menoleh ke arahnya sambil tersenyum kecil. “Dah, jangan cemberut aja, Don,” ujarnya santai. “Kan sekarang jadi enak, staf IT-nya tinggal lo doang.”

Doni mendengus. “Enak dari mana? Partner kerja gue yang nyablak plus pinter jaringan udah gak ada lagi dong.”

“Ihh Don,” Embun terkekeh, matanya menyipit geli, “kayak gue mau ke planet lain aja. Ampun deh.”

“Tapi kan beda,” Doni bergumam, menendang kaki kursinya pelan. “Gue kalau panik siapa yang gue chat jam dua pagi sekarang?”

Embun tertawa kecil, lalu mendekat dan menarik Doni ikut ke pelukan mereka bertiga. Karin masih sesegukan, sibuk menahan ingusnya agar tidak jatuh ke kemeja Embun, sementara Doni memasang tampang memelas—lemah, letih, dan lesu—seolah dunia IT telah kehilangan satu pilar penting.

Mereka bertiga berdiri di situ cukup lama, berpelukan di antara kubikal yang penuh kertas, kabel, dan layar monitor yang masih menyala. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu. Karena ada perpisahan yang tidak butuh banyak kata.

Dan saat matahari mulai turun, menyisakan cahaya keemasan di balik jendela kantor, Embun berdiri sejenak di depan kubikalnya yang kini tampak lebih kosong dari biasanya, menarik napas dalam, lalu melangkah pergi—membawa semua kenangan itu sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai beban.

**

Reno berdiri di depan meja kerja Langit sejak pagi, laptopnya terbuka menampilkan deretan folder arsip lama yang nyaris tak pernah disentuh selama bertahun-tahun. Cahaya matahari pagi menembus jendela besar lantai lima puluh, jatuh tepat di permukaan meja kayu hitam yang dingin dan rapi, kontras dengan layar yang kini dipenuhi nama, tanggal, dan keputusan lama yang seharusnya sudah terkubur oleh waktu. Di luar sana, Jakarta baru saja bangun dan bergerak seperti biasa—tanpa tahu bahwa di dalam ruangan itu, satu kebenaran lama sedang perlahan ditarik kembali ke permukaan.

“Pak,” ujar Reno akhirnya, memecah keheningan dengan suara yang dijaga tetap profesional meski alisnya mengerut dalam. “Saya sudah tarik data interview enam tahun lalu, termasuk arsip kandidat yang masuk di batch yang sama dengan Embun.”

Langit tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung ke kursinya, kedua tangannya bertaut di depan dada, matanya tertuju pada layar laptop Reno tanpa berkedip.

“Dan?” tanyanya singkat.

Reno menarik napas, lalu menggeser layar sedikit agar lebih jelas. “Ada kejanggalan, Pak. Besar.”

Ia membuka satu dokumen berlabel Internal Recruitment Report – 6 Years Ago.

“Nama Ferdi muncul di sini,” lanjut Reno, nadanya mulai menegang. “Padahal dari data kepegawaian, Ferdi baru masuk Atmaja Group satu tahun sebelumnya, dan awalnya hanya sebagai staf sistem biasa.”

Langit mengangkat alis sedikit, memberi isyarat agar Reno melanjutkan.

“Yang janggal, Pak,” Reno menelan ludah kecil, “Enam bulan setelah masuk, Ferdi langsung diangkat menjadi System Manager. Tidak ada catatan assessment besar, tidak ada project breakthrough yang signifikan, dan tidak ada justifikasi teknis yang cukup kuat.”

Hening.

“Siapa yang merekomendasikan?” tanya Langit, suaranya tetap datar.

Reno tidak ragu. “Pak Sofyan.”

Langit menutup mata sepersekian detik, bukan karena terkejut, melainkan karena potongan puzzle itu mulai menyatu terlalu rapi.

Reno melanjutkan, membuka dokumen lain. “Dan ini belum semuanya, Pak. Saya cek lebih dalam ke notulen interview enam tahun lalu. Embun tidak sendiri saat itu. Ada satu kandidat lain yang diterima… seorang perempuan bernama Renata.”

Langit membuka mata.

“Renata yang sekarang jadi wakil System Manager,” lanjut Reno pelan. “Wakilnya Ferdi.”

Reno menggeser layar lagi, menampilkan profil kandidat.

“Masalahnya,” katanya dengan nada semakin serius, “Renata bukan lulusan Ilmu Komputer, bukan Teknik Informatika, bahkan bukan Sistem Informasi. Latar belakang pendidikannya Administrasi Perkantoran.”

Langit akhirnya bersuara, rendah dan dingin. “Sementara Embun?”

“Lulusan Teknik Komputer,” jawab Reno mantap. “Dengan catatan akademik sangat baik, portofolio sistem keamanan mandiri, dan—yang ironis—enam tahun kemudian ia membuktikan kemampuannya di depan kita semua.”

Reno berhenti sejenak, lalu membuka satu catatan kecil di bagian bawah laporan lama.

“Ini catatan internal penolakan Embun, Pak,” katanya, suaranya nyaris tidak percaya. “Tertulis: candidate terlalu berani dan tidak sesuai kultur perusahaan.”

