Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.
Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 : Teror datang lagi
“Tolong! Ada yang menarik kakiku! TOLONG!!” Dia menjerit sekuat-kuatnya. Kakinya dihentak-hentakan.
Perhatian warga terpecah belah, bingung mau mencari suara meminta tolong itu apa melarikan diri dengan cara berenang ke arah lain bagian lebih dalam.
Gumpalan asap menjelma menjadi sosok kuntilanak biru yang dulu meneror kampung Hulu.
Tawanya disambut pekikan. Para warga tidak lagi mengindahkan peringatan dilarang berpencar. Rasa takut mendominasi membuat jalan pikiran menjadi tumpul. Satu keinginan – lari sejauh-jauhnya dari tempat ini.
“Tolong! Hem hem … tolong!” Jeritannya tidak didengar, kedua tangannya berusaha memukul air agar tidak tenggelam. Dia dapat merasakan seperti jari dan telapak tangan mencengkram pergelangan kaki, menarik entah kemana. Membuatnya tenggelam lalu menyembul ke permukaan air.
Keadaan sangat kacau! Pekikan, tangisan, permohonan ampun saling bersahutan-sahutan.
Juned masih diposisi semula, separuh tubuhnya bergantung di lantai papan cucian, separuh lagi terendam air sungai.
Sang Kuntilanak membungkuk, membuka mulutnya lebar-lebar. Dari sela-sela gigi busuk kehitaman, keluar Laba-laba beracun punggung merah.
Binatang berkaki delapan itu bertubuh kecil, terjatuh tepat di pipi Juned lalu berjalan masuk ke dalam telinga.
Mata suami mendelik, bibirnya terbuka lebar. Rasa berdenyut-denyut bersarang di telinga, dia tak bisa bersuara apalagi teriak. Gerak tubuhnya dikunci di Kuntilanak jelmaan Ular Weling.
Akhh!
Beberapa gadis muda kembali terjatuh saat sudah naik ke daratan bertanah licin sebab basah oleh tetesan air orang yang sudah lebih dulu berhasil naik.
Suasana mencekam begitu terasa, ditambah tanpa penerangan, angin bertiup kencang menggoyangkan dedaunan dan ranting-ranting kecil.
ARGHH!
Juned baru bisa berteriak, dia terjatuh ke dalam sungai yang dalamnya cuma sebahunya.
Kuntilanak terbang dan duduk di dahan pohon ara berakar gantung. Tertawa menakuti warga yang mulai naik ke daratan.
Diantara gelapnya malam, sosok Kuntilanak berpakaian putih kotor terlihat terang. Wajahnya cacat memiliki luka memanjang sangat menyeramkan.
“Tahu gitu tak mau aku pergi ke sungai!” terdengar suara Wati histeris.
Lainnya pun setuju. Seandainya saja bukan musim kemarau, mereka tidak harus berhemat air sumur. Namun sudah lama hujan belum juga turun, membuat persediaan air bersih menipis dan digunakan cuma untuk konsumsi dan membersihkan diri sehabis buang hajat saja.
“Siapa itu? Manusia apa Setan?!” Rinda menunjuk cahaya api melambai-lambai lebih dari lima menuju ke sungai.
“Mamak!” Rinda menjerit kegirangan kala melihat ibunya menyusul, dia langsung beranjak mendekati cahaya obor.
Nisda datang bersama empat wanita sebayanya. Mereka menyusul dikarenakan sudah terlalu lama sang anak tak kunjung pulang.
"Kenapa gelap sekali? Kemana obor dan lampu yang kalian bawa?”
“Kami diteror lagi sama Kuntilanak kapan hari, dia sedang ayun-ayun kaki di pohon itu, eh ….” sosok menyeramkan tadi sudah tidak ada.
“Terima kasih bu Nisda dan lainnya mau menyusul kami. Sungguh sial hari ini, kecirit – sekarang dikejar-kejar hantu,” ucap wanita lainnya.
Para bapak-bapak dan pemuda serta sebagian warga kampung Hulu lebih dari seratus orang, sama-sama mengucapkan terima kasih.
Obor diambil alih oleh pemuda, mereka berjalan ke belakang menerangi semua orang guna memeriksa.
“Juned mana? Tak ada dia!”
Langsung saja suasana mulai kondusif kembali heboh.
“Aku disini!”
Rintihan lirih itu menarik perhatian, beberapa orang kembali turun ke papan cucian. Ternyata Juned masih berusaha naik ke papan cucian, tapi gagal terus.
Kedua pemuda menarik tangan sedingin es. Saat berhasil mereka memapah pria yang tubuhnya lemas tidak bertenaga.
