NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Yang Mulai Dipilih

Selvina pertama kali merasakannya bukan sebagai suara.

Bukan bayangan.

Bukan mimpi buruk yang meledak-ledak.

Melainkan rasa diawasi.

Perasaan itu datang saat ia sendirian di lorong asrama, ketika langkah kakinya bergema terlalu jelas, ketika lampu di ujung koridor berkedip sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Udara terasa berat, seolah ada sesuatu yang berdiri sangat dekat—tanpa menyentuh, tanpa terlihat.

Selvina berhenti berjalan.

Tangannya refleks mengepal.

Tenang, katanya pada diri sendiri. Ini cuma lelah.

Namun saat ia melangkah lagi, bisikan itu datang.

Bukan dari telinga.

Melainkan dari dalam dada.

Ibumu tidak akan bisa melindungimu selamanya.

Selvina terhenti. Napasnya tercekat.

Ia berbalik cepat—lorong kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Namun perasaan itu tidak pergi.

Ia mengikutinya sampai ke kamar. Sampai ia duduk di ranjang, memeluk lutut, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan.

Di saat yang sama, jauh dari asrama Imperion, ayah Selvina duduk di ruang kerjanya yang luas dan dingin.

Wajahnya keras. Tidak ada lagi sisa keramahan palsu.

Ia meletakkan ponsel di meja setelah menutup panggilan terakhir.

“Mulai tekan dari bawah,” katanya pada pria di seberang meja. “Aku tidak mau rumor lagi. Aku mau hasil.”

“Kalau sekolah mulai curiga—”

“Biarkan,” potongnya tajam. “Aku sudah terlalu lama bersabar.”

Ia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota.

“Anakku pikir ia bisa melawan,” lanjutnya, nada suaranya datar. “Ia lupa satu hal.”

Ia tersenyum tipis.

“Dunia selalu berpihak pada mereka yang berani kotor.”

🐺🐺🐺

Keesokan harinya, perubahan mulai terasa.

Selvina dipanggil oleh pengurus sekolah—bukan untuk sidang, tapi untuk klarifikasi tambahan. Nada mereka sopan, tapi tatapan mereka berubah. Terlalu lama. Terlalu menilai.

Di halaman sekolah, bisik-bisik muncul lagi. Bukan tuduhan langsung—melainkan potongan kalimat yang berhenti tepat sebelum makna terbentuk.

“Katanya…” “Dengar-dengar…” “Kalau benar begitu, berarti…”

Selvina berjalan melewatinya dengan kepala tegak.

Namun setiap langkah terasa lebih berat.

Varrendra memperhatikan dari kejauhan.

Ia tidak langsung mendekat. Tidak reaktif. Tidak konfrontatif.

Ia menunggu sampai jam pelajaran usai, sampai lorong sedikit lebih sepi.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Selvina menatapnya. Untuk sepersekian detik, ia ingin mengatakan tidak. Ingin menceritakan bisikan itu. Rasa dingin yang tidak wajar. Perasaan seperti sedang dipilih oleh sesuatu yang tidak bisa ia lawan.

Namun ia menelan semuanya.

“Aku bisa mengatasinya,” jawabnya.

Varrendra mengangguk. “Kalau ada yang berubah—kau bilang.”

Nada suaranya tenang. Dewasa.

Itu justru membuat Selvina merasa lebih sendirian.

🐺🐺🐺

Di rumah sakit, Rivena duduk di ranjang dengan punggung disangga bantal. Tangannya memegang secangkir teh hangat, tapi tangannya sedikit bergetar.

Entitas itu tidak lagi datang dalam mimpi.

Ia datang dalam kekhawatiran yang tidak wajar.

Dalam rasa takut yang muncul setiap kali nama Selvina disebut.

Ia memejamkan mata.

Jangan dia, pikirnya. Ambil apa pun dariku. Tapi jangan dia.

Pintu kamar terbuka.

Seorang perawat masuk, diikuti oleh seorang perempuan paruh baya yang membawa map.

“Bu Rivena,” kata perempuan itu ramah. “Kami dari administrasi.”

Rivena menegang. “Ada apa?”

“Kami hanya perlu konfirmasi beberapa data,” katanya sambil membuka map. “Termasuk—”

Ia berhenti sejenak, membaca.

“—riwayat medis yang berkaitan dengan kehamilan.”

Udara seolah berhenti.

Rivena meremas seprai.

“Siapa yang mengirim permintaan ini?” tanyanya pelan.

Perempuan itu ragu. “Permintaan lanjutan dari… pihak keluarga lain. Nama lengkapnya—”

Ia menyebut nama saudara dari Rivena.

Dunia Rivena runtuh dalam satu detik sunyi.

Bukan karena saudaranya jahat.

Justru karena ia terlalu dekat.

Terlalu mudah bagi satu informasi kecil untuk menyebar jika salah satu pihak panik.

“Aku tidak memberikan izin apa pun,” kata Rivena tegas, meski dadanya sesak. “Data itu bersifat rahasia.”

“Tentu,” jawab perempuan itu cepat. “Kami hanya—”

“Tidak,” potong Rivena. “Tidak ada klarifikasi. Tidak ada diskusi.”

Setelah mereka pergi, Rivena gemetar.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ini mulai bocor.

Entitas itu hadir lagi.

Kali ini jelas.

Bukan sebagai suara, tapi sebagai kepastian.

Jika kau tidak menyerahkan apa yang kuminta, rasanya berbisik.

maka rahasiamu akan menemukan jalannya sendiri.

Rivena menangis tanpa suara.

🐺🐺🐺

Sore itu, Selvina berdiri di taman sekolah—tempat yang dulu terasa aman.

Angin berhembus pelan.

Bangku di ujung taman kosong.

Ia duduk, menarik napas, mencoba menenangkan diri.

Lalu dunia terasa miring.

Satu detik ia ada di taman.

Detik berikutnya, ia berada di ruang yang tidak ia kenal.

Gelap. Tidak sepenuhnya.

Ada cahaya redup, seperti lilin yang hampir padam.

“Selvina,” sebuah suara memanggil.

Ia tidak melihat siapa pun.

“Siapa kau?” tanyanya, suaranya bergetar.

“Aku adalah yang dipanggil sebelum kau lahir,” jawab suara itu tenang. “Dan yang akan menagih setelah kau dewasa.”

Selvina menahan napas. “Aku tidak pernah memanggilmu.”

“Tapi darahmu pernah,” balasnya.

Dada Selvina terasa sakit. “Apa yang kau mau dariku?”

Hening sejenak.

“Kau,” jawab entitas itu. “Atau rahasia yang kau jaga.”

Selvina membuka mata.

Ia kembali di taman. Sendirian. Napasnya tersengal, air mata mengalir tanpa ia sadari.

Di kejauhan, Varrendra berlari ke arahnya.

“Selvina!”

Ia menoleh.

Untuk pertama kalinya, ketenangan Varrendra retak.

Dan Selvina tahu—

Ia telah dipilih.

Dan permainan ini

tidak lagi hanya soal kekuasaan,

melainkan siapa yang harus dikorbankan lebih dulu.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!