Langit terkekeh kecil—bukan tawa, melainkan hembusan napas dingin yang nyaris tidak terdengar.

“Berani,” ulangnya pelan.

Reno mengangguk. “Dalam konteks itu, Pak… ‘berani’ sepertinya bukan soal kompetensi, tapi soal dia tidak tunduk.”

Ruangan terasa lebih dingin.

“Pak Sofyan juga terlibat,” lanjut Reno, suaranya kini benar-benar serius. “Nama beliau muncul sebagai penentu akhir keputusan saat itu. Dan… satu lagi, Pak.”

Langit menatapnya tajam.

“Saya juga sudah menarik rekaman CCTV ruang interview hari Jumat kemarin,” ujar Reno. “Termasuk momen ketika Ferdi bersikap meremehkan Embun. Semuanya terekam jelas.”

Langit berdiri perlahan dari kursinya. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Tapi aura di ruangan itu berubah—tekanannya naik, udara seolah menegang mengikuti postur tubuhnya.

“Jadi,” ucap Langit pelan, “Sejak enam tahun lalu Embun tidak hanya ditolak tapi di remehkan juga. dan kemarin dia juga di remehkan lagi sama satu orang yang sama. Hanya persoalan tidak tunduk, dia juga di tolak secara terang terangan di Perusahaan saya. Dan bukan oleh sistem yang adil.”

Reno mengangguk pelan. “Dan yang lebih buruk, Pak… ini bukan persaingan yang sehat. Dari pola keputusan dan promosi yang saya temukan, ini sudah masuk ke arah persengkokolan. Indikasinya kuat—baik Pak Sofyan maupun Ferdi tampaknya membangun struktur kekuasaan kecil di dalam perusahaan. Dan tanpa kita sadari, kita kecolongan hampir enam tahun.”

Langit berjalan ke meja kerjanya, membuka tablet, lalu mengakses struktur organisasi internal Atmaja Group. Jemarinya bergerak cepat namun presisi, memilih satu nama.

Ferdi.

Tanpa suara, tanpa pengumuman, tanpa drama—Langit menghapus satu nama dari struktur itu, memindahkannya ke status under review dengan satu catatan pendek yang hanya bisa dibaca level eksekutif.

Power move yang terlalu halus untuk disadari orang awam. Namun fatal bagi yang bersangkutan.

“Pak,” ujar Reno hati-hati, “langkah selanjutnya?”

Langit menatap ke luar jendela sejenak, lalu berkata dengan nada yang tidak memberi ruang tawar-menawar. “Panggil semua yang terlibat. Pak Sofyan. Ardan. Ferdi. Renata.”

Reno terdiam, lalu mengangguk. “Sekarang?”

“Sekarang,” jawab Langit. “Saya tidak mau ini berlarut. Dan saya tidak mau Embun memulai karier barunya di bawah bayang-bayang kebusukan lama.”

Saat itu pintu ruangan terbuka, dan Papi Arga masuk dengan langkah tenang, menatap Langit dan Reno bergantian.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Langit menoleh pada ayahnya, suaranya tetap terkendali, tapi matanya tajam. “Ada kesalahan lama, Pi. Dan Langit mau membereskannya hari ini juga.”

Papi Arga mengangguk pelan, ekspresinya serius. “Baik. Kita selesaikan.”

Dan di saat yang sama, jauh di tempat lain, Embun tidak tahu bahwa seseorang sedang membersihkan jalan yang dulu sengaja dibuat terjal untuknya—bukan karena kasihan, tapi karena keadilan memang sudah terlalu lama tertunda.

**

tbc

1
aRa_
ampun deh, Lona KLO ngulti bener bener dah/Grin/
Bia_
akhinya angkasa Sama bia jadian juga 😍
aLya
mulutnya lona bener bener dahh
KaosKaki
asekk lona
aLya
jangan modus langit
Aisah Sabrina
😍😍😍
aRa_
lanjut thorrr
Bubuuu
paling nunggu update-an ceritanya
Arul Gemoy
lanjut kak,jangan buat penasaran
KaosKaki
nah kan diulti sama langit 🤣🤣
KaosKaki
yey si Sam dikasi hati malah minta jantung
aRa_
angkasa kaya pakar cinta 🤣
Bia_
asek langit maunya dipanggil Mas/Chuckle/
Bia_
hua akhirnya mereka ketemu🤭
MimmaRia
alurnya emang lambat..lambat bgt bagi reader yg suka cerita yg to the point,, tapi bagi fast reader boleh lah skli2 mpir d novel yg ceritanya lambat gini, biar bs menikmati deg_deg'an ceritanya
apalgi pas critanya dgantung setinggi harapan readernya.. byuhh sensasinya... wkwkwkkkkk,..
tp jgn lambat2 bgt jg yg Thor biar smkin byk yg baca krn kebanyakn reader baru suka alur cerita yg sat set.. cemungutttt author... 💪❤
MimmaRia
wkwwkkwkkkk... suka cablaknya Ilona... 👍🤣
Bana_
babnya bikin deg degan, si ferdi bangcat banget dah
Bana_
pertemuannya bikin deg degan
Bana_
seneng banget ngeliat interaksi mamanya embun sama bia dan lona
aLya
lona beneran gilakkk /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!