Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi pertama sebagai istri dadakan
Burung-burung berkicau pelan di luar jendela. Sinar matahari menembus tirai tipis dan mengenai wajah Cantika yang masih terpejam rapat. Ia menggeliat pelan, meraih selimut seperti biasa, lalu memeluknya.
Tapi yang diraih bukan selimut.
Melainkan barang yang asing baginya ,
Ia Meluk sesuatu yang keras… hangat… dan bernapas?
Cantika membuka mata.
Dan benda yang ia peluk itu adalah,
Yoga.
Laki-laki itu tertidur menghadapnya, rambut acak-acakan, bibir terkatup rapat, dan tangan satu melingkar longgar di pinggang Cantika seolah itu sudah jadi kebiasaan.
Cantika membeku.
“YA ALLAH…” ia berbisik, tapi suaranya justru terdengar seperti tikus kecil yang shock.
Bantal pembatas yang semalam dipasang rapi?
Jatuh ke lantai.
Entah kapan.
Mungkin semalam Cantika tidur sambil guling-guling tak jelas, lalu—
YA AMPUN CANTIKA APAAN SIH.
Ia ingin menjauh, tapi Yoga tiba-tiba bergerak dan memeluknya lebih erat tanpa membuka mata.
“Jangan bangun dulu… lima menit lagi…” gumam Yoga dengan suara berat setengah ngantuk.
Cantika membeku. Seluruh tubuhnya panas dingin.
“Yo… Yoga… Yoga Pradipta… Lepasin. LEPASIN!” bisiknya panik.
Yoga mengerang pelan, membuka mata sedikit.
“Hm? Pagi, Cantika…” suaranya serak banget.
Cantika hampir pingsan.
“Lepasin!” katanya dengan volume yang tidak mampu keras, karena mulut dan otaknya sedang bertengkar.
Yoga baru sadar. Ia mengangkat tubuhnya cepat dan duduk.
“Oh! Maaf! Aku,..aduh ,maaf. Beneran nggak sengaja!” Yoga mengenakan wajah paling bingung sedunia.
Cantika menarik selimut, menutupi seluruh dirinya sampai seperti burrito.
“Kamu peluk aku!” tuduhnya dari balik selimut.
“Kamu juga peluk aku!” balas Yoga spontan.
Cantika mengintip. “Kamu ngapain hapal?”
“Karena waktu bangun, kamu ada di sini,” Yoga menepuk dadanya, “persis di sini. Kamu yang tidur merayap, bukan aku.”
“AKU TIDAK MERAYAP!”
“Kamu merayap manis.”
“NGGAK ADA YANG NAMANYA MERAYAP MANIS!”
Yoga tertawa pelan, tangannya menutup wajah. “Oke-oke. Nggak usah malu, kita belum apa-apa kok. Santai.”
Cantika mendengus. “Jangan ngomong ‘belum apa-apa’.”
“Kenapa?”
“Kedengarannya kayak… ntar bakal ada apa-apanya.”
Yoga mengerjap, lalu tersenyum simpul. “Nggak akan ada apa-apa sampai kamu siap. Tenang.”
Cantika menghembuskan napas lega… lalu pipinya memanas karena sadar siap itu kedengarannya kayak topik dewasa.
Aduh. Pagi-pagi sudah kacau.
---
Sarapan Penuh Salah Tingkah
“Makan, Nak Cantika,” kata Bu Ratna sambil tersenyum hangat.
Cantika tersenyum malu-malu sambil menunduk, mengambil roti bakar. Yoga di sampingnya juga ikut kaku. Mereka seperti dua orang yang ketahuan habis melakukan sesuatu padahal cuma tidur.
Bapak Yoga,Pak Surya yang sudah sedikit pulih dari serangan jantungnya sempat menatap Yoga tajam.
“Hidung kamu kok merah, Yo?” tanya ayahnya.
Yoga langsung mengusap hidungnya kaget. “Merah? Mana?”
Cantika memalingkan wajah, menahan tawa. Ia tahu hidung Yoga merah karena kepentok kepala Cantika tadi saat panik bangun.
Yoga melirik Cantika sebal.
Cantika balas lirikan: salah sendiri kamu dekat-dekat!
Bu Ratna tersenyum lebar. “Duh, lihat pengantin baru. Manis banget. Malam pertama gimana? Lancar?”
“SAYA TIDUR!” Cantika buru-buru menjawab.
Yoga hampir tersedak teh.
Pak Surya mengangguk tenang. “Bagus. Tidur itu penting.”
Cantika ingin masuk lubang sedalam 20 meter.
Bu Ratna menambahkan, “Aduh, Mama senang banget lihat kalian harmonis gini.”
Yoga mengangguk sopan. “Iya, Bu.”
Cantika menunduk. “Iya, Bu…”
Lalu Yoga menambahkan, masih sopan tapi dengan nada menggoda lewat samping mulut,
“Tadi malam harmonis banget kan, Cantika?”
Cantika menendang kaki Yoga di bawah meja.
“Aduh!” Yoga meringis.
“Kenapa, Yo?” tanya ayahnya.
“Kepentok… kaki meja…” jawab Yoga tidak meyakinkan.
Cantika pura-pura makan roti, tidak merasa bersalah sama sekali.
---
Bingung Jadi Istri Orang Kaya
Setelah sarapan, Cantika diajak Bu Ratna ke ruang keluarga. Rumah itu besar banget, seperti lima rumah dijadikan satu. Setiap sudutnya mewah.
Bu Ratna duduk di sebelah Cantika. “Nak, mulai hari ini kamu tinggal di sini. Kamu mau kerja juga nggak apa-apa, tapi tolong bilang dulu biar Mama atur semuanya.”
