[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 (1)
"Loh Tante pulang sekarang?" tanya Rafa yang keheranan karena Tito membawa koper dari arah kamar tamu. Lantas, Rafa menoleh pada sang tante yang sudah ada di meja makan. Di sana, Nisa mengangguk sebagai jawabannya.
Setelah beres menyimpan koper di dekat pintu utama, Tito pun berjalan ke ruang makan untuk makan malam dengan yang lain.
Sebelum menuju tempat duduknya, ia membungkuk dulu ketika berada di belakang Rafa. Ia mendekatkan wajah ke telinga anak tersebut. "Jaga ayahmu yah," kata Tito berpesan.
Rafa mengangguk pelan.
Sudah pasti Rafa akan menjaganya, satu harta berharga yang masih diizinkan Tuhan untuk menemaninya di dunia. Hilman, pria berumur 40 tahun lebih itu menjadi tanggung jawab Rafa di kemudian hari saat ia mulai kehilangan satu persatu fungsi organnya karena menua. Tak apa, Rafa akan tetap menemaninya sampai akhir hidup lelaki tersebut. Rafa akan berusaha sekeras mungkin untuk tidak pernah mengecewakan beliau, pula membuat hatinya selalu bahagia dan tenang. Keinginan dan tekad Rafa itu tak pernah ia ungkapkan pada siapa pun, itu merupakan janji pada dirinya sendiri. Dan Rafa-lah yang akan malu bahkan membenci dirinya jika kelak tidak bisa mewujudkan semua tekad tersebut.
Setelah itu Tito duduk. Kemudian suara piring dan gelas yang berdentinglah yang memenuhi gendang telinga setiap insan. Tak ada lagi percakapan. Semuanya serius memakan makanan, kecuali Vallen, ia memerhatikan keanehan penghuni ruang saat ini. Kenapa mereka?
Apa mungkin mereka sedang menyiapkan diri?
Seperti Nisa dan Tito yang harus meninggalkan rumah ini, tapi tak tega.
Lalu Rafa dan ayahnya yang harus menyiapkan hati dengan keadaan rumah yang akan menyepi.
Vallen mengerti kepergian bundanya Rafa menjadi sebuah pukulan besar bagi keluarga ini. Namun semua itu sudah terjadi. Tuhan bilang harus begitu. Kemudian Vallen merasa adanya dia adalah untuk menggantikan peran Mira, untuk membuat rumah ini hangat. Menjadi Arunika seperti yang Mira cantumkan di nama belakangnya.
Setelah swastamita, malam, kemudian terbitlah arunika.
Sedikit-sedikit Vallen paham apa yang sedang takdir bicarakan.
Kembali ia melanjutkan makannya. Menurut Vallen mereka butuh waktu juga untuk larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa menit pun dihabiskan untuk memenuhi asupan gizi. Sesudah beres, mereka jalan menuju ruang tamu.
"Semuanya, kami pamit ya. Jaga kesehatan kalian." Tito dan Nisa tersenyum sembari membawa koper dan membuka pintu utama.
"Terima kasih sudah menemani kita di sini," ucap Hilman seraya melukiskan senyumnya.
Mereka pun melambai dan hilang dari balik pintu.
Sepi ..., batin Vallen yang memandang keadaan rumah besar ini.
***
Jam menunjukkan pukul 20.00. Vallen masih asik menata skincare dan make up-nya di meja rias baru yang ditempatkan tepat di sebelah lemari baju. Setelah menata, ia ambil lagi lalu menukar-nukarnya, tadinya mengurutkan dengan kategori produk mana yang dipakai terlebih dahulu dan berakhir pakai apa, tapi diganti jadi yang warna produknya sama, lalu berganti lagi menyesuaikan tingginya. Dasar Vallen, kurang kerjaan kali ya. Dia berkutat cukup lama di depan meja itu, untungnya sambil duduk, jadi Vallen tidak merasa lelah.
Tuk ...
Tuk tuk ...
Blktuk! Tuk ...
Ya begitulah bunyi yang dihasilkan Vallen dari kerjaannya. Belum lagi saat produknya ada yang jatuh karena tersenggol. Semakin berisik. Lama-lama suara itu membuat Rafa jengah juga. Dia lagi belajar untuk sekolah besok, dan istrinya malah menimbulkan suara-suara tak beraturan seperti itu. Sangat menganggu.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.