“Kang Juned!” Rinda berlari menghampiri suaminya. “Kau kenapa, Kang?!”
Juned tidak bisa menjawab, kepalanya mendongak-dongak sebelah, seperti Ayam terkena penyakit ayan.
“Nanti saja ditanyai, dia sudah sangat pucat dan lemah. Lebih baik kita bawa pulang!”
Semua pun setuju. Tubuh mereka lelah, butuh istirahat. Mental mereka terganggu wajib ditenangkan.
Rombongan dalam jumlah besar itu melangkah pelan sambil merapat satu sama lain, takut diteror hantu lagi.
Tiba-tiba dipertengahan jalan ….
"Mirna mana? Sedari tadi aku tak mendengar suaranya?” Sarman baru sadar setelah merasakan suara kekasihnya sama sekali tidak terdengar.
Kepanikan mulai lagi menyapa. Satu persatu menyebutkan nama, dan mengatakan kalau Mirna tidak ada diantara mereka.
“Mungkin sudah balek duluan! Tadi kan kita sempat terpencar saat dikejar Kuntilanak,” Wati memberikan opsi, dalam hati menggerutu tidak sudi kembali lagi ke sungai.
“Bisa jadi,” sahut lainnya.
Dikarenakan malam semakin larut, keadaan mereka kelelahan serta ketakutan, dan disana benar-benar gelap. Para warga memutuskan pulang, memaksa meyakini kalau Mirna aman, baik-baik saja.
***
Uhuk uhuk ….
“Sakitnya.” Tangan lemahnya menepuk-nepuk dada. Hidung terasa pedas, tenggorokan sakit. Dia tidak dapat melihat apapun selain gelap, tak juga terlihat langit.
“Di mana ini?” Saat sudah menyadari kalau posisinya tengah berbaring miring, sikunya mencoba menahan tubuh agar bisa duduk. “Keras sekali, apa batu?”
Mirna, wanita yang tadi berteriak meminta tolong kala dia menjerit mengatakan sesuatu menarik kakinya – saat ini tengah kebingungan tidak tahu berada dimana.
Diseberang sana, tepatnya pada batu besar nan lebar – Padmini menyeringai. Membiarkan mangsanya kebingungan seorang diri, memberikan waktu bagi Mirna untuk menikmati rasa takutnya.
Padmini duduk bersila, mulut terus bergerak-gerak sementara tangannya saling tertangkup didepan dada.
Ha ha ha ha ….
Empat makhluk berwujud batita bergigi lancip, kepala botak, area mata hitam, dan hanya mengenakan kain segitiga putih menutupi bagian bawah.
Sosok layaknya Tuyul itu tertawa senang kala di meja sesaji ada anak Kepiting yuyu, salah satu mainan kesukaan mereka.
Padmini beranjak, berdiri di atas batu, menatap ramah para bayi buangan. Janin yang dipaksa keluar oleh para manusia tidak bertanggung jawab.
“Pergilah ke hunian paling megah kampung Hulu. Kalau kalian berhasil melaksanakan perintahku, ada hadiah lebih menggiurkan dari ini yang telah menanti.” Senyumnya melebar, rautnya berubah kejam.
“Namun bila gagal, Rukmi akan menghukum kalian! Mengikat di pohon kelor! Aku sendiri yang akan menusuk-nusuk tubuh kalian menggunakan jarum!”
Gelengan kepala itu berputar tanpa berhenti. Tuyul takut pada daun kelor, dapat merasakan sakit terkena tusukan jarum.
Bergegas makhluk halus itu berubah menjadi asap lalu menghilang.
.
.
Atap rumah juragan Pandu terdengar seperti dipijak sesuatu berat.
Sayangnya, para penghuni tengah dalam keadaan shock sekaligus stres berat.
“Aku tak mau membersihkan kotoran mereka, Mak!” Sundari memekik saat dimintai tolong membantu membuang tumpukan tai.
Sumi pun enggan, dia baru berencana tapi perutnya sudah mual-mual. Entah sudah berapa kali dirinya muntah-muntah.
“Besok saja kita bayar orang buat membereskan semua kekacauan ini!” Sundari masuk ke dalam rumah, lalu melangkah ke kamar ibunya yang aman dari kotoran.
Baru saja hendak menghempaskan tubuhnya di atas kasur, sesuatu mengintip di lubang plafon yang entah oleh siapa sengaja dibuka.
“Huwwa! Mamak! Mamak! Ada Sundel bolong!”
.
.
Bersambung.
tp ya nikmati aja deh apa yg di lakukan padmini nahh mkne klo mau apa2 pikir dlu kali bambang
ngeri ngeri sedap 😁😁😁