Cantika mengangguk. “Saya tetap pengin kerja, Bu. Saya nggak enak kalau cuma nganggur.”
Yoga yang baru masuk ruangan juga setuju. “Kalau Cantika mau kerja, biar aku antar-jemput.”
Cantika melotot kecil. “Aku kerja, bukan TK. Nggak usah dianter-jemput.”
“Takut kamu nyasar lagi.”
"MAS YOGA!!”
Bu Ratna tertawa bahagia melihat mereka.
Baru beberapa jam menikah, tapi sudah kayak pasangan yang setahun nikah,padahal mereka belum kenal sebelumnya .
---
Yoga Mendadak Jadi Manis?
Siangnya, Cantika kembali ke kamar untuk beberes barang-barangnya yang tadi pagi diantar oleh sahabatnya. Ia sedang menata baju saat Yoga masuk sambil mengetuk pintu.
“Kamu bisa masuk, tapi ketuk dulu,” kata Cantika.
“Aku tadi ketuk.”
“Tiga kali.”
“Itu… minimal.”
Cantika menghela napas. “Ada apa?”
Yoga duduk di ujung ranjang sambil menatapnya. “Kamu serius mau tetap kerja?”
“Iya lah. Aku nggak mau cuma makan tidur.”
“Terus kamu nanti dipanggil istrinya Yoga Pradipta. Siap nggak?”
Cantika nyengir. “Siap. Yang penting bukan dipanggil mantan istrinya Yoga.”
Yoga terdiam sepersekian detik sebelum tertawa. “Kamu nih…”
Cantika menutup koper. “Udahlah Yo, kamu juga nggak harus terlalu mikirin aku. Kita kan pernikahan kontrak. Aku juga nggak mau kamu terpaksa.”
Yoga memandangnya lama… terlalu lama.
“Cantika.”
“Hm?”
“Aku nggak ngerasa terpaksa.”
Cantika terhenti.
“Aku cuma… belum tahu harus gimana. Semuanya cepat. Tapi aku nggak menyesal.”
Wajah Cantika memanas lagi.
“Yo… kamu ngomong gitu bikin aku mikir yang aneh-aneh tau nggak.”
“Aneh-aneh apa?”
“Ya pokoknya aneh.”
Yoga menatapnya lembut. “Aku cuma bilang jujur.”
Cantika merasa dadanya hangat.
Akhirnya ia mengalihkan pembahasan, takut kalau degup jantungnya makin tidak karuan.
“Aku mau kerja besok. Ngambil shift pagi.”
“Oke. Aku antar.”
“Nggak usah! Aku bisa sendiri.”
Yoga menyilangkan tangan. “Cantika. Kamu tadi salah alamat sampai nikah sama aku. Kamu yakin nggak bakal salah lagi?”
“Baiklah ,kamu mau anter aku besok jam berapa?” gumam Cantika akhirnya pasrah.
Yoga tersenyum menang. “Jam tujuh.”
“Ketawa lagi. Lihat aja nanti aku ngabur ke halte.”
“Nggak bakal. Aku kunci pintu.”
“YOGA PRADIPTA!!”
Yoga tertawa keras sampai Cantika melempar bantal ke wajahnya lagi.
---
Malam Menjelang ,hubungan yoga dan Cantika Makin Dekat Tanpa mereka Disadari
Malamnya, setelah makan dan ngobrol sebentar dengan keluarga Yoga, mereka kembali ke kamar. Cantika mengoles lotion di tangannya (semua sudah di siapkan ibunya Yoga ), Yoga sibuk dengan laptopnya.
“Kamu tidur duluan aja,” kata Yoga tanpa melihat.
“Yakin? Kamu masih kerja?”
“Iya. Ada beberapa file yang harus aku kirim.”
Cantika mengangguk.
Saat ia berbaring, lampu kamar redup, suasananya tenang. Ia mengintip Yoga diam-diam.
Yoga kalau lagi fokus kerja… ganteng banget.
Aduh. Kenapa aku jadi memperhatikan?
Satu jam kemudian, Yoga menutup laptop dan mendekati ranjang.
“Kamu belum tidur?” tanyanya pelan.
“Belum… susah.”
Yoga menarik selimut, ikut berbaring di sebelahnya—jaga jarak aman.
“Kenapa susah?”
“Kepikiran.”
“Soal apa?”
“Semua… hidup aku berubah gini.”
Yoga memandangnya lama. “Aku ngerti. Aku juga kaget.”
“mas …”
“Hm?”
“Besok kalau aku kerja… orang-orang pasti nanya. Aku jawab apa?”
Yoga mendekat sedikit, suaranya lembut.
“Jawab aja… kamu istri aku.”
Jantung Cantika langsung rusak.
“A-aku malu.”
“Kenapa?”
“Itu kedengarannya… berat.”
Yoga tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Kita jalan bareng. Pelan-pelan.”
Cantika menatap wajah Yoga di tengah cahaya redup itu.
Untuk pertama kalinya… ia merasa tidak keberatan menikah darurat ini.
Entah kenapa, keberadaan Yoga menenangkan.
Lucunya, kehangatannya bikin ketagihan.
“Mas…”
“Iya?”
“Boleh… aku tidur dekat sini?”
Yoga menahan napas sejenak. “Boleh. Tapi bantalnya tetap di tengah.”
“Aku nggak mau merayap lagi.”
“Kamu pasti merayap.”
“YO!”
Yoga tertawa, kemudian mematikan lampu.
“Malam, Cantika.”
“Malam, Yo.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada sentuhan.
Tapi keduanya tersenyum… tanpa saling tahu… sampai akhirnya tertidur dalam ketenangan yang